Cinta (Tak)Butuh Kepastian

Cinta (Tak)Butuh Kepastian
Dalam Hening


__ADS_3

Romi mendorong daun pintu dengan perlahan, bukan karena ia tak ingin mengganggu atau semacamnya. Namun entah mengapa untuk kali ini tangannya seolah kehilangan energi untuk membuka sebuah pintu yang telah ia buka ratusan kali sebelumnya.


Romi melangkah masuk, membuka sepatunya seperti biasa kemudian berjalan menuju ruang TV.


"Hai," Romi menyapa ragu-ragu.


"Hai.."


Asteria sedang duduk di sofa dengan segelas teh hangat di tangan kirinya sementara tangan kanannya sibuk menari diatas keyboard laptop diatas pangkuannya.


Sekilas hembusan angin dari AC bergerak menyapu setiap jengkal ruangan hingga memembus kain menyentuh kulit. Romi menarik resleting jaketnya keatas hingga ke dekat leher. Sementara Asteria masih saja menatap layar laptop dengan seksama.


Romi duduk di sofa dan duduk dengan tenang. Namun jika biasanya mereka seperti perangko yang menempel lekat dengan amplop, kali ini mereka seperti magnet utara dan selatan. Romi duduk tanpa bicara, begitu pula Asteria yang masih belum teralihkan dari layar laptopnya.


Suasana ruangan itu diwarnai suara gemerisik gorden yang bergerak-gerak membelai dinding. Derit isian sofa yang bergeser ketika Romi bergeser sesekali mengisi ruang suara. Bahkan dengung kulkas di dapur di belakang ruang tv menjadi musik latar dua orang yang enggan berbicara.


Romi memandang ke lantai atas karpet berwarna abu gelap yang menyelimuti lantai kayu ruangan itu. Dalam keadaan seperti ini Romi baru menyadari setelah sekian lama ternyata ada pola pada karpet yang mulanya dikira hanya berwarna polos saja. Pola walik yang dibentuk helai karpet berwarna hitam itu tampak lebih menarik dari wanita cantik satu meter di sebelahnya. Sekilas ia ingat ketika ia dimarahi oleh almarhum Ayahnya dulu, ia selalu memandang indahnya lantai seperti ini.


Ini perasaan yang sama.. tapi beda..tinggal ngomong minta maaf apa susahnya... susahnya...susahnya ..susahnya gue terlalu bodoh...


Tanpa alasan Romi menggosok-gosok kedua telapak tangannya. Seakan dengan melakukan hal itu hatinya akan menjadi lebih rileks untuk berbicara. Tapi beberapa kali menggosok tangannya hingga panas sekalipun tak bisa menyingkirkan blokade rasa bersalah yang menghalangi tenggorokan dan hatinya.

__ADS_1


Kenangan yang mestinya dicetak indah kemarin kedalam hatinya berubah jadi gambar abu-abu yang buram. Ia bahkan kesulitan mengingat ekspresi ceria Karina ketika mereka nonton di bioskop. Tentu saat itu Romi dengan cakap menutupi kegalauannya dan tetap ceria bersama Karina.


Tapi di hadapan seorang Asteria.. Romi bahkan kesulitan berpura-pura bersikap bodoh dan cuek untuk sekedar meminta maaf..


Mengalihan perhatiannya ke atas langit-langit ia hanya mendapati lampu gantung indah yang bergoyang perlahan tertiup angin AC. Bahkan hal sederhana semacam ini terasa lebih menyenangkan daripada harus berbicara dengan Asteria yang seolah sedang dihipnotis sesuatu dari laptopnya. Semakin lama Asteria menatap laptop, semakin Romi merasa dirinya meleleh karena penyesalan.


"Di kulkas ada kue black forest kalau kamu mau.."


"Yap.." Romi langsung dengan sigap berjalan ke belakang.


Setidaknya dengan ini membuat dirinya b~~~~eraktifitas melakukan sesuatu daripada mematung menanti siapa yang akan meledak terlebih dahulu. Yang jelas bukan Romi yang akan meledak, jika sampai Asteria meledak pun Romi merasa dirinya akan langsung pecah menjadi debu.


Romi mengambil sepotong kue dan menaruhnya di atas meja dapur..


