
Karina berdiri tegak menghadap cermin di lemarinya. Kemudian ia bergeser menghadap kiri, kemudian berbalik menghadap kanan. Ia merapikan bagian kemeja yang sedikit kusut meski sebetulnya tidak kentara. Beberapa kali ia memandang wajahnya sendiri dan kemudian kemeja bermotif kotaknya itu.
Aku kelihatan tua gak ya...
Dari pantulan cermin di depannya tampak jam dinding bergambar burung hantu dengan konstan menjalankan kedua jarum jam yang berwarna merah menyala.
3.30 ... Karina mengintip dari balik jendela ke arah gerbang rumahnya.
Selayang benaknya berkelana ke warung yang hari ini ia tinggalkan. Apakah semua lancar? aman? ada masalah gak ya?
***
Tepat dua puluh empat jam sebelum detik ini, Romi datang dengan muka yang teramat riang ke warung Karina. Romi selalu ceria jadi tentu Karina tak heran jika Romi terlihat sumringah.
Segera saja Romi memperlihatkan layar handphonenya pada Karina.
Karina memiringkan kepalanya.
"Eh kebalik!!" Romi memperbaiki posisi layarnya.
"Tiket?"
Romi mengangguk. "Ini sebetulnya aku pesenin buat besok soalnya atasan mau nonton bareng kenalannya.. tapi karena istrinya tiba-tiba datang berkunjung dari luar kota jadi ya dibatalin deh.."
Ngarang banget gue, mihon maaf Pak Broto jadi korban mengarang bebas haha..
"Jadi ini dikasi ke mas Romi?"
"Yap! film Star Wars terbaru! tadinya aku mau nonton belakangan aja nunggu bioskop sepi, tapi mumpung ada kan ya udah aku ambil."
"Beruntung banget mas ini.."
"Ikut yuk, dua tiket lho ini.."
"Besok ya..."
"Iya, jam lima.."
"Tapi nanti warung gimana?"
"Kan bisa berangkat setelah jam makan siang, lewat jam rame bisa di handle sama mas Parjo sama mbak Yuli kan?" kata Romi sambil memandang kedua karyawannya Karina. Dengan semangat mereka berdua mengiyakan.
"Ok,"
Senyum Romi merekah... "Oke sampe ketemu besok, jam tiga atau jam 4 aku jemput."
__ADS_1
"Gak makan dulu???"
"Nanti aja mau kesana dulu," Romi menunjuk arah dengan sembarangan.
Padahal Romi tidak memiliki hal lain untuk dilakukan. Hanya saja mengajak Karina untuk nonton dan kemudian ditinggalkan adalah langkah yang ia rasa paling tepat. Tentu saja bukan tanpa alasan, Romi biasa melakukan hal ini ketika mengajak seseorang kencan. Meninggalkan orang yang kita ajak setelah mereka setuju mengurangi kesempatan mereka untuk berpikir lebih lama lagi dan berubah pikiran. Jika mereka berubah pikiran setelah Romi pergi setidaknya ia tidak mesti menghadapi penolakan secara langsung.
***
Karina mengintip kembali dari balik tirai kamarnya ke arah gerbang rumah. Kali ini sebuah motor honda Vario berwarna putih berhenti di depan gerbang. Karina yang langsung mengenali pengendaranya meninggalkan tirai dan kembali ke depan cermin.
Diikat atau enggak? Karina memainkan rambutnya yang sepanjang bahu. Setelah beberapa pose wajah Karina mengambil ikat rambutnya dari meja.
Dari pintu depan terdengar suara Romi sedang berbicara dengan neneknya. Sudah lama mereka tak mengobrol suara tawa neneknya menggelegar mendengar Romi berkelakar dengan ceria. Karina jadi tersenyum sendiri mendengar percakapan seru mereka.
Dua menit kemudian Karina membuka pintu kamarnya dan berjalan menuju ruang tamu.
"Hai," Karina menyapa Emak dan Romi yang masih mengobrol.
"Oh Hai!!" Romi melambaikan tangan.
"Tuh sudah ada.. jagain yang bener ya.."
"Siap! Kalau boleh saya ngelamar jadi pengawalnya sekalian Mak! hahaha."
Karina mencium tangan Emak berpamitan, disusul Romi yang juga mencium tangan Emak.
"Hati-hati di jalan.."
"Siap," sahut Romi sambil berjalan keluar.
