
Bulan merangkak dengan cepat, malam semakin tua dan larut. Bagi sebagian orang ini waktunya untuk istirahat dan tidur pulas. Bagi sebagian lainnya ini jam pulang kerja setelah lembur melelahkan. Romi termasuk golongan yang pertama, jam sepuluh malam sudah ideal untuk jam tidur pria seumurannya. Tapi kenyataannya Romi justru sedang berada di taman kota.
Setelah mengalami hari yang betul-betul aneh dan diluar nalar, menjadi pacar dadakan dan langsung bertemu orang tua dari pacar dadakannya, sekedar nongkrong di taman kota terasa begitu damai. Padahal suasana taman kota malam itu tak sepi-sepi amat. Masih ada beberapa pedagang dan beberapa pasangan pacaran sambari berangkulan di bangku taman.
Hmmm ketemu orang tua ceweknya bisa mencret lu kata Romi berkomentar dalam hati melihat kegenitan si cowok pada pacarnya.
Romi menyandarkan punggungnya dan merentangkan tangannya di sepanjang bangku taman. Hal sederhana semacam itu anehnya membuat ia merasa lega. Seperti merasa bisa melakukan apa saja tanpa harus terhalang apapun dan siapapun. Romi jadi berpikir, mungkin hal itu yang ia tak sadari menjadi salah satu alasan ia sulit berkomitmen. Ia senang tak dikekang satu status apapun.....
Menjadi pacar kilat dari Sofia sedikit menjadi shock therapy baginya. Berkomitmen dan menjadi serius ternyata tidak sesederhana motivasinya untuk mendapatkan Karina. Cepat atau lambat ia mesti bertemu keluarga sang pacar. Dan ketika hal itu terjadi seribu hal bisa berjalan dengan salah. Seribu hal lainnya bisa berjalan dengan sempurna. Tapi yang paling menakutkan adalah bagian bertemu dengan orang tuanya. Berkomitmen serius berarti mengambil alih tanggung jawab orang tuanya untuk mengurus sang anak. Jika ia bisa mengurusnya sebaik orang tuanya maka itu luar biasa sekali. Jika ia malah membuat sang kekasih lebih susah daripada ketika bersama orang tuanya, rasanya itu tak bertanggung jawab.
Romi bertanya-tanya mengapa ia harus mengalami kejadian aneh itu justru ketika ka sedang berniat untuk berubah. Sekarang berkat kejadian itu ia jadi mempertanyakan kembali logikanya.
Romi menghirup napas panjang dan mendongakkan kepalanya ke langit.
"Aduh!" Romi terkejut ketika kepalanya beradu hingga pusing.
Ternyata ada orang di bangku belakang tempat ia duduk (masing-masing bangku taman itu dua buah saling berpunggungan).
"Eh maaf.... " kata gadis itu sembari ia juga mengusap belakang kepalanya yang beradu dengan kepala Romi.
"Ia.. Eh.. Sekretarisnya Rizky ya??" kata Romi mengenali gadis itu.
"Oh ia Pak hehe.. temannya Pak Rizky ya.." kata Ovi yang juga seketika mengenali pria itu.
Rapi banget.. ujar Ovi dalam hati. Biasanya ia melihat Romi datang ke kantor dengan pakaian kemeja kerja biasa atau t-shirt dan jeans yang sedikit kumal. Tapi Ovi juga mengakui ketampanan Romi (tapi masih bersikeras Rizky lebih tampat dus kali lipat), dan pakaian necisnya malam ini bisa sedikit menyaingi ketampanan Rizky.
"Gak udah pake bapak.. aku bukan atasan kamu toh," kata Romi menolak disebut 'Pak'. Rasanya geli sekali di telinga jika ia mendengar panggilan itu diluar kantor.
"Oh ia... mas.." kata Ovi ragu-ragu.
"Nah gitu aja.. darimana mbak? kok masih pakai kostum kerja jam segini?" tanya Romi dengan ramah.
"Oh.. ini... baru pulang dari tempat teman.." kata Ovi lagi, ia tak menyebut baru saja diantar oleh Rizky. Bisa-bisa ia dikira sekretaris aneh-aneh kalau ia tahu diantar pulang atasannya.
__ADS_1
"Kenapa gak pulang langsung, udah malem juga," tanya Romi lagi.
"Oh.. gak apa-apa..." jawab Ovi sambil sedikit menunduk.. Ia tak mungkin mengatakan ia disini karena ia sedang galau dan sedang cari angin.
