
Romi melamun sambil berbaring malas di kasur yang empuk itu. Ia baru saja terbangun dari malam yang rasanya begitu panjang. Romi memandang langit-langit kamar yang begitu bersih dan putih. Tentu saja bukan langit-langitnya yang sedang hinggap di otaknya. Ia sedang memikirkan seseorang, seseorang yang mestinya mungkin ia tak perlu pikirkan sama sekali.
Sudah satu bulan berlalu dari kejadian di lampu merah bersama Veo. Dan sejak saat itu hingga saat ini Veo belum pernah menghubungi dirinya lagi. Romi tak keberatan sama sekali dengan sikap Veo, ia sadar resiko hubungannya yang rumit. Lagipula ia memiliki beberapa teman kencan lain yang membuatnya tidak terlalu merasa kehilangan Veo.
Tapi yang membuatnya bingung, sejak saat itu Sofia malah jadi cukup sering menghubungi Romi. Padahal sejak ia bertemu di pasar kaget dan bertukar nomor telepon hingga bertemu di lampu merah, Romi tak pernah sekalipun menghubungi Sofia. Ingat, ia hanya iseng berkenalan dengan Sofia karena sekedar membuktikan kalau ia bisa gagal kenalan pada Rizky sahabatnya.
Normalnya jika seseorang melihat orang yang berkenalan dengannya ternyata berkencan dengan orang lain, maka orang itu akan menghindarinya. Karena Romi pun tidak memiliki tujuan tertentu pada Sofia, ia tak memikirkan apa konsekuensi ketika bertemu di lampu merah tempo hari. Tapi justru Sofia yang tiba-tiba saja mulai rutin mengirim pesan whatsapp pada Romi.
Pesan yang dikirim Sofia pun tak pernah bernada serius ataupun membahas kelakuan Romi. Melainkan sekedar bertanya kabar.. bertanya ia sedang apa.. bertanya pekerjaan.. bertanya hari libur... bertanya hobi.. hal-hal yang biasa saja layaknya orang yang baru berkenalan. Mungkin malah bisa dibilang seperti orang yang sedang melakukan pendekatan, tapi Sofia bahkan tak pernah/belum mengajaknya bertemu.
Romi heran dengan tindak-tanduk Sofia yang seperti itu. Sekilas muncul kekhawatiran kalau Sofia sebetulnya sedang menjebak Romi supaya tingkahnya selama ini terbongkar di hadapan semua orang. Seperti di reality show yang populer itu...
"mikirin siapa?" tanya Asteria tiba-tiba saja dari sebelahnya.
Romi melirik Asteria yang berbaring anggun di sebelahnya telah bangun dari tidurnya.
"gak apa-apa.." jawab Romi sambil tersenyum.
"jujur aja.." Asteria mendesak tetapi lebih menjurus menggoda saja.
Romi tertawa kecil tapi sembari berpikir alasan yang akan ia gunakan.
"mikir kapan aku punya apartemen kayak kamu.. bagus banget ya sampai bersih gitu langit-langitnya.. gak kayak kosan aku berantakan haha," jawab Romi, sebetulnya ia juga memang sempat berpikir soal itu.
"someday.. kamu pekerja keras.. dengan sifat kamu yang seperti itu pasti bisa tercapai keinginan kamu.."
"haha aamiin.." Romi mengamini dengan tulus.
"lagian juga kalau kamu mau, kamu bisa kesini kapan pun kok.." kata Asteria sambil memejamkan mata dan memeluk Romi erat dibalik selimut.
__ADS_1
Sejenak Romi menikmati pujian dan perhatian yang diberikan Asteria. Baginya sebuah perhatian dan kehangatan dari perempuan adalah hal terbaik yang bisa didapatkan seorang Romi. Tak masalah dari siapapun ia mendapatkannya.
Romi hendak kembali terlelap sebelum alarm dari ponselnya menyala dan berbunyi keras sekali..
Romi beringsut menyingkirkan selimut yang menutupi mereka berdua dengan lembut. Alarm yang berbunyi menandakan ini sudah hampir jam 10 pagi. Hari ini hari selasa tetapi Romi sedang mendapatkan libur pengganti jadi ia tidak mesti masuk kerja. Tetapi setiap ia mendapatkan libur di hari kerja ada sesuatu yang harus ia lakukan.
