Cinta (Tak)Butuh Kepastian

Cinta (Tak)Butuh Kepastian
Satu demi satu


__ADS_3

Rizky mengusap mukanya dengan gusar, ia tak percaya di jam seperti ini masih saja ada kemacetan. Sudah tiga kali mobilnya terjebak di lampu merah yang sama.


"Sabar Pak.. paling sebentar lagi lancar," kata Ovi di sebelahnya dengan lembut. Atau lebih tepat ia berusaha terdengar lembut dan ramah.


Jantung Ovi serasa melompat keluar dadanya ketika Rizky mengajaknya keluar bersama siang ini. Wanita mana yang tak kuasa menahan rasa senangnya ketika sang pria idaman mengajaknya keluar. Tentu saja untuk menjaga harga dirinya baik secara pribadi maupun secara profesional Ovi berusaha tetap bersikap sopan dan ramah.


Dan setelah dua tahun hanya berharap ia akhirnya diajak keluar bersama bos gantengnya ini. Ia pernah keluar bersama bosnya tentu saja karena ia sekretaris pribadinya. Tapi selalu bersama orang lain, tidak pernah berdua saja. Meski ini mungkin belum menjadi momen spesial tapi Ovi bahagia dan berencana memanfaatkan momen ini sebaik mungkin dan berusaha untuk tidak mengacaukan segalanya.


Perjalanan sudah menghabiskan 40 menit dan Ovi masih belum bisa menebak kemana sang Bos akan membawanya.


"Pak, kita kemana..?" tanya Ovi berusaha tidak terdengar cerewet.


"Oh ia, saya belum bilang ya.. ke pantai.." jawab Rizky dengan mata masih lurus kedepan.


Pantai... hatinya senang sekali bisa main ke pantai di jam kerja seperti ini, apalagi bersama Rizky.


Empat puluh menit berikutnya mereka berdua tiba di pantai yang masih ramai dengan pengunjung.


"Waah... laut..." gumam Ovi melihat pemandangan garis pantai dengan ombak yang bergantian menyambar pasir. "Pakaian kita gak cocok deh pak kalau di pantai gini," kata Ovi sambil menarik blazer kerja nya dan tersenyum.


"Haha.. iya.. tapi gak apa-apa.. kita gak akan berenang kok," kata Rizky sambil melihat-lihat hotel yang berdiri di sepanjang sisi pantai.


Beberapa saat kemudian mereka berhenti di sebuah hotel bintang lima. Papan nama bertuliskan "Indra Hotel" berwarna biru tegak menantang angin laut.


hotel...??? gimana ini.. Ovi yang terkejut mereka berhenti disini mulai berpikir macam-macam. Irama jantungnya perlahan mulai merangkak lebih cepat.


"gimana menurut kamu?" kata Rizky sambil berjalan menuju lobi hotel yang dibangun dengan nuansa kayu yang nyaman dipandang.


"Hah??" otak Ovi mogok bekerja.. "Eh saya siap Pak," lanjutnya lagi secara cepat tanpa berpikir.


mampus..


"Siap apanya Vi?" Rizky melirik heran. "maksud saya menurut kamu ini hotelnya bagus gak.."

__ADS_1


"Bagus Pak..." jawab Ovi grogi.. wanita mana yang tak gugup tiba-tiba diajak ke hotel.. pikiran Ovi masih kalang kabut membayangkan hal-hal menyenangkan.


"indah gak?" tanya Rizky lagi.


"Indah banget Pak," jawab Ovi singkat. Hotel bintang lima tak mungkin payah, begitu pikirnya.


"Romantis gak?"


Ini mendadak Pak.. bukan romantis.. protes Ovi dalam hati namun ia mengangguk dan tersenyum lebar.


"Oke!!" Rizky bertepuk tangan dengan yakin dan langsung berbicara dengan front officenya.


Ovi berdiri agak jauh tak beberapa kali dengan canggung merapikan rambutnya yang sebetulnya baik-baik saja.


Ovi membayangkan bagaimana ia harus bersikap nanti jika Rizky memesankan kamar untuk mereka. Apakah Ovi harus pura-pura menolak dulu? minta pisah kamar? atau bagaimana?? lalu setelah itu apa yang harus ia lakukan?? pasif? atau inisiatif??


Ini menyenangkan tapi menakutkan!! teriak Ovi dalam hati.


