Cinta (Tak)Butuh Kepastian

Cinta (Tak)Butuh Kepastian
Pilihan II


__ADS_3

Asteria membelokkan kemudinya ke arah kiri di perempatan kilometer lima, sambil melihat kaca spion dengan hati-hati ia berbelok. Ia memasuki Jalan Kehutanan, dan sesuai dengan namanya jalanan ini begitu teduh dengan rimbunnya pepohonan yang tumbuh dari halaman kampus di sepanjang sisi kiri jalan.


Dari kampus itu tampak beberapa kerumunan mahasiswa dibawah pohon-pohon besar yang menjadi seperti tempat berkumpul untuk mereka. Asteria sempat melirik ke arah mereka sembari menyetir. Melihat mereka yang begitu ceria dan terlihat bahagia tanpa beban membuatnya sedikit rindu masa-masa ketika kuliah.


Mengerjakan tugas... mengejar kelas... menulis makalah... mencari dosen dikala skripsi... belum lagi kalau diingat teman-temannya kala itu seru-seru orangnya. Tanpa sadar Asteria tersenyum lebar ketika memori masa lalu itu melintas di benaknya.


Mobilnya kemudian kembali berbelok ke kiri ketika memasuki pertigaan berikutnya memasuki Jalan Kesehatan.


Jalanan ini selalu ramai karena memiliki Rumah Sakit Umum yang cukup megah, sehingga pasien dan penjenguk dari berbagai daerah silih berganti berkunjung melalui jalan ini. Dan tak sampai sepuluh menit Asteria sudah memasuki sebuah jalan kecil yang berujung di sebuah rumah tinggal yang amat besar. Asteria memarkirkan mobilnya di halaman dan sejenak melirik ke arah dalam.


Serpihan memori kembali menghampiri Asteria. Kali ini ia mengingat masa sekitar satu tahun yang lalu, ketika ia datang kesini untuk pertama kalinya. Kala itu Romi sedang sakit parah dan tidak ada yang merawatnya. Jadi ia berkunjung untuk beberapa hari sampai Romi pulih.


Asterua keluar dari mobilnya dan berjalan memasuki kosan Romi. Sembari berjalan tangannya merogoh ke dalam tas, jemarinya melompat kesana-kemari mencari-cari. Setelah beberapa kali mengintip ke dalam tas jinjingnya akhirnya Asteria menemukan kunci kamar kosan Romi. Selama ini ia memang memiliki kunci kosannya sebagai pertukaran kala Asteria memberikan duplikat kunci apartemennya pada Romi. Tapi tentu saja kebanyakan selama ini Romi yang sering berada di tempat Asteria.


Suasana kosan masih cukup sepi, tidak ada aktifitas yang begitu berarti. Hanya suara mesin pompa air saja berdengung sedang mengantar air ke enam kamar mandi umum di sekeliling kamar-kamar ini. Asteria melihat jam tangan, waktu masih menunjukkan pukul tiga sore.


Masih sempat sebelum dia pulang Asteria tersenyum sendiri memikirkan Romi yang akan terkejut menemukannya di kamar kosan ketika pulang nanti.


Di tangannya ia menjinjing kotak makanan berisi ayam goreng serundeng favorit Romi buatannya sendiri. Setelah sedikit masalah sebelumnya diantara mereka Asteria ingin membuat kejutan kecil sekedar untuk menyenangkan hati Romi dan menenangkan hatinya sendiri.


Setelah naik ke lantai dua dan berjalan lagi menyusuri deretan kamar yang rata-rata sedang kosong dari penghuninya, Asteria tiba di sebuah pintu dengan stiker tulisan band 'Dream Theater'. Asteria memasukkan anak kunci ke lubangnya.


Lho?


Asteria mencoba memasukkan kembali tapi sepertinya tidak bisa masuk. Sempat terpikir jangan-jangan kuncinya sudah diganti. Tapi kosan semcam ini jarang sekali mengganti kunci pintunya jadi kemungkinan kecil itu yang jadi masalahnya.


Ia menunduk mengintip lubang kuncinya, tapi ia tak bisa melihat menembus lubang kunci pintu itu. Asteria menebak kunci milik Romi masih terpasang di sisi dalam pintu. Mengingat Romi sedikit ceroboh orangnya maka tak heran jika hal itu terjadi.

__ADS_1


Maka Asteria pun langsung membuka pintu itu. Dan sesuai dugaannya, pintu itu terbuka dengan mudah..


EH?????


"Halo... mau cari Romi?"


