
Romi duduk sendirian di bangku taman. Sudah dua hari awan gelap rajin menumpahkan stok airnya ke bumi. Bahkan setelah hujan siang tadi besi kursi taman itu masih terasa dingin ketika diduduki. Bahkan di sudut kursi masih ada tetesan air yang tersisa seperti embun di pagi hari.
Di sekitar Romi banyak orang yang menyempatkan mampir kemari, mungkin mumpung langit sedang mogok menangis. Sejauh yang ia ingat ketika kuliah, taman ini memang selalu jadi pusat aktifitas bermain rakyat.
Anak-anak kecil berlarian di atas rumput dan jatuh berguling-guling dengan ceria, beberapa bapak-bapak sedang olah raga jalan cepat diatas jalan setapak buatan melintas dengan cepat dan konsisten, tak ketinggalan pedagang jajanan juga sudah mulai berjualan lagi menawarkan banyak jenis jajanan menggiurkan. Jajanan anak memang selalu jadi paling enak bukan??
Mungkin suasana disini memang cenderung riuh dan berisik, tapi Romi merasa senang. Jauh lebih senang daripada ia harus murung di dalam kamar. Melihat orang-orang tersenyum dan tertawa lepas terlihat seperti tanpa beban hidup ikut mengangkat semangatnya sedikit. Hanya sedikit.. tapi cukup untuk tidak membuatnya mogok makan seminggu.
Sudah tiga hari ini ia dengan sengaja banyak menghindari bertemu orang. Selesai kerja ia akan langsung pulang, tapi tidak langsung menuju kosan karena kosan pun akan ramai di jam pulang kerja. Pasti akan ada yang mengajaknya ngobrol meski ia diam di dalam kamar. Jadi Romi memilih berjalan-jalan sendirian, kemanapun kaki dan sepeda motornya membawanya pergi maka disitulah ia berada. Terkadang memang terasa lebih baik ketika kita tak tahu akan kemana kita pergi.
Meski ia berniat menenangkan diri dengan berkeliling-keliling, tetap saja sesekali pikiran-pikiran itu hinggap.
Asteria yang ia 'usir' dari hidupnya begitu saja, lalu ia menolak cinta Sofia yang dengan gagah berani menyatakan cintanya, dan yang tak kalah mengejutkan adalah Sofia yang menyabotase hidupnya. Ia merasa marah ketika mengingatnya.. tapi di hati kecilnya Romi menyadari sesuatu. Mungkin saja itu justru membantunya untuk menjadi serius.. Sofia membantunya supaya tidak tergoda lagi dengan perempuan lain..
Tapi tentu saja tak harus begitu juga caranya bukan?
Romi tak habis pikir mengapa Sofia sampai melakukan hal semacam itu. Padahal di matanya, Sofia adalah orang yang baik. Mungkin sedikit impulsif dan ekstrim tapi tidak se ekstrim itu. Romi sedikit merinding juga ketika menyadari bahwa bisa saja Sofia mengikutinya beberapa lama belakangan ini. Secara naluri Romi melirik waspada ke sekitarnya.. bisa jadi ia mengikutinya sekarang. Romi melewatkan panggilan telepon Sofia yang entah berapa puluh misscalled yang ia biarkan. Pastinya ia tak mau bicara pada Sofia..
Lalu ada Asteria.. Sudah dua tahun ia bersamanya. Di samping belasan perempuan lain yang menjadi teman kencannya Romi selalu setia dalam arti tertentu pada Asteria. Romi masih merasakan sakit di dadanya jika mengingat bagaimana ia mengatakan pada Asteria bahwa ia ingin serius.. tapi bukan dengannya.. Ia seakan bisa merasakan perihnya hati Asteria dari pandangan matanya. Ia bisa merasakan amarah dan kecewanya dari cara Asteria bergerak.
Romi tertawa kecil..
bodohnya gue.. wajah-wajah semua gadis yang pernah ia kencani bersliweran di otaknya.
Entah apa yang udah gue capai dengan kayak gitu.. Tania.. Veo.. Lasmi.. Anggi.. Hilda.. gila.. gila..
Lalu terbayang tiga orang pemain utama di hatinya. Sofia, Asteria, Karina..
Semua orang anggap gue adalah yang terbaik soal perempuan.. tapi rasanya gue malah jadi orang terbodoh soal perempuan sedunia!
