Cinta (Tak)Butuh Kepastian

Cinta (Tak)Butuh Kepastian
Resiko


__ADS_3

"nih masih ada sesendok lagi," kata Veo dengan nada sedikit manja sambil berusaha menyuapi es campur ke mulut Romi.


"eh..." Romi mundur menghindar sambil tertawa kecil pura-pura menolak meski akhirnya ia 'menyerah'.


Romi melirik ke situasi sekitarnya, sudah kebiasaannya. Terutama dengan rumitnya hubungan dirinya dan beberapa gadis sekaligus menuntut ia untuk selalu awas pada sekelilingnya. Jadi jikalau ada teman kencannya yang lain tiba-tiba saja muncul di dekatnya ketika ia bersama gadis lain ia bisa menghindar dengan cepat.


Tentu saja segalanya tidak selalu berjalan sempurna, ada beberapa saat ketika ia kepergok sedang berjalan dengan orang lain. Ia harus mengeluarkan seribu alasan untuk berkilah jika ia ingin mempertahankan hubungannya. Tapi kadangkala ia biarkan saja semua mengalir, jika harus berpisah tidak ada beban di hatinya. Itu semua sudah jadi resikonya.


Sementara ini ia harus fokus lada Veo yang sedang bermanja-manja di depannya. Veo gadis yang umurnya lebih tua setahun dibandingkan Romi. Tapi karena ia anak tunggal jadi sifatnya manja seperti gadis 10 tahun lebih muda dibandingkan umurnya. Romi tak masalah dengan itu, ia suka sifat manjanya.


"ih main HP mulu.. pinjem!" pinta Veo yang melihat Romi fokus pada gadget di tangannya.


"hm..? sebentar.." kemudian ia memberikan handphone nya.


"aplikasinya dikit banget," ujar Veo dengan suara cemprengnya.


"ya buat kerja aja sama sehari-hari,"


"gak ada instagram??"


"yes,"


"kenapa??"


"males aja.."


Veo lalu mengambil handphone miliknya lalu membuka aplikasi instagram. Ia coba mencari Romi pada kolom pencarian.


"eh gak ada.." ujar Veo agak terkejut.

__ADS_1


"kan udah aku bilang gak ada hehe," tugas Romi terkekeh.


Tentu saja tidak akan ada yang bisa menemukan akun Romi jika mereka mencari dengan namanya. Karena Romi menggunakan nama dan username berbeda dari namanya sendiri pada akun instagramnya. Dan kalaupun mereka berhasil menemukan akunnya, mereka akan kecewa berat. Karena isinya hanya foto-foto mainan saja...


Veo lalu membuka Facebook di ponselnya, dan kali ini Veo tersenyum.


"ada Facebooknya, yee," ucapnya senang.


Veo kemudian melihat profil Romi dan beranda profilnya. Kali ini dahinya mengernyit keheranan, beberapa kali ia scroll ke atas dan kebawah pada bagian beranda profil Romi dan ia tetap heran.


Romi tertawa kecil sudah menebak kebingungan Veo. Karena halaman facebook miliknya tidak pernah update lagi selama sepuluh tahun terakhir. Unggahan terakhir yang ia lakukan berupa status berbunyi 'tinggal bab terakhir skripsi.. semangat!'


"ah gak seru..." kata Veo kecewa.


Romi hanya tersenyum kecil melihat ekspresi Veo. Sudah cukup sering Romi melihat ekspresi semacam itu dari beberapa teman kencannya yang lain. Mereka berharap bisa menilik-nilik, meneliti, memeriksa, menguliti kehidupan Romi lewat media sosial. Tapi Romi yang sedikit banyak tidak menyukai media sosial tidak memberikan mereka harapan untuk mengintip hidupnya.


Romi mengambil kembali handphonenya yang tergeletak di meja. Veo tak bisa menemukan bahwa Romi menggunakan fitur second space alias ruang kedua pada ponselnya, sehingga seolah-olah ada dua ponsel dalam satu ponsel. Tentu saja yang diakses Veo adalah profil ponsel yang 'aman'. Sementara untuk mengakses profil utamanya membutuhkan password. Meski sebetulnya yang membedakan kedua profil nya hanyalah jumlah percakapan pada aplikasi whatsapp nya.


