
Romi berjalan sambil menguap beberapa kali, kedua matanya seakan mengajak tubuhnya kembali berbaring di kasur yang empuk. Tapi ia tak bisa kembali lagi, minimal untuk dua jam kedepan sampai pasar kaget minggu pagi ini selesai. Karena ia sudah berjanji pada sahabat karibnya Rizky, untuk menemaninya mencari buku bekas yang biasa dijual disini.
"Udah dapet semua belum?" tanya Romi sambil kembali menguap lebar.
"Cukup, tapi kurang," jawab Rizky dengan suara seraknya.
"Eh? gimana??"
"Ya kayak lu sama barisan gadis-gadis di sebelah elu, cukup?"
"ya beda dong," Romi berkilah.
"ya sama, cukup banyak, tapi kayaknya masih kurang hahaha," Rizky tertawa lepas.
Romi jadi ikut tertawa karena ia tidak bisa menghindar tuduhan itu.
Rizky berusia sama dengan Romi, mereka berdua bersahabat sejak masa kuliah. Yang membedakan, karir Rizky betul-betul moncer hingga sudah mencapai level manajer saat ini. Sementara Romi tidak sesukses itu. Tapi di sisi lain, Rizky tidak pernah sekali pun, barang satu kali pun... pacaran. Sementara Romi bisa dibilang jauh lebih sukses dibandingkan Rizky dalam bidang yang satu ini.
"kasih tau dong," tanya Rizky sambil menunggu cilok pesanannya dibuat.
"apanya?" Romi pura-pura tak paham.
"idih.. Asteria.. Marni.. Sisil.. Hana.. Kiyasha.. Lasmi.. Veo.. Anggi.. perlu diterusin??"
Romi yang sedang minum es teh sampai tersedak mendengar Rizky mengabsen. Ia langsung melambaikan tangan menghentikan absensi Rizky.
"udah dong.. sial," kata Romi dengan wajah tak bisa menahan senyum meski dengan bibir yang belepotan air es teh.
"makanya.. ajarin.." kata Rizky memaksa.
"yang elu absen masih kurang lho," Romi menyela.
"sial! bikin iri aja!" kata Rizky lagi sambil menjitak kepala sahabatnya.
Bagi mereka berdua, ini termasuk topik obrolan lawas. Entah sudah berapa ratus kali Rizky meminta bantuan Romi soal cinta ini. Dan entah berapa ratus kali yang sama Rizky gagal mengikuti sarannya. Dan bahkan gak sampai saran saja, beberapa kali Romi menjadi 'wasit' sekaligus mediator Rizky dan teman kencannya. Tetap saja gagal..
"Inget sama Wirda gak?"
Rizky terlihat sedang menelusuri lorong ingatan di otaknya sambil menggaruk kepala. Lalu setelah ia ingat siapa yang Romi maksud, ia mengangguk.
"inget gak lu ngapain waktu itu?" tanya Romi lagi.
"gue.. em.."
"yak betul!!" potong Romi sebelum Rizky sempat menjawab. "lu terdiam gak bisa ngomong apa-apa."
Kejadian itu kurang lebih dua tahun sebelumnya, ketika Romi menyiapkan kencan untuk sahabatnya ini. Kencan malah jadi hambar karena Rizky gak bisa berkata barang satu kalipun karena grogi dan canggung. Romi yang duduk di meja dekat meja mereka berdua duduk berusaha membantu via whatsapp soal apa yang harus ja lakukan. Tapi Rizky hanya berhasil menjadi patung di depan Wirda yang sepertinya sudah berharap banyak. Sesekali Rizky tersenyum namun malah seperti orang yang sedang mengalami kedutan di pipi karena saking canggungnya. Dan hasilnya tentu saja gagal total.
"gue gak berani!" kata Rizky.
__ADS_1
"nah itu.. lu kurang berani doang .. kalau udah berani udah deh gampang." Romi menerangkan.
Dan Romi berkata jujur, Rizky sudah memiliki karir mentereng, bahkan secara fisik ia juga tampan bak John Mayer. Kalau dia bisa main gitar sambil nyanyi 'your body is wonderland' depan cewek pasti mereka sudah jatuh hati.
"gimana caranya berani??" tanya Rizky.
"ya kayak makan nasi," jawab Romi santai.
"hah??"
"ya kayak makan nasi beneran! emang lu kalau makan nasi sering dihitung berapa jumlah bulir berasnya??"
Rizky menggeleng.
"terus kalau makan nasi lu mikir gak itu nasi beracun apa engga??"
Romi menggelengkan kepalanya lagi.
"terus lu juga mikir gak itu nasi cocok gak ya dana perut lu,"
Lagi-lagi Rizky menggeleng.
"nah itu.. kayak makan nasi.. jangan dipikir.. berani ngobrol.. soal dia suka apa engga ya jangan dipikir di depan, toh kalau gak cocok kan tinggal cari lagi, lagian kan dari berani dulu baru tau cocok apa enggak..kalau gak berani ya ngelamun terus bro..kayak orang cari rejek hartai, jodoh juga rejeki yang mesti dicari.."