"Yuk," ajak Rizky berjalan kembali keluar pintu lobi.


Dengan langkah cepat Ovi melangkah berusaha menyusul Rizky yang berjalan cukup cepat. Khas cara berjalan orang-orang sibuk...


"Kita pulang lagi Pak?" tanya Ovi polos.


"Ya, hotelnya bagus kan.. berkat kamu saya jadi yakin, jadi saya sudah reservasi tempat untuk nanti," Rizky menjelaskan sambil tetap berjalan.


"Nanti? untuk apa Pak?" tanya Ovi penasaran.


"Oh.. ada acara pribadi nanti, jadi saya sewa ruangan aulanya," jawab Rizky dengan santai dan membuka pintu mobilnya.


Seketika imajinasi indah Ovi runtuh diterpa badai kenyataan. Dadanya sesak oleh rasa kecewa dan sesak oleh rasa malu karena ia berharap terlalu tinggi.


"Ayo.. kita masih ada beberapa tempat mampir lho.." kata Rizky dari dalam mobil.

__ADS_1


"Oh ia Pak," Ovi langsung mengikuti masuk kedalam mobil.


Mereka kemudian melanjutkan perjalanan mereka kembali ke arah kota. Ovi masih tak percaya bahwa harapannya begitu saja hilang tersapu angin. Ia memilih untuk tidak berbicara atau bertanya di perjalanan yang selanjutnya. Ia tak berani berharap terlalu jauh lagi.


Di kota Rizky sempat mampir ke kantor sebuah Event Organizer dan tampak sibuk mendiskusikan sesuatu dengan manajernya. Ovi lagi-lagi mendapatkan tugas untuk menentukan tema dan warna yang menurutnya ia sukai, jadi ia memilih tema warna ceria dengan didominasi warna putih dan krim.


Ovi menebak ini pastilah acara yang cukup penting jika Pak Rizky tampak begitu serius merencanakannya.


Mereka kemudian mampir ke sebuah tempat catering yang cukup besar. Selama Ovi disana saja mobil yang mengangkut makanan kelihatan sibuk bolak-balik keluar masuk tempat itu. Dan kembali Ovi menjadi orang yang memilih makanan yang menurutnya enak.. jadi Ovi memilih beberapa jenis.


Setelah rasa kecewa di pantai sebelumnya ia kini sedikit merasa lebih baik. Pak Rizky tampak memercayai dirinya untuk memilih hal-hal untuk acara beliau. Dan ia senang bisa diandalkan.. bisa diandalkan oleh orang yang ia cintai diam-diam..


Di akhir hari menjelang senja Ovi diajak makan oleh Rizky di sebuah restoran di mall.


"Ayo pesan apa saja sepuasnya," kata Rizky sambil tersenyum.


Selama seharian ini baru sekarang bosnya terlihat begitu sumringah.


"Baik Pak.." kata Ovi pelan sambil kemudian mengambil buku menu.


Beberapa saat kemudian pelayan sudah datang kembali dan mengambil pesanan Bos dan sekretarisnya itu.


"Makasih ya udah bantu, sampai lupa makan kita hehe," kata Rizky yang tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.


"Sama-sama Pak," jawab Ovi sambil tersenyum. Ia tetap berusaha untuk terlihat anggun. Padahal gue udah laper banget sejak di pantai tadi... "Tapi kenapa gak bapak pilih sendiri aja?"


"Saya orangnya lelet soal pilih-pilih, mending cari pendapat ketiga supaya cepat dan tepat," jawab Rizky lugas.


Makan menjelang malam bersama Pak Rizky.. hari yang lumayan... meski gue agak sakit hati sebelumnya... ujar Ovi dalam hati mulai merasa senang.


Sempurna!! kalau gak ada sekretaris gue ini, bisa lama rencana ini.. kata Rizky dalam hati puas, senyumnya tergurat lebar di wajahnya.


Tentu saja ia senang, ia sedang merencanakan pesta ulang tahunnya dan Karina. Semua mesti sempurna, dan mengajak Ovi untuk melihat pendapat dari mata perempuan menurut Rizky adalah keputusan yang tepat. Apalagi ia juga tidak sekedar merencanakan sekedar pesta ulang tahun. Ia juga diam-diam merencanakan sesuatu yang lebih besar..

__ADS_1


satu demi satu rencana mulai terbentuk...


__ADS_2