Seharian Romi baru ingat dia belum memakan apapun, perutnya berbunyi seperti reptil yang nyawanya sedang terancam. Bayangan gadis-gadis itu buyar dengan pikiran makanan..
Batagor.. sate.. lumpia basah.. cilok telur.. makaroni goreng.. gumam Romi dalam hati sambil melirik-lirik pedagang di dekatnya.
Kebanyakan makanan ringan jajanan tapi itu tak mengapa. Perut lapar bisa diisi apapun selama itu bisa ia kunyah dan masuk ke perutnya.
"mas.. lumpia basahnya satu.." Romi memesan sambil merogoh sakunya mencari uang.
Gelombang panas dari kompor menerpa wajah Romi seperti radiasi matahari.
"Uwoh!" Romi berusaha mengusir uap yang menghampiri wajahnya.
__ADS_1
"Mundur mas nanti panas.."
"Eh ia.. lho Ovi?"
Ovi yang ternyata sedang berdiri di belakangnya tersenyum ramah.
"Eh kok gak pake seragam?"
"Udah resign kemarin.." jawabnya santai.
"Lho? kenapa? sayang banget.."
"Gak apa-apa.. bosen mas.."
"Rizky ya?" Romi menebak tajam. Ovi sekretarisnya Rizky jadi pasti memahami rencana Rizky nanti tanggal 22. Bisa saja ia jadi malas karena tahu pria idamannya sedang membuat rencana untuk perempuan lain.
Dan Ovi menjawabnya hanya dengan tersenyum.
Tebakan gue bener..
"Ah santai banyak cowok lain kok di luar sana.."
"Eh?"
"Iya mas juga santai.. banyak perempuan lain diluar sana.."
Hati Romi terasa dibelah kapak mendengarnya.
"Ya siapa tau mas Romi kalah saingan sama pak Bos.."
Sekarang rasanya halilintar menyambar ubun-ubun Romi.
Ovi tertawa melihat reaksi Romi yang mematung.
"Hahaha.. tapi yakin deh.. mas Romi bisa kok saingan sama Rizky.." tambah Ovi.
"Oya?"
Ovi mengangguk.
"Tapi kan orang-orang tahu kalau aku tuh.. ya.. gitu.. susah setia.."
__ADS_1
"Hehe.. memang sih.. malah Rizky juga sempat bilang soal itu sama aku.."
kampret memang..
"Tapi kalau lihat mas Romi sekarang kayaknya sih bisa.."
"Bisa apa?"
"Bisa serius.. katanya niat bisa kelihatan dari pandangan mata.."
Romi tak paham dan tak yakin matanya bisa memperlihatkan niatnya untuk serius. Tapi kalau ada satu orang yang bisa lihat... bisa jadi Karina juga bisa melihatnya nanti jika ia menyatakan cintanya.
"Semangat mas.. saya mau pulang dulu.."
"Oh ia.. Hati-hati ya.. mau aku antar lagi?"
"Gak usah.. ada adikku disana nunggu.." Ovi menunjuk ke dekat pohon.
Romi melambaikan tangannya sementara Ovi menjauh.
"Ini mas.."
Satu bungkus lumpia basah mendarat di tangannya.
Romi berjalan kembali ke arah parkiran dimana motornya berada.
Ia teringat soal sabotase Sofia.. apakah ia sudah sempat menghampiri Karina??
Romi belum sempat mampir lagi ke warung Karina dan berniat bertemunya nanti saja di hotel ketika acara berlangsung. Tapi Karina pun tak berbicara buruk ketika bertukar pesan whatsapp dengannya semalam.
Tadinya ia sempat ingin membatalkan rencananya.. beban di hatinya rasanya terlalu berat.. niat dan cinta pada Karina pun sempat pudar beberapa hari ini..
Tapi mengingat harga yang harus ia bayar.. keseriusan.. Asteria.. ia tahu harus menegaskan niatnya pada Karina.
Ia mencintai Karina.. dan Karina harus mengetahui itu..
Romi percaya pada Ovi.. niatnya pasti terlihat.. pasti..
Romi tersenyum dengan tulus untuk pertama kali dalam beberapa hari ini. Ia senyum pada dirinya sendiri.. ia senyum pada tekadnya.. ia senyum pada kenekatannya.
Tak ada yang harus dikhawatirkan...
__ADS_1