
Romi duduk mematung di atas motornya sementara beberapa kawan kerjanya satu persatu berpamitan pulang. Dengan datar Romi hanya membalas 'iya nanti gue pulang bentar lagi' dan sedikit lambaian tangan pada mereka.
Ia mengusap kaca speedometer motornya seperti sedang mengusap kucing peliharaan. Ia senang dengan motornya, jarang memberi masalah, mengantarkannys kemana-mana, sudah membonceng banyak perempuan di belakangnya. Romi tersenyum simpul mengingat jasa si motor matic butut ini. Yah kalau dibandingkan mobil Rizky sih motor ini recehan kembalian..
Gara-gara telepon aneh Rizky tadi siang pas istirahat Romi jadi banyak melamun. Tidak melamun, mungkin hanya jadi banyak berpikir? Apapun itu namanya yang jelas Romi jadi memikirkan ulang banyak hal.
Soal hidupnya.. karirnya.. keseriusannya pada Karina..
Romi menghidupkan motornya, menghangatkan mesin yang sudah dingin dibiarkan 8 jam.
Sementara mesinnya bergeram pelan benak Romi masih tidak bisa diam di tempat.
Menafkahi?.. ketika ia berniat serius dengan Karina hal itu bahkan tak terlintas di otaknya.
Apakah serius itu berarti pasti menikah..? belum tentu.. jadi wajar kan kalau pemikiran gue gak sampe situ.. Romi mencari-cari pembenaran.
Tentu saja jika melihat sahabatnya, Romi bukanlah lawan yang seimbang. Rizky mungkin menghasilkan setidaknya dua atau tiga kali lipat yang Romi dapatkan setiap bulan.
Menafkahi sendiri sama keluarga aja udah repot.. gumamnya dalam hati sembari menghitung-hitung.
"Lho Mas belum pulang?"
"Eh Mas Agung.. kirain siapa.. ia ini lagi manasin motor."
"Jangan ngelamun Mas nanti kesambet haha," kata Agung ceria sambil menaikkan anaknya ke jok motor. Di belakangnya istrinya tampak membawa beberapa belanjaan.
"Wah rombongan Mas?" kata Romi melihat mereka bertiga.
"Lha iya, istri jemput saya Mas sekalian belanja hehe, yok Mas saya duluan," Agung pamit.
Romi melambaikan tangan sambil tersenyum.
Agung adalah kru lapangan disini, Romi sebetulnya cukup jarang bertemu dengannya. Mungkin karena ia selalu pulang tepat waktu jadi jarang bertemu.
Mas Agung aja udah punya anak istri.. Romi nyeletuk dalam hati.
Bener juga.. Mas Agung aja bisa punya anak istri.. padahal dia cuma kru lapangan yang gajinya mungkin gak sampe 2/3 gaji gue.. kenapa gue takut..
Segaris senyum kini terukir di wajahnya yang masih terlihat melamun. Tapi setidaknya sedikit semangatnya sudah kembali. Ia kemudian memacu motornya menuruni turunan parkiran dan keluar kantor.
Entah gimana nanti cara Rizky nembak Karina.. gue juga punya cara sendiri...
Motor Romi melesat melewati antrian kendaraan sore yang menumpuk. Ia sedang menuju suatu tempat yang dulu biasa ia datangi kala berkencan saat kuliah.
Letaknya di jalan sebelah McDonalds sedikit masuk ke dalam. Disana berjejer penjual bunga yang menjajakan bunga hidup berwarna-warni dan juga papan bunga untuk acara-acara.
Selagi melewati deretan toko hidung Romi dimanjakan wewangian bunga-bunga. Terkadang wangi sedap malam.. kadang melati.. kadang mawar.. kadang ia tak paham lagi wangi jenis apa yang mampir di hidungnya.
Romi berhenti di toko "Gita" yang dijaga oleh seorang Ibu yang cukup berumur.
__ADS_1
"Halo Bu.."
Ibu itu memincingkan mata berusaha mengenali pria di depannya.
"Ya ampun Nak Romi??? bener??"
"100 nilainya buat Ibu, berarti gratis bunga buatku ya?? haha,"
"Hahaha halah bisa aja kamu itu."
"Awet ya Bu masi dagang aja sampe sekarang.'
"Iya selalu buka Ibu ini.. kamu tuh yang udah lama gak mampir sini."
"Oh iya.. udah lama ya haha.."
