
Romi berdiri dan menarik napas dalam-dalam, ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kunci. Ia hendak memasukkan kunci itu ke lubangnya namun ia menariknya kembali. Ia memainkan kunci itu di tangannya melempar-lemparkan kunci itu di telapak tangannya, sepertiga hatinya melarang dirinya untuk masuk ke dalam. Tapi sisanya memerintahkan untuk segera masuk dan penuhi keinginannya.
Keegoisan tanpa batas.. kata Romi dalam hati kecewa pada dirinya sendiri.
Dan segera setelah itu Romi menggunakan kunci yang sejak tadi ia mainkan dan membuka pintu berwarna hitam di hadapannya..
Romi membuka daun pintu dan masuk ke dalam namun tidak ada suara-suara tanda aktivitas disana. Ia kemudian membuka sepatu seperti biasa dan menaruhnya di rak yang sudah berisi beberapa sepatu wanita berjejer rapi.
Romi berjalan masuk dan duduk di sofa depan TV seperti biasa jika ia datang kemari. Ia tidak menyalakan TV seperti biasa namun ia hanya sekedar duduk dan bersandar ke sofa berwarna cokelat yang begitu empuk itu.
Sekilas Romi berpikir bahwa sofa ini pasti mahal sekali. Kalau harus beli sendiri, sepertinya ia harus mengumpulkan gaji berbulan-bulan. Beruntung sekali ia bisa menggunakannya kapan saja.
Romi bersandar kebelakang dan menutup kedua matanya, setelah seharian bekerja rasanya nyaman sekali beristirahat disini. Aroma ruangan yang selalu wangi lavender, angin sejuk dari AC yang selalu menyala membelai kulitnya yang kepanasan, serta suasana disini yang entah bagaimana selalu terasa damai, jika ia mau egois ia tinggal disini saja sekalian. Tapi jika ia melakukannya orang akan memandang dirinya cuma numpang hidup disini.
Ketika mata Romi masih terpejam mendadak sebuah kecupan mendarat di dahinya.
"Eh?" Romi terkejut, tapi ia merasa senang.
"Maaf aku baru tidur siang," kata Asteria yang bahkan masih mengenakan piyama. Mukanya masih terlihat muka bantal tapi tetap tampak manis..
"Haha enak ya berkat bisa kerja di rumah," kata Romi yang kini duduk tegak tidak lagi bersandar.
"Iya dong, iri ya?" goda Asteria sembari kemudian berjalan dan duduk di sebelah Romi lalu dengan manja ia bersandar di bahunya.
Romi merangkul bahu Asteria.
"Haha iyalah, orang yang gak iri sama kamu itu abnormal, enak banget kan kerja di rumah..bisa sambil ngemil..istirahat bisa tidur..gak perlu ketemu banyak orang..gak perlu ketemu atasan langsung," kata Romi yang membayangkan ia bekerja seharian hanya memakai celana pendek. "Eh kamu belum mandi dari pagi?"
Asteria menarik piyama berwarna birunya dengan bangga, "belum hahaha, kenapa? gak suka? bau??"
"Engga sih," kata Romi singkat.
"Terus kenapa?" kata Asteria mendekatkan wajahnya pada wajah Romi.
Romi menelan ludah didekati seperti itu.. Asteria memang cantik sedari dulu.. hidungnya yang mancung menyentuh hidung Romi saking dekatnya wajah mereka berdua. Aroma tubuhnya masih saja wangi meski belum mandi, mungkin karena ia tidak banyak bekerja fisik, atau mungkin saja hanya imajinasi Romi.
__ADS_1
Dan seperti itu saja semua berlanjut hingga Romi akhirnya mesti menggendong Asteria kedalam kamar... Sofa bukan tempat favorit bagi Romi untuk berbagi kasih..
Dua jam kemudian Asteria sudah sibuk memasak makan malam untuk mereka berdua. Kali ini Asteria sudah mandi, begitupun Romi yang sudah berganti pakaian. Ia memang menyimpan beberapa pakaian di tempat Asteria.
Sejurus kemudian nasi goreng spesial buatan Asteria sudah tersaji di hadapan Romi.
"Wangi.." kata Romi ketika uap nasi goreng menyusupi hidungnya.
"Maaf ya cuma bisa masak nasi goreng," kata Asteria sembari mengambil sepiring untuk dirinya sendiri.
