Cinta (Tak)Butuh Kepastian

Cinta (Tak)Butuh Kepastian
Interogasi


__ADS_3

Romi tiba tepat sebelum jam istirahat di kantor Rizky. Seperti biasa hembusan angin AC dari dalam kantornya terasa begitu segar. Tapi sekarang Romi sedang fokus jadi ia tidak perduli dengan dinginnya AC (padahal kalau dikasih satu biji gratis untuk di kosan dia akan terima senang hati).


"Halo!" Romi menyapa ceria.


"Eh.. Pak.. eh Mas.. eh Pak.. kan di kantor ya jadi saya panggil bapak.." kata Ovi sedikit kaget melihat penampakan Romi. Ia jadi sedikit grogi dan malu-malu..


"Haha gak apa-apa deh.. eh juragan ada?" kata Romi santai. Ia sengaja tak menghubungi Rizky terlebih dulu sebelum kemari supaya ia tak ada alasan untuk menghindar.


"Sebentar pak," Ovi mengangkat telepon di sampingnya, dan menekan nomor kode kantor.


"Duh!! Maaf-maaf!! salah," kata Ovi mendadak menutup telepon.


"Kenapa?" tanya Romi.


"Salah sambung ke pantry hehe.."


Romi menepuk dahinya tak percaya sambil tertawa.


Duh kok gue grogi sama orang iniiii Ovi menggerutu dalam hati. Ovi tak menyadari bahwa kejadian malam itu saat ia diantar ke rumah berjalan kaki oleh Romi rupanya menggores kesan yang cukup dalam di hatinya.


Setelah kemudian ia salah telepon lagi lalu ketiga kalinya baru ia bisa menyambungkan komunikasi dengan ruangan di belakangnya.


"Kata Pak Rizky masuk saja Pak.." kata Ovi malu-malu dan salah tingkah pura-pura merapikan baju.


"Syalnya bagus lho.. tumben pakai syal," kata Romi menunjuk syal warna hijau muda di leher Ovi sambil berjalan memasuki ruangan Rizky.


"Eh? Oh ia.. Terima kasih," pipi Ovi merona malu untuk kesekian kalinya. Sudah dua hari ini ia mencoba memakai syal untuk mempermanis penampilan dirinya. Tetapi bukannya Rizky yang pertama kali menyadarinya justru Romi yang jarang ke kantor ini yang menjadi orang pertama kali yang menyadari syal Ovi.


Ovi merapikan syalnya beberapa kali lagi saat Romi sudah memasuki ruangan. Ia merasa senang..


"Yo!" sapa Romi ketika masuk.


"Oy," balas Rizky yang kelihatannya sedang membuka beberapa file.


"Bentar lagi jam istirahat, ngapain sih masih sibuk," tanya Romi menghampiri mencoba melihat file yang sedang sahabatnya baca.


"Ah biasa.. kejar target.." jawab Rizky serius.


"by the way nanti hari minggu ada balapan F1, mau nongkrong gak kita? nobar di kafe Empire kayak biasa," ajak Romi yang kemudian duduk di kursi depan meja Rizky.


"Wah enggak tahu deh.. soalnya masih agak sibuk," kata Rizky dengan nada bingung.


"Ya ampun... tapi ya gimana gak sibuk sih, buah usaha lu ya lu sukses kayak sekarang.. kalau gue kayaknya gak kuat banyak sibuk hahaha," kata Romi takjub dengan keuletan Rizky.


"Kebanyakan main cewek sih lu," kata Rizky menuduh.


"Udah tobat ya gue."

__ADS_1


"impossibbrruu," kata Rizky menirukan pengucapan bahasa Inggris orang Jepang.


"Lho beneran gue," Romi meyakinkan.


"Ada angin apa juga elu tiba-tiba tobat?"


"Hidayah," jawab Romi seenaknya.


"Hidayah dari yang mana?"


"Apanya?"


"Ceweknya lah."


"Ada deeeh!!" kata Romi sembari menjulurkan lidah dengan usil.


"Hmph," Rizky mendengus, ia yakin yang Romi maksud adalah Karina meski ia tak punya bukti.


