Cinta (Tak)Butuh Kepastian

Cinta (Tak)Butuh Kepastian
Bergerak


__ADS_3

Rizky sedang melamun di kantornya, pekerjaannya hari ini tidak terlalu banyak jadi ia punya banyak waktu luang. Tentu tak sembarang hal yang kini sedang mampir di otaknya. Seorang Karina sedang ia bayangkan menjadi pasangannya di pelaminan.


Menurutnya Karina adalah pasangan yang sempurna untuknya. Terutama karena ia dan Karina sama-sama tak pernah berpacaran sebelumnya. Jadi andaikata mereka bisa bersanding maka mereka berdua akan saling menjadi yang pertama bagi masing-masing. Apa yang bisa lebih sempurna dari pasangan yang seperti itu?


Romi sang sahabat selalu memberikan banyak nasihat ini itu soalnya percintaan. Tapi tak ada satupun yang bisa berhasil membuatnya mendapatkan seseorang. Setelah dipikir sekarang mungkin ini cara Yang Maha Kuasa untuk menyandingkan dirinya dengan Karina (begitu pikir Rizky dalam-dalam).


Telah sekian lama Rizky menaruh hati pada Karina, dan telah sekian lama juga Rizky tidak melakukan apapun. Sofia menjanjikan bantuan untuk masalah Karina ini, meski belum terpikirkan apa bantuan yang akan ia minta. Tapi mungkin bantuan Sofia akan lebih efektif dibanding metode Romi.


Rizky enggan mengakuinya tapi ia juga merasakan sahabatnya juga menaruh hati pada Karina. Melihat jejak rekam sahabatnya yang hebat soal perempuan, ada perasaan tak rela jika Karina menjadi daftar berikutnya yang akan Romi dapatkan. Ia merasa Romi tak berhak untuk menyentuhnya, atau mendekatinya. Meski ia sendiri bukan kekasih Karina, tapi rasa tak rela itu begitu berakar kuat.


Dalam benaknya ia membayangkan bagaimana jika nanti Karina berpasangan dengan Romi. Rizky tak tega membayangkan sakit hatinya Karina ketika Romi jalan dengan perempuan lain. Dan Rizky menebak pasti Romi pun tak akan terlalu memikirkan perasaan Karina. Karena bagi Romi sepertinya mendua sudah seperti hobi.


Karina sebetulnya mengetahui perangai Romi yang seperti itu. Karena bertahun-tahun berteman pasti satu atau dua rahasia Romi terbuka pada mereka berdua. Bahkan Karina sempat bertemu dengan beberapa teman kencan Romi secara tak sengaja. Logika Rizky berpendapat bahwa tak mungkin Karina akan jatuh pada lubang yang sudah ia ketahui. Tapi Rizky juga tak bisa memandang remeh kemampuan Romi menggaet hati. Bukannya tak mungkin Karina justru terbuai silat lidah Romi.


Mendadak handphone Rizky berbunyi nyaring memecah lamunannya.


"Halo," sapa Rizky mengangkat telepon.


"Hai," balas suara di seberang.


"Kenapa lagi..?" tanya Rizky malas.


"Makasi ya," kata Sofia dengan ceria. Tentu saja yang ia maksud adalah momen di kafe BUPI.


Sebelum malam itu Sofia sudah memberi tahu Rizky soal rencananya mengajak bertemu Romi. Dan ia juga sudah mewanti-wanti Rizky bahwa kemungkinan ia akan disuruh datang juga bersamanya. Sofia tak memaksa Rizky untuk tidak datang (karena kemungkinan besar dia akan tetap datang jika Romi memintanya). Namun Sofia mengatakan bahwa jika ia tetap datang, Sofia akan tetap fokus pada Romi. Dan berharap Rizky tidak marah atau keberatan akan hal itu. Selain itu Rizky juga yang memberi info bahwa kafe itu adalah tempat terbaik untuk mengajak Romi bertemu. Dan soal buku yang hilang juga ia yang memberi tahu.


"Kalau perlu bantuan soal Karina ngomong aja ya," kata Sofia mengingatkan tawarannya.


"Pasti," jawab Rizky singkat. Dengan koneksi Sofia, mungkin tawaran Sofia akan bermanfaat suatu saat nanti.


