Cinta (Tak)Butuh Kepastian

Cinta (Tak)Butuh Kepastian
Satu Pagi


__ADS_3

Sofia membuka matanya dengan perlahan, rasa ngantuknya masih pekat menempel di tubuhnya. Selimut tipis yang sudah kumal masih menutup setengah tubuhnya. Sofia mengenggam ujung selimut itu dan merasa senang.


Ia melihat ke arah kirinya, Romi yang seharusnya tertidur di atas lantai sebelah ranjangnya sudah tidak ada wujudnya. Seketika rasa mengantuknya terusir digantikan perasaan panik.


Baru saja Sofia meraih handphone dan hendak menelepon pintu kamar kosannya terbuka.


"Pagi," sapa Romi masuk berkalung handuk basah dan bercelana pendek.


"Eh.. ia.. pagi.." kata Sofia malu-malu. Romi sudah mandi dan bersih sementara ia masih acak-acakan dan bermuka bantal.


"Mau sarapan? nanti aku beliin roti di depan," kata Romi menawarkan dengan ramah.


"Gak usah, gak apa-apa," tolak Sofia yang memang tidak merasa lapar. Hatinya masih dipenuhi euforia karena ia sedang berada di tempat Romi.


"Aku mau berangkat kerja, jadi kamu gimana?" tanya Romi..


"Mah aku anter?" kata Sofia menawarkan sembari merapikan kemejanya yang kusut karena terbawa tidur.


"Eh gak usah.. ada motor.." tolak Romi dengan ramah. Ia kemudian membawa kemeja kerja dan celananya. "sebentar ya."


Romi keluar untuk berganti pakaian di kamar mandi..


Sofia pun berdiri, merapikan rambutnya sedikit sembari bercermin. Cermin Romi sudah sangat rusak, banyak terhalang noda. Berbeda sekali dengan cermin tinggi di kamar Sofia. Tapi ia tak masalah, malah ia senang bercermin disini daripada di manapun.


Beberapa detik kemudian Romi sudah masuk kembali kedalam kamar. Ia sudah sangat rapi bersiap untuk bekerja..


Ganteng.. gue gak salah pilih... ujar Sofia menatap penampilan Romi.


"Ada yang salah?" Romi menyadari Sofia melihatnya dengan mulut terbuka.


"Eh ah? duh? enggak kok, kamu cakep," kata Sofia salah tingkah.


"Oh ya? haha makasih.." kata Romi sambil memakai jaket. "Berangkat?"


"Ya," Sofia berjalan buru-buru.


Karena Sofia berjalan cepat mereka berdua malah bertabrakan di pintu.


"Maaf," kata Sofia yang sedikit canggung.


Romi mengangguk tersenyum dan hendak membuka pintu lagi. Dan saat itu Sofia yang juga terlalu cepat berbalik malah menyeggol pintu dan membuat Romi tersandung.


"Eh??" Romi terkejut. Ia sempat menahan tangan di rangka pintu jadi ia berhasil menahan tubuhnya.


Tapi Sofia yang ikut terdorong tak memiliki ruang lebih untuk mundur terjebak pintu. Dan wajah Romi berhenti tepar di wajah Sofia......

__ADS_1


Aduh.... Romi salah tingkah melihat wajah cantik Sofia begitu dekat.


Romi hendak menjauh tapi dengan cepat bibir Sofia sudah menempel di bibir Romi..


Dengan mata melotot terkejut Romi mencium Sofia.. Bibirnya terasa lembut, membuat Romi tak langsung melepasnya meski merasa canggung.


Sofia yang sudah menahan perasaannya sejak semalam tak menahan diri mencium Romi. Momennya begitu tepat dan Sofia tak mau menyiakan kesempatan ini.


Beberapa saat kemudian wajah mereka saling menjauh. Kehangatan bibir Sofia masih terasa pekat di bibir Romi.


"M..ma..maaf," kata Romi terbata-bata.


Sofia hanya tersenyum dan kemudian membuka pintu kamar yang sekarang sudah tak terhalang mereka berdua.


"Berangkat," kata Sofia dengan senyum manja keluar kamar.


Beberapa saat kemudian Romi sudah di perjalanan menuju kantor dengan motornya. Otaknya masih macet bekerja karena ciuman Sofia. Beberapa kali ia mengerem mendadak di jalan karena ia tidak bisa berkonsentrasi seratus persen.


Tidak, itu bukan berarti itu ciuman yang buruk, justru sebaliknya. Sofia adalah seorang yang bisa mencium dengan sangat baik...


