
Hari ini air mata langit tumpah ke bumi dengan kekuatan maksimal. Banyak orang yang memakai sepeda motor kepayahan menembus tirai air yang menghalangi pandangan mereka. Belum lagi di saat hujan seperti ini jas hujan pun tidak bisa menangkal air yang menyusup ke balik celah-celah yang terbuka. Mereka yang memakai mobil juga tidak kalah susahnya dengan yang memakai motor. Genangan air yang cukup dalam di mana-mana membuat kemacetan parah.
Diantara manusia yang terjebak dibawah terpaan hujan, Asteria mungkin satu-satunya yang bersyukur hari ini turun hujan lebat. Setelah kemarin seharian penuh ia menangis membanjiri bantal dan seprainya, kini awan seolah ikut bersedih meniru suasana hatinya.
Ia duduk di sofa dengan memeluk kedua lututnya. Kopi yang ia buat untuk menemaninya sudah tidak lagi hangat di mejanya.
Di atas meja laptopnya sedang memutar tayangan foto-foto yang tersimpan di dalamnya. Ia mendiamkan laptopnya seperti itu bak bioskop tanpa suara, sementara ia memandang ke kejauhan. Jauh ke langit dibalik jendela yang melindunginya dari dunia luar yang jahat.
Matanya terpaku pada awan mendung yang kelabu, seakan sedang mencari-cari pertanda. Pertanda yang mungkin akan sedikit menghibur hatinya yang terasa meleleh. Atau ia hanya sekedar menatap kosong, tak melihat apapun selain melihat kenangan di kepalanya.
Ia bahkan belum mandi seharian ini.. ia tak peduli. Beberapa panggilan dari kantor.. ia tak peduli. Lapar yang membuat perutnya protes.. ia tak peduli. Seolah semua perasaan selain rasa sakit yang ia rasakan di dadanya hilang tak berarti.
Handphone Asteria bergetar perlahan di sebelahnya... kali ini Asteria sungguh peduli.
"Halo Bunda.." Asteria berusaha menyembunyikan suaranya yang sendu.
[Halo.. tadi kenapa misscall, Bunda lagi masak tadi jadi gak sempat angkat telepon]
"Oh ia gak apa-apa.. aku cuma kangen sama Bunda....."
[Hm... anak ini kangen-kangeen aja.. padahal telepon aja jarang.. hayo ada masalah apa? lagi galau kan??] kata ibunya menohok.
Asteria tersenyum mendengar ibunya yang langsung bisa menebak ia sedang tidak baik-baik saja. Matanya sekilas berkaca-kaca. Insting seorang ibu pada anaknya memang tak pernah tumpul meski mereka jarang bertemu.
"Ah Bunda.. enggak.. pengen denger suara Bunda aja.." Asteria berkilah.
[Hmm pasti masalah laki-laki]
Tebakan yang lagi-lagi tepar sasaran. Hari Asteria terasa sedikit tersengat..
__ADS_1
"Enggak Bunda.."
[Kamu tuh kalau soal kerjaan ada apa-apa pasti langsung bawel, tapi giliran ada masalah sama laki-laki langsung galau kayak bocah-bocah sekolah.. Bunda itu kan Ibumu, jadi udah hapal..]
Asteria tertawa kecil mendengar ibunya yang begitu tepat menebak masalahnya. Mendengar suara sang ibu membuatnya merasa baikan meski beliau belum memberi nasihat sama sekali. Baginya mendengar suaranya saja sudah seperti obat segala penyakit. Bahkan mungkin jika bukan karena ia ingin dekat Romi maka ia sudah pindah kembali ke rumah orang tuanya.
"Iya deh aku ngaku Bunda... masalah cowok.." kata Asteria menyerah
[Nah kan.. kamu sih.. mau sok-sok rahasiaan sama Bunda.. kenapa emang pacar kamu?]
"Rumit Bunda.." jawab Asteria.. tentu ia tak bisa bicara pada ibunya kalau dia menjalani hubungan tanpa status dengan lelaki dan berakhir buruk.. Pasti ia akan diceramahi dengan pidato yang panjangnya mengalahkan pidato pembukaan rapat PBB di Jenewa.