"Rizky sibuk hari ini?" tanya Romi lagi basa-basi. Ia canggung juga jika membiarkan si sekretaris ini diam sendirian.
Ovi mengangguk... Enggan menjabarkan kejadian hari ini menemani Rizky seharian bahkan sampai ke pantai.
"Novi ya nama kamu? aku liat di papan meja di kantor,, aku Romi.. kita gak pernah kenalan resmi kan," kata Romi sambil menyodorkan tangan kanannya bersalaman.
"Panggil Ovi aja Pak.. eh Mas.." Ovi tersenyum bersalaman.
lho kok gue jadi malu-malu gini.. ujar Ovi dalam hati merasakan pipinya panas.
"Boleh aku pindah kesitu? pinggang aku sakit ngobrol melintir-melintir gini," kata Romi yang kemudian berdiri dan pindah duduk di samping Ovi ketika Ovi mengijinkannya.
"Eh Mas.. saya boleh tanya?" kata Ovi teringat sesuatu, ia ingin memastikan satu hal.
Romi mengangguk membolehkan..
Sedikit rasa menyengat terasa di dada Romi, ia teringat bagaimana Rizky berani mengajak kencan Karina.
"Hm... enggak.." jawab Romi singkat.
"Ada yang lagi dia sukai?"
Rasa menyengat itu terasa lebih kuat..
"Enggak juga sih kayaknya..." jawab Romi lagi, enggan menyebut Karina.
Ovi tersenyum senang mendengar jawaban Romi, setidaknya ia merasa punya kesempatan.
Perasaan Ovi pada Rizky jelas bisa dilihat oleh Romi. Dan Romi berharap Ovi semakin bersemangat mengejar Rizky dan bilamana ada kesempatan bisa saja Rizky membalas perasaan Ovi. Maka Romi tak perlu lagi bersaing dengan Rizky untuk merebut hati Karina..
__ADS_1
"Dimana rumahnya mbak?" tanya Romi mendadak.
"Eh? rumah saya?"
Romi mengangguk.
"Itu dekat sih.. jalan sedikit ke arah sana.. gang Sederhana.." kata Ovi menunjuk ke seberang taman.
"Oke ayo, aku temenin pulang.. tapi jalan kaki gak apa-apa ya.." kata Romi tiba-tiba berdiri dan mengulurkan tangannya.
Pipi Ovi merona malu... Ia ingin menolak tapi karena hari sudah larut dan memang lebih baik ada yang menemani pulang di jam seperti ini.
Ovi meraih tangan Romi dan kemudian berjalan berdua menyeberangi taman. Beberapa pedagang tampak sudah membereskan dagangannya untuk bersiap pulang.
"Kok bisa kerja di tempat si Rizky? dulu Sekretarisnya dia ibu-ibu umur 40an kan haha," kata Romi sambil berjalan santai.
"Oh.. ia.. sekretaris sebelumnya itu Bibi teman saya mas.. pas dia mah resign karena pindah kota, saya disuruh melamar.. nanti dikasih rekomendasi dari beliau... kebetulan lagi gak ada kerjaan akhirnya ya saya ambil.."
"Oh.... hoki banget Rizky ya.. punya sekretaris cantik," kata Romi sekenanya.
Muka Ovi lagi-lagi memerah.. "Ah enggak Mas.. yang cantik banyak di kantor saya."
"Gak usah merendah haha, cantik itu relatif.. menurut saya cantik belum tentu kata orang lain cantik.. tapi menurutku Rizky emang hoki banget sih punya kamu jadi sekretarisnya."
"Hehe.. Terima kasih.." Ovi menunduk malu.
"Sayang aja sobat aku itu emang agak susah kalau soal cewek.. dia gampang grogian.. gampang canggung.. jadi harus ceweknya yang inisiatif.." Romi menjelaskan..
Tujuan Romi berkata seperti itu tentu saja untuk 'menyemangati' Ovi.
"Kamu cantik.. dan bisa masuk di kantor itu pastinya kamu juga pintar.. jadi percaya diri aja kalau kamu suka sama Rizky.. dia pasti bisa luluh..." tambah Romi lagi.
Ovi tersenyum mendengarnya.. sejak seharian bersama Rizky sang idaman.. anehnya justru pujian dari Romi yang membuatnya merasa berbunga-bunga...
__ADS_1
Berjalan kaki pulang ke rumah tak pernah semenyenangkan ini..