Cinta (Tak)Butuh Kepastian

Cinta (Tak)Butuh Kepastian
BUPI


__ADS_3

Matahari baru saja terbenam mengakhiri tugasnya membagi-bagi cahayanya. Romi juga baru saja selesai melakukan 'tugas' mengantar Karina yang menurutnya mempesona. Meski sebetulnya baginya semua perempuan juga mempesona. Tapi entah kenapa menurutnya Karina sedikit berbeda. Spesial....


Di perjalanan pulang menuju kosnya, Romi mampir sebentar di sebuah warung. Baru saja ia mematikan mesin motornua handphonenya terasa bergetar di saku kemejanya.


Ia membuka handphonenya dan sebuah pesan whatsapp baru mengantri untuk dibaca.


[jam 8 ya, BUPI] begitu bunyi pesan itu.


Romi menepuk jidatnya dengan rasa tak percaya, bisa-bisanya ia melupakan hal semacam ini. Tentu saja kemarin is sudah setuju untuk bertemu Sofia di kafe BUPI, tapi entah kenapa janji itu terlewat begitu saja tak pernah ia ingat sepanjang hari ini. Jika Sofia tak kembali mengirim pesan mengingatkan dirinya, maka sudah pasti ia akan melupakannya.


Romi sebelumnya tidak pernah melupakan janji bertemu dengan seseorang apalagi perempuan seperti ini. Mungkin ini karena ia sebetulnya merasa tidak begitu berminat bertemu Sofia sehingga ia melupakan janji itu.


Romi langsung mengirim pesan whatsapp ke Rizky untuk mengingatkan sahabatnya itu supaya datang juga nanti dua jam lagi. Untungnya Rizky tampaknya tidak lupa dan hanya membalas dengan sekedar 'OKE'. Romi merasa bisa bernapas sedikit leluasa dengan kehadiran Rizky. Setidaknya ini tak akan terasa seperti kencan. Ia merasa enggan jika harus berkencan dengan seseorang yang tidak begitu ia harapkan untuk menghabiskan waktu bersama.


Dua jam kemudian, tepat jam 8 Romi sudah berada di kafe yang dimaksud. Melihat pintu masuk kafe dengan plang nama sederhana di atasnya membuatnya sedikit bernostalgia ke masa lalu. Dulu ia sering sekali nongkrong di kafe ini untuk menghabiskan waktu sekaligus mengerjakan tugas kuliah. Karena kafe ini sesuai dengan namanya BUku dan koPI, menyediakan tempat yang nyaman untuk ngopi sambil membaca atau mengerjakan tugas. Mereka memiliki dua macam tempat baca dan ngopi yang nyaman, satu memakai sofa dan meja kecil di sampingnya, satu lagi hanya meja dan kursi kayu sederhana. Mereka bahkan menyiapkan ratusan judul buku untuk dibaca yang terpajang rapi di rak buku sepanjang dinding kafe. Dan tidak hanya buku novel dan buku non fiksi, ada pula buku komik.


Setelah puas menghirup udara nostalgia dalam-dalam Romi melangkah masuk ke kafe bernuasa kayu itu. Segera saja ketika ia melewati pintu itu ada aroma kopi dan aroma kertas yang khas menyusup masuk hidungnya.


"Hai!" kata seseorang tiba-tiba saja menyapa.


Romi tidak menyadari seseorang memanggilnya jadi ia terus berjalan mencari tempat untuk duduk.


"Hei?! Romi!" kata orang itu lebih keras.


Romi melirik ke sumber suara yang memanggilnya. Dan tentu saja tak salah lagi, Sofia sudah duduk di salah satu sofa sambil melambaikan tangan.


Romi membalas melambaikan tangan sembari menghampiri Sofia dengan senyum seramah mungkin.


"Jadi?" tanya Romi sambil mengambil duduk di sofa hadapan Sofia. Sebuah meja bundar kecil memisahkan mereka dan segelas cappucino sudah terhidang disitu. Tampaknya Sofia sudah berada disini untuk beberapa saat.

__ADS_1


"Aku suka baca buku jadi aku pengen kesini aja.." kata Sofia sembari mengetuk jemarinya ke buku di pangkuannya.


"Ya, aku juga suka membaca, dulu aku sering kesini.." kata Romi tersenyum.


Dalam hati Romi sudah mulai khawatir dimana gerangan keberadaan Rizky yang belum nampak batang hidungnya.


