Cinta (Tak)Butuh Kepastian

Cinta (Tak)Butuh Kepastian
Karina dan Rizky


__ADS_3

Karina baru selesai membersihkan warungnya, ia tinggal mengunci pagar masuk dan kemudian pulang beristirahat. Setelah memasang gembok ia mengintip kembali kedalam memastikan semua sudah dibereskan. Ia orangnya sedikit pelupa, ia bahkan pernah meninggalkan handphonenya di dalam warung. Untung saat itu ada Romi yang dengan sukarela pergi ke warungnya untuk mengambil handphone Karina yang tertinggal. Jarak dari rumah tinggal Karina dan warung kini cukup jauh, jadi repot jika Karina yang harus pergi karena ia juga mesti menjaga neneknya.


Karina baru saja hendak memanggil taksi online ketika sebuah mobil parkir tepat di hadapannya.


Karina tersenyum karena ia langsung mengenali mobil yang berhenti itu. Dan benar saja ketika jendela pintu diturunkan dari dalamnya Rizky langsung menyapa.


"Perlu tebengan?" Rizky menawari sambil tersenyum.


"Gak usah Mas, ada taksi online," Karina menolak sopan. Sudah beberapa kali akhir-akhir ini Rizky mengantarkan Karina pulang. Jadi ia merasa tak enak jika ia merepotkan Rizky.


"Ya ampun gak apa-apa," kata Rizky bersikeras dan membukakan pintu penumpang. Ia berusaha terlihat ramah mengajak Karina pulang. Ada sedikit rasa takut ia lebih terlihat sebagai penjahat kelamin daripada pangeran berkuda putih.


Karina tak enak hati jika pintu sudah dibukakan seperti itu. Akhirnya ia menerima tawaran Rizky dan memasuki mobilnya.


Rizky tentu saja senang bukan kepalang bisa mengantar Karina pulang. Ia sengaja beberapa kali datang ketika jam tutup warung supaya bisa 'mencegat' Karina. Ia senang sekali akhir-akhir ini ia berani untuk lebih sering mampir ke warungnya dan lebih berani mengajak Karina ngobrol ini-itu.


"Sibuk?" tanya Rizky sambil melajukan mobilnya.


"Em... biasa aja sih," jawab Karina sembari melihat warungnya menjauh. Ia suka sekali melihat warungnya ketika ia pergi meninggalkannya. Ada rasa bersyukur dalam dirinya masih bisa diberi kesempatan mengais rejeki di hari ini.


"Tambah karyawan dong," kata Rizky menyarankan.


"Biar apa? sekarang juga udah cukup kok," tanya Karina yang merasa masih bisa menjalankan tokonya sejauh ini dengan dua karyawannya.


"Biar kamu gak capek," kata Rizky berusaha terdengar perhatian.


"Hahaha, enggak mas, aku gak capek lah, udah biasa..."


"Tapi kan bisa lebih baik lagi," tambah Rizky lagi.


"Nanti susah bayarnya," kata Karina sembari pura-pura menghitung.

__ADS_1


"Nanti aku tambahin," kata Rizky percaya diri.


"Mana bisa gitu," kata Karina tegas.


"Bisa dong, buat kamu kan gitu ceritanya haha," Rizky tertawa garing.


Rizky memang belum 'menembak' Karina secara resmi meski telah berkencan sekali. Jadi tentu saja Karina belum menganggap spesial hubungan mereka. Tapi Rizky tentu saja di dalam hati ada perasaan berharap yang lebih dari ini. Ia berpendapat bukankah dengan mengajaknya makan keluar ia sudah memberikan sinyal perasaannya pada Karina? kenapa Karina belum membalas sinyalnya?


Dalam hati Rizky meyakinkan dirinya bahwa waktunya nanti akan tiba.. Karina akan menjadi miliknya... mungkin memang diperlukan tindakan yang nyata..


Dan karena itulah rencana ulang tahunnya akan menjadi luar biasa.


"Kamu suka cincin yang bentuknya rumit, atau yang simpel?" tanya Rizky santai.


Karina sedikit keheranan mendengar pertanyaan semacam itu. Meski dalam hati sebetulnya ia sudah memiliki dugaan maksud jelasnya.