"Cewek jaman sekarang malah banyak yang gak bisa bikin telur ceplok," kata Romi sambil mengangkat potongan telur dari nasi gorengnya.
"Ah masa..?"
"Beneran."
"Ia deh, kan kamu pengalaman sama cewek banyak hahaha," kata Asteria tertawa lepas.
"Ih bukan gitu juga," Romi berkilah meski sebetulnya yang dikatakan Asteria ada benarnya.
"Kan ada survey."
"Survey apaan hahaha."
"Pokoknya survey," kata Romi mengacungkan jarinya seperti dosen sedang mengajar.
"Kamu bisa kok makan terus masakan nasi goreng aku," kata Asteria.
"Hm?"
"Kamu tinggal disini aja," kata Asteria sambil mengedipkan mata.
"Pengen sih..."
"Ya udah sini aja.."
__ADS_1
"Tapi nanti aku dipecat jadi anaknya Ibuku hahaha," Romi tertawa sambil membayangkan Ibunya marah besar melemparkan sendal seperti biasa ketika ia ada di rumah. Percayalah kemarahan Ibunya Romi itu sangat menakutkan. Satu-satunya yang bisa merubah pikiran Romi tanpa membuat Romi komplain dan banyak bertanya adalah Ibunya.
Asteria ikut tertawa saat mendengar alasan Romi. Pria satu ini memang terlihat polos sekali, mungkin memang polos betulan. Di mata Asteria seorang Romi adalah hanya seorang pria polos yang berusaha keras menjadi orang lain. Dan ketika Romi menunjukkan sisi polosnya, Asteria melihat dirinya yang apa adanya. Asteria mencintai Romi yang seperti itu.
Romi selalu bercerita segalanya.. bahkan tentang teman-teman kencannya yang lain. Mereka pasangan yang begitu terbuka hingga tidak masuk logika di otak kebanyakan orang.
"Kamu gak mau gitu.. cari cowok lain yang lebih serius daripada aku," tanya Romi sambil memakan makanannya.
"Gak mau," jawab Asteria singkat.
"Cantik.. sukses.. pintar masak.. kalau ada papan nilai aku udah ngasih kamu nilai 100!" kata Romi sembari menirukan seolah mengangkat papan skor diatas kepalanya.
"Iya.. dan nilai 100 dari kamu udah cukup buat aku," kata Asteria lagi santai.
"Meskipun aku manusia gak jelas."
"Daripada jelas.. tapi ujungnya aku dibegoin.. mending gak jelas.. tapi terasa jelas.." ujar Asteria membalas permainan kata Romi.
"Gak masuk akal," kata Romi sok bijak.
Tiba-tiba Asteria mencium bibir Romi.
"Itu masuk akal gak?" tanya Asteria yang sudah kembali duduk di kursi makannya.
"Masuk akal," jawab Romi singkat.
Dan mereka berdua tertawa lepas kemudian..
Kadang Romi merasa bersalah karena menaruh Asteria dalam posisi yang tidak jelas. Asteria pun bukan sekali dua kali saja memberikan penjelasan pada Romi bahwa ia bahagia seperti ini dan membebaskan Romi untuk berhubungan dengan siapapun.
Romi merasa kehadiran Asteria membuatnya merasa nyaman. Gadis ini selalu mau mendengarkan ocehannya tentang segala hal. Ia jadi tempat Romi membuang sampah-sampah pikirannya dan Asteria membalasnya dengan memberikannya kenyamanan.
Asteria kadang bercerita soal keluarga dan pekerjaannya, Romi mendengarkan dengan seksama. Mereka bisa saling menggantungkan harapan dan masalah satu sama lain. Bahkan mereka memiliki hobi yang sama, buku dan game. Tidak jarang Romi main ke apartemen Asteria hanya untuk bermain game seharian berdua. Atau di lain harinya, mereka berdua bisa seharian diam di sofa membaca buku.
Itu yang membuat Romi sulit meninggalkan gadis yang satu ini.... Romi bisa meninggalkan dengan mudah semua teman kencannya yang lain untuk fokus pada Karina. Tapi Asteria adalah fenomena lain yang Romi tak bisa jelaskan dan tak mau hilangkan.. setidaknya untuk saat ini..
__ADS_1