Cinta (Tak)Butuh Kepastian

Cinta (Tak)Butuh Kepastian
Sabotase


__ADS_3

Sofia melajukan kendaraannya dengan perlahan, berusaha supaya ia terlihat seperti mobil-mobil normal lain di jalanan. Tidak berusaha untuk terburu-buru, tidak juga ingin terlihat begitu lambat. Baru kali ini Sofia merasakan kesulitan mengenderai mobil, ini bahkan lebih melelahkan daripada terjebak macet total.


Meski begitu beberapa kali Sofia terpaksa mesti memberhentikan mobilnya di sisi jalan untuk menjaga jarak. Ia sedang mengikuti target, target itu mengendarai motor dan itu menambah kesulitan bagi Sofia dengan mobilnya. Untungnya target itu tampaknya tidak menyadari keberadaan Sofia yang sedang membuntutinya.


Khusus untuk ‘acara’ hari ini, Sofia meminjam mobil sekretaris Ibunya, sebuah Honda Jazz RS berwarna kuning cerah...


Sofia tahu bahwa ia tak bisa terlihat terlalu mencolok jika harus membuntuti Romi si target. Mobil mewahnya akan menarik perhatian dengan mudah. Ditambah Romi sudah tahu mobil Sofia yang mana. Dan setelah beberapa kali mencari, ini adalah mobil paling ‘sederhana’ yang bisa ia dapatkan.


Sofia memberhentikan mobilnya dengan jarak yang menurutnya aman. Romi berada di dekat persimpangan, Sofia sekitar lima puluh meter di belakangnya.


“Ini anak seneng banget jajan ya,” kata Tias berkomentar ketika mereka kembali berhenti menjaga jarak. Tias mengambil teropong milik ayah Sofia untuk melihat keadaan Romi jauh di depannya.


Sofia hanya tertawa kecil melihat kelakuan Romi yang sedang berhenti untuk ke sekian kalinya untuk sekedar jajan di pinggir jalan.


Kali ini tampaknya ia sedang membeli es teh.. Sekilas Romi terlihat seperti seseorang yang amat lugu dibalik topeng playboynya. Bagi Sofia itu seperti menambah ‘misteri’ dari orang yang ingin ia dapatkan, dan itu hanya membuat Sofia semakin bersemangat untuk mendapatkan hatinya untuk dirinya seorang.


“Jadi....?” mendadak Sarah memotong perhatian Sofia yang baru saja merebut teropong dari tangan Tias untuk melihat Romi.


“Oh ia, jadi nanti peran lu bakal penting banget,” Sofia mendadak teringat kembali rencananya hari ini.


Gila ini ibu hamil memang masih cakep abis.. Sofia dalam hati memuji penampilan sarah.


Sofia menjelaskan kembali ketiga kalinya untuk hari ini, secara detail yang panjang dan lebar mengenai rencananya dan alasannya melakukan semua ini. Sofia menjelaskan langkah demi langkah soal apa yang harus dilakukan Sarah nantinya. Lengkap dengan dialog yang disiapkannya untuk berbagai kemungkinan dan situasi. Tak lupa ia juga mengingatkan Sarah untuk tidak membocorkan soal dirinya. Dan yang tak kalah penting, berkali-kali Sofia juga menanyakan pada Sarah apakah ia benar-benar mau melakukan ini. Sofia tak mau Sarah melakukannya dengan rasa terpaksa yang akhirnya menaruh resiko pada rencananya.


“Buat duit segitu gue mau,” tegas Sarah yang memfokuskan pikirannya pada hadiah yang amat sangat dibutuhkannya saat ini. Ia juga berkali-kali memaki mantan suaminya yang menghilang bak tukang sulap di dalam hatinya karena telah mendesaknya untuk berbuat sejauh ini.

__ADS_1


Sofia dan Tias saling berpandangan masih merasakan keraguan. Bahkan jika bisa Sofia inign menarik kembali rencananya, tapi tanpa rencana ini perjuangannya akan lebih sulit lagi untuk menaklukan Romi.


Namun sepertinya rasa ragu itu hanya dimiliki mereka berdua, Sarah sudah sepakat, dan ini berita baik. Sarah tersenyum dengan pasti dan percaya diri membalas pandangan ragu Tias dan Sofia.


“Dia jalan lagi!” Tias mengingatkan ketika melihat Romi yang sudah melajukan kembali motornya.