[Nah kan.. punya masalah gak mau cerita.. gimana Bunda bisa nolong.. lagian rumit apa sih? masalah sama pacar tuh paling marahan, selingkuh, dicuekin, ditolak calon mertua, dihamilin!! awas kamu kalau sampe kena yang terakhir!]
"Hahaha enggak Bunda, aku gak hamil.."
Pertama kali Asteria tertawa di dua hari yang terasa begitu panjang ini... Ibunya memang kadang kalau bicara sembarangan. Tapi itu yang membuat bicara dengan ibunya jarang membosankan.
"Ya rumit Bundaaaa.."
[Heeh.. kamu ini.. ya udah ah.. Bunda mau masak lagi, pokoknya kalah kamu ada masalah sama entah siapapun disana.. beresin baik-baik.. kalian ketemu baik ya kalau ada masalah beresin baik-baik juga.. inget-inget sisi positif dari masing-masing.. jangan liat jelek-jelek aja.. perjuangkan apa kamu percaya bisa bikin kamu bahagia.. udah ah Bunda mau masak! ]
"He he.. makasi banyak Bunda.."
[Iya... iya.. sehat-sehat ya disana.. jangan lupa nanti tahun baru pulang!]
Sambungan telepon pun terputus.. Asteria tersenyum melihat handphonenya untuk beberapa saat seakan ia sedang melihat ibunya sendiri.
Ia senang karena ternyata keputusan untuk menelepon ibunya adalah sesuatu yang tepat. Meski akhirnya tidak diangkat dan ibunya yang mesti menelepon balik.. Ibunya selalu berhasil mengangkat rasa percaya diri dan semangat Asteria..
__ADS_1
Gemuruh guntur di balik awan masih terdengar sesekali. Asteria kembali mengalihkan perhatiannya pada awan gelap yang menggantung di langit.
Selintas teringat Romi pernah menembus hujan membelikan martabak hanya karena Asteria bercanda soal ngidam martabak. Juga saat ia dan Romi tertidur pulas dibalik selimut melewati waktu di saat langit hitam dan berderai hujan lebat. Persis seperti saat ini....
Mengingat hal baik... bagi Asteria terlalu banyak hal baik yang ia lihat dari Romi. Dan mengingatnya malah membuat hatinya semakin pilu.
Setelah sempat tertawa kini air matanya kembali menetes..
Terlalu banyak hal baik yang ingin ia rengkuh kembali dari Romi. Meskipun Romi tak secara gamblang mengatakan ia akan pergi. Tapi sosoknya seakan menjauh.. ia bisa merasakan Romi menjauh... ia tak punya hak untuk menariknya kembali.. tapi ia menginginkannya kembali..
Layar laptop menampilkan foto Romi sedang mengejar layangan di taman kota. Asteria ingat saat itu Romi mengajaknya keluar untuk jalan-jalan sore ke taman kota. Kemudian dengan isengnya dia membeli layangan dan menerbangkannya di sebelah anak-anak SD yang sedang bermain layangan. Lalu dengan pede nya dia menantang dah satu anak mengadu layangan. Dan hasil akhirnya bisa dilihat dari foto itu, ia kalah dan ia mesti mengejar layangan bergambar batman miliknya. Tak hanya itu anak-anak lain ikut mengejar layangan Romi yang putus.
Saat kembali duduk di sebelah Asteria dan kehilangan layangannya Asteria sempat berkata "biarin aja layangannya kan pasti hilang kalau talinya putus.."
"selama masih bisa dikejar itu artinya belum tentu hilang," kata Romi sembari tersenyum.
Asteria ikut tersenyum seolah sedang berada dalam memori itu..
Selama masih bisa dikejar.. artinya belum hilang..
Asteria menyeka air matanya.. ia mengambil handphone dan mencari-cari di halaman google..
Mungkin akan percuma.. tapi aku harus memastikan.. mungkin untuk terakhir kalinya..
Perjuangkan apa yang bikin kamu bahagia..
Aku bahagia bersamanya...
Jempol Asteria menekan layar, dan sambungan telepon pun tersambung.
__ADS_1
"Halo.. " sapa Asteria ketika teleponnya diangkat.
[Halo Hotel Indra disni..]