"Kalau aku jadi kamu, aku bakal ajak kencan Karina secepetnya, dia tipe perempuan yang bakal diperebutkan banyak laki-laki.. saran aja sih.." kata Karina dengan nada serius. Ya, Rizky juga sudah bercerita pada Sofia bahwa ia menginginkan Karina. Tapi ia tidak menceritakan bahwa Romi juga menginginkan Karina.

__ADS_1


Setelah Sofia menutup telepon, Rizky jadi memikirkan sesuatu. Mungkin ia memang mesti bergerak, begitu pikirnya. Sofia saja berani untuk bergerak terlebih dulu untuk mendekati Romi. Maka berarti harusnya Rizky pun bisa melakukannya bukan?


Rizky menarik napas dalam-dalam dan menengadahkan kepalanya ke langit-langit ruangannya. Ia sedikit melamun membayangkan beberapa skenario yang mungkin terjadi beberapa menit ke depan. Ia kemudian mengambil nasihat yang seringkali Romi katakan padanya.


Berani dulu aja, hasil belakangan


Ia kemudian membuka daftar kontak di handphonenya. Jempolnya bergulir menyusuri daftar orang-orang dalam kontaknya. Hingga akhirnya jempol itu berhenti di 'Karina'.


"Demi masa depan," katanya pada diri sendiri dengan dramatis dan memencet tombol 'call'.


Setiap nada sambung rasanya seperti satu jam menunggu yang di seberang untuk mengangkat telepon. Jantung Rizky mulai berdetak lebih kencang dari mobil balap. Padahal jika sedang bertemu di warung Karina rasanya biasa saja. Beda tema komunikasi ternyata berpengaruh pada tingkat kepercayaan diri.


Lebih gampang menelepon Pak Dirut daripada ini.. keluhnya dalam hati.


"Halo," tiba-tiba Karina sudah mengangkat telepon.


"Eh," Rizky terkejut.


"Lagi sibuk?"


"Barusan sih sibuk, sekarang udah engga, ada apa?"


"Um.. Sabtu ini sibuk?"


"Kalau siang pasti sibuk,"


"Malemnya?"


"Sibuk," jawab Karina singkat.


Romi termenung sesaat kebingungan.. sedikit kecewa.

__ADS_1


"Sibuk rebahan haha," lanjut Karina ternyata hanya bercanda.


Fiuuh..... Rizky bernapas lega.


"Bikin kaget aja," kata Rizky dengan nada senang.


"Masa kaget gitu aja mas, kenapa sih emang?" tanya Karina penasaran, ia pasti sudah curiga dengan gelagat Rizky yang lain dari biasanya.


Jantung Rizky kembali berdetak bak pelari cepat sedang memperebutkan medali emas.


"Keluar yuk?" ajak Rizky dengan kaku.


"Keluar?"


"Iya,"


"Kemana?"


Rizky kebingungan lagi.. ia baru sampai tahap mengajak, ia belum lagi memikirkan tempat untuk pergi. Tapi ada satu yang mungkin cocok.. gadis terbaik berhak mendapat yang terbaik.. dan tempat terbaik di kota ini adalah....


"Skyview?" kata Rizky namun nadanya lebih seperti bertanya daripada mengajak.


Tidak segera terdengar jawaban dari Karina. Hanya sunyi tanpa suara untuk beberapa detik. Rizky sampai harus melihat apakah mereka masih tersambung di telepon untuk memastikan.


"Boleh," jawab Karina setelah 10 detik yang terasa seperti selamanya.


Hati Rizky meledak dengan perasaan bahagia yang menurutnya lebih dari apapun. Jantungnya kini berdetak normal dan senyum lebar pun tampak di wajahnya. Jika saja ada orang lain di ruangan ini maka Rizky akan terlihat seperti anak kecil yang baru saja dibelikan mainan impiannya.


"Oke, ntar aku telepon lagi," kata Rizky menutup telepon, bukan karena ia tak mau mengobrol tapi karena perasaan senang membuatnya tak bisa berkata lebih banyak lagi.


"Siap Mas," kata Karina masih terdengar ceria.

__ADS_1


Sambil memasukkan handphonenya ke dalam saku kemejanya wajah Rizky tersenyum lebar. Ia menatap ke sekeliling ruangannya seperti seorang artis yang sedang menatap penggemarnya dari atas panggung. Ia lalu mengangkat kedua tangannya ke atas seperti pemenang medali emas di puncak podium. Dan dengan perasaan membuncah membayangkan ratusan orang bertepuk tangan merayakan kemenangan kecilnya..


__ADS_2