Cinta (Tak)Butuh Kepastian

Cinta (Tak)Butuh Kepastian
Pilihan


__ADS_3

Romi setengah berlari kembali dari warung setelah membeli beberapa botol besar air mineral. Tangannya lecet karena kresek berat melukai sela jemarinya. Tapi lecet seperti ini tidak penting untuknya sekarang. Beberapa kali kaki cerobohnya nyaris jatuh karena tersandung batu dan jalan yang tak rata tapi dengan ceria ia tak menghiraukannya.


Ia sudah bangun sejak pukul lima subuh, sesuatu yang amat langka ia lakukan. Ia bahkan sempat mandi di udara subuh yang dingin. Ini semua demi menyambut kedatangan sang Ibu. Jika ia masih kumal dan kusam saat menjemput Ibunya, maka ia akan dicap pemalas oleh sang Ibu.


"Lho udah balik lagi." Ibunya terkejut melihat Romi.


Romi masuk ke kamar kosannya sambil memberikan air mineral yang baru saja ia beli pada ibunya. Napasnya sedikit tersengal-sengal karena ia jarang berolah raga. Sedikit saja jalan cepat ia sudah merasakan kerepotan.


"Iya, deket kok Bu itu warungnya, tinggal kedepan dikit."


"Kamu tuh kan ceroboh, gak usah buru-buru, pasti tadi kamu lari-lari sampe napas aja kamu susah begitu.. kalau jatuh repot nanti.."


Romi menggaruk kepala dan tertawa kecil menanggapi perhatian Ibunya.


Sementara itu di pojok kamar, Hara si adik perempuan Romi tertawa sendirian sembari memandang handphone di tangannya.


"Jangan banyak main HP nanti mata kamu rusak," Romi menasehati tidak mau jika ia sendirian yang kena ceramah.


"Bawel ih.."


"Dari dulu kakakmu tuh bawel, kayak bapaknya.."


"Hehehe," Romi tak bisa berkilah.


Dari luar kamar terdengar suara air disiram di kamar mandi. Dari kamar sebelahnya suara musik klasik Rondo Alla Turca dari Mozart distel dengan volume maksimal. Sementara itu dari bawah suara derik pintu garasi digeser untuk mengeluarkan motor penghuni kos tak kalah ikut meriuhkan suasana. Jika Romi melongok keluar kamar akan terlihat banyak manusia bersliweran.


"Orang-orang sibuk ya disni," Ibunya berkomentar.


"Iya kebanyakan orang kantoran sih disini.. beberapa ada anak mahasiswa juga sih tapi sedikit.. apalagi sekarang jam berangkat kerja, pasti ramai.."


"Kamu gak apa-apa ambil libur dadakan nak?"


"Ah gak apa-apa, atasan ku santai Bu.. lagian kan jarang juga Ibu main kesini.. dua hari doang sih gak akan kena marah-marah di kantor.."


"Jadi kerjaan kamu lancar gak disana?"


"Lancar.. biasa aja.. gak ada yang aneh-aneh juga sih.."


"Gak ada promosi naik jabatan buat kamu?"

__ADS_1


"Hehehe.. do'ain aja Bu.."


Sudah dua kali sebetulnya Romi ditawarkan untuk naik jabatan. Tapi melihat tumpukan dan tanggung jawab atasannya ia merasa malas untuk saat ini. Lembur hampir tiap hari... datang harus paling pagi... belum rutin diberi pidato langsung dari direksi.. duh mimpi buruk rasanya. Tapi karena bayarannya juga besar, Romi tak menutup kemungkinan menerima tawaran itu satu hari nanti.


Masalahnya jika Romi bercerita begitu saja bahwa ia menolak naik jabatan, bisa-bisa Ibunya mencak-mencak. Romi rindu kehadiran Ibunya tapi tidak dengan ceramahnya.


Ibunya merogoh sesuatu dari dalam tas hitamnya yang besar.


"Nih..."


lima buah bacang mendarat di tangannya..


"Waduh, makasi banyak Ibu.. hehe.."


"Dimakan cepet-cepet."


Romi membuka satu dan memakannya.. seketika memorinya berjalan-jalan ke masa ketika ia selalu dibekali bacang oleh Ibunya untuk dimakan di sekolah. Romi jadi tak harus jajan ketika di sekolah, tapi yang bikin kesal pasti ada saja temannya yang meminta. Untuk makanan favorit, Romi enggan berbagi dan rela dikatai pelit.


