
Romi duduk di lantai keramik kosnya, sembari memandang tajam ia berkali-kali mengusap dagunya yang tak berjanggut. Beberapa kali ia mengacak rambutnya dengan sedikit kesal dan menyesal.
kok bisa-bisanya gue terima... tapi gue butuh... aduh... keluhnya sambil matanya tetap tertuju pada buku The Fellowship of The Ring di mejanya...
Terakhir kali tempo hari setelah kencan anehnya berjalan dengan canggung. Sofia memutuskan untuk meminjamkan buku itu pada Romi. Setelah sebelumnya Rizky yang membocorkan bahwa Romi kehilangan buku yang sama yang dibawa Sofia.
Dengan mendapatkan buku itu bisa dikatakan kencan Romi menguntungkan. Tapi di sisi lain usaha Romi untuk menjodohkan Sofia dan Rizky juga berjalan berantakan. Karena sepanjang waktu Sofia hanya berbicara pada Romi. Sementara Rizky ditinggalkan begitu saja seperti obat nyamuk di sudut ruangan. Dan akhirnya Rizky hanya membaca majalah mistis sementara menunggu proses kencan keduanya selesai.
Romi sendiri tidak begitu memedulikan apakah ia berhasil mengambil hati Sofia atau tidak, di otaknya hanya buku itu yang menjadi perhatiannya. Dan Romi berusaha sebisa mungkin supaya bisa mendapatkannya meski harus menemani Sofia ngalor ngidul soal ini itu.
Tetapi jika sekarang dipikirkan kembali.. ini seperti senjata makan tuan. Romi meminjam buku itu, berarti Romi harus mengembalikan buku itu lagi. Dan dengan kata lain Sofia punya alasan untuk bertemu lagi dengannya.
Bukannya Sofia itu jelek, ia sangat cantik bahkan untuk standar seorang Romi yang sudah melewati banyak masa dengan banyak wanita. Sofia juga tidak kalah pintar berbicara dan bisa menarik untuk jadi teman berdiskusi. Dan tak lupa jika membawa sisi materi, maka Sofia tidak kekurangan barang satu sen pun.
Hanya saja salah satu yang mengganjal di benak Romi adalah.. yang pertama, ia sejak awal tidak berniat mendekati Sofia.. Selama ini Romi tidak pernah asal mendekati perempuan dengan alasan aji mumpung. Cantik dan sempurna tak selalu jadi kriteria utama untuk seseorang menyukai seorang lainnya. Dan jika sejak awal kita tidak menaruh hati dan niat, akan sulit memaksakan diri selanjutnya.
Lalu yang kedua adalah diri Sofia yang bisa dikatakan secara hiperbola keberadaannya ia rasakan terlalu 'agung' untuk ia dekati. Dengan segala keduniawian level atas yang melekat pada Sofia, membuatnya terlihat begitu jauh. Terasa seperti tak bisa diraih, andaipun ia bisa diraih maka Romi tak mengerti apa yang mesti ia lakukan selanjutnya.
Mungkin bisa dikatakan Romi merasa sedikit rendah diri..
Ah dipikirin lagi nanti aja... ujar Romi dalam hati menyerah pada kebingungannya.
Tak perlu waktu lama setelahnya Romi sudah berada di sebuah restoran makanan oriental bersama Tania. Sudah beberapa lama Romi tidak bertemu gadis yang satu ini.
"Hmm kenapa?" tanya Romi dengan senyum khasnya. Tania tampak memperhatikan wajah Romi untuk beberapa lama.
"Gak apa-apa.." jawab Tania setengah hati.
__ADS_1
"Kenapa hayo?" tanya Romi lagi menggoda dan penasaran di saat yang sama.
"Hm.. penasaran aja.. kok kamu susah dihubungi kemarin-kemarin.. banyak temen jalan ya selain aku," kata Tania sedikit menuduh namun dengan nada bercanda.
Jika Tania bisa melihat kedalam otak Romi ia akan melihat sosok Romi yang sedang kerepotan mengelap keringat grogi di dahinya.
Tentu saja bukan kamu aja yang aku ajak jalan... tapi......
"Sibuk sama ini itu, biasa lah aku lagi sok sibuk," jawab Romi luwes dengan nada bercanda.
Tania tertawa kecil melihat tingkah Romi.
"Iya.. aku agak takut aja kayak mantan aku kemarin.. tiba-tiba hilang terus minta putus.." kata Tania lagi kini nadanya sedikit serius.
