
Romi sedang duduk santai dibawah lindungan pohon yang rimbun. Empat buah meja kayu berwarna cokelat sudah disusun dengan cantik di bawah pohon itu. Romi menempati salah satu mejanya ditemani jus mangga dengan gelas tinggi di mejanya.
Romi tampak serius menatap layar handphonenya membaca beberapa berita online. Atau setidaknya ia berusaha terlihat serius membacanya sementara dari sudut matanya ia diam-diam mengawasi salah satu meja yang berada tepat di sebelahnya.
Di meja tempat matanya diam-diam mengawasi, duduk seorang gadis muda sedang membaca semacam majalah di tangannya. Rambutnya ikal dan sedikit mekar disempurnakan dengan bentuk wajahnya yang cenderung tegas. Romi memperkirakan umurnya belum sampai 25 tahun.
Romi meletakkan handphonenya di meja dan memberanikan diri untuk menatapnya langsung. Gadis itu tampak tak menyadari seseorang terang-terangan memerhatikan dirinya dari meja sebelah. Ia tampak terlalu konsentrasi dengan majalah di tangannya.
Romi tetap menatap sosok anggun itu dengan segaris senyum di wajahnya. Romi bersiap jikalau gadis itu menatapnya kembali secara tidak sengaja, ia akan menyapanya dari jauh. Jika gadis itu tetap tidak menatap kembali atau tidak menggrubis Romi, maka Romi tak akan memaksakan.
Soal perempuan, Romi memiliki pandangan sama dengan Jordan Belfort, seorang sales dan broker terkenal (hingga dibuat menjadi film The Wolf of Wall street). Yaitu tidak pernah menjual pada orang yang memang tidak membutuhkan. Romi pun berprinsip sama, ia tak akan mendekati seseorang jika memang orang itu tidak membutuhkannya. Memaksakan keinginan kita pada orang lain dalam bentuk apapun tidak akan berakhir dengan baik. Belum lagi energi yang terbuang untuk membujuk orang yang memang sejak awal tidak memerlukan keberadaan kita.
Namun jika seseorang yang Romi dekati memperlihatkan tanda bahwa kehadirannya diterima dan diperlukan. Romi pantang untuk mundur.
Romi masih menunggu gadis itu bereaksi namun matanya tetap tertuju pada lembaran majalahnya.
hmm.. mungkin memang bukan jodohnya
Ia kembali mengambil handphonenya namun seketika dari sudut matanya Romi menyadari kini gadis itu meliriknya. Mata mereka seketika beradu saling menatap.
"Hai," kata Romi menyapa senatural dan seramah mungkin.
Banyak orang tahu bahwa membuat sapaan pada perempuan yang kita sukai seramah dan senormal mungkin itu sulit sekali. Terlalu bersemangat, maka kamu akan terlihat grogi dan gugup. Terlalu kaku, kamu akan terlihat angkuh gak firaun. Terlalu mendayu-dayu, kamu terlihat seperti penjahat kelamin.
Gadis itu tersenyum ramah membalas sapaan Romi sembari berkata 'hai' namun tanpa suara.
Romi merasa lega reaksinys tidak negatif. Padahal bisa saja ia mengabaikan Romi begitu saja dan melanjutkan membaca.
__ADS_1
Saat seperti ini adalah momen yang amat penting dalam berkenalan. Ini adalah saat dimana kita bisa memastikan apakah ia bisa kita raih atau tidak. Tentu saja sekedar membalas sapaan bukan berarti mereka menginginkan kita. Dan mereka pun pasti masih bertanya-tanya apa gerangan niat kita menyapa. Apakah iseng? Serius kenalan? Sekedar ramah tamah? Atau memang penjahat kelamin??
Hanya satu cara memastikannya.. Romi menarik napas dalam-dalam dan kemudian berdiri hendak mendekati gadis itu.
Baru saja ia berdiri mendadak handphonenya berdering keras. Romi sedikit terkejut dan segera mengangkat telepon yang masuk.
"Oh??" kata Romi terlihat terkejut mendengar suara di seberang sana karena ia tak sempat melihat nama penelepon karena ia fokus pada gadis di meja itu.
