Cinta (Tak)Butuh Kepastian

Cinta (Tak)Butuh Kepastian
Memori


__ADS_3

Semua tempat bisa menjadi tempat untuk menenangkan diri jika kita sudah merasa cukup lelah. Bagi Sofia saat ini yang menjadi tempat itu adalah di dalam mobilnya.


Setelah seharian harus mengikuti rapat yang memusingkan kepalanya, kesunyian yang di dapatkan di dalam mobilnya sudah seperti oase di padang pasir. Tidak ada pidato soal omset bulanan.. tidak ada strategi bisnis yang dipaparkan.. tidak ada evaluasi departemen.. yang ada hanya deru mesin yang menggeram pelan.


Setelah beberapa kali bolos rapat evaluasi karena Sofia sering membuntuti Romi, Ayahnya protes keras dan akhirnya memaksa Sofia untuk hadir hari ini. Dan Sofia dengan enggan mesti menuruti keinginan sang ayah. Bukannya Sofia enggan bekerja, tapi untuk saat ini ia belum bisa berkonsentrasi dengan baik.


Setidaknya sedikit hal menyenangkan yang terjadi hari ini adalah Bono yang kelihatannya sudah menyerah mendekatinya. Ia hanya fokus pada presentasi dan hanya menyapa ringan saja dan terlihat berusaha tidak menghiraukan Sofia. Rencana makan malam itu ternyata sukses besar. Dan ini adalah hasil yang sempurna..


Keberhasilan itu menggiring Sofia untuk membayangkan Romi yang belum juga berhasil ia gapai secara sempurna.


Lagi ngapain dia sekarang ya.... ia bertanya-tanya.


Handphone Sofia bergetar dari dalam tasnya.


"Halo.. kejutan? apa sih..?.. eh?? tugguin gue disitu!"


Decit ban Mercedes Sofia menusuk telinga ketika mobilnya melaju bahkan nyaris melompat keluar dari tempat parkir. Sofia menginjak pedal gas sedalam yang ia bisa sambil meliuk-liuk melintasi jalanan siang yang ramai. Kalau Ibunya melihat cara menyetirnya saat ini ia pasti sudah pingsan. Tapi untuk saat ini mengebut di jalan adalah hal yang layak untuk dilakukan.


Dan berkat gaya balapannya ia bisa tiba dalam sepuluh menit di sebuah food court Utara. Ia turun dari mobil dengan terburu-buru dan bergegas menuju tempat penjual Thai tea milik Tias.


"Hei.." Sofia terengah-engah karena setengah berlari dari parkiran hingga kemari.


"Ngapain sih lari-lari," kata Tias yang sedang duduk di meja depan tokonya.


"Ya elu tiba-tiba bilang kayak gitu kan."


"Hehe.. tandanya lu masih terikat masa lalu."


"Bawel ah.. mana???"


Setelah membereskan barangnya dan berbicara sedikit pada karyawannya Tias membawa Sofia berjalan menuju bagian belakang food court.


Mereka berdua mesti berjalan kaki agak jauh karena tempat ini sangat luas, mungkin bisa menampung 100 lebih toko. Bahkan di tengahnya ada sebuah lapangan kecil yg biasa dipakai untuk parkir darurat dan pentas musik. Bahkan di hari biasa pun lapangan kecil ini sering digunakan untuk orang bermain sepeda, skateboard dan lain-lain.


Sofia harus sedikit berjuang dibawa Tias naik turun beberapa anak tangga yang memisahkan komplek toko-toko disini, mereka berjalan melewati deretan toko yang rasanya tidak ada habisnya hingga akhirnya sampai bagian taman belakang.

__ADS_1


Taman ini tak kalah luas dengan lapangan tengah. Sempat ada pernikahan dengan tema pesta kebun di tempat ini beberapa waktu lalu.


Mereka berdua lalu duduk di sebuah bangku yang terletak tidak jauh dari tempat permainan anak.


"Tuh.." Tias menunjuk ke tempat perosotan yang dibentuk seperti belalai gajah.


