Cinta (Tak)Butuh Kepastian

Cinta (Tak)Butuh Kepastian
Makan Malam


__ADS_3

Romi berjalan sambil menguap lebar menuju parkiran motor, selama beberapa hari ini ia mencoba untuk tidak menghubungi satu gadis pun. Dan dengan ajaib ia berhasil melakukannya, meski ia masih sesekali menghubungi Asteria...satu orang yang rasanya tidak bisa ia diamkan dan tinggalkan begitu saja.


Namun secara keseluruhan ia merasa sangat berhasil untuk tidak melakukan keusilan yang biasa ia lakukan.. Dan anehnya ja malah jadi merasa lega.


Satu hambatan lainnya yang sedikit mengganjal adalah Sofia yang masih rutin menghubunginya. Ia tak begitu tega untuk mendiamkan chat dan telepon dari Sofia. Romi berharap nanti ia bisa menemukan cara menghindari Sofia. Tapi untuk kali ini ia cukup senang... ia merasa jadi orang baik-baik dan soleh.


Perjalanan dari kantor sampai kosan hanya perlu sepuluh menit saja. Baru saja ia mendorong motornya untuk diparkir di garasi dibawah tangga mendadak bunyi klakson mobil dengan kencang dibunyikan dari halaman kosan.


Romi mengintip dari balik pintu garasi..


Aduh!!!


Romi seketika mengenali mobil Sofia yang sedang berhenti di halaman..


Sofia membunyikan klakson mobilnya sekali lagi.. lalu sekali lagi.. lalu sekali lagi...


Sofia tahu Romi sedang ada di balik pintu garasi mini itu. Sofia sudah mengikutinya sejak ia pulang dari kantor... Dan ia tak akan pergi sebelum mendapatkan Romi.


Dari balik pintu akhirnya Romi melangkah keluar, tak mungkin pula jika ia mesti diam didalam terus menerus.


Romi melambaikan tangan menyapa..


"Akhirnya nyerah..." ujar Sofia.


Sofia langsung keluar dari mobilnya dan langsung menghampiri Romi yang masih berdiri mematung.


"Yuk ikut aku," kata Sofia memerintah sambil mengenggam tangan Romi dan menariknya pergi.


Romi tak kuasa untuk menolak dan membiarkannya dibawa Sofia.


Toh gak akan jadi masalah kan.. selama gue nurut aja santai.. begitu pikirnya.


Romi menganggap ini hanya bentuk manja seorang Sofia saja. Ia menebak mungkin ia sedang perlu teman tau semacamnya jadi ia tak menolak. Lagipula menolak gadis yang sedang galau itu tidak baik (setidaknya begitu logika Romi).


Tiga jam sebelumnya Sofia masih tidur-tiduran di ranjangnya yang empuk. Ia sengaja melewatkan meeting mingguan dan tidak datang ke kantor sama sekali. Ia sedang sibuk merancang dan memikirkan rencana terbaik untuk menjerat Romi.


Dan saat Sofia sedang asik melamun dan membayangkan masa depannya bersama Romi tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka. Ibunya masuk menerobos sambil membawa beberapa gaun.

__ADS_1


"Yang mana?" tanya Ibunya dengan singkat.


Jika Ibunya bertanya dengan singkat makan biasanya ini sangat penting. Tapi yang sedikit membuatnya aneh adalah gaun yang Ibunya tunjukkan adalah gaun miliknya sendiri, bukan milik Ibunya.


"Yang merah," Sofia menunjuk gaun merah marun berhias pita-pita raksasa di bagian bahu kanannya.


"Oke, Mama mau pakai yang selaras sama gaun pilhan kamu, gak ke salon dulu?" kata Ibunya sambil membawa kembali gaun yang tak dipilih Sofia.


"Salon?" otak Sofia macet bekerja menebak rencana apa Ibunya.


"Iya.. biasanya kalau ada acara makan malam kamu suka ke salon dulu," lanjut Ibunya sembari keluar kamarnya dengan cuek.


Sofia menepuk dahinya dengan keras.


Mampusss....


