Cinta (Tak)Butuh Kepastian

Cinta (Tak)Butuh Kepastian
Percobaan


__ADS_3

"Halo," sapa Romi dengan ruang ketika tiba di warung lotek Karina.


"Hai," balas Karina sambil mengulek bumbu kacang.


Romi melirik ke sekitarnya, tidak ada tanda-tanda sahabatnya.


"Mana si keriting," kata Romi sekenanya.


"Gak tau, kirain kalian mau datang barengan," kata Karina mengelap keringat di dahinya.


"Orang sibuk susah ya hehe," kata Romi datar tapi dengan perasaan sedikit senang, tidak akan ada yang jadi 'saingan' hari ini. Memang sejak ia kencan dengan Karina, ia jadi lebih sulit untuk ditemui.


"Enggak juga ah, kemaren dua hari berturut-turut dia kesini kok."


"Hmm??" Romi keheranan. Selama ini Rizky tak pernah datang lebih dari satu kali seminggu. Bahkan kadang cuma dua kali seminggu.


Bahaya.. Romi mulai mencium aroma asap api persaingan yang mulai menyala. Fokus.. yang penting sekarang yang ada disini gue sendirian..


Romi melanjutkan pekerjaan sukarelanya membantu Karina. Melihat gerak-gerik Karina saja rasanya ia senang sekali. Rasanya ia mulai gila karena cinta, atau mungkin rasa bersaingnya dengan Rizky yang menyulut perasaannya menjadi lebih besar.


Yang manapun itu alasannya Romi percaya perasaan yang ia rasakan benar adanya.


Beberapa jam kemudian Romi sudah duduk di meja ketika konsumen terakhir Karina pulang.


"Rame terus. mantap..." kata Romi memuji secara jujur.


"Ia.. lumayan bisa buat nabung uangnya," timpal Karina yang ikut-ikutan duduk di samping Romi.


"Nabung buat nikah?" tanya Romi iseng dan dijawab dengan lap meja melayang ke mukanya.


"Lho beneran nanya ini," desak Romi sembari bercanda.


"Buat masa depan.. apapun itu masa depannya," jawab Karina lugas.


"Termasuk nikah?"


"Termasuk.. kalau udah ada calonnya.."


"Daftar dong," Romi menggoda.


"Bayar," Karina menjulurkan tangan meminta.


"Pake niat," Romi menyambut mengenggam tangannya.

__ADS_1


"Yee.... masa niat doang," kata Karina sembari tertawa melepaskan kembali genggaman tangan Romi.


"Kan semua diawali dari niat."


"Niatnya pasti ke banyak cewek."


"Dih udah tobat aku lho ini."


"Masa??"


"Asli."


Karina hanya tertawa membalasnya, mungkin ia masih tak percaya karena dia sendiri tahu sebelumnya berapa banyak teman kencan Romi.


Di benak Romi muncul sebuah ide..


"Eh kan udah beres ini, aku mau beli buku, ikut yuk!" ajak Romi sekenanya. Dalam hati ia betul-betul berharap Karina akan mau ikut.


"Oke ayo," Karina mengiyakan tanpa ragu.


Yesss teriakan kemenangan dalam hati Romi bergema.


Satu jam kemudian mereka berdua sudah tiba di mall. Romi berjalan dengan santai tidak terburu-buru untuk pergi ke toko buku yang ada di lantai tiga.


"Duh ke mall pake baju gini doang," keluh Karina merasa kurang percaya diri.


"Cuek aja," kata Romi santai.


"Tuh liat cewek lain cakep-cakep gitu bajunya bagus, dandannya udah kayak bintang iklan," kata Karina sembari menunjuk ke segerombolan cewek modis yang baru saja berpapasan dengan mereka berdua.


"Yah, tapi gak usah dandan heboh gitu juga kan, emang ada yang bilang kamu jelek?" kata Romi sambil mengusap dagu pura-pura berpikir.


"Haha, ya gak ada sih," jawab singkat Karina sambil tersenyum.


"Nah kan."


"Kalau ada?"


"Aku jitak nanti orangnya."


