
Biasanya cara orang bekerja di tempat ia mencari nafkah akan tercermin juga pada sikapnya di rumah. Tapi itu mungkin berlaku untuk kebanyakan orang, kalau untuk Karina yang terjadi adalah sebaliknya.
Begitu tiba di rumah selesai bekerja ia langsung masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian. Selagi berganti seringkali ia melempar pakaian bekasnya begitu saja di lantai. Lalu jika perlu setelah bekerja saat libur ia bisa berdiam diri di kamar seperti putri malu yang menguncup meski tak ada yang menyentuhnya.
Tentu saja Emak pernah berkomentar soal kemalasannya di rumah. Tapi Karina beralasan ia kan sudah capek di warung, jadi di rumah adalah wahana malas-malasan. Emak hanya bisa geleng-geleng kepala melihat si cucu. Kadang-kadang Emak harus menggusurnya dari kamar hanya untuk mengajaknya duduk di halam rumah menikmati malam hari (Emak suka sekali suasana malam hari dan mencegat tukang bakso yang lewat depan rumahnya). Dan bagaimanapun biasanya seorang nenek akan menyayangi cucunya dengan berlebihan. Begitu pula Emak kepada Karina.. Emak hanya berharap jika ia menikah nanti tidak seperti ini terus.
“Tuuuh kaaan!!!”
Karina melompat Kaget dari rebahan cantiknya.
Emak sedang memungut baju bekas kerjanya dari lantai.
“Hehehe.. maaf Mak.”
“Kamu tuh minta maaf terus tapi gak berubah,” kata Emak sambil duduk di tepi ranjang.
“Iya iya nanti berubah deh..” Karina memohon supaya tidak diomeli dan langsungmenarik tangan emak menciumnya.
“Dasar kamu ini.... emang liatin apa sih itu di hp.. matanya nempel terus dari sejak pulang tadi..”
“Lihat-lihat gosip di instagram hehe...”
“Oh.. kirain lagi ngobrol-ngobrol sama Rizky...”
“Eh enggak Mak,” Karina berkilah mengibaskan tangan meski Rizky memang mengirimkan pesan whatsapp beberapa kali sekedar basa-basi. Tapi itu tidak termasuk mengobrol bukan?
“Atau Romi...?”
Karina menggelengkan kepala.. Romi lebih jarang mengirim pesan atau telepon. Sekalinya chatt ia sering mengirim gambar-gambar lucu, kadang meme, kadang cerita-cerita inspiratif, kadang video. Romi lebih variatif mengirim pesan tak hanya basa-basi. Tapi hari ini orang itu belum mengirim pesan sama sekali. Karina jadi bertanya-tanya lelaki itu sedang melakukan apa saat ini...
“Terus kamu mau pilih yang mana....?”
“Pilih? Ya enggak tahu deh Mak,” jawab Karina sambil menggembungkan pipi.
“Dua-duanya itu sudah kelihatan niat deketin lho.. kamu pernah makan malam sama Rizky.. si Romi juga ngajak kamu nonton.. bahaya lho kalau kamu gak tegas..”
“Bahaya? Kenapa? Kan mereka temenan.. lagian aku juga belum tentu mau sama mereka kan..”
__ADS_1
“Justru karena kamu belum mau milih mereka bakal saling pepet terus sampai kamu memilih..”
Karina memelintir-melintir rambutnya sambil mendengarkan Emak. Ia tak menghindari bahwa ia sedikit lelet untuk memilih diantara dua lelaki itu. Tapi itupun tak berarti memilih adalah tugas yang gampang untuknya. Ia sudah kenal mereka berdua sejak umur lima belas tahun. Selama bertahun-tahun itu ia terbiasa melihat mereka mampir di warung, membantu di warung, kadang main berdua ke rumahnya, dan sesekali melihat mereka berseteru.
Menghadapi masa ketika mereka bersikap berbeda untuk mendekatinya sedikit membuatnya merasa canggung. Meski tentu saja ia tidak keberatan andai ada diantara mereka yang menembaknya untuk menjadi pacar. Yang jadi masalah adalah rasa canggung.. Dan apakah mereka akan tetap berteman jika ia memilih salah satu diantara mereka.. Pastinya ia akan merasa bersalah jika akhirnya mereka berdua jadi bermusuhan.. Akhirnya daripada seperti itu Karina tidak mengambil keputusan, tidak menganggap terlalu serius, dan bisa tetap berteman dengan mereka berdua.