Di seberangnya Sofia pun kebingungan untuk memulai pembicaraan. Ia tak biasa menjadi yang berinisiatif untuk kencan dengan seseorang. Biasanya ia yang selalu diajak bertemu, dan dia yang selalu direpotkan dengan tembakan-tembakan gombalan dan ocehan pria-pria. Tapi manusia satu ini hanya tersenyum ramah dan tampak memerhatikan lebih banyak buku-buku di rak dibandingkan pada Sofia. Payahnya lagi Sofia tak terlalu hobi membaca jadi ia tidak punya bahan pembicaraan. Demi Romi saja ia bertindak sejauh ini pura-pura suka membaca..


Romi melihat beberapa barisan buku di rak di dekatnya. Ia berusaha untuk tidak terlalu memandangi Sofia. Ia tidak ingin Sofia salah paham, perempuan akan salah paham jika kita terlalu sering memandangnya. Meskipun belum pasti akan salah paham tapi ada baiknya berjaga-jaga.


Romi berusaha mencari buku Lord of The Ring sering pertama The Fellowship of The Ring. Ia ingin membacanya sedikit karena miliknya hilang dipinjam Rizky. Matanya menelusuri barisan judul buku di dekatnya. Kebetulan banyak novel fiksi yang di panjang di dekat situ.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Sofia dari seberang mejanya dengan jemari masi mengetuk-ngetuk buku di pangkuannya.


"Em.. Teh hangat aja," kata Romi.


Sofia memanggil pelayan kafe dan memesan teh hangat.


[Buruan kesini ah!] kirimnya pada Rizky.


Ia kembali memasukkan handphonenya kembali ke sakunya segera setelah mengirim pesan. Ia melihat Sofia tidak bermain gadget selama berada disitu jadi ja melakukan hal yang sama.


"Buku favorit kamu apa?" tanya Romi supaya keadaan menjadi tidak terlalu kaku.


"Hm.. " Sofia berpikir keras, selama ini ia hanya membaca buku seperlunya saja, tapi jika ditanyakan buku yang paling ia nyaman untuk dibaca.. "rich dad, poor dad,"


"Robert Kiyosaki?"


Sofia mengangguk.

__ADS_1


Romi jadi sedikit merasa malu karena kebanyakan buku favoritnya adalah novel dan komik. Sesekali ia membaca buku serius tapi tidak banyak. Termasuk buku yang disebutkan Sofia barusan, ia sudah pernah membacanya.


"Kalau kamu?" tanya Sofia.


"Ah.. hm.. seri Lord of The Rings..." jawab Romi.


"Oya.. kenapa kamu suka itu?" tanya lagi Sofia kini mendadak sumringah.


"hm.. menurutku keren aja, bisa Tolkien bisa bikin dunia yang begitu detail, variatif, cerita yang gak dangkal, dan heroik.. menurutku susah untuk bisa menciptakan kerumitan semacam itu tapi tetap menarik," Romi menjelaskan dengan senyum lebar, jarang sekali ada teman kencannya yang bertanya seperti ini, satu orang lain yang pernah bertanya seperti ini adalah Asteria.


Sofia mengangguk mengerti penjelasan Romi, senyumnya semakin lebar seperti orang yang baru menemukan uang seratus ribu di jalan.


Tepat pada saat ini seseorang tiba-tiba menarik satu kursi kayu dan duduk di samping Romi.


"Hallo," Rizky akhirnya tiba. Romi menghela napas lega ketika ia melihat penampakan sahabatnya itu. Kini Romi tinggal memikirkan bagaimana ia bisa mencari alasan untuk pergi dari tempat itu.


"Halo," sahut Sofia dengan Ramah seakan sudah berteman lama dengan Rizky. "Sebentar aku ke belakang dulu," katanya lagi sambil berdiri dan meletakkan buku yang sedari tadi berada di pangkuannya ke atas meja.


Mata Romi terbelalak saat melihat buku itu mendarat di atas meja.


"Woh!" katanya bersemangat namun tak terdengar Sofia yang sudah berjalan menjauh.


Romi menunjuk ke arah buku di atas meja itu.. The Fellowship of The Ring...


Bukunya yang hilang.. lebih tepatnya cetakan baru dari bukunya yang hilang.. (karena yang ini sampulnya berwarna biru sementara milik Romi sampulnya bergambar cuplikan dari filmnya)


"Beruntung lu tuh," kata Rizky menyahut.


"Elu sih pinjem buku dipinjemin lagi ke orang lain.. parah.. mana ilang lagi," Romi mendengus.

__ADS_1


Ketika itu Sofia sudah kembali dari kamar kecil. Kali ini usaha untuk kabur dari tempat itu sudah hilang dari benak Romi. Pandangan dan perhatiannya sudah dipaku paten ketika ia melihat buku itu di meja. Kali ini ia ingin sekali meminjamnya dari Sofia, dan kali ini itulah yang ia pikirkan.....


__ADS_2