Cinta (Tak)Butuh Kepastian

Cinta (Tak)Butuh Kepastian
Lelaki Serius


__ADS_3

Romi duduk dengan manis dan dengan segaris senyum sumringah menghiasi wajahnya. Jemarinya mengetuk tak sabar di meja tempatnya duduk menunggu dengan sabar. Tentu saja ia senang dan sabar karena di depannya Karina sedang membuatkan lotek untuknya. Kali ini ia datang sebagai konsumen, selain itu ia adalah konsumen terakhir hari ini.


Tidak, ia bukan datang terlambat ke warung Karina. Justru ia sengaja datang agak sore ketika pelanggan Karina kebanyakan sudah langka. Tujuannya? Supaya perhatian Karina bisa penuh kepada Romi tanpa terbagi kesibukan lain.


"Nih, jangan disisain, jangan bayar," kata Karina sambil memberikan sepiring lotek segar ke meja Romi.


"Perfect !" tukas Romi kemudian menyantap makanannya.


"Tumben gak lagi kencan," kata Karina menggoda Romi.


"Uhuk!!" Romi seketika tersedak. Bukan awal percakapan yang baik..


"Embbhua bha!" (engga lah) kata Romi masih dengan mulut penuh sayuran.


"Hmm," Karina merengut tak percaya.


Romi meneruskan menghabiskan makanannya (yang tak perlu waktu lama untuk melakukannya). Lotek buatan Karina memang yang terbaik, atau mungkin Karina yang membuatnya jadi terasa yang terbaik. Entah yang mana namun yang jelas Romi menyukainya.


Romi menghela napas lega dan meneguk segelas es jeruk segar sebagai penutup. Tepat di saat itu di trotoar diluar warung Karina, sepasang kekasih berjalan dengan romantis bergandengan tangan. Laki-lakinya memakai t-shirt sederhana dan celana jeans ketat. Rambutnya yang cepak tak perlu banyak dirapikan untuk terlihat bersih. Sementara yang perempuan berambut berwarna cokelat dengan panjang sebahu. Jika dilihat dari bajunya yang semi formal, mungkin ia baru saja dijemput pulang kekasihnya itu. Sembari berjalan tampak sang perempuan menyandarkan kepalanya di bahu si lelaki.


"Duh irinyaaa," kata Karina tiba-tiba duduk di sebelah Romi. Ia begitu terpesona dengan pasangan yang lewat tadi hingga yang tadinya hendak mengambil piring Romi ia malah jadi duduk di sebelahnya.


"Makanya punya pacar," kata Romi menggoda sembari sedikit tertawa.


"Hm.. susah carinya, jarang ada yang mau sama tukang lotek dan gorengan haha," kata Karina dengan sedikit nada sedih.


"Yang penting cantik!" kata Romi menyahut memuji.


"Emang aku cantik??" tanya Karina sambil berdiri dan bertingkah seolah seorang Puteri kerajaan mengangkat celemeknya bak gaun Cinderella.


"Gak liat apa banyak cowok antri jajan kesini," Romi mengajukan bukti.


"Itu sih karena aku jago bikin lotek."


"Gak cuma itu dong, kalau enak doang pasti juga banyak ibu-ibu kesini beli."


"Banyak kok ibu-ibu kesini."

__ADS_1


"Sama cowok banyakan mana??"


"Cowok sih," jawab Karina garuk-garuk kepala tak bisa berkilah. "Tapi mungkin karena murah, cowok kan hemat."


"Kalau mau hemat makan mie instan cup aja sekalian tiap hari," jawab Romi lagi.


Karina tertawa lepas mendengar argumen Romi, dari semua temannya memang hanya Romi yang bisa membuatnya tertawa seperti ini. Padahal umur mereka terpaut lumayan jauh, tapi Romi yang tidak sok dewasa membuatnya merasakan ada kenyamanan saat berbicara dengannya.


"Emang pengen pasangan yang kayak gimana?" Romi memancing percakapan serius.


Karina melihat ke langit sore seolah mencari inspirasi. Romi ikut-ikutan melihat ke atas langit seolah mencari apa yang sedang Karina perhatikan.


"Yang serius," jawabnya singkat dan padat. Jawaban yang menurut Romi adalah jawaban yang berat. Berat untuk disanggah, berat untuk ditiru, berat untuk dipahami, berat untuk dilakukan.


"Contohnya," tanya Romi lagi memancing lebih dalam.