Tapi ini terasa ganjil dalam hatinya, ia tak mengharapkan ciuman itu. Malah cenderung ia tak mau melakukannya jika bisa memilih. Ia tak ingin memberikan kesempatan dan harapan bagi Sofia. Bahkan karena itu ia berhasil untuk tak menyentuh Sofia sama sekali sepanjang malam. Padahal ia termasuk mudah tergoda, apalagi kalau ada perempuan menginap di tempatnya. Tapi ciuman itu terlalu mendadak, Romi tak sempat menghindar. Dan ini hanya memperdalam kesan Romi di hati Sofia.


Tapi sebetulnya ciuman di pagi hari adalah hal yang menyenangkan.. tapi itu bukan selalu pertanda baik..


Di sisi lain kota, mobil Sofia baru saja memasuki pekarangan rumahnya yang luas. Mas Ajo dan Mas Budi, tukang kebun di rumahnya tampak sedang merapikan rumput dan tanaman. Sofia memarkirkan mobilnya kedalam garasi yang sudah terisi lima mobil yang berjejer rapi. Kesemuanya tidak ada yang harganya di bawah satu miliar.


Sofia mematikan mesin mobilnya namun ia tak lekas turun. Senyum sumringah masih tergambar di wajahnya. Otaknya masih memutar lagi dan lagi dan lagi gambar ketika bibirnya menyentuh bibir Romi. Lalu tanpa sadar ia menutup muka dan geli sendiri, merasa malu tapi senang. Ini seperti keinginan yang jadi kenyataan, hatinya membuncah.


Awalnya ia mengira semua akan berjalan datar saja hingga ia pulang. Sejak semalam jantungnya berdebar bak sedang berlari cepat. Berada satu kamar dengan Romi membuatnya membayangkan banyak hal. Tentu saja hanya hal menyenangkan yang ia bayangkan. Jikalau Romi melakukan sesuatu padanya ia tak akan menolak. Tapi Romi begitu sopan dan tak berbuat macam-macam padanya sepanjang malam. Ia hanya tidur tenang di atas lantai di sampingnya.


Sofia bangga dengan sikap Romi yang gentleman (meski sedikit kecewa juga pada saat itu). Untunglah justru karena rasa canggung akhirnya mengantarkan Sofia pada momen ciuman itu.


"Kenapa kamu ketawa-ketiwi gitu?"


Jantung Sofia serasa mau copot ketika mendengar suara ayahnya.


"Duuuh bikin kaget ajaaa," kata Sofia sembari keluar dari mobilnya.


"Habis pagi-pagi mau manasin mesin mobil malah ada kamu ngelamun sambil cengengesan," kata Ayahnya sembari membuka pintu mobil Rolls Royce kesayangannya.


"Mestinya ayah senang dong kalau putrinya lagi bahagia," kata Sofia sewot.


"Ya seneng lah, tapi kenapa?"


"Ra... ha... si... aa," kata Sofia manja menghilang masuk kedalam rumah.

__ADS_1


Ayahnya hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya. Tapi ya daripada dia pulang dengan muka cemberut, lebih baik melihatnya ketawa-ketiwi tak jelas seperti itu.


Sambil berjalan masuk menuju kamarnya ia menelepon Tias.


[Heh!! gue tungguin semalem] kata Tias ketika mengangkat telepon Sofia.


"Sori, lupa gue telepon," Sofia meminta maaf.


[Hilih, jadinya pulang ke rumah langsung ya?]


"Enggak.."


[Terus??]


"Menclok di tempat pangeran bermotor butut," kata Sofia sambil terkikik tertawa.


[HAAAAHHH?!!!? Sumpah lu??]


"Beneran."


[Terus ngapain aja kalian??? Awas kalau hamil!!]


"Idih.. gak gitu lah.. sayang banget kan haha."


[Halah dasar mesum!]


"Tapi dapet bibirnya."


[Ya ampun Sofiaaaa!!! Jago ciuman gak dia? hahaha]


"Udah pengalaman lah dia, udah ketebak haha," Sofia tertawa-tawa.


[Ceritain ke gue nanti siang! gue mau mandi dulu!]


"Sip!"


Dan sambungan telepon terputus.


Sofia merebahkan tubuhnya di atas kasur.. jam sudah menunjukkan pukul sembilan tiga puluh.


Masih ada waktu sampai nanti harus ke kantor.. sekaranv tidur dulu sebentar!!


Sofia memejamkan mata... Wajah Romi dalam berbagai ekspresi datang silih berganti dalam benaknya.. Sofia tersenyum tanpa henti...


Satu pagi yang sempurna..

__ADS_1


__ADS_2