20 menit kemudian Romi dan Karina sudah tiba di mall. Bioskop ada di lantai paling atas jadi mereka berdua langsung berjalan menuju kesana. Lift di mall ini selalu penuh, jika mesti menunggu akan memakan waktu yang tidak sedikit. Jadi mereka memutuskan untuk berjalan saja dan naik lewat eskalator.
"Aku rapi gak?" Karina bertanya sambil berpose tegap.
"Rapi, cantik, fresh.."
Karina bernapas lega Romi menyukai penampilannya. Aneh sekali rasanya bagi Karina, bahkan ketika makan malam dengan Rizky di Skyview saja ia tak merasa canggung seperti ini.
"By the way aku suka rambut kamu diikat.."
"Bukannya kerja juga rambutku selalu diikat kan mas."
"Iya, cuma kalau lagi pakai baju biasa keliatan beda aja gitu.."
Dalam hati Karina ia semakin sumringah..
__ADS_1
Mereka berdua berjalan dengan tidak terburu-buru sembari cuci mata melihat keriuhan suasana mall. Dari beberapa toko terdengar pramuniaga yang bersahutan menyambut konsumen yang lewat sekaligus mempromosikan toko mereka.
"Kalau aku gak berani teriak-teriak promosi kayak gitu.."
"Haha.. kalau kamu yang jualan gak usah teriak begitu.."
"Kenapa? gak laku dong nantinya, " Karina penasaran.
"Kamu diem aja di depan orang pada nyamperin pasti.." Romi senyum-senyum sendiri.
"Ah mas ni pasti gombal ujungnya!"
"Hahaha.."
Tinggal satu lantai lagi hingga bioskop, Romi membuka handphone dan menyiapkan tiket online yang ia miliki.
Sementara Romu terpaku pada handphone di tangannya tanpa ia sadari seseorang sedang memerhatikannya.
Asteria baru saja membeli beberapa buku tulis dan satu buah mouse baru untuk laptopnya. Ketika berbelok ke dekat tangga seketika ia mengenali seorang Romi yang sedang bersama seseorang. Asteria berusaha mengingat gadis di sebelah Romi tapi ia yakin pernah melihatnya.
Mereka berdua berjalan mendekati Asteria yang berjalan berlawanan arah dengan mereka. Ia berpikir apakah ia mesti ganti arah saja jadi ia tak perlu berpapasan dengan Romi. Namun ia teringat pernah mengalami hal serupa beberapa waktu lalu. Saat itu Romi mengenalkan Asteria pada teman kencannya sebagai teman. Dan ia tak keberatan disebut teman. Jadi ia memutuskan untuk tetap berjalan lurus.
Paling dikenalin lagi...
Romi akhirnya menemukan tiket online dalam aplikasi di handphonenya. Ia jarang menggunakan aplikasi itu jadi sedikit kerepotan untuk menemukan menu booking tiket.
"Sip.."
Romi baru saja akan menunjukkan potongan trailer film Star Wars ketika ia menyadari kira-kira lima belas langkah di depannya seorang Asteria sedang berjalan tepat ke arahnya.
Romi bisa merasakan jantungnya mogok bekerja untuk sesaat. Haruskah ia mengajaknys ngobrol dan mengenalkannya pada Karina? atau haruskah ia menarik Karina berjalan ke arah lain sebelum mereka berpapasan? ataukah ia mesti cuek saja bak orang asing yang tak mengenal satu sama lain.
Pilihan pertama tidak bisa Romi lakukan.. jika sampai ia mengenalkannya pada Karina maka kemungkinan besar niatnya untuk menjadi 'lelaki serius' akan bernilai nihil di mata Karina..
Pilihan yang kedua tak mungkin juga untuk dilakukan saat ini. Karena Asteria sudah memasang segurat senyum tipis memandang Romi. Ia tak bisa menggunakan alasan 'gak keliatan' untuk kemudian berbelok arah.
Pilihan yang ketiga akhirnya dipilih Romi..
Lima.. empat.. tiga.. dua.. satu.. Asteria dan Romi pun berpapasan..
Tanpa bertukar kata.. tanpa bertukar tatap.. mereka berpapasan layaknya orang asing.
Karina sedang bercerita soal sudah lama ia tak mengunjungi bioskop. Dan bercerita tentang film-film romantis yang ia sukai. Namun suara Karina untuk beberapa saat tidak mampu menembus keheningan hati Romi..
Ini terasa begitu salah tapi begitu benar..... Romi melirik ke belakang. Mencuri pandang pada sosok berambut ikal yang berjalan perlahan menjauhinya..
__ADS_1