"Oh..." Romi sedikit bingung menanggapinya.. karena secara resmi ia bukanlah atau belum jadi pacar Tania.. Jelas ini kode untuk meminta kepastian pada Romi.. mungkin berharap Romi menyatakan cinta dan membuat hubungan mereka jelas statusnya.
"Wah kwetiau," kata Romi bersemangat saat pesanannya datang. Tentu saja antusiasme pada makanan hanya sekedar pengalih perhatian dari pembicaraan Tania.
"Makasi," kata Tania setelah menerima nasi goreng pesanannya. Ia masih tak puas dengan reaksi Romi, ia berharap lebih..
"Kamu suka kwetiauw?" tanya Tania.
"Pasti," kata Romi kemudian melahap kembali satu suap kwetiauw goreng.
"Aku suka masak dulu buat mantan aku.. aku juga jago masak mie-mie gitu.. kwetiauw juga bisa," kata Tania lagi memancing.
"Ohek!" Romi tersedak mendadak rombongan kwetiauw di tenggorokannya. "Pasti pacar kamu nanti beruntung banget," tambah Romi lalu mengambil segelas air.
__ADS_1
Tania melirik lelaki yang sibuk meminum air putih segelas di seberang mejanya. Di matanya, lelaki itu tampak baik, pendengar yang istimewa, dan tak lupa juga ia tampan. Di sisi lain memang orang ini agak sulit dihubungi, tapi sekalinya bisa dihubungi pembicaraan akan terasa cair dan lancar. Tania lebih suka lelaki seperti ini, tidak terlalu posesif.
Sementara itu di seberang Tania, Romi mulai merasa sedikit menegang mentalnya. Jika ia terdesak hingga harus 'menembak' Tania, segala hal akan terasa lebih merepotkan nantinya.
"Aduh sebentar aku harus ke belakang dulu," kata Romi meminta izin ke kamar kecil. Ia betulan merasakan perutnya sedikit mulas. Entah karena grogi atau karena kwetiauw pedasnya. Yang jelas waktu ke kamar kecil bisa sangat bermanfaat baginya.
Tania tersenyum dan Romi pun beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke kamar kecil.
Tanpa sepengetahuan Romi, ketika ia pergi ke kamar kecil sesosok perempuan masuk ke dalam restoran itu. Dengan tanpa basa-basi ia duduk di kursi dimana tadinya Romi duduk. Tania tercengang ketika melihat gadis itu duduk dengan penuh percaya diri di hadapannya. Ia bahkan tidak sempat berkata bahwa kursi itu ada yang menempati. Gadis itu tersenyum ramah, namun dari senyum itu Tania bisa merasakan ada yang hendak ia tumpahkan dari mulutnya.
Romi duduk di kloset sembari menghirup napas dalam-dalam. Tekanan seperti ini ia selalu tak biasa untuk menghadapi. Mungkin memang sudah saatnya ia mendapatkan masa seperti ini setelah berkali-kali menebar harapan disana-sini. Romi juga paham resiko semacam ini dan mestinya ia sudah siap, dan biasanya memang ia bisa menghadapinya dengan cukup baik. Entah kenapa ia agak kaku hari ini.. mungkin karena makanannya.. mungkin karena cuacanya.. mungkin karena firasatnya yang kurang enak..
Romi menghirup napas dalam-dalam lagi sebelum keluar dari kamar kecil. Ia membuka pintu plastik kamar kecil itu dan kembali berjalan ke mejanya.
Romi akan meneruskan pembicaraannya seperti biasa dan bertingkah senormal mungkin. Ia akan mengajaknya ke bioskop bila perlu untuk mengalihkan perhatian. Atau sekedar mencari angin berjalan-jalan.
Romi tiba di mejanya semula dan mendapati pemandangan yang amat jarang sekali ia dapati. Malah ini yang pertama kalinya ka temui....
Tania tidak ada di tempatnya.......
Tasnya, Handphonenya.. Tidak ada tanda-tanda Tania masih berada di restoran itu.
Romi yakin ini meja yang tadi ia tempati, pesanan di atas meja masih sama persis seperti sebelumnya. Ia melirik ke sekeliling siapa tahu Tania berada di tempat lain. Tapi tak ada penampakan dari gadis yang ia ajak kencan semula..
Romi kehabisan ide akan dimana keberadaan Tania... ini pertama kali ia kehilangan teman kencannya secara instan seperti ini...
Romi hanya duduk dengan kebingungan yang menyiksa.. ada rasa takut dan khawatir.. ada rasa kesal.. semua bercampur hingga Romi tak bisa menentukan apa yang sedang ia rasakan..
__ADS_1