"Ah kamu tuh paling kebanyakan cewek jadi boros ya kalau ngasih bunga satu-satu, lupa deh sama Ibu."
"Hahah eh gak gitu juga sih.."
"Yowis kamu mau cari apa hari ini?'
"Bikin buket bunga yang besar hehe.."
"Tumben.. dulu belinya cuma sebatang-sebatang aja.."
"Ya kan spesial ini Bu hehe.."
"Wah masa iya kelihatan??"
"Persis pas kamu beli bunga buat siapa tuh.. yang ditulisin namanya pake kertas di bawah buket bunga nya.. Nelly ya??? wajah kamu sekarang persis kayak waktu itu."
Nelly... itu adalah nama yang sudah tak pernah Romi dengar lagi untuk sekian lama. Tapi begitu mendengarnya Romi tentu saja tak akan lupa ciuman pertamanya seumur hidup..
Waktu itu ia begitu tergila-gila dengan Nelly sampai ia mengira akan menikahi gadis berambut sebahu itu
"Lho.. lagi apa Mas?"
Romi tersentak dari kenangan Nelly.
"Eh Ovi? ngapain disini?"
"Lagi ngecek pesanan papan bunga buat nikahan anak walikota nanti.." kata Ovi sembari menunjuk ke toko sebelah.
"Oh...."
"Mas Romi ngapain? beli bunga buat siapa?"
"Eh itu.. hehe.. buat seseorang," jawab Romi menggantung.
__ADS_1
"Pacar?"
"Belum sih.. tapi mudah-mudahan nantinya jadi pacar," jawab Romi lugas. Ia sendiri cukup terkejut bisa menjawab seperti itu. Kata 'pacar' adalah kata yang hampir saja punah dalam kamus kehidupan Romi.
"Mudah-mudahan berhasil Mas," kata Ovi sambil tersenyum.
"Iya makasih ya.. saingannya sama bos kamu nih haha.."
"Oya??"
"Haha ya gitu deh, jangan comel ya kalau aku beli bunga hehehe," kata Romi mengedipkan mata.
"Siap Mas.." Ovi mengacungkan jempol. "Saya berangkat dulu Mas, mau ke kantor lagi.."
"Hah? jam segini??"
"Iya masih ada kerjaan Mas.." kata Ovi sembari melambaikan tangan masuk ke dalam mobil dengan seorang supir. Romi melambaikan tangan kembali..
Mobil yang ditumpangi Ovi semakin menjauh dan Romi pun terlihat mengecil di kaca spion.
Katanya Playboy.. tapi kelihatannya tulus.. ujar Ovi dalam hati. Sekilas dadanya terasa sakit.. mungkinkah ia merasa cemburu karena Romi sudah menemukan tambatan hati? atau ia hanya iri karena tidak mendapatkan hal seperti itu dari Rizky?? Kemungkinan besar yang kedua....
"Nanti mau dikirim jadinya ini Nak??" tanya Bu Gita setelah menentukan bunga dan menulis bon.
"Iya dikirim.."
"Kemana?"
"Pantai hehe.."
"Ya yang serius lah kamu ini.. jauh lho itu.."
"Dekeet gak sampe sejam kan kayaknya.. ini lho alamatnya.." Romi menunjukkan pesan whatsapp dari Rizky yang memberikan alamat Hotel Indra.
"Tapi mahal lho kesana pake kirim langsung.."
"Gak apa-apa.."
"Ya sudah,tanggal dan jam berapa?"
"Tanggal 21 Desember.. jam 11 malem.."
"Bocah gendheng,"
Romi terbahak-bahak melihat reaksi Ibu Gita.
"Hahaha tapi asli ini.. kan surprise masa diantar siang.. ketahuan dong.."
"Ya udah buat kamu Ibu usahakan.. biar nanti si Sutanto aja yang anterin.."
__ADS_1
Setelah beberapa kali menolak uang pembayaran dari Romi akhirnya Bu Gita pasrah menerima uang dari Romi untuk buket bunganya. Bu Gita pernah bilang dulu kalau misalnya Romi itu udah kayak anak sendiri. Karena Romi mirip dengan wajah mendiang anaknya yang mati muda karena kanker.
Hari yang galau ditutup dengan sempurna oleh Romi.. Hari-hari berikutnya tidak akan menjadi lebih mudah hingga tanggal 22 nanti..