Rizky terlihat diam sembari berpikir.. "berarti lu sial banget ya," katanya menyimpulkan sambil Tersenyum-senyum.
"apanya?" Romi kebingungan.
PLETAK!!
Kali ini Romi yang menjitak sahabatnya yang puas tertawa.
"tapi jadi elu mah enak ya.."
"apa lagiiii??" kata Romi yang bersiap menjitak kepala Rizky lagi.
"berani dan gak pernah gagal deketin cewek.."
"kadang gagal kok," sergah Romi.
"buktiin!" tantang Rizky.
"oke!"
Tantangan anti-mainstream semacam ini gampang dilakukan, begitu pikir Romi. Justru mungkin tak ada waktu lebih baik yang cocok untuk ditolak kenalan sama cewek. Mumpung minggu pagi jalan-jalan ke pasar kaget Romi hanya mengenakan celana kolor basket dan kaus lusuh. Mestinya kesempatan ditolak saat ini mendekati angka 100 persen.
Tapi untuk memastikan keberhasilan ditolaknya lebih besar lagi, Romi mengajak sahabatnya ke tempat parkiran mobil dekat mesjid kampusnya.
"ngapain disini?" Rizky penasaran setiba mereka disana.
__ADS_1
"bentar.."
Mereka berdua berjalan berputar-putar melihat keadaan. Setelah beberapa puluh meter, Romi berhenti dan menunjuk tepat ke sebuah sudut parkiran.
"tuh.. liat ya.. gw pasti gagal.." kata Romi sambil berjalan mendekati dua orang gadis yang sedang bercengkrama mengobrol di atas kap mesin mobil mercedes-benz yang pastinya milik salah satu diantara mereka.
Salah satu dari mereka memiliki rambut yang diikat ke belakang dan berkacamata. ia mengenakan jaket training yang pas dengan bentuk tubuhnya. Sepatu kets mahalnya yang masih bersih menandakan ia tidak kemari untuk olahraga. Mungkin sekedar hunting jajanan yang enak-enak. Romi merasa perbedaan level mereka dan dirinya terlalu jauh dan pasti ia ditolak.
Tak lama Romi sudah berada di hadapan dua gadis itu. Karena ia tidak benar-benar berniat berkenalan jadi ia asal saja memilih kalimat untuk menyapa mereka.
"halo kak.."
mereka berdua melirik Romi dengan kaku.
yes. . ujar Romi dalam hati, ekspresi yang ia harapkan muncul.
"mau tanya.. katanya disini ada yang jual hamster.. barangkali kakak-kakak ada yang lihat?"
Si rambut dikuncir melihat Romi dari ujung kepala sampai ujung kaki, sementara temannya yang berambut ikal tersenyum tipis.
oke tinggal bilang makasi, terus pergi.. Romi menyimpulkan kegagalannya.
"duh maaf ganggu kak, makasi saya permisi dulu.."
Romi melangkah menjauh melirik Rizky yang memerhatikan dari kejauhan. Romi berkata tanpa suara memberi kode (g... a... g.. a... l)
"eh sebentar!" mendadak si rambut dikuncir memanggilnya kembali.
Romi menoleh kebelakang lagi, si rambut kuncir sedang mengambil sesuatu dari dalam mobilnya sementara si rambut ikal memintanya mendekat kembali.
Romi penasaran kenapa ia kembali dipanggil kembali mendekat pada mereka. Dan tak lama kemudian si rambut kuncir mengambil sebuah kandang kecil dari mobilnya..
"ini...." katanya sembari memperlihatkan.
Ternyata itu adalah seekor hamster.. betulan hamster.
"oh ia lucu ya.." Romi berusaha sopan dan memuji padahal dalam hati ia tak percaya pertanyaan asal-asalan yang ia buat malah berubah jadi betulan.
"tadi dapet dari dekat bundaran di tanjakan itu.." kata si rambut kuncir sambil menunjuk arah.
"oh.."
"suka hamster?" tanyanya lagi.
"eh aku? sebetulnya buat dia.." kata Romi sembari menunjuk Rizky di kejauhan yang kini raut wajahnya jadi senyum tapi mengejek.
"oh.. by the way aku Sofia.." Sofia si kuncir rambut memperkenalkan diri.
"Romi," balas Romi sembari menjulurkan tangan bersalaman.
__ADS_1
"Tias," Tias si rambut ikal ikut berkenalan.
Dan akhirnya tantangan pun gagal, Romi lupa terkadang untuk kenalan dengan lawan jenis hanya butuh keberanian. Padahal tak lama sebelumnya ia berceramah soal berani pada Rizky. Tak setitik pun Romi menduga bahwa berkenalan dengan Sofia akan membawa ombak besar di dalam hidupnya.