Sofia terlalu fokus dengan rencana-rencana cerdiknya untuk Romi sampai lupa bahwa malam ini ada rencana terkutuk yang akan berjalan. Rencana terkutuk dari kedua orang tuanya.. makan malam mengundang Bono si anak emas perusahaan Ayahnya.


Meskipun judul utamanya adalah makan malam, tentu saja makan malam jadi hal terakhir yang paling penting dalam acara itu. Ini bukan kali pertama kedua orang tuanya mengadakan acara makan malam semacam ini. Daripada makan malam, acara ini sudah seperti acara estetik biro jodoh untuk dirinya.


Untung Bono selalu cerewet soal ini jadi ia tahu kapan acara makan malam diadakan. Bono yang sudah menyukai Sofia sejak lama tak bisa membendung rasa senangnya jadi ia seringkali mengatakan "Terima kasih" atau "Maaf kalau merepotkan" pada Sofia berulang kali. Bodohnya Sofia ia malah melupakan tanggalnya karena ia terlalu fokus pada Romi.


"Hmm... ada apa?" tanya Romi sedikit terlambat ketika ia duduk di dalam mobilnya.


Sofia menatap Romi dengan serius..


Romi kebingungan mesti bereaksi seperti apa..


Sofia menatap Romi dari ujung kaki sampai kepala..


Romi semakin merasa aneh.. bukannya ia tidak menginginkan hal yang menyenangkan tapi ini rasanya lebih seperti sedang diculik.


"Mesti ganti," kata Sofia singkat.


"Eh? ganti? apanya?"


Sofia memundurkan mobilnya hingga ke jalan raya dan kemudian berangkat.

__ADS_1


Misi membatalkan perjodohan sudah dimulai...


Sofia membuat beberapa perjalanan ke beberapa butik pakaian untuk mencarikan baju yang pas untuk Romi. setelah beberapa kali bolak-balik akhirnya Romi mendapatkan sebuah blazer, celana bahan dan sebuah T-shirt polos berwarna abu-abu.


Romi tak bertanya berapa harganya (Sofia dengan lincah bolak-balik ke kasir sendirian sementara Romi ditinggal duduk dan berdiri saja) tapi ketika dikenakan terasa sekali bedanya. Itu adalah T-shirt terbaik yang pernah ia kenakan, lembut sakit rasanya di kulit.


Terakhir Sofia membelikan sepasang sepatu kulit berwarna cokelat tua untuk Romi.


Romi bercermin memandang dirinya yang terlihat lebih kaya dibanding sebelumnya.


"Sebentar ini ada apa sih?" tanya Romi lagi, ia sudah bertanya berkali-kali tanpa ada tanggapan dari Sofia.


"Perfect!" kata Sofia menjentikkan jarinya terlihat puas dengan penampilan Romi dan mengabaikan pertanyaannya.


Ia lalu melihat wajah Romi yang bahkan belum sempat mandi sejak pulang kerja.


"Wajah gak perlu dirubah," gumam Sofia pada dirinya sendiri.


Tanpa menjawab pertanyaan dari rasa penasaran Romi, mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke sebuah butik, kali ini butik pakaian wanita.


Romi disuruh menunggu di mobil dan Sofia melesat masuk kedalam butik bak orang kesiangan masuk sekolah.


Setengah jam menunggu hingga hampir tertidur, Tiba-tiba pintu mobil terbuka dan Sofia sudah masuk kembali mengenakan gaun hitam sederhana namun elegan.


Sofia membuka laci dashboard mobilnya.


"Wow," Romi terkejut ketika melihat isi lacinya adalah berbagai macam alat riasan perempuan.


Sofia berdandan sederhana hanya bedak dan lipstik kemudian eyeliner.


Romi mematung memerhatikan proses Sofia yang berdandan terburu-buru.


"kenapa?" tanya Sofia ketika menyadari Romi memandangnya dengan mulut terbuka lebar.


"Eh? ia.. cantik.." jawab Romi singkat.


Jawaban singkat itu mampu membuat pipi Sofia merona tanpa blush on.

__ADS_1


Tak lama kemudian mereka kembali dalam perjalanan..


Tujuan terakhir.. rumah Sofia..


__ADS_2