"Jadi mana yang mau dikenalin sama Ibu?"


Seketika bacang daging yang enak itu nyangkut di tenggorokan Romi. Susah payah Romi mengambil air mineral dan memaksa bacang itu melaju kembali ke perutnya.


"Apa Bu yang dikenalin?" Romi pura-pura tak paham.


"Aduh Bu.. jodoh mah masih jauh.."


"Kebanyakan mainin cewek kamu tuh," adiknya menyahut.


"Eh enggak ya,"


"Enggak salah."


"Salah banget, aku anak soleh lho.."


"Soleh darimana?"


"Soleh turunan Ibu hahaha.."


"Anak soleh tapi gak ada yang mau."

__ADS_1


"Enak aja bilang aku gak laku."


"Buktinya gak ada yang bisa dikenalin ke Ibu kan."


"Ada kok, kan dipilih dulu."


"Dipilih dulu berarti banyak pacarnya, dasar playboy."


"Bukan, itu karena anak Soleh banyak yang antri buat jadi istri hahaha."


"Kalau anak soleh mana Ibu mau tau calonnya," Ibunya memotong perdebatan adik kakak itu.


"Nanti Bu.." jawab Romi sambil tersipu.


"Nanti sebelum Ibu pulang?"


"Ya enggak secepat itu juga Buuu.. masa dua hari harus udah dikenalin.."


Ibunya tersenyum melihat kelakuan anak sulungnya ini. Sejak dulu Romi memang anak yang amat percaya diri. Ibunya tak perlu khawatir ia akan susah punya teman saat di sekolah. Jika ada lomba pidato dan semacamnya Romi bahkan tak menolak jik ditunjuk. Bahkan dulu saat SMP ketika badannya masih gendut seperti atlit sumo, ia berani mendekati gadis-gadis. Jadi tak heran jika Romi bisa mempunyai banyak teman perempuan. Tapi tentu saja Ibunya berharap anaknya ini bisa lebih fokus pada satu orang saja.


"Nanti dilangkahi Hara lho.."


"Eh masih sekolah, gak boleh pacaran."


Tentunya Ibunya hanya bercanda, tapi jika ia terus menunda menikah bisa saja Hara betulan menyusul Romi untuk menikah.


Romi melirik kalender yang ditaruh di atas cpu komputernya.


11 hari lagi gumamnya dalam hati ketika melihat tanggal hari ini menuju hari ulang tahun Karina.


"Nanti deh sebentar lagi dikenalin," kata Romi tiba-tiba setelah melihat kalender bergambar kura-kura ninja itu.


"Ya gak apa-apa Ibu nunggu.. secepatnya.."


"Hehehe..".


Sejak tahu bahwa Rizky merencanakan sesuatu untuk hari ulang tahun mereka berdua. Romi memutuskan akan memberikan sesuatu yang spesial juga untuk Karina. Ia menebak yang akan dilakukan Rizky mungkin memberikan acara dan hadiah yang luar biasa untuk Karina. Menurutnya kesempatan Rizky untuk menyatakan cintanya pada Karina cukup kecil. Ia akan pingsan duluan sebelum sempat mengatakan cinta.


Jadi Romi akan memberikan hal paling spesial untuk Karina. Yaitu menyatakan cintanya sendiri pada Karina. Ia akan menyerahkan diri pada Karina untuk menjadi setia kepadanya. Bagi orang lain ini hal remeh tetapi bagi Romi ini adalah tonggak penting. Dan sesuatu yang sepenting ini harus dilakukan di momen yang penting pula.

__ADS_1


Sisa hari itu dihabiskan Romi bersama Ibu dan Adiknya. Ia mengajak mereka jalan-jalan ke beberapa tempat. Ada restoran Arab untuk memanjakan Ibunya yang suka makanan timur tengah. Ia juga sempat mampir ke toko pernak pernik untuk membelikan adiknya beberapa aksesoris dan pakaian.


Romi senang Ibunya terlihat menikmati hari ini. Setelah perjalanan jauh menggunakan kereta setidaknya capek di jalan terbayarkan.


__ADS_2