Napas Asteria tertahan melihat sosok ibu-ibu yang seketika ia kenali karena Romi pernah menunjukkan sosoknya di dalam foto. Ibunya Romi sedang duduk sembari menjahit yang sepertinya sebuah celana yang berlubang..


Karena panik dan terkejut Asteria sempat berjalan berputar balik tapi kemudian kembali lagi setelah tiga langkah. Rasanya tak sopan jika ia kabur begitu saja, lagipula bertemu Ibunya Romi tak akan merugikannya. Jadi ia kembali lagi..


"Ia.. maaf Tante saya main masuk aja.."


"Enggak apa-apa nak, kalau kamu masuk langsung kesini berarti kan kamu sama Romi sudah dekat jadi Ibu gak curiga.. sini-sini masuk.. kita tunggu Romi sama-sama.." sang Ibu menepuk lantai menyuruhnya duduk.


Asteria membuka sepatunya dan kemudian duduk di seberang Ibunya Romi.


"Romi lagi nganterin adeknya yang pengen HP baru.." kata Ibunya menjelaskan seolah bisa membaca kebingungan Asteria yang wajahnya masih pucat seperti tembok.. "Jadi sudah berapa lama sama Romi?"


"Eeeh.. saya kenal sudah dua tahun Tante.." tak lupa Asteria menambahkan senyum manis di akhir jawaban. Bahkan sejak dulu saja jika ia berpacaran, ia belum pernah bertemu orang tua pacarnya. Romi bukanlah resmi seorang pacar dari Asteria tapi mendadak ia sudah bertemu Ibunya.


"Udah lama ya... Romi itu lho.. kadang gak pernah cerita..." Ibunya mengeluh..


"Mungkin takut dimarahi Tante.."


"Hehehe ya..mungkin.."


Asteria baru ingat ayam goreng yang ia bawa.

__ADS_1


"Oh Tante saya bawa ini.. barangkali suka.."


"Aduh kok repot-repot ini.. Romi sering merepotkan kamu kayak gini?"


"Lho enggak kok Tante, ini saya bawa sendiri aja bukan diminta.."


"Ini kamu yang masak Nak?


Asteria mengangguk.


"Duh wangi sekali.." kata Ibu ketika membuka wadah ayam goreng itu. "Kalau kamu pintar masak Ibu jadi gak usah khawatir Romi kelaparan nanti kalau menikah hehe."


Semburat merah merekah di sekeliling wajahnya yang langsung terasa panas.


Menikah.....


Dan ketika itu sekonyong-konyong Romi tiba di kosannya.


"Lho??" Romi terkejut melihat Ibunya sedang membuka wadah makanan. Yang lebih terkejut lagi sampai hampir membuatnya mencret sekita adalah melihat Asteria.


"Waah akhirnya datang juga.." kata Hara adiknya yang tiba-tiba muncul di belakang Romi.


Sekarang giliran Romi yang pusing tujuh keliling.. Sudah pasti Ibunya mengira Asteria adalah kekasih Romi. Ia menyesal karena mestinya ia memberi tahu Asteria sebelumnya bahwa ada Ibunya disini supaya ia tidak datang atau memintanya mampir ke tempatnya. Runyam semuanya....


Romi ingin sekali marah tapi tak bisa.. Yang ia inginkan untuk dikenalkan tentu saja Karina bukannya Asteria.. Tapi selama Asteria tidak mengaku sebagai kekasih Romi maka ia masih bisa mengenalkan Karina nanti ketika mereka resmi berpasangan pada Ibunya. Dan setelah dua tahun bersama Asteria tentu saja ia yakin dan percaya bahwa Asteria tak akan seenaknya mengaku sebagai pacarnya sebelum berbicara padanya terlebih dulu. Hubungan rumit mereka kini sedikit bertambah rumit..


Akhirnya mereka berempat duduk mengobrol bersama. Romi berhasil menahan emosinya yang panik dan kecewa hingga tak terlihat sama sekali. Sang Ibu sibuk menceritakan tentang bagaimana Romi orangnya sejak kecil sampai sekarang. Ada banyak cerita yang Asteria tak pernah ketahui sebelumnya, seperti Romi yang takut dengan angsa, atau ia pernah kabur dari rumah ketika SMA karena tidak diijinkan pergi ke konser GIGI.

__ADS_1


Asteria tentu saja senang mendengar kisah-kisah baru ini.. ia jadi merasa mengenal Romi lebih jauh. Belum lagi penerimaan sang Ibu yang begitu baik padanya.


Kalau jadi pacar Romi betulan dan sampai menikah....rasanya bukan ide buruk juga......


__ADS_2