Cinta (Tak)Butuh Kepastian

Cinta (Tak)Butuh Kepastian
Sesuatu dibalik sesuatu


__ADS_3

Romi menatap kosong ke arah mejanya, pikirannya terbang kesana kemari, ia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Ia memainkan spaghetti di piring dengan garpu, memutar-mutar gulungan mie italia itu tanpa memakannya. Ia merasa sedikit aneh belakangan ini, ia sedikit jadi lebih pemikir dibanding sebelumnya masalah perempuan.


Ia tahu penyebab dari perasaan aneh ini adalah ketika Karina membicarakan soal laki-laki harus serius dan setia. Awalnya ia menganggap itu angin lalu dan pembicaraan sekilas saja. Tapi sedikit demi sedikit ia jadi memikirkan masalah itu.


Bukannya tidak pernah terpikir di otaknya tentang menyederhanakan hubungannya dengan satu orang saja dan serius serta setia hingga pelaminan. Di umurnya yang sudah lewat tiga puluh ini tentu saja ide itu mampir datang dan pergi. Tapi hanya seperti angin lalu, ide itu hanya lewat terpikir lalu terlupa. Dengan segala yang ia bisa lakukan saat ini, menstabilkan hubungan pribadinya dirasakan tak begitu penting.


Ketika Karina membahas masalah yang sebelumnya bagi Romi adalah hal yang kurang penting, kini tiba-tiba memiliki makna lain. Menyebabkan dampak lain pada pikiran dan jiwanya. Mendadak ia baru sadar bahwa sejujurnya ia menginginkan Karina begitu kuat. Dan perasaan yang kuat itu kini terhalangi sebuah tembok. Tembok untuk rela melepas banyak hati yang tengah di genggamnya selama ini.


"Ih kok ngelamun.." tegur Lasmi dengan nada lembut dan pelan yang sejak tadi duduk di sampingnya.


"Ah engga.." Romi berkilah.


Lasmi sang gadis polos itu kemudian meneruskan kembali bercerita soal keadaan di kampungnya. Ia menceritakan bahwa banyak kawan-kawannya di kampung sudah menikah tahun ini. Bahkan katanya anak Pak Tarjo mengadakan acara tujuh hari tujuh malam dan mengundang orang satu kelurahan untuk datang.


Kepala Romi terasa berat dan matanya berkunang-kunang mendengar cerita pernikahan itu. Kentara sekali niatnya untuk 'menyegel' hubungan mereka ke jenjang yang pasti.


Romi bingung mengapa akhir-akhir ini banyak yang bercerita soal nikah menikah. Mungkin karena kebanyakan teman kencannya saat ini sudah memasuki usia pas untuk menikah. Romi jadi terpikir apa lain kali ia mencari teman kencan anak dibawah dua puluh tahun saja supaya tidak cepat ditagih menikah. Atau.... ini pertanda bahwa memang sudah masanya bagi Romi untuk tunduk pada takdir menikah..


Sepanjang perjalanan mengantar Lasmi pulang ia masih saja mengulang cerita 'seru' tentang acara nikahan di kampung. Sedikit banyak Romi mulai merasa bersalah, Lasmi adalah gadis yang baik, mungkin memang sudah saatnya melepas gadis ini. Ia cantik, sopan, cerdas, murah senyum, tipe yang menurut banyak pria cocok menjadi istri.. termasuk di mata Romi. Tapi apa yang di mata tentu lain dengan yang di hati....


Setibanya di kosan, Romi langsung merebahkan diri di kasurnya. Ia membuka handphonenya dan melihat beberapa percakapan whatsapp nya. Tania sejak tiba-tiba menghilang ketika sedang di restoran tempo hari sampai saat ini hilang tak bisa dihubungi. Bahkan sepertinya Romi diblok Tania pada aplikasi whatsapp. Ditelepon pun tidak diangkat. Tentu bisa saja Romi datang ke rumahnya dan meminta penjelasan. Tapi Romi merasa bukan tempatnya untuk meminta penjelasan. Ia merasa bersalah dan sungkan.


Dalam deretan pesan di handphonenya yang terlihat jelas adalah betapa kini Sofia semakin sering menghubungi Romi. Setiap Sofia mengirimkan pesan, Romi selalu membalas seperlunya namun dengan tetap sopan. Alhasil Sofia jadi malah tambah sering menghubungi Romi. Setiap kali berkomunikasi tak ada hal penting yang dibahas, Sofia hanya sesekali menceritakan kebiasaan di rumahnya. Romi pun hanya bercerita soal pekerjaannya saja.