Rizky sebenarnya sengaja menjaga jarak dengan Romi akhir-akhir ini. Karena ia ingin fokus merencanakan ulang tahunnya dan Karina. Selain itu ia dan Romi sudah berteman begitu lama, Rizky tak ingin merasa sungkan atau tak enak ketika melakukan rencananya. Jadi dengan menjaga jarak ia berharap untuk tidak merasa ragu lagi, meski karena Romi sekalipun.


"Eh Karina sama elu kan ulang tahun yak bentar lagi," Romi mulai memancing pengakuan Rizky soal rencananya.


"Yoi," jawab Rizky namun matanya masih menelusuri file di mejanya.


"Mau ngasih kado apa buat dia?" tanya Romi lagi.


"Hm.. kalau elu.. ada rencana?" Romi tetap berusaha mengorek informasi.


"Ada dong,"


"Ada acara?"


Rizky menganggukkan kepala dengan wajah sombong.


"Wah asik nih, gue diundang kan pastinya," kata Romi pura-pura antusias.


"Iya dong, nanti gue kabarin kalau udah deket waktunya, seru pokoknya.."


"Seru gimana?" Romi penasaran.


"Ya seru aja.. banyak acara yang gue rencanain.. pokoknya ulang tahun kali ini bakal beda dari sebelumnya."


Rizky memang sering merayakan ulang tahun dirinya (soalnya dulu waktu kecil gak pernah dirayain - itu alasannya). Tahun kemarin ia mengajak makan-makan di restoran mewah. Tahun sebelumnya ada acara syukuran di rumahnya pakai prasmanan ala orang kawinan. Tapi ya semuanya kebanyakan cuma acara makan-makan dan potong kue, Karina beberapa kali datang tapi ya sekedar jadi tamu.


Romi yakin jika Rizky mengatakan akan ada yang berbeda kemungkinan itu soal rencananya dengan Karina..


"Karina juga dateng kan?" tanya Romi sedikit tajam.

__ADS_1


"Ya gue ajakin sih.. tapi gak tau dia dateng apa enggak kan..."


"Kalian udah jadian?"


"Hoho.. belum.. tapi jalan kesana sedang diaspal," kata Rizky membuat perumpamaan asal-asalan.


"Nanti keduluan orang lho.." keduluan gue gumam Romi dalam hati.


Rizky meletakkan file di tangannya dan untuk pertama kali memandang Romi dengan serius. Seolah ia bisa mendengar ucapan Romi dalam hatinya. Romi sedikit tak nyaman dengan pandangan penuh tuduhan itu padanya.


"Karina pastinya bisa memilih," kata Rizky dengan nada serius.


"Setuju, lu bisa percaya soal itu sama Karina," kata Romi lugas. Ucapan itu sekilas terdengar seperti genderang perang yang sudah dibunyikan untuk menyerang musuh.


"Pastinya.." Rizky setuju dan matanya kembali pada file di depannya.


"Ya sudah, gue balik ya," Romi pamit. Romi merasa jika ia lebih lama disini ia lama-lama bisa ribut betulan dengan sahabatnya. Ada rasa iri dan tidak terima bahwa Rizky merencanakan sesuatu nanti sementara Romi masih menjajaki jalan keseriusan.


"Yo," Rizky mengiyakan bahkan tak melirik temannya yang keluar pintu.


Romi keluar pintu dengan wajah cemberut.


"Eh Mas.. eh Pak.." Ovi memanggil ketika Romi melewati mejanya.


"Iya?"


Ovi memainkan jarinya terlihat ragu. "Gak apa-apa sih.."


"Ya ampun kirain kenapa.. have a good day," kata Romi ramah dan melanjutkan melangkah pergi.


"Eh Mas.." Ovi memanggil lagi.


"Hm?" Romi melirik menghentikan langkahnya.


"Ada nomor Mas yang bisa saya hubungi?" tanya Ovi malu-malu.


"Oooooh.."


Romi lalu berjalan kembali dan memberikan nomor teleponnya. Begitu juga Ovi yang memberikan nomornya.


"Kalau ada apa-apa hubungi aja, whatsapp juga ada," kata Romi ramah.


"Iya," kata Ovi sembari menundukkan kepala karena malu.


"Pokoknya nanti aku kasih tau kelemahan si Rizky hahaha,," kata Romi ceria sambil berlalu.


Dapat info soal Pak Rizky menyenangkan sih... tapi bukan itu tujuan gue.... ujar Ovi dalam hati.. ia merasa senang hari ini..

__ADS_1


__ADS_2