Karina tertawa lepas mendengar jawaban Romi yang seenaknya. Tentu saja dibalik jawaban seenaknya Romi menyampaikan pujian yang tulus. Dan Karina bisa merasakannya.


Mereka berdua berjalan berputar-putar di dalam mall. Karina beberapa kali mampir ke toko aksesoris dan Romi dengan sabar menemani tanpa protes. Romi juga beberapa kali mampir di beberapa toko mainan sekedar melihat-lihat. Meski mereka tidak berpegangan tangan tapi jika orang melihat mereka akan dikira sepasang kekasih.

__ADS_1


Romi juga tidak keberatan berjalan kesana kemari window shopping bersama Karina. Justru inilah tujuan utama Romi mengajak Karina, supaya bisa jalan berdua dengannya.


"Makan yuk," ajak Romi yang merasakan perutnya mulai keroncongan.


"Boleh.. tapi beli bukunya?" Karina teringat tujuan awal Romi.


"Oh.. itu sih santai aja, aku udah tau mau beli buku apa jadi itu bisa terakhir.." kata Romi sambil melirik ke sekeliling mencari tempat makan yang enak. "Nah, kita kesana ya."


Romi menarik tangan Karina mengajaknya ke sebuah restoran khas oriental.


Dua puluh menit kemudian seporsi Fu Yung Hai, seporsi kwetiau goreng seafood dan dua es teh manis sudah mendarat di meja mereka.


"Udah lama lho gak main ke mall haha," kata Karina ceria sambil memutar kwetiau di garpu.


"Masa?"


Karina mengangguk.


"Berarti aku berjasa dong ngajak kamu jalan-jalan," kata Romi seenaknya dibalas tawa Karina.


"Eh ulang tahun mas Rizky, mas mau kasih apa?" tanya Karina tiba-tiba.


Romi yang sedang makan tersedak kaget dan buru-buru meneguk minuman.


"Eh?" Romi heran.


"Lho ia.. ulang tahun mas Rizky.. ulang tahun aku juga lho, masa lupaaa???" kata Karina sembari pura-pura marah.


Romi ingat betul ulang tahun mereka berdua, terutama tentu ia lebih ingat ulang tahun Karina. Tapi setelah sekian lama baru kali ini Karina bertanya soal hadiah apa yang akan Romi berikan untuk Rizky. Apakah ini pertanda Karina mulai sungguh-sungguh peduli pada Rizky? Hati Romi enggan menebak jawabannya.


"Hmm.. inget dong ulang tahun kamu," kata Romi tegas. "Tapi entahlah main kasih hadiah apa sama Rizky, dia sih dikasih mainan pistol air juga udah seneng haha."


"Masa iya??"


"Ya enggak laah haha.. emang kenapa nanya ngasih hadiah apa?" Romi penasaran.


"Oh.. soalnya Mas Rizky sering cerita soal rencana ulang tahun nanti.. mungkin mau ada acara.. makanya aku tanya hadiah apa yang mau mas Romi kasih, kan acaranya kayaknya bakalan rame," kata Karina menjelaskan.


Romi tertegun sejenak, ia sepertinya memiliki sedikit bayangan rencana Rizky. Sahabatnya itu belum pernah berpacaran sebelumnya, dan dia gak pintar menyembunyikan rasa suka dan antusiasnya. Jika Rizky sampai mengulang membahas masalah acara ulang tahunnya maka kemungkinan ia merencanakan sesuatu yang besar di hari itu. Mungkin saja Rizky akan menembak Karina di hari itu dan lulus dari sertifikat jomblo abadi.


Tapi sementara ini ia tak akan terlalu memedulikan masalah itu. Ia mesti bertemu langsung dengan Rizky kalau ia ingin memastikan rencananya. Sekarang yang paling penting adalah sosok di hadapannya ini. Untuk siang ini Karina ada di depannya dan bersamanya seorang, ini momen yang baik. Sebelumnya ia tak pernah merasa momen jalan-jalan seperti ini spesial. Tapi entah mengapa berjalan bersama Karina memberikan suasana lain di hatinya..


Percobaan mengajak Karina kencan santai.. berhasil...

__ADS_1


__ADS_2