
Suara TV yang sedang memutar acara variety show mendengung menjadi latar suara suasana malam ini. Asteria membuka sedikit tirai jendela apartemennya dan memandang ke bawah. Jalanan hari ini begitu padat, apakah ini tanggal merah? atau ada kecelakaan? Asteria hanya bisa menerka-nerka. Ia jarang sekali keluar tempat tinggalnya, pekerjaannya tidak mengharuskan ia selalu berada di kantor. Dan ia sangat bersyukur dengan kondisi seperti itu dibandingkan harus terjebak diantara kemacetan yang penat.
Terkadang jika sedang melihat ke arah jalanan dibawah seperti ini Asteria juga bertanya-tanya, apakah ada Romi diantara kemacetan itu sedang menuju kemari?
Ia tersenyum sendiri memikirkan hal seperti itu.. merasa lucu dengan pertanyaan dan harapannya. Karena belum tentu juga Romi berpikiran hal yang sama. Tapi ia tak bisa mencegah hati nuraninya untuk berharap bukan?
Asteria meminum teh hangat yang semenjak tadi menganggur di tangannya. Rasanya menenangkan sekali ketika teh hangat meluncur ke dalam tenggorokan hingga ke perut. Mengundang rasa nyaman, tenang, dan juga mengundang kenangan..
Kenangan itu berupa bayangan ketika Romi (yang ketika itu ia belum kenal) menyemprotkan teh panas dari mulutnya karena meminumnya terlalu semangat melalui sedotan. Padahal saat itu ia berada di sebuah kafe yang cukup mewah dan Romi terlihat tidak sungkan untuk bertingkah konyol disana. Saat itu juga ia berhasil menarik perhatian Asteria yang saat itu masih berpacaran dengan Khresna. Ketika itu ia hanya memerhatikan dari jauh dan mengingat wajah lelaki yang konyol itu. Ia tak membayangkan bahwa ia akan bertemu lagi tak lama setelahnya.
Dan ya, tepat dua minggu setelahnya ia bertemu Romi kembali di stasiun kereta. Kala itu Asteria sibuk menyeka air mata yang kelihatannya tak habis mengucur deras dari kedua matanya. Semakin kuat ia berusaha menahan air mata maka semakin deras air mata itu memberontak keluar dari matanya.
Dan saat itulah lelaki konyol itu muncul kembali ke hadapannya menyodorkan sepotong roti cokelat murah seharga 2000an yang bahkan nyaris tidak berisi cokelat.
"Makan.. supaya gak sedih.." katanya kala itu dan Asteria yang sedang kalut dan sedih menerima roti itu tanpa ekspresi.
"ayo makan.. jangan dimainin," tegur Romi saat melihat roti itu hanya dimainkan Asteria yang melamun.
Secara mengejutkan Romi mengambil kembali roti itu dari tangan Asteria. Kemudian ia membuka bungkusnya dan memberikan kembali roti itu ke tangan Asteria. Ketika itu Romi bahkan tak bertanya ada apa dengan dirinya yang menangis. Yang tentu saja jawabannya adalah karena ia baru putus dengan kekasihnya.
Romi hanya duduk di samping Asteria tanpa bertanya sambil memakan Roti miliknya. Asteria akhirnya ikut memakan roti, keduanya duduk tanpa suara untuk beberapa lama. Suasana hati Asteria yang sedang kacau membuatnya tidak merasakan canggung dengan situasi saat itu.
__ADS_1
"Oke, aku permisi dulu, semoga udah baikan suasana hatinya," kata Romi Rama sambil tersenyum ramah ketika melihat Asteria sudah menghabiskan rotinya.
Asteria hanya membalas dengan senyuman seulas. Dan Romi pun pergi menjauh melalui kerumunan penumpang dan hilang dari pandangan.
Dalam hati Asteria merasa sedikit lebih baik, entah karena rotinya atau karena kehadiran Romi. Hatinya menyuruhnya untuk mengejar Romi, tapi logikanya masih merasa ragu.
Namun tanpa berpikir lebih jauh, mungkin juga karena suasana hati yang berantakan, Asteria beranjak dari tempat duduknya dan berjalan cepat ke arah tadi Romi berjalan.
