
Terik matahari yang menghujam ke bumi terhalangi oleh dedaunan pohon kelapa yang berbaris acak di tepi pantai. Pohon-pohon itu membubuhkan bayangan yang teduh dan damai untuk berlindung. Banyak pedagang yang mengambil tempat dibawah lindungan bayangan mereka. Dan kali ini, Romi pun ikut mengambil perlindungan dibawahnya. Berlindung dari matahari, berlindung dari perasaan sakit yang mendera hatinya..
Ia berbaring lemas sembari menutup mata dengan lengannya. Membiarkan bajunya kotor oleh pasir, ia tak peduli jika harus berganti baju lagi nanti. Rasanya kali ini ia memang tak peduli dengan apapun. Bahkan jika ada kepiting menjepit jempolnya saat ini, mungkin ia tak peduli.
Ia hanya ingin istirahat.. ingin hilang dan tenggelam dari lautan perasaan yang membuatnya kehabisan napas.
Sesekali angin berhembus terasa seperti merayap di sekujur tubuhnya yang berbaring pasrah. Telinganya pun dihadiahi suara deburan ombak yang jauh lebih baik baginya daripada suara musik yang sayup-sayup terdengar dari aula hotel di seberang.
Mereka pasti sedang bersenang-senang... geramnya dalam hati sembari membayangkan Rizky dan Karina.
Mungkin saat ini mereka sedang potong kue.. terdengar lagu selamat ulang tahun sedang dinyanyikan. Ia jadi sedikit bersyukur tak membawa kado apapun kali ini selain bunga yang ia pesan untuk Karina. Rugi sekali rasanya kini jika ia membawa hadiah untuk kedua temannya itu
Ya.. hanya teman.. kini mereka berdua hanya sebatas teman.. Romi tak peduli.
Dibalik lengannya, mata Romi terasa memanas. Sekuat tenaga Romi melawan dan bertahan namun akhirnya beberapa bulir air mata meleleh dari sikap sok kuatnya.
Payah... Romi mencela dirinya sendiri yang menjadi cengeng karena wanita. Kalau Karina melihatnya seperti ini pasti dia akan ditertawakan.. Romi tak peduli..
__ADS_1
Terbayang-bayang kembali para wanita yang satu persatu telah ia kencani sebelumnya. Begitu banyak momen bahagia yang ia rasakan bersama mereka semua. Jatuh lebih baik dari sakit hati omong kosong yang melilitnya saat ini..
Ia jadi berpikir bahwa mungkin menjadi setia adalah hal yang tidak mungkin dapat dilakukan oleh dirinya. Mungkin memang takdirnya untuk selalu melompat-lompat dari hati ke hati. Mungkin memang jalan cinta yang terbaik baginya adalah untuk menikmati setiap momen bersama wanita sebanyak-banyaknya. Apakah justru ia sesungguhnya tak layak dicintai? Romi mulai bertanya-tanya.
Romi mengusir semua pikirannya.. jika bisa juga mengusir rasa menusuk di dadanya. Untuk kali ini ia hanya ingin merasa tenang..
Ternyata patah hati itu sakit banget.. parah..
"Ini makan.. supaya gak sedih.." sebuah suara tiba-tiba terdengar di sisinya.
Romi terlalu tenggelam kedalam kegalauan sampai-sampai ia tak mendengar seseorang melangkah diatas pasir di dekatnya dan kemudian duduk di samping Romi.
"Ayo makan jangan ngelamun.." kata Asteria sambil tersenyum..
Asteria menyodorkan sebuah roti murah seharga 2000 rupiah yang biasa dijual di warung-warung. Otak Romi yang sedari tadi penat kini berlibur ke memori ketika ia melakukan hal yang sama pada Asteria bertahun-tahun yang lalu.
Romi menghapus beberapa tetes air mata yang tadi sempat membasahi sisi wajahnya.
__ADS_1
"Masa nangis.." Asteria menggoda.
"Bawel.."
"Hahahaha.."
Baru kali ini tawa Asteria terdengar begitu nyaman di hati Romi. Seperti ia sedang melihat orang yang dicintainya sedang bahagia.
Ya.. orang yang ia cintai..
Asteria mendekati Romi dan mendekap lelaki yang ia cintai itu.
Romi merasakan ketulusan dari dekapan Asteria. Hatinya bergetar ketika merasakan hawa napas Asteria berhembus di pipinya. Ia sudah sering merasakannya kala berada bersama Asteria di apartemennya. Tapi baru kali ini semua terasa spesial.. terasa berbeda..
Romi seketika membuang pikiran-pikiran untuk kembali berpetualang diantara hati-hati wanita diluar sana. Ia kini sadar bahwa ada satu tempat yang spesial untuknya. Dan ia bahkan tak harus susah payah membeli seonggok bunga untuk mendapatkannya..
Ia hanya perlu menyadarinya.. dan ia menyesal tak menyadarinya sedari dulu..
__ADS_1
****Tamat****