"Kenapa emang mas?" tanya balik Karina.


"Hm.. gak usah mas.. cincin aku masih bagus.." kata Karina sambil mengibaskan tangannya.


Rizky mengangguk seolah memahami Karina.


Di lampu merah mereka bersebelahan dengan motor yang ditumpangi pasangan sedang berboncengan.


"Wah enak ya punya pacar," Rizky memancing percakapan ke arah itu.


"Apa enaknya?" tanya Karina dengan serius.


"Ya enak.. ada teman ngobrol.. berbagi waktu.. berbagi cerita.. berbagi beban hidup haha," Rizky menjelaskan sembari bercanda.


"Oh haha.. ya nikah aja sekalian kan, biar langsung gak pake pacar-pacaran.. langsung halal," kata Karina lugas.

__ADS_1


Rizky tersenyum lebar mendengar perkataan Karina. Rencana Rizky ternyata sesuai dengan yang Karina inginkan, ini jadi motivasi tambahan untuk Rizky.


Langsung menikah tanpa pacaran mungkin memang baik, tapi nyatanya meski itu yg ia katakan namun Karina sendiri memiliki beberapa mantan pacar. Terakhir kali ia berpacaran memang tiga tahun lalu, tapi ia tak menutup kemungkinan di masa depan memilikinya lagi.


Beberapa kali pria mendekatinya dan mencoba mendapatkan hatinya. Namun belum ada yang ia rasakan cocok untuk dijadikan pasangan. Yang paling baru tentu saja lelaki di sebelahnya ini. Karina tentu menyadari bahwa Rizky memiliki perasaan khusus untuknya.


Ia melirik Rizky di sebelahnya yang sedang fokus menyetir mobilnya. Secara fisik Rizky tampan, secara karir ia cemerlang, dan secara hubungan pribadi ia bahkan belum berpacaran sebelumnya dengan siapapun. Tipe yang sebenarnya menurut Karina sempurna dari kulit luarnya.


Tapi karena ia tak pernah menjalani hubungan serius dengan siapapun, justru menjadi pertimbangan jauh Karina. Rizky mungkin saja masih perjaka tetapi di sisi lain ia belum memiliki pengalaman sama sekali dalam memiliki pasangan. Jadi kemungkinan besar dia masih tidak punya ide soal bagaimana harus bersikap terhadap pasangannya. Belum lagi karena hal itu juga Rizky jadi sangat kaku sekali. Karina belum merasa nyaman berkomunikasi dengannya.


"Bentar lagi sampai," gumam Rizky ketika memasuki pemukiman tempat Karina tinggal.


"Ia mas."


Mereka akhirnya tiba di depan sebuah rumah yang tampak tua. Temboknya masih memiliki dekorasi batu-batu di setengah dindingnya seperti rumah dari jaman Belanda. Rizky memberhentikan mobilnya tepat di depan pintu gerbang pendek rumah itu.


"Oke," kata Rizky sembari melirik ke arah rumah itu.


"Makasi ya," kata Karina tersenyum.


"Ia santai aja," kata Rizky dengan senang. Sekian lama berteman dengan Karina dan kenal dengan neneknya, baru kali ini rumah Karina terlihat dan terasa spesial.


Karina membuka pintu dan melangkah keluar mobil Rizky. Dan dengan lambaian tangan terakhir, Rizky kembali melajukan mobilnya pergi menjauh.


Karina membuka pintu gerbang dan berjalan masuk menyusuri jalan taman kecil depan rumahnya. Sekilas Karina jadi membayangkan, jika tadi yang mengantarkannya adalah Romi mungkin banyak obrolan dulu sebelum ia masuk rumah. Mungkin banyak candaan yang Romi lontarkan sebelum ia pamit pergi. Dan banyak tawa yang muncul dari hal-hal tak jelas yang biasa ia bicarakan..


Hmm... Karina jadi bingung kenapa ia malah memikirkan Romi si playboy. Tapi bagaimanapun memang Romi pribadi yang menyenangkan.. Karina jadi tak merasa heran mengapa banyak gadis jatuh hati padanya..


Dan dengan bayangan Romi melintas di benaknya, Karina membuka pintu.


"Aku pulang..."

__ADS_1


__ADS_2