"Permisi..." katanya sambil menyelinap melalui kerumunan penumpang yang memadati stasiun.
Dengan mata yang masih sedikit buram karena air mata, Asteria berusaha menemukan keberadaan Romi. Tak terasa ia telah menembus kerumunan penumpang hingga dekat pintu keluar stasiun, namun ia tak bisa menemukannya. Justru tepat saat itu ia melihat sesosok lelaki yang sedang jongkok di hadapan vending machine, Romi..
Asteria kemudian berdiri tepat di sebelah Romi yang sedang mengetuk kaca mesin itu. Kelihatannya minuman yang ia inginkan macet tak bisa keluar. Untuk beberapa saat Asteria hanya berdiri, mendadak ia bingung untuk memulai.
Tentu saja Romi mendengar.. "Sama-sama," kata Romi dengan senyumnya yang khas melirik ke arah Asteria yang masih berdiri di sebelahnya.
"Romi.." Romi berdiri dan mengajaknya bersalaman berkenalan.
"Asteria...."
Dan itu menjadi awal cerita yang aneh namun menggoreskan kesan yang dalam di hatinya. Dari berkenalan.. berbagi cerita.. jalan-jalan.. hingga melakukan hal yang layaknya seorang kekasih lakukan pada satu sama lain. Namun tak ada satupun kata cinta yang pernah meluncur dari mulut Romi. Asteria pun tak pernah menyatakan perasaan yang tumbuh perlahan menjalar semakin kuat mengikat hatinya.
__ADS_1
Mungkin orang akan berkata bahwa mereka adalah friends with benefit. Mungkin memang begitu kenyataannya.. meski Asteria kurang suka dengan istilah itu. Dan ia pun masih menaruh harapan yang tidak kecil dengan masa depan hubungan mereka. Tidak juga kesalahan Romi sepenuhnya mereka jadi memiliki hubungan yang abu-abu. Romi tak pernah memastikan status (dan seharusnya ia memastikan), Asteria di sisi lain juga tak begitu menginginkan kejelasan meski berharap seperti itu. Mungkin itu adalah akibat dari penyesalannya terhadap hubungannya yang lalu dengan Khresna yang menyisakan trauma.
Ia memberikan segalanya bagi Khresna dan berakhir dengan kaburnya pria laknat itu dengan seorang janda yang lebih memikat.
Asteria menggenggam gelasnya lebih erat ketika mendengar nama yang menurutnya terkutuk itu..
Setidaknya dengan status abu-abu semacam ini ia jadi sadar bahwa ia tak akan berharap banyak. Setidaknya itulah yang logikanya teriakkan pada hatinya setiap ada Romi di sampingnya. Tetapi ia tak bisa memungkiri bahwa hatinya yang pernah hancur perlahan kembali tersusun seiring hari demi hari setiap kehadiran Romi.
Tiba-tiba pintu apartemennya terbuka dan terdengar suara seseorang sedang melepas sepatu dan menaruhnya di rak. Senyum Asteria merekah meski ia tetap menatap jalanan yang ramai dibawahnya.
Hanya Romi selain dirinya yang memiliki kunci apartemennya..
"Hai.." sapa Romi memasuki ruang TV dan seketika menjatuhkan diri di sofa.
Asteria mengalihkan perhatiannya pada Romi yang masih mengenakan kemeja kerjanya rebahan di sofa dengan bantal menutupi kepalanya.
Pasti bad mood.. tebak Asteria seketika melihat tingkah Romi.
Asteria berjalan ke dapur dan membuat minuman cokelat dengan es untuk lelaki yang masih terbaring di sofanya.
Ia lalu membawa cokelat dingin itu dan menaruhnya di meja depan tv. Ia kemudian duduk di samping kepala Romi yang masih terbenam di bawah bantal.
__ADS_1
"Kenapa?" tanyanya lembut.
Dan kemudian rentetan cerita keluh kesah meluncur dari mulut Romi dengan tetap terbenam dibawah bantal. Asteria tersenyum senang, ia merasa beruntung jadi orang yang selalu bisa mendengar cerita dari Romi. Ia tahu Romi meskipun ia seorang playboy, ia bukan tipe laki-laki yang mudah bercerita dengan siapapun. Dan itu membuat Asteria merasa spesial.. lebih dari siapapun...