Cinta (Tak)Butuh Kepastian

Cinta (Tak)Butuh Kepastian
Wanita Sempurna


__ADS_3

Gedung itu adalah bangunan paling tinggi di kota, jika kita berada dekat pusat kota puncak dari gedung itu terlihat dari berbagai sisi pusat kota. Perusahaan yang memiliki bangunan itu tentu tak kalah besar dibandingkan bangunannya. Jika ada orang memasuki gedung itu citranya saja sudah bak pejabat negara. Tak salah jika setiap bulannya bagian personalia dari perusahaan itu selalu kewalahan menerima gelombang demi gelombang lamaran kerja.


Di salah satu ruangan dekat puncak gedung mentereng itu, sebuah presentasi sedang berlangsung khusyuk. Satu persatu dari pimpinan setiap fungsi menjelaskan performa departemennya dengan semangat bak pejabat sedang berkampanye.


Di sudut meja duduk seseorang yang harus mereka buat puas dengan performa perusahaan raksasa ini. Maka silih berganti sisi baik dari perusahaan yang terjadi seminggu ini dipromosikan sedemikian rupa.


Namun orang itu hanya menguap bosan.. bosan.. dan bosan... Sofia hanya menganggap ini tak lebih dari rutinitas mingguan yang harus ia lalui seperti makan tiga kali sehari..


Ketika ayahnya memutuskan untuk lebih banyak tidur siang di rumah dan lebih banyak tenggelam dalam buku-buku di perpustakaan pribadi rumahnya, Sofia tidak menyangka itu jadi awal rutinitas barunya dimulai.


Semestinya ia sudah bisa menebak sebagai anak tunggal di keluarganya bahwa nantinya kekuasaan perusahaan Ayahnya akan jatuh ke tangannya cepat atau lambat. Andai bisa memilih pastinya ia akan dengan senang hati melewatkan kesempatan besar ini. Menurutnya masih banyak hal yang bisa ia lakukan selain meneruskan perusahaan keluarganya. Meski dalam hati ia belum mengerti tujuan hidupnya saat ini. Tapi toh ia masih muda, tahun ini ia berusia 27 tahun.


Angka tak berdosa 27 itu pula yang sering dijadikan bahan nasihat andalan Ibunya.. lebih baik kamu cepat menikah, begitu suara sang Ibunda bergaung di ruang otaknya.


Sambil menunggu presentasi selesai, seseorang sesekali melirik Sofia dari seberang meja. Bukannya Sofia tidak menyadari karena gerak-geriknya jelas sekali. Sofia berusaha sekuat mungkin supaya tidak terjadi saling tatap mata yang tak disengaja seperti di sinetron-sinetron itu. Tetapi ia tak pula merasa risih dengan tindakan semacam itu. Rasanya tak terhitung berapa kali ia menghadapi lelaki yang berusaha curi-curi pandang padanya. Lelaki punya ribuan alasan yang menurut mereka Sofia layak untuk diperebutkan hatinya.


Sofia merogoh ke dalam tasnya dan mengambil handphonenya yang dibalut pelindung karet berwarna krim (Sofia menyukai warna itu).


[boring.. ] ketiknya dengan cepat mengirim pesan whatssap


Jemari Sofia mengetuj meja dengan pelan menunggu balasan dengan tak sabar.


[basi.. nasib lu tuh..] balas Tias segera.


Sofia tersenyum kecut, rasanya memang setiap hari presentasi ia selalu menghubungi Tias mengusir kebosanan.


[Si Bono lagi lirik-lirik] ketik lagi Sofia merujuk pada pria yang sejak tadi sibuk mencari kesempatan meliriknya.


[Padahal ganteng. ] balas Tias seketika.


[Bodo amat] balas Sofia lagi.

__ADS_1


[pinter.. ]


[gak butuh.. ]


[Setia.. ]


[Mana tau.. ]


[Ganteng..]


[Ah balik lagi, itu mah selera elu dasar..]


[Iyalah, nyari cowok yang ganteng..]


[Bener juga, but it's not everything]


[Bener.. terus??]


[Bono mah udah direstui loh]


Sofia sejenak terdiam tak segera membalas. Poin terakhir itu adalah kekuatan utama cowok bernama Bono ini. Ia direstui kedua orang tuanya.... kok bisa?? karena ia adalah salah satu anak buah Ayahnya yang paling bisa dipercaya dan giat bekerja membantu perusahaan berdiri kokoh.