"Em..... yang setia," jawab Karina lugas.


Jawaban yang langsung menusuk Romi bak tombak Poseidon menghujam jantungnya yang lemah.


"Enggak aku banget dong," kata Romi kecewa dengan sengaja ingin melihat reaksi Karina saat mendengar Romi kecewa.


"Tapi aku kan belum ada pacar, jadi belum bisa membuktikan kalau aku gak setia," kata Romi membela diri dan ia juga merasa tak memiliki kekasih selain beberapa teman kencan.


"Terus kalau gak ada pacar kemarin-kemarin jalan sama siapa?" Karina seolah menginterogasi.


"Temen," jawab Romi tegas.


"Temen tapi jalan berdua doang?"


"Kan mau curhat rahasia."


"Curhat rahasia sambil dipeluk?"


"Engga."


"Engga jarang?"

__ADS_1


"Ya engga gitu."


"Terus?"


"Anu.." Romi tercekat.


Selain perasaan jatuh cinta pada Karina, Romi sudah biasa menganggap keberadaan Karina layaknya temannya. Jadi tak jarang satu atau dua atau tiga atau banyak rahasia kencannya terbongkar ketika bergurau bersama Karina. Tak heran kalau Romi tak bisa berkilah dan tak mungkin menutupi rahasia dirinya dalam-dalam di depan gadis ini.


"Nah kan.. makanya harus serius," Karina menasehati dengan serius.


Romi menatap wajah Karina yang memberi wejangan dengan lekat. Bahkan ketika menceramahi ia terlihat anggun. Dalam hati Romi sudah yakin bahwa akan lebih sulit kedepannya untuk sekedar mengusir bayangan wajah gadis tukang lotek ini dari otaknya.


"Bisa kok serius," Romi mengepalkan tangan seperti jagoan-jagoan di TV saat mengucapkan janji.


"Hm.. buktinya dong mana, baru percaya haha.. soalnya mas Romi ini kebalikan mas Rizky hehehe."


.


Sebuah ucapan sederhana itu sedikit banyak anehnya terasa sakit di dada Romi. Bukannya ia tak suka dibandingkan dengan Rizky, karena memang itu adalah fakta. Tapi perasaan ini lebih seperti ketika seseorang tiba-tiba saja membangun tembok di depannya supaya ia tak bisa melangkah kedepan.


Romi berpendapat bahwa Karina mungkin sudah menjadikan Rizky patokannya untuk mencari jodoh.


"Tapi dia kan belum pernah punya pacar, jadi belum tentu setia dong," Romi mencari kelemahan dibalik perbandingannya.


"Betul sih.. belum tentu kalau belum ada.." ucap Karina kembali melihat ke langit yang semakin gelap.


dan gak usah dicoba dulu juga ya sama kamu coba-coba jadi pacarnya dia.. ujar Romi dalam hati.


Sementara Karina mulai kembali membersihkan warungnya, Romi berpamitan untuk pulang. Dan sembari mengendarai motornya, dalam benaknya mulai berkecamuk pikiran soal menjadi serius. Bayangan wajah-wajah gadis yang sudah bersamanya silih berganti muncul seperi slide foto di otaknya.


Tak terasa memang sudah banyak sekali ia mendekati perempuan. Dan tak sedikit yang berhasil ia gaet hingga tahap lebih jauh dari sekedar kencan. Dan Romi entah bagaimana kebanyakan waktu ia berhasil menghindari untuk membuat status hubungan dengan mereka untuk jadi serius.


Di sudut hatinya ia tahu pasti bahwa ia belum mau untuk melangkah ke jenjang yang serius. Bahkan untuk berpacaran sekalipun ia mesti bepikir agak panjang. Ia tak suka terikat, ia tak suka diganggu pikiran bahwa ia sudah jadi milik seseorang dan ia tak bisa bergerak bebas. Egois memang, namun seperti itulah pikirannya saat ini.


Ia ingin diperhatikan, ia ingin disayang, ia ingin dibelai, tapi ia enggan memberikan hati yang tulus pada siapapun...


Kecuali Karina.. apakah seperti itu jalan takdirnya? Romi tak bisa menerka takdir, tapi yang jelas ia pikirkan saat ini adalah mungkin saja Karina adalah pasangan hidupnya.. segala tentangnya terlihat sempurna.. dan menggapai Karina yang dekat tapi jauh ini mungkin akan mengakhiri keegoisan seorang Romi..

__ADS_1


Mungkin..


__ADS_2