Dari meja tempat Romi memotong kue itu kecil-kecil Asteria hanya tampak punggungnya dari belakang. Rambut ikal panjangnya menutupi hingga bahunya. Sekilas wangi rosemary khas Asteria memanjakan indra penciuman Romi, memaksanya untuk memikirkan hal indah yang mereka lalui. Sementara ini belum jelas apakah Asteria akan terus menerima kehadiran Romi atau menendangnya keluar pintu. Tidak terlihat jelas apa yang sedang ia kerjakan dari tempat Romi duduk hingga tak sudi melirik pria yang ia cintai itu.


Otak Romi masih menolak untuk bekerja dengan baik menenggelamkannya dalam lamunan. Matanya tidak sanggup memandang Asteria yang dalam diam saja mampu menebar aura yang merontokkan keberanian Romi. Bahkan setelah memakan tiga sendok kue pun, rasa cokelat black forest berhasil lari dari lidahnya.


Baru kali ini setelah sekian lama rasanya lemes banget..


Asteria mengetik beberapa kalimat lagi sebagai deskripsi beberapa data dalam laporan bulanannya untuk diserahkan pada atasannya besok siang. Ya, masih untuk besok siang, tidak mendesak, tidak pula harus selesai sekarang juga. Asteria bahkan masih menonton film di laptopnya hingga beberapa saat lalu Romi datang membuka pintu apartemennya. Kenangan buruk dan rasa sakit hati dari kemarin sore masih melekat di hatinya jadi ia memutuskan untuk mengerjakan laporannya sekarang. Romi yang ia kenal tak akan berani mengganggunya ketika ia sibuk bekerja.

__ADS_1


Bagus... ujarnya dalam hati ketika Romi terlihat kebingungan untuk melakukan apapun disni. Padahal tempatnya tinggal ini sudah bisa disebut rumah kedua bagi Romi.


Tidak, tentu saja Asteria tidak bermaksud berpuas diri melihat Romi yang menyedihkan seperti itu. Keadaan Romi yang tampak kebingungan jelas menandakan sesuatu sedang bergejolak dalam hatinya. Sesuatu yang dinamakan dengan rasa bersalah...


Jika masih ada rasa bersalah yang menganggu Romi maka artinya masih ada rasa cinta disana....


Saat Romi kebingungan dan menatap lantai untuk melewatkan kesunyian justru segurat senyum terbit di sudut wajah Asteria tanpa pria itu sadari.


Rasain! akibat nganggap aku alien kemain..


Tentu saja masih ada rasa sakit yang tersisa banyak di hatinya akibat ulah Romi. Tidak mudah menghilangkan rasa sakit hati hanya dengan datang dan meminta maaf. Bahkan Romi belum sampai ke tahap meminta maaf..


Memang ia dan Romi bukan pasangan normal dengan status jelas. Asteria harus mengikhlaskan banyak hal dalam hubungan yang pelik ini. Dan dua tahun bersamanya sudah begitu banyak ia mengikhlaskan. Tidak salah juga bukan jika sesekali ia ingin merasa egois dan menginginkan Romi hanya untuk dirinya seorang?


Satu rasa sakit akibat kejadian kemarin di mall yang menggoresnya lebih dalam melewati batas rasa ikhlasnya. Romi menganggapnya seperti tidak ada, tidak kenal, asing, dan tak peduli. Ia tak pernah melakukan hal itu sebelumnya...


Sikap Romi itu pertanda sesuatu yang tidak normal.. Asteria hanya bisa menduga.. dugaan bisa saja salah.. bisa juga itu benar.. Asteria tidak berani menebak ujung realita dari dugaannya. Tak juga berani meramal ujung perjalanan kisahnya dan pria yang mungkin bukan jodohnya.


Tapi satu fakta yang bisa ia lihat saat ini.. Pria ini sedang disini.. Ia memilih untuk berada disini.. Bersamanya.. Meski ia tidak perlu melakukannya... Asteria pun tak meminta..


Jika bukan karena cinta? apa lagi yang bisa?

__ADS_1


Asteria bangkit dari sofa, berjalan menuju lelaki yang kesepian diruangan yang berisi dua orang manusia..


__ADS_2