
Romi memakirkan motornya di samping bangunan dengan cat serba putih itu. Romi membuka helmnya dan membiarkan angin sejenak berhembus mengeringkan rambutnya yang basah karena keringat. Ia kemudian membuka bagasi jok motornya dan mengambil buku ‘the Fellowship of the Ring’ yang tempo hari ia dapatkan dari Sofia.
Romi menmbuka pintu kaca besar kantor itu dan menerobos masuk. Hembusan angin sejuk dari entah berapa buah AC yang terpasang di kantor ini membuatnya merasa baru memasuki hutan setelah terdampar di padang pasir. Hari ini sungguh terlalu panas.. dan akan menjadi lebih panas lagi....
Setelah melalui lorong kantor yang meliuk-liuk, menaiki anak tangga yang selalu terlihat bersih dan mengkilat, akhirnya Romi sampai di sebuah meja.
“Rizky ada?” tanya Romi dengan santai.
“Oh?” Ovi si sekretaris terkejut karena sedang melamun. “Ada pak..”
“Jangan panggil pak.. saya kan bukan atasan kamu..” kata Romi sembari mengibaskan tangannya.
Ovi hanya tersenyum ramah sembari menelepon Rizky yang berada di ruangan sebelah kanannya. Playboy... ujar Ovi dalam hati.. ia merasa memang tak ada yang lebih baik dari bosnya yang masih ‘polos’.
“Pak Rizky mempersilakan masuk Pak, silakan langsung saja,” kata Ovi dengan formal sambil menunjuk pintu di kanannya.
“Makasi..” kata Romi dan langsung melangkah masuk ke ruangan Rizky.
“Oi!” kata Rizky secara otomatis ketika sahabatnya memasuki ruangan.
Romi melambaikan tangan membalas dan segera mengambil tempat duduk di depan meja Rizky. Romi lalu menyimpan buku yang sejak tadi ia bawa dan menaruhnya di meja Rizky.
“Nih..” Romi bersandar di kursi empuk itu.
“Apaan?” Rizky kebingungan.
“Ini jadi alesan gue nanti.”
“Hah?” Rizky makin bingung.
“Jadi... kalau Sofia mau ketemu gue karena mau ambil buku.. gue tinggal bilang.. bukunya ada sama lu hehehe,” Romi tertawa tengil.
__ADS_1
Rizky garuk-garuk kepala melihat kelakuan sahabatnya ini. Ia heran begitu banyak akalnya untuk menghindari Sofia dan menjodohkan dia dengannya.
Tapi kali ini Rizky mempunyai senjata mutakhir yang bisa ia gunakan pada sahabatnya ini. Hatinya malah masih berbunga-bunga meski sudah dua hari lewat sejak kencannya dengan Karina. Ia masih belum memberitahu Romi soal kencan itu, dan dilihat dari gerak-gerik Romi tampaknya Karina pun belum bercerita padanya.
Tampaknya ini jadi momen yang tepat untuk membeberkan kencannya. Meski mungkin untuk standar Romi kencan itu tidak begitu spesial. Tapi Rizky berharap jika ia bercerita maka Romi akan dengan senang hati melipir untuk memberinya jalan.
Romi berdiri kemudian mengambil air minum di dekat rak foto ruangan Rizky.
“Mmm! Seger banget.. lu kerja di tempat ber-AC gini sih enak.. diluar lagi panas gila,” kata Romi setelah meneguk segelas besar air dingin.
“Target gue adalah gue gak jomblo lagi di ulang tahun gue tahun ini,” kata Rizky dengan percaya diri.
“Setuju,” kata Romi yang kemudian menghabiskan kembali segelas air dingin. “Umur lu udah mateng, karir udah mantap, tinggal kawin,” tambah Romi sambil meletakkan gelasnya.
“Iya.. mudah-mudahan sih dia mau,” kata Rizky penuh harap.
Seketika otak Romi seperti bekerja ekstra, ia berusaha mengingat gadis mana yang sedang sahabatnya kencani akhir-akhir ini. Tapi setelah beberapa putaran memorinya, Romi tak yakin Rizky bahkan sedang dekat dengan seseorang.
“Siapa yang mau?” tanya Romi kini sudah kembali duduk di kursi.
“Siapa?” tanya Romi lagi, rasa penasarannya membuncah.
Rizky berdiri dari kursinya dan mendekat ke sebelah Romi yang masih duduk.
