
"Ayo dimakan.." kata Rizky dengan senyum kaku.. Jelas sekali Rizky sedang berusaha terlihat ramah dan cool tapi hasilnya tidak cukup meyakinkan.
Karina mengangguk sambil tersenyum, ia melihat setengah ekor bebek yang sudah dipanggang demikian cantik di atas piring. Karina senang dan terkejut karena Rizky ternyata tidak melupakan bahwa Karina suka dengan bebek. Meski menurutnya dibungkus untuk dimakan di rumah saja sudah cukup, tak usah makan di restoran yang begitu indah ini.
Sambil meneguk air putih dari gelasnya, Karina memandang ke sekelilingnya. Penampilan pengunjung di restoran skyview ini cukup membuatnya merasa minder.
Gadis-gadis yang datang bersama kekasihnya mengenakan gaun yang cantik, yang berumur lebih tua memakai pakaian sedikit lebih formal. Karina menebak harganya lebih mahal daripada dua puluh porsi lotek buatannya. Penampilan mereka yang indah membuat kaus, jeans, dan cardigan Karina terlihat salah tempat untuk berada.
Di sisi seberang mejanya Rizky juga terlihat rapi dengan jas dan kemejanya tak kalah rapi dan necis dibandingkan yang lainnya.. meski sebetulnya bagi Rizky memang sehari-hari ia selalu memakai setelan seperti itu.
Sedikit muncul perasaan dalam diri Karina bahwa mungkin seharusnya ia meminta Rizky memilih tempat lain.. ini terlalu berat..
"Langitnya cerah ya.." kata Rizky kaku sambil menatap ke langit malam yang cerah tak berawan.
"Oh ia, cerah banget.." Karina menanggapi dengan nada tak kalah kaku dan ikut memandang ke langit yang luas diatasnya.
Langit malam hari itu memang amat cerah, restoran ini berada di rooftop sebuah hotel mewah dan tidak memiliki atap diatasnya. Jadi Karina bisa dengan leluasa memandang titik-titik cahaya bintang di atas kanvas langit yang hitam. Tak lupa sebuah bulan sabit juga ikut muncul mewarnai malam ini. Pemandangan yang indah malam ini sedikit mengalihkan dirinya dari rasa mindernya yang sedari tadi menggerogot kepercayaan dirinya.
Karina kemudian melihat ke arah lelaki yang sedang duduk manis di hadapannya, ia tampak stress sekali. Ia terlihat berkeringat, padahal biasanya ia sulit mengeluarkan keringat, dengan repot ia mengelap keringatnya dengan sapu tangan. Ia juga terlihat tidak bisa duduk dengan tenang, beberapa kali merubah posisi duduknya dan merubah tumpuan tangannya diselingi senyum kaku.
Rizky jelas tidak biasa melakukan hal semacam ini, melakukan kencan dan hal lainnya. Ia jago mengatasi presentasi dihadapan petinggi perusahaan. Ia ahli bernegosiasi dengan partnee kerja paling sulit sekalipun. Namun kalau masalah perempuan Rizky memiliki keahlian setara anak SMP.. Tapi walaupun segala kecanggungan yang Rizky perlihatkan, di dalam hati Karina memuji keberanian Rizky untuk melakukan hal seperti ini. Karina merasa cukup tersanjung dengan acara malam ini.
Mulanya Karina mengira ini akan jadi acara bertiga antara dia, Romi, dan Rizky. Karena sebelumnya sudah beberapa kali mereka bertiga kadang bersama Emak makan diluar. Kadang untuk menghabiskan liburan atau sekedar refreshing. Piknik begitu kata Romi biasanya ketika mereka berekreasi. Tapi ketika Rizky mengirimkan pesan whatsapp memberi tahu supaya ia berdandan rapi untuk malam ini Karina langsung medapatkan firasat dan menebak tidak akan ada Romi malam ini.
"Um.. kamu sebetulnya punya pacar gak sih?" tanya Rizky yang akhirnya bisa membuat kalimat yang sedikit lebih panjang.
Karina menggeleng.. Rizky sudah tahu jawabannya dengan jelas tapi tampaknya ia hanya mencoba membuka percakapan.
__ADS_1
"Oh..." sekarang Rizky kebingungan lagi menyambung pertanyaannya.