[Ah kerajinan kerja dia ntar lupa sama keluarga] balas lagi Sofia akhirnya.


Selepas itu ia dan Tias terus mengobrol ngalor-ngidul kesana kemari membicarakan segala hal yang akhirnya selalu berakhir ngobrol soal jodoh. Tias dan Sofia berteman saat mereka sama-sama mengambil studi S2. Dan sejauh ini Sofia menilai Tias adalah manusia yang paling ia percaya selain gerombolan hamster kesayangannya di pojok kamar.


Tak terasa teknik menghubungi Tias di saat bosan memberikan dampak. Karena tanpa Sofia sadari bahwa presentasi sudah selesai dan kini saatnya ia bisa pergi dari gedung ini.


"Mbak maaf.." kata seseorang tepat ketika Sofia hendak keluar.


"Ya?" kata Sofia dengan tenang meski dalam hati ia tak terlalu menyukai kehadiran Bono di hadapannya. Dari seluruh pegawai perusahaan ini, cuma Bono yang diberi ijin memanggil Sofia 'Mbak' langsung ijin dari sang Ayah. Padahal Sofia sedikit risih dipanggil 'mbak' olehnya.

__ADS_1


"Saya cuma mau bilang Terima Kasih Mbak.." katanya dengan sopan.


"Untuk?"


"Kesempatan makan malamnya.." lanjut Bono lagi.


Otak Sofia mengalami korsleting seketika.


"Makan malam?" tanya Sofia meminta kejelasan.


"Ia, Pak Wiro baru kasih tahu saya kemarin," jawab Bono.


Seakan sebuah lampu menyala mendadak di otaknya, kini Sofia paham masalahnya.


Ini artinya sudah ketiga kali hal seperti ini terjadi. Ayah dan Ibunya, terutama Ibunya.. suka sekali menjodoh-jodohkan Sofia dengan orang yang menurut mereka 'layak'.


Tentu saja itu tak segera berarti bahwa Sofia tidak laku. Dengan penampilan yang nyaris sempurna, ditambah garis keturunan yang mentereng, keberadaan Sofia tak luput dari mata setiap pria. Sofia sudah tidak bisa menghitung lagi berapa banyak yang sudah berusaha mendekati dirinya. Tapi kebanyakan dari mereka akhirnya berakhir menjadi kontak yang tak aktif di handphonenya.


Sofia memang pemilih soal pasangan, terhitung hanya dua orang seumur hidupnya yang berhasil meraih status sebagai 'kekasih'. Tapi sudah tiga tahun sejak putus dengan Andre, tak ada lagi yang bisa meluluhkan Sofia.. sampai sebulan yang lalu...


"Perusahaan kita akan untung banyak tahun ini!" kata Bono dengan semangat memecahkan lamunan Sofia seketika.


Sofia hanya tersenyum... bikin perusahaan untung... ujarnya dalam hat dengan ketusi.. menyebutkan hal semacam itu akan menyenangkan hati Ayahnya.. tapi tidak dengan hati Sofia..


Tanpa ekspresi Sofia melangkah pergi keluar ruangan meninggalkan Bono yang masih tersenyum.


sempurna banget.. harus bisa naklukin ini tuan putri.. semangat!!! kata Bono berapi-api dalam hatinya. Ia selalu bersemangat dalam hal mengejar target.. dan Sofia dimatanya adalah target yang paling mulia yang harus ka capai.


Sementara itu Sofia menambah kecepatan berjalannya menembus labirin kantor. Ia merasakan sedikit amarah tersulut di hatinya. Ia tidak setuju jika orang tuanya selalu seperti ini, dan bukannya Sofia menilai semua orang pilihan orang tuanya jelek nan buruk rupa. Tetapi cara menjodohkan dirinya dengan gampang seolah ia tak punya hak untuk memilih selalu membuatnya merasa kesal. Tapi kali ini Sofia punya ide yang menurutnya bisa mengakhiri perjodohan konyol semacam ini di masa yang akan datang.


Pokoknya harus bisa!! ujarnya dalam hati tak kalah ambisius dibandingkan dengan Bono. Namun ia nama yang Sofia targetkan dalam benaknya adalah Romi.. Satu-satunya manusia yang harus ia taklukan..

__ADS_1


__ADS_2