Cinta (Tak)Butuh Kepastian

Cinta (Tak)Butuh Kepastian
Hati Sofia


__ADS_3

Malam sudah mulai merayap pada puncaknya, jalanan sudah mulai sepi dari para penjelajah malam. Seisi rumah pun terdengar sudah tidak ada aktifitas lagi yang masih terjadi. Tapi Sofia masih terbaring dengan mata segar dan bibir yang terus menerus tak bisa berhenti tersenyum.


Cuaca hatinya begitu cerah meski malam sudah larut karena ia baru saja melakukan video call dengan Romi. Bagi Sofia ini adalah salah satu pencapaian baru dalam tahapnya menjinakkan Romi si playboy.


Semenjak keberhasilan kencannya di BUPI, Sofia semakin percaya diri akan bisa memiliki Romi. Info-info yang ia dapatkan dari Rizky terbukti banyak bermanfaat. Dan Sofia sangat berterimakasih untuk itu. Tanpa membawa buku The fellowship of the Ring niscaya kencannya dengan Romi akan berakhir singkat. Apalagi saat itu Romi sudah menyiapkan rencana kabur dengan mengundang Rizky. Dan untungnya Rizky memberitahu Sofia soal itu jadi ia bisa menyiapkan rencana lain.


Entah kenapa Sofia merasa begitu terpikat dengan sosok pria biasa itu. Sejak bertemu di pasar kaget pagi-pagi itu, ia jadi tergelitik dengan sosok Romi yang kelihatannya sama sekali tidak tertarik pada Sofia. Romi tidak setampan Andre sangat mantan, tidak juga mentereng dalam pekerjaan seperti Boko sang favorit orang tuanya. Ada hal lain yang menggaet perhatiannya pada lelaki yang satu ini.


Mungkin ini cinta pada pandangan pertama.. mungkin...


Sofia merasa tak perlu tahu alasan dan logika dibalik perasaannya. Yang ia pahami adalah perasaannya betul-betul ada dan ia tak bisa menghindarinya.


Romi jarang sekali menghubunginya terlebih dulu, selalu saja Sofia yang selalu mengubungi Romi pertama kali. Sofia tidak keberatan melakukannya, ia berpikir mungkin saja Romi bukannya tak mau tapi karena masi meragukan Sofia.


Tias sahabatnya sempat mengingatkan Sofia supaya jangan terlalu agresif. Malu-maluin ih masa jadi cewek agresif kata Tyas tempo hari sepulang dari BUPI.


Sofia sempat menimbang tindakannya yang memang bisa dibilang agresif. Tapi Sofia selalu mengingat apa yang dikatakan Ayahnya dulu.. Kalau kamu sungguh-sungguh pengen sesuatu hal dari hati.. maka hal itu layak untuk kamu perjuangkan.. Kata-kata itu terngiang selalu di telinga Sofia manakala ia ragu akan tindakannya dalam hal apapun..


Dan aku gak pernah gagal dapetin apapun yang aku mau... Sofia memotivasi dirinya sendiri di dalam hati.


Sejak kemarin ka sudah mencari-cari akun dari media sosial Romi. Tapi ternyata yang dikatakan Rizky memang benar, ia tak memiliki akun media sosial. Mulanya Sofia mengira itu hanya akal-akalan Rizky untuk melindungi sahabatnya. Tapi memang Romi ternyata manusia yang lain dari yang pernah ia kenal.


Rizky mulanya enggan berbagi informasi soal sahabatnya itu pada Sofia. Tapi lama kelamaan dan dibumbui sedikit janji, Rizky membuka nyaris semua kartu Romi kepada Sofia. Sofia kini tahu kapan Romi ulang tahun.. kampungnya dimana.. ukuran sepatunya berapa.. lokasi kosannya dimana.. bahkan Rizky memberitahu satu nomor telepon Romi yang hanya diketahui keluarga dan sahabatnya saja.


Namun hal yang paling penting yang dibuka oleh Rizky soal Romi adalah bagaimana betapa playboynya lelaki yang ia sukai itu. Dan untungnya lagi Rizky bahkan membagi dengan siapa saja Romi saat ini berkencan. Itu menjadi data awal berharga bagi Sofia untuk melakukan apapun yang ia perlu lakukan di masa depan.


Sejujurnya Sofia sedikit terkejut dengan banyaknya jumlah gadis yang sedang Romi kencani. Sifat dan sikap Romi tidak menunjukkan ia adalah tipe lelaki semacam itu. Ia malah cenderung sangat friendly dan tidak menebar pesona. Sofia berkesimpulan mungkin saja karena sikap Romi yang seperti itu yang membuat banyak gadis nyaman untuk berdekatan dengan Romi.