"pergi sekarang?" tanya Asteria yang kini sudah duduk di ranjang dengan selimut menutupi tubuhnya seperti handuk.
Romi mengangguk dan mencium pipinya dengan lembut dan kemudian berpakaian.
Sementara Romi keluar dari kamarnya, tanpa bersuara Asteria berkata I love you..... Namun Romi tak melihatnya, dan Asteria pun tak berharap ia melihatnya..
Satu jam kemudian, Romi sudah pulang dan kembali berangkat.. kali ini dari kosannya.
Jam sebelas siang..
Dan tak perlu waktu lama Romi tiba di sebuah warung yang sederhana. Untungnya ternyata keramaian masih belum tiba di warung itu. Dibawah lindungan spanduk bertuliskan 'LOTEK MAK INAH' tampak Rizky sudah berada disitu sedang memotong sayuran.
waduh keduluan ujar Romi dalam hati setengah merasa tak rela kalah.
Romi memarkirkan motornya dan segera mengambil posisi di dekat Rizky.
"Rajin amat," kata Romi sambil menyikut Rizky.
"Hehehe," Rizky terlihat sumringah karena merasa menang.
Seperti biasa Romi mengambil adonan tepung yang sudah dicampur dengan sayuran untuk digoreng menjadi bakwan. Ia pun mulai menggoreng seukuran centong untuk masing-masing bakwan.
Sembari memasak, Romi melihat kiri-kanan mencari-cari.
__ADS_1
"Hei! jangan ngelamun ntar angus tau!" Tiba-tiba Karina datang entah darimana sembari menepuk bahu Romi.
Dada Romi terasa mencelos ketika Karina tiba, terkejut dan senang.
"ya enggak dong kan udah pro," elak Romi sembari membalik-balik bakwan di kualinya.
"kalau hari ini gorengan gak laku salahin dia haha," Rizky ikut nimbrung.
"eh kalau lotek kamu hari ini banyak yang keracunan, salahin Rizky," balas Romi sembari menunjuk Rizky yang sedang mengulek bumbu kacang.
"dih malah berantem, malu udah tua," lerai Karina sambil tertawa kecil.
Romi tersenyum senang melihat tawa Karina yang tampak anggun.
Romi dan Rizky sudah sering singgah di warung lotek dan gorengan ini sejak jaman kuliah. Dahulu Emak (panggilan untuk neneknya Karina), memiliki tempat kos tepat di belakang warung ini. Romi dan Rizky tinggal disana untuk beberapa lama. Karena Emak tampak kerepotan melayani konsumennya, saat itu mereka berdua berinisiatif untuk membantu. Tentu saja mereka dibayar seadanya saja dan mereka pun tak keberatan karena memang hanya iseng saja membantu.
Kini setelah mereka sudah beranjak dewasa dan berumur, mereka masih sering menyempatkan untuk mampir sekedar nongkrong atau bantu-bantu sedikit. Emak sudah pensiun dan lebih banyak di rumah, Karina yang dahulu masih SMP sekarang sudah mengambil alih warungnya. Sedangkan kosan milik Emak sudah dijual, tinggal warung saja yang jadi mata pencaharian mereka.
Dibalik kesibukan warung dan aroma nostalgia yang selalu terasa di warung ini. Romi memerhatikan Karina yang setiap saat semakin dewasa. Kini ia sudah 25 tahun, bukan anak 15 tahun yang culun lagi seperti dulu. Kecantikannya yang sedari dulu sudah tampak kini semakin mewujudkan keanggunannya. Bahkan di mata Romi, celemek lusuh Karina tak mengurangi sedikitpun pesonanya. Kesederhanaannya seolah menambah aura anggun yang membuat Romi semakin terkesan.
"Hati-hati tumpah," kata Karina sambil menaruh wadah berisi adonan tepung yang sudah berisi potongan tempe.
Lamunan Romi seketika buyar..
"oh ia!" Romi melirik kiri dan kanan salah tingkah.
Dari semua gadis yang pernah Romi kenal, hanya Karina yang mampu membuatnya salah tingkah. Tanpa terasa bahkan pipi Romi merona malu karena tingkahnya sendiri. Sesuatu yang langka terjadi ...
Tanpa Romi sadari di dekatnya Rizky menatap Romi dengan tatapan cemburu...
__ADS_1