"Kok mendadak nanya begitu mas??" Karina tiba-tiba balik bertanya.
"Eh, engga sih.. kamu belum pernah pacaran dong."
"Mas juga kan??"
Dan tawa mereka pun meledak seketika, dua orang jomblo sejati bertemu di satu meja.
Aura pertemuan mereka masih terasa begitu kaku. Karina tak terbiasa memulai percakapan, padahal biasanya jika sedang berada di warungnya mereka bertiga selalu ngalor-ngidul bergosip bercengkrama. Tapi ya yang biasa memercikkan percakapan adalah Romi...
Sekilas Karina membayangkan yang berada di hadapannya sekarang bukan Rizky melainkan Romi. Ia pasti sudah membicarakan macam-macam hal. Ia pasti sudah mengomentari makanan di restoran ini, ia pasti berkomentar soal band yang sedang memainkan musik jazz menghibur pengunjung. Bahkan mungkin ia akan mengajak Karina berdansa tanpa rasa malu.
Seketika ia merasa tak enak hati..
"Gak apa-apa mas.." Karina tersenyum.
Karina memandang sosok Rizky yang sekarang sedang memerhatikan band yang sedang sibuk bermusik. Mungkin itu membantunya supaya tidak terlalu terpaku pada mengajak bicara Karina. Karina memuji dalam hati kenekatannya untuk mengajak kencan. Karina bahkan tidak merasa begitu canggung berada di dekat Rizky karena sudah sekian lama mereka sering bertemu di warung. Ya, dia sangat kaku dalam berbicara dan bersikap di depan wanita. Tapi kekurangan pengalamannya menjadi kelebihan karena ia sedikit banyak menjadi lebih tulus dibanding lelaki lain yang lebih berpengalaman.
"Jadi.." Rizky hendak bertanya lagi.
"Jadi apa?" Karina memotong.
"Jadi.. orang sebaik kamu gak punya pacar??" Rizky memuji tapi sengaja tidak mengatakan 'cantik'. Ia teringat nasehat Romi, jangan terlalu memuji wanita berlebihan, nanti malah jadi terlihat terlalu gombal.
"Baik itu relatif.." Karina berkilah.
__ADS_1
"Relatif mutlak," Rizky bersikeras.
Karina tersipu malu..
Semakin Rizky berusaha untuk memujinya yang secara tak langsung mengatakan 'aku suka kamu', P
perasaan Karina makin tak enak..
Ia memikirkan bagaimana perasaan Romi andai ia tahu soal kencan ini. Padahal kencan ini bisa dikatakan tak ada hubungannya dengan Romi, tapi Karina tak mau merusak pertemanan mereka bertiga. Karina berpikir memang belum tentu Romi cemburu atau iri atau apapun. Tapi bagaimana jika memang Romi cemburu? ia merasa khawatir meski tak seharusnya.
Rizky di sisi lain takut ia terlalu banyak memuji dan takut Karina menyadari perasaannya. Padahal tujuan dari semua ini adalah untuk menyampaikan cintanya pada Karina. Tapi ada sedikit sisi pemalu dirinya yang mengatakan untuk 'Diam dan tak usah macam-macam'. Otaknya sepanjang waktu memilih dan memilah pembicaraan yang ingin ia katakan pada Karina. Tapi lidahnya lebih banyak terkunci rapat. Belum lagi rasanya ia selalu ingin buang air kecil.. dan yang pasti itu bukan karena ia kebanyakan minum air.
"Apa yang kamu pengen nanti di hari ulang tahun.. bentar lagi kan," Rizky mendadak teringat ulang tahun Karina bulan depan.
"Oh.. ia.. aku malah lupa bulan depan ulang tahun.. haha," Karina tertawa kecil sambil menutup mulutnya malu.
"Ulang tahun kita," Rizky mengingatkan.
"Kita?" Karina kebingungan..
"Kan ulang tahun kita barengan," kata Rizky ceria.
"Ya ampuuun.. aku juga lupa.. maaf banget mas.." Karina menepuk dahinya sendiri.
Rizky tertawa melihat tingkah Karina.. hatinya yang sejak tadi khawatir mulai santai..
Ini adalah malam sempurna....
__ADS_1