“Nih,” Rizky menunjuk ke arah layar ponselnya yang kini memamerkan beberapa gambar.
Jantung Romi terasa sempat berhenti berdetak, ingin ia melompat dan berteriak ‘APA’ tapi ia masih bisa menahan diri.
“Lu jalan sama Karina??” Romi terkejut dan sungguh-sungguh terkejut. Namun ia masih bisa memainkan air muka seakan senang melihatnya.
“Iya dong,” timpal Rizky sambil menarik kembali handphonenya dan menyembunyikannya kembali ke balik saku jasnya. Seakan handphone itu menyimpan barang yang amat berharga.
__ADS_1
“Kok bisa?” Romi menuntut penjelasan, senyum palsunya masih terpasang manis di wajahnya.
“Ya nekat,” jawab Rizky singkat dengan perasaan bangga.
Dalam hati Rizky tahu pasti sahabatnya terkejut setengah mati melihat foto-foto akrab dia dan Karina. Terlebih ia sudah tahu dan menebak Romi punya perasaan yang sama pada Karina. Perasaan menang yang amat sangat memuaskan terbit dari dalam hatinya. Untuk sesaat ia lupa bahwa ia sedang berbicara dengan sahabat kentalnya.
Rizky menjelaskan beberapa hal soal bagaimana ia melakukan kenekatannya yang Romi pikir tak akan pernah mungkin dilakukan oleh seorang Rizky.
Kata demi kata meluncur dengan nada sumringah dan sedikit congkak dari mulut Rizky. Tapi entah bagaimana caranya semua terdengar kabur di telinga dan otak Romi. Ia masih merasakan itu tak mungkin terjadi, tapi nyatanya itu memang berhasil Rizky lakukan. Ia memikirkan beberapa kalimat untuk mematahkan keceriaan sahabatnya tapi tak satupun tertumpah melainkan hanya sekedar ‘oh..’ atau ‘masa??’
Dalam hatinya Romi merasa ada satu pintu yang hendak ditutup. Dibalik pintu itu ia bisa membayangkan Karina, Karina yang bergandengan tangan dengan Rizky. Tapi ia tak akan menyerah, setidaknya untuk saat ini.
“Aduh sori, gue mesti ke tempat kerja lagi, Bos gue minta laporan tadi,” tiba-tiba Romi memotong Rizky yang masih bercerita soal bagaimana manisnya Karina pada malam itu.
“Yah, padahal seru ini,” Rizky membujuk.
“Ntar bos marah, males gue,” Romi segera berdiri dan melambaikan tangan berpamitan berjalan cepat keluar ruangan.
Saat Romi menutup pintu bibir Rizky tersenyum begitu lebar. Lebih lebar daripada ketika ia mendapat predikat lulusan terbaik di kampus di masa lalu. Ia merasa menang, meski itu sahabatnya ia tak merasa canggung. Ini kemenangan terbaik yang menurutnya yang pernah ia dapatkan. Rizky mengepalkan tangannya dengan perasaan memuncak, “Yes!” ucapnya dengan mantap.
Sementara itu Romi menembus kembali lorong kantor dengan berjalan lebih cepat dari biasanya. Kepalanya terasa sedikit ringan hingga kelihatannya bumi melayang seperti kertas ditiup angin. Dan tak butuh waktu lama sebelum ia akhirnya kembali duduk di motornya.
Romi tak segera mengenakan helm dan pergi dari situ. Ia menghela napas panjang, amat sangat panjang. Ia melihat ke kiri dan ke kanannya mencari petunjuk yang tak mungkin ada disitu.
Kenapa jadi ini ya... repot banget...Romi mengeluh dalam hati.
Di sisi lain ia merasa kesal kenapa Rizky tak berbicara padanya terlebih dulu sebelum berkencan. Mungkin saja ia bisa mengagalkannya....
Tapi itu pikiran yang jahat.. Romi segera mengusir pikiran itu...
Di sisi lain ia malah jadi semakin percaya bahwa ia mesti memulai perjuangan untuk meraih Karina. Jika Rizky saja nekat untuk mengajaknya berkencan, maka seharusnya ia bisa melakukan lebih.
__ADS_1
Romi memundurkan motornya dan kemudian melesat keluar dari area parkir..
Begitupun otaknya, melesat kesana kemari membuat rencana.....