Sofia memincingkan mata dan memerhatikan dengan seksama mencari apa yang sahabatnya maksud. Ada seorang anak mungkin berumur dua tahun, yang sedang menaiki tangga perosotan ditemani sang ibu. Anak itu meluncur dengan mulus sampai bawah membuatnya tertawa terbahak-bahak.


"Duh lucunya...." Sofia berkomentar dengan gemas.


"Iya lucu lho," kata Tias sambil melirik Sofia dengan usil.


Dan beberapa saat kemudian Ayahnya anak itu tiba setelah membeli susu kotak untuknya.


Seketika Sofia tak lagi tersenyum gemas.. hatinya terasa kecut.. rahangnya mengatup dengan kuat.


"Sialan..." gumamnya pelan.. Ia sakit hati, kesal, tapi juga bersyukur bisa melihat sosok itu kembali. Si Ayah anak itu tak lain adalah Andre.. mantannya..


Sosoknya yang gagah, ramah, bisa mengayomi pasangannya, ulet bekerja, dan yang terpenting adalah ia juga tampan. Semua itu sepertinya tidak pudar meski sudah tiga tahun ia tak bertemu.


Kembali ke kota ini.. kembali terlihat sosoknya.. kembali membawa memori yang lama tak tersentuh..


Tak terasa bulir air mata meluncur di pipi Sofia.


"Lho malah nangis!" Tias terkejut dan segera mengeluarkan sapu tangan dari sakunya.


"Udah gak apa-apa.. iritasi mata doang ini.."


Tias berdecak tak percaya sahabatnya ini masih menjaga harga dirinya setinggi langit. Padahal menangis pun tak mengapa bagi Tias..


Biarpun ia berkata iritasi, tapi memang dadanya terasa sedikit sesak. Jantungnya berdebar lebih bersemangat daripada ketika jogging. Ia ingin melesat berlari jauh daripada melihat sosok Andre tapi entah kenapa hatinya melarang dirinya untuk beranjak dari kursi itu.


"Ah kalau malah nangis jadi nyesel gue kasi tau.."


"Dih dibilang juga iritasi.. banyak pohon nih jadi perih.."

__ADS_1


Sementara Andre dan anaknya sedang bermain, Sofia dan Tias tetap melihat dari jauh. Untungnya tempat mereka duduk sedikit tertutupi oleh tanaman hias. Kalau Andre sampai melihat mereka pastinya mereka akan dihampiri. Dan jika itu terjadi Sofia akan lebih memilih dikubur hidup-hidup saja.


"Udah punya anak lagi lho.." kata Tias mulai mengompori. "Cakep lagi anaknya.."


"Iya udah tiga puluh lima juga kan dia umurnya.. udah waktunya beranak.."


"Dulu lu kayaknya tergila-gila banget sama dia.."


"Dulu..."


"Dulu lu pernah sampe ngajak ribut cewek yang deketin dia kan??"


"Ya iya sih.."


"Gila ya, lu dulu pemberani dan nekat banget.."


"Maksudnya apa sih..?"


"Lu masih sayang sama Andre??"


"Ya enggak lah! cuma kenangan aja yang bikin gue mewek.."


"Sekarang siapa yang lu mau?"


"Romi.."


"Kenapa gak nekat kayak dulu aja? kenapa harus nunggu ultah si Karina itu kalau lu bisa dapetin dia secepetnya?"


Sofia melirik Tias dengan tajam.. ia pikir ia sudah memberitahu sahabatnya ini semua rencana yang ingin ia lakukan. "Gak bisa serampangan, bisa-bisa.."


"Kabur? Dulu lu nekat-nekat aja orangnya.. kalau nunggu sampe nanti kita sabotase lagi.. apa moodnya gak jadi malah tambah jelek gara-gara Karina nanti gagal dia dapetin?"


Sofia diam berpikir sambil tetap melihat pemandangan keluarga kecil Andre.


Gue juga pengen kayak gitu...Apa gue harus lebih nekat daripada sekedar pake bantuan Sarah??

__ADS_1


Pikirannya terus bergejolak.. Kesempatan seringkali tidak datang dengan sendirinya tapi melalui usaha.. dan kadang usaha itu memerlukan keberanian ekstra..


__ADS_2