Sofia tidak malah menjadi mundur saat mengetahui Romi yang seperti itu. Justru ini makin membuat Romi jadi target yang lebih bernilai untuk didapatkan.


Mendadak ada telepon masuk dari sahabatnya..


"Hei belum tidur kan lu!!" Tias langsung menyambar percakapan.

__ADS_1


"Belum kenapa??"


"Tebak siapa yang baru telepon gue??"


"Gak tau," Sofia langsung menyerah.


"Idih tebak doong.."


"Maleeeesss.."


"Gak seru ah!.. Sarah... Sarah baru telepon guee.." Kini Tias terdengar bersemangat.


Sofia hapal betul jika Tias bersikap semacam ini maka ada sesuatu yang biasanya cukup heboh. Mulut sahabatnya ini paling tidak bisa tutup mulut kalau ada gosip terbaru.


"Sarah yang baru kawin taun ini??" tanya Sofia memastikan.


"100 poin!! bener banget," Tias semakin berapi-api.


"Ya terus kenapa.. kok heboh banget lu kayaknya."


"Hah!!!" Sofia yang sejak tadi rebahan kini lompat ke posisi duduk. "Serius??"


Sarah dulu adalah anak yang populer seantero kampus karena ia cantik luar biasa. Berani dikatakan bahwa saat itu mungkin ia yang paling cantik dari universitasnya. Sarah juga dikenal anak yang sangat gaul, lingkaran pertemanannya banyak, yang jatuh cinta padanya lebih banyak lagi. Tentu saja tidak ada manusia yang sempurna. Dibalik kecantikan Sarah yang menyilaukan, ia lulus dengan nilai terburuk di jurusannya sepanjang sepuluh tahun terakhir.


"Serius banget!" Tias meyakinkan.


"Padahal suaminya CEO perusahaan keuangan online itu kan??" Sofia mengingat-ngingat sosok suami Sarah.


"Iya, itu yang baru booming aplikasinya," Tias menambahkan.


"Terus kok bisa nelepon lu sih?" Sofia penasaran.. Tias bukan orang yang dekat dengan Sarah tapi anehnya malah dihubungi.


"Nah itu cerita lain.. gini.. Suaminya.. eh mantan suaminya yang kece itu.. ternyata menggelapkan uang investor perusahaan dia.. terus dia kabur ninggalin semuanya.. termasuk si miss Universe Sarah.." Tias menjelaskan, tapi terdengar masih belum lengkap..

__ADS_1


"Bentar.. bukannya Sarah lagi hamil??" Sofia teringat postingan Sarah di instagram akhir-akhir ini ada yang memuat foto USG bayinya.


'Yap.." Tiad membenarkan.


"Terus suaminya tega??"


"Ya gitulah.."


"Terus??"


"Oh ia, jadi intinya dia mau nanya ke elu tapi malu jadi lewat gue.."


"Hah? nanya apa?" Sofia keheranan.


"Dia nanya.. lu ada kerjaan buat dia gak?? dia butuh duit..."


Sofia semakin heran, Sarah bukan orang yang kurang soal materi.


"Kok bisa nanya kerjaan??" tanya Sofia lagi.


"Intinya.. suami.. eh mantan suaminya kabur bawa segalanya.. SEGALANYA.. termasuk duit di rekening pribadi Sarah.. yang gak dibawa cuma apartemen plus bininya dan calon anaknya.." Tias menjelaskan lagi.


Sofia merasakan iba pada kejadian buruk yang menimpa temannya itu. Meski Sarah juga bukan teman dekatnya. Sofia membayangkan pasti sulit jika betul-betul ditinggal tiba-tiba dan tak punya apapun sementara tagihan dan kehamilan masih harus diselesaikan.


"Jangan deketin Sarah sama Romi, ntar dia kepincut Sarah ahahaha, kan bunting gitu tetep cetar cakepnya dia," Tias malah bergurau.


Dan seperti sebuah ilham turun kedalam kepalanya... sesuatu yang mungkin bisa membantu Sarah dan mewujudkan keinginan Sofia sekaligus.


Playboy.. Hamil.. Duit.. Tanggung jawab... Otak Sofia mulai mereka rencana.


"Bilangin sama Sarah, ketemuan di tempat gue besok lusa!"


"Hah?" belum sempat Tias bertanya sambungan telepon sudah diputus ..

__ADS_1


Sofia tersenyum sendiri memuji rencana yang mulai tersusun dalam bayangan otaknya..


Bisa .......


__ADS_2