"iya doong hahah," Romi menjawab sembari bertingkah layaknya playboy di sinetron-sinetron merapikan rambutnya dengan tangan.


"hahaha, lucu kamu deh," kata Veo sembari menutup mulutnya ketika tertawa. Pastinya ia menganggap jawaban Romi adalah candaan, apalagi dengan tingkah sok playboy yang dibuat-buat.


"ia makanya kamu suka kan," jawab Romi sambil terus bertingkah mengangkat kedua alisnya berkali-kali.


Veo semakin terbahak tertawa melihat tingkah konyol Romi. Padahal dibalik kekonyolan itu, semuanya berisi jawaban jujur..


Sepanjang sisa waktu mereka di kafe itu, Romi mendengarkan cerita Veo soal orang tuanya. Ia bercerita bahwa ia disuruh cepat menikah oleh Ibunya, karena umurnya yang sudah tiga puluh tahun. Tentu saja maksud Veo adalah mencoba membujuk Romi supaya status hubungan mereka jelas, dan mungkin berharap sampai ke pelaminan


Romi yang tak peka, atau lebih tepatnya pura-pura tidak peka dengan cerita Veo menenangkan Veo kalau 30 tahun itu usia masih cukup muda, tak usah terburu-buru menikah.

__ADS_1


Veo adalah anak seorang pengusaha bengkel yang cukup besar, jadi tentu saja ia kebanyakan diam di rumah dan tak diijinkan bekerja oleh orang tuanya. Keberadaan Romi seolah jadi pelepas penat karena berdiam diri di rumah seharian. Apalagi Romi terlihat cukup perhatian dan mau mendengarkan celotehannya yang kekanak-kanakan.


"eh udah jam delapan.. harus pulang kan?" kata Romi melihat jam di ponselnya.


"oh ia.. tapi masih pengen main..." kata Veo manja.


"ntar papa kamu marah repot kita haha," bujuk Romi sambil mengenakan jaketnya.


Dengan enggan Veo akhirnya menyerah dan ikut mengenakan jaket bersiap pergi. Romi sebetulnya juga ingin menghabiskan waktu lebih banyak, tapi anak tunggal ini tak diizinkan pergi untuk waktu yang lama. Romi bisa memakluminya..


Menembus angin malam Romi menjalankan motornya dengan lambat-lambat, mengesankan ia tak ingin waktu bersama cepat berakhir. Veo dibelakangnya memeluk erat Romi, mungkin karena kedinginan di cuaca malam sehabis hujan ini. Atau memang suasananya memang mendukung untuk berkasih bersama.


Tinggal satu persimpangan lagi mereka berdua akan sampai ke rumah Veo. Sementara itu mereka harus menunggu hingga lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Veo masih memeluk Romi, dan Romi tersenyum bahagia. Tidak ada laki-laki yang akan cemberut kalau dipeluk seperti itu.


Lampu hijau terasa lama sekali datangnya, atau mungkin karena memang Romi terlalu terlena dengan kenyamanan ini. Hingga tanpa disadari mobil yang sedari tadi berada di sebelahnya menurunkan kaca sampingnya.


"Hai Romi!!!" teriak si pengendara mobil dengan ceria mengejutkan Romi dan Veo hingga tersentak.


Mata Romi terbelalak tak percaya melihat si supir yang masih dengan ceria melambaikan tangannya.


"eh.. Sofia.. halo.." kata Romi kaku membalas lambaian tangan Sofia.


Veo melepaskan pelukannya perlahan.. mulai menjaga jarak punggung Romi.


"nanti aku telepon ya!" teriak Sofia lagi sambil melajukan mobilny. Lampu hijau sudah menyala...


Tiiiid!!!


klakson motor lain berbunyi keras menegur Romi yang motornya masih berdiam.

__ADS_1


Romi dengan gagal melajukan motornya kembali. Kini lebih cepat dari sebelumnya. Perasaan hangat berubah jadi canggung. Romi seakan bisa merasakan hawa cemburu di sekujur punggungnya.


Terkadang semua tak berjalan dengan lancar.....


__ADS_2