Satu hal namun yang melekat di otaknya semalam, meski dengan make up minimal Sofia memang cantik sekali...

__ADS_1


Namun di sisi lain tetap saja Romi merasa sulit sekali menumbuhkan perasaan yang lain di hatinya untuk Sofia.


Tiba-tiba ponsel Romi berdering kencang.. kali ini bukan handphone alias smartphone miliknya yang berdering. Melainkan sebuah ponsel sederhana yang hanya bisa dipakai SMS dan telepon saja layaknya ponsel jadul yang berdering. Hanya keluarga saja yang mengetahui nomor Romi di ponsel yang ini, selain keluarga hanya Rizky dan Karina yang mengetahui nomornya yang ini.


"Halo," sapa Romi dengan ceria karena tulisan 'Ibu' terpampang di layar ponselnya.


"Halo.. sudah makan nak??" kata Ibunya dengan suara serak di seberang sana.


"Sudah Bu," jawab Romi dengan halus. Sejak dulu yang selalu pertama kali ibunya tanyakan adalah sudah makan apa belum.


"Bagus-bagus.. kerjaan lancar?" tanya lagi Ibunya.


"Biasa aja Bu.. gitu-gitu aja.. Ibu sehat?"


"Baik.. udah dapet yang cocok?"


"Yang mau kasih ibu cucu.."


"Eh itu lagi proses hehehe."


"Kamu itu.. proseeeeees terus.. selesainya kapan?"


"Hehe.." Romi hanya tertawa kecil tak bisa menanggapi.


Sang Ibu terdengar menghela napas panjang, ia terdengar kecewa. "Nanti kalau kelamaan proses Ibu keburu enggak ada lagi.."

__ADS_1


"Hush! jangan bilang gitu ah Ibu ini," Romi terkejut. Ia sedikit banyak tidak menyangka Ibunya berharap sebesar itu.


"Nanti kalau libur semester adek kamu, Ibu ada rencana mampir ke kosan kamu."


"Oh ia??"


"Iya, sekalian ajak adek kamu jalan-jalan keluar kota, dia kan anak rumahan banget.. supaya dia refreshing sekali-kali.."


"Bawa bacang ya Bu hehe," Romi meminta.


"Iya, nanti Ibu bawain, udah dulu ya Ibu mau masak."


Dan pembicaraan Ibu dan anak pun selesai... Romi merasa senang Ibunya menelepon. Romi juga jadi sedikit merasa bersalah karena ia jarang menelepon Ibunya terlebih dulu. Selalu Ibunya yang menelepon duluan.


Selain itu Romi merasa heran mengapa Ibunya terdengar serius sekali ingin ia menikah. Memang umur Romi tidak begitu muda lagi untuk bermain-main. Umur Ibunya pun sudah cukup tua untuk menggendong cucu di pangkuannya. Tentu saja Romi masih punya kebebasan untuk memilih kapan untuk melakukan yang Ibunya inginkan. Tapi Romi juga memikirkan Ibunya, belum tentu di masa depan Ibunya bisa melihatnya berkeluarga dan memiliki anak.


Aduh kok gini amat pikiran gue... Romi mengeluh pada diri sendiri. Rasanya saat ini semesta sedang mendorongnya untuk menjadi seorang pengantin.


Selain itu ia tak punya calon... Atau mungkin.. memang semesta menyuruhnya untuk serius dengan Karina?


Semakin ia pikirkan semakin ia tak bisa berpikir jernih. Wajah Karina terbayang selalu di benaknya diselingi bayangan gadis-gadis lain yang sudah pernah bersamanya.


Dan tak terasa ia pun hanyut kedalam alam mimpi.. Dan di alam mimpi ia berubah menjadi laki-laki yang gemuk. Disitu ia sedang duduk di teras di sebuah kursi kayu, dan di halaman rumahnya terlihat dua anak kecil sedang berlari. Romi yakin itu adalah anaknya.. kemudian seseorang menghampirinya. Seorang wanita membawakannya segelas air putih dan diletakkan di meja di sebelahnya.


Terima kasih ucap Romi dalam mimpinya. Ia kemudian menatap wajah wanita itu.. namun ia tak mampu melihatnya.. Romi menajamkan pandangannya lebih kuat.. ia tetap saja tidak bisa melihat wajah wanita itu....

__ADS_1


Mimpi yang aneh.....


__ADS_2