"Oke, segera, tunggu ya," kata Romi menyahut suara di seberang dengan bersemangat..
Romi segera mengambil jaket di kursi, mengenakannya dan langsung menuju parkiran. Tak lupa ia kembali tersenyum ramah pada gadis yang tadinya hendak ia ingin berkenalan. Gadis itu lagi-lagi tersenyum ramah kembali namun kali ini dengan tatapan heran karena melihat Romi yang terburu-buru.
Romi memacu motornya dengan hati yang ceria. Ia kira hari ini akan jadi hari yang menyenangkan karena ia bisa berkenalan dengan gadis di tempat jus tadi. Tapi ternyata hari ini adalah hari yang luar biasa baginya. Setidaknya hingga saat ini..
Sekitar lima belas menit kemudian, Romi sudah berada di sebuah bengkel tambal ban sederhana di pertigaan Colombo. Disitu Romi mendapati Karina yang tersenyum lebar melihat kedatangan Romi.
"Jadi gimana? kamu gak apa-apa?" tanya Romi sembari melepas helmnya.
Romi mengangguk..
"Yaudah yuk," ajak Romi mengenakan kembali helmnya dan kembali menaiki motornya.
Karina dengan cepat naik ke boncengan motor Romi.
Kini motor Romi sudah kembali melesat dengan tidak cepat menembus keramaian jalanan. Seperti biasa Romi selalu menjalankan motornya dengan halus, tidak menyentak rem ataupun gas. Apalagi jika ada karina di belakangnya, Romi jadi berusaha makin halus dalam mengendalikan motornya.
Tak sampai sepuluh menit mereka berdua sudah sampai di sebuah supermarket kecil.
__ADS_1
"Mas Romi kalau mau pulang gak apa-apa, aku udah banyak ngerepotin minta dijemput," kata Karina ramah sedikit merasa sungkan.
"Eh beneran gak apa-apa sekalian jalan-jalan juga kan, ntar kalau ditinggal gimana kamu mau balik ke bengkel lagi, pake ojek kan repot," kata Romi sambil menaruh helm di motornya.
Mereka berdua kemudian masuk ke dalam toko beriringan. Hati Romi mulai berbunga-bunga dan bersyukur atas kesempatan langka ini. Karena meski Romi sudah kenal lama dengan Karina, ia belum pernah mengajaknya kencan dan jarang sekali menemaninya keluar. Entah kenapa jika dihadapan gadis yang satu ini, lidah Romi rasanya kelu, nyali untuk mengirimkan chat pun ciut. Tingkah Romi bak dirinya versi bertahun-tahun lalu yang masih culun di depan perempuan.
"Jadi mau beli apa??" tanya Romi sambil mengambil troli kecil.
"Eh gak usah," cegah Karina mengambil troli dari Romi dan meletakkan kembali di tempatnya.
"Hm? gak belanja banyak?" tanya Romi lagi.
"Haha engga kok, cuma kayu putih sama shampo," jawab Karina ceria.
"Oh...."
Mereka berdua berjalan beriringan menelusuri lorong rak pajangan di supermarket itu. Beberapa lorong lebih sempit memaksa Romi mundur ke belakang Karina supaya bisa berjalan. Bahkan dari belakang Karina Romi merasa Karina cantik sekali, padahal wajahnya tidak kelihatan.
"Tadinya aku minta mas Rizky anter tapi katanya sibuk..." kata Karina tiba-tiba sambil mengambil shampo.
Mungkin niatnya berkata seperti itu supaya Romi tidak merasa direpotkan sendiri olehnya. Tapi di telinga Romi kalimat itu terasa seperti petir di siang bolong.
"Pasti dia sibuk," Romi mendengus.
"Ia.." jawab Karina singkat.
"Untung ada aku," kata Romi menyombongkan diri, meski terlihat bercanda namun ia betul-betul merasa menang dari Rizky.
__ADS_1
"Iya, untung ada mas Romi," kata Karina lagi sembari melirik dan tersenyum manis.
Romi merasa hatinya meleleh..... Tidak salah ia telah memprioritaskan Karina dibandingkan gadis di tempat jus sesebelumnya.