Sofia segera melajukan mobilnya dan mengikutinya lagi. Pikirannya sedikit terombang-ambing sembari menyetir. Ia memikirkan soal apakah ini bisa berhasil? Apakah ini salah? Apakah perasaannya pada Romi salah? Apakah perasaannya untuk menginginkan Romi untuk dirinya sendiri adalah salah?


Meneguhkan hatinya, Sofia mengusir keraguan. Keputusan udah final...ragu-ragu di awal rencana itu udah biasa..yang luar biasa adalah eksekusinya..dan gue gak akan menyerah segampang itu..


Selanjutnya Romi sampai pada sebuah restoran, ia memarkirkan motornya di bagian samping parkiran restoran itu dan masuk kedalam. Tak lupa Romi juga sempat merapikan dirinya dulu sejenak sebelum ia masuk. Beberapa kali Romi tampak seperti melakukan senam mulut.. untuk seorang playboy ia tampak sedikit gugup.


Sofia pun memarkirkan mobilnya tepat di depan restoran itu namun ia tidak ikut masuk kedalam restoran. Akan sangat mencolok jika ia memasuki restoran itu..


Beruntung baginya, restoran itu memiliki jendela-jendela besar yang menawarkan pemandangan menggiurkan ke dalam. Dan ia bisa melihat Romi dengan jelas di dalam sana sedang berjalan menuju sebuah meja.


Hati Sofia mulai terasa panas.... bara api cemburu mulai tersulut dan menyala.. tapi kini ia masih bersabar.. belum saat yang tepat untuk bertindak.


Mereka bertiga dengan sabar menunggu di dalam mobil sambil memerhatikan Romi yang sedang bersama gadis itu. Sarah tak berhenti mengemil makanan di kursi belakang (bawaan bayi,,, begitu katanya). Dan beberapa lama kemudian setelah kelihatannya obrolan yang seru, sebuah sinyal untuk bergerak muncul..


Romi kelihatannya berdiri dan berjalan ke belakang menuju kamar kecil.


“Sekarang!” Sofia menyuruh Sarah segera masuk.


Dan cepat Sarah membersihkan mulutnya yang masih belepotan dengan cokelat dan dengan langkah cepat bak seorang aktris (yang sedang hamil) memasuki arena...

__ADS_1


Sofia memandang Sarah berjalan menjauh, hatinya berdoa dengan kencang berharap semua berjalan dengan lancar..


Rasanya tak sampai lima menit Sarah sudah kembali keluar restoran itu. Di belakangnya si gadis yang tadinya duduk manis menunggu Romi turut keluar restoran. Sekilas dapat dilihat ia keluar dengan berderai air mata.


“Yes!” Sofia tersenyum senang.


“Jahat gak sih?” Tias nyeletuk dari sebelah Sofia.


“Bawel,” kata Sofia ketus.


Sarah si ibu hamil memasuki kembali mobil mereka.


“Lu bilang apa??” Sofia penasaran.


“Sesuai instruksi.... gue bilang.. maaf saya sedang mengandung anak Romi.. Ia harus bertanggung jawab.. mohon kamu gak usah terlibat....” Sarah menirukan akting suaranya yang baru saja ia lakukan beberapa saat lalu.


“Terus??” Sofia masih ingin tahu.


“Gitu doang beneran.. dan dia langsung nangis gitu...”


Sofia menyandarkan kepalanya ke jok mobil dengan perasaan campur aduk. Ia merasakan sedikit menjadi orang jahat, tapi hatinya lebih didominasi oleh rasa bahagia yang terasa begitu membuncah ia bersedia membelikan kedua temannya ini apapun yang mereka mau.


Beberaoa saat kemudian mereka melihat Romi kembali dari kamar kecil dan terlihat kebingungan setengah mati. Namun Romi tak mencari keluar atau berusaha menanyakan ke sekitarnya. Ia hanya duduk dengan pandangan kosong dan mulut menganga seperti orang linglung.


Sofia merasakan perasaan lega, ia menebak jika Romi sampai mencari gadis tadi keluar dan sibuk mencari berarti Romi memliki perasaan serius padanya. Kini ia yakin gadis tadi tak lebih dari sekedar pengisi waktu luang Romi...

__ADS_1


Awal dari segalanya.... kata Sofia dalam hati.


__ADS_2