“Menurut Emak?” tiba-tiba Karina melempar balik pertanyaan.
“Lho kan kamu yang dikejar kok Emak yang milih.. ya terserah..”
“Ayolah Mak.. kasih petunjuk sedikit.. wejangan... wangsit..”
“Hush! Wangsit.. emang Emak ini jin apa..”
“Hehehe.. serius Mak beri cucu cantikmu ini pencerahan...”
“Hm.. Pokoknya menurut Emak.. Yang menurut kamu terbaik ya itu yang terbaik.. Pilih yang kamu suka dan nyaman.. Jangan lupa juga pikirkan masa depan.. Toh kan kalau kamu milih sekarang juga belum tentu jodoh.. Jadi jalani saja nanti kalau kamu betulan memilih..”
Karina mendengarkan dengan seksama sambil duduk memeluk kedua lututnya..
“Mereka udah tua.. udah bisa hadapin hal semcam itu.. gak usah khawatir.. lagian mereka berdua orang baik.. gak akan saling berbuat kasar atau melewati batas kalau mereka berantem..” Emak menghela napas panjang, ia merasa lelah berpidato sepanjang ini di depan cucunya. Emak percaya apapun nanti jadinya cucunya pasti bisa melaluinya.
“Udah ah.. emak mau ke belakang dulu..”
Emak pun pergi meninggalkan Karina yang masih duduk di atas ranjang.
Karina bangkit dan berjalan menuju cermin tinggi di lemarinya. Sembari berkacak pinggang ia memutar ke kiri dan ke kanan.
Apa hebatnya aku sampai mereka berdua saingan.. banyak cewek lain di luar sana yang lebih cantik dibanding si tukang lotek ini..
Ia lalu mendekatkan wajahnya dan melihat-lihat wajahnya dengan seksama..
Katanya kalau jodoh wajahnya mirip...Tapi berkali-kali ia melihat pun rasanya wajah Karina tidak ada kemiripan dengan Romi atau Rizky...
Karina kemudian kembali ke ranjangnya dan tengkurap di atas kasur. Menenggelamkan wajahnya kedalam bantal bergambar Mickey Mouse yang sudah bernoda air liur.
__ADS_1
Ia menimbang-nimbang kedua sahabat itu seperti juri dalam lomba mencari bakat. Keduanya adalah orang yang baik, dalam artian mereka tidak berkata kasar, mereka juga hormat pada orang tua, dan ramah pada semua orang. Tapi memang mungkin Romi terlalu ramah pada perempuan hingga akhirnya ia bisa mengkoleksi banyak teman kencan. Itu bahkan tidak dirahasiakan Romi pada Karina. Tapi akhir-akhir ini Romi tidak membicarakan teman kencannya, tidak pula terlihat sibuk dengan handphonenya untuk membalas chatt gadis-gadis. Mungkin Romi memang serius ketika berkata ingin bertobat dan mencoba setia. Tapi tentu saja... siapa yang tahu..
Keduanya juga orang yang mau bekerja keras dan tidak pemalas. Jelas hasil kerja keras Rizky amat terlihat dari mobilnya yang mengkilap dan uang yang sepertinya di mata Karina tak ada habisnya. Pekerjaan Romi lebih terlihat biasa saja dan ia pun sepertinya tidak ambisius seperti Rizky. Sisi lainnya.... Rizky belum pernah pacaran.. yang mana bisa dikatakan bagus sekali!! ia masih ‘murni’. Tapi itu membuatnya begitu kaku ketika mengobrol dengan Karina. Dan Karina pun jadi ragu bercerita ini-itu dengannya karena reaksinya akan datar-datar saja. Itu sedikit membuat Karina merasa tidak terlalu nyaman..
*Benar kata Emak.. keduanya pada dasarnya adalah orang baik..*
Karina kini merebahkan tubuhnya terlentang menghadap langit-langit yang dihiasi tempelan bintang dan planet yang bisa menyala dalam gelap.
Dan seperti sesuatu yang menyala dalam gelap, Karina tiba-tiba saja tahu apa yang harus ia lakukan..
Menunggu.. menunggu siapa yang pertama kali menyatakan akan membawa ~~~~hatinya menuju masa depan..
__ADS_1