
Siang itu suasana sedikit lebih panas daripada biasanya. Bahkan kantor yang dilengkapi AC sekalipun tidak mampu mengusir hawa panas yang menerobos masuk dari jendela. Tidak heran jika banyak karyawan bolak-balik ke pantry hanya untuk mengambil air minum yang dingin dan segar.
"eh buat aku!!" kata Ovi sang sekretaris tiba-tiba saja masuk ruang pantry dan merebut botol air mineral dingin dari Puji sahabatnya sekantor.
"ih rese banget lu," omel Puji protes meski tak serius.
"aduh nanti si Bos kehabisan air lho kalau dia minta..." keluh Ferdy dari belakang mereka sambil membawa nampan.
"ah gak apa-apa, nanti kan aku yang beliin buat dia," kata Ovi ceria.
"lho itu tugas saya mbak," kata Ferdy lagi dengan sedikit khawatir. Ia takut dipecat dari pekerjaannya sebagai office boy jika Ovi mengambil alih tugasnya. Bisa-bisa ia dinilai tidak becus bekerja sampai harus sekretaris yang beli air minum keluar untuk. bos.
"udah pokoknya aku yang beli nanti kalau bos minta," kata Ovi tegas.
"tapi..." Ferdy mencoba mencegah.
"ih, gue aja yang beli pokoknya, bawel amat kamu," Ovi teguh pada keputusannya.
"ih lu sih modus," kata Puji dengan kalem menuduh.
"emang! haha," Ovi mengiyakan dengan bangga.
"harus pake pelet kalau mau ambil hati bos," seloroh Puji.
"idih, emangnya kita hidup jaman persilatan apa, gue gak perlu yang mistis-mistis gitu," kata Ovi dengan suara cemprengnya percaya diri.
"ya selamat berjuang melelehkan batu," kata Puji sembari terkekeh.
Ovi menggaruk kepalanya sedikit merasa kesal karena perkataan Puji ada benarnya. Sulit sekali untuk mengambil hati bosnya. Tidak ada yang bisa melakukannya sejauh ini.
Mereka hendak kembali ke tempat kerjanya masing-masing ketika tiba-tiba Puji bertanya.
"kok ngebet banget sama bos sih?"
Ovi yang sudah melangkah seketika berhenti dan berbalik.
"Dewasa, sukses, mapan, ganteng, dan belum pernah punya pacar," jawab Ovi lancar.
"yakin gak pernah punya pacar??" tanya Puji misterius.
"kan lu yang cerita sama gue.. ampun deh," Ovi menepuk dahinya.
Puji memang lebih dulu bekerja disini, sementara Ovi baru dua tahun berada di kantor ini.
"bukan itu maksud gue.." tambah Ovi lagi.
"terus??"
__ADS_1
"Jangan-jangan..."
"apaan sih?"
"bos gak suka perempuan.."
Mulut Ovi ternganga terkejut ketika mendengarnya.
"gak mungkin lah," Ovi meyakinkan diri sendiri.
"yakin?" Puji berusaha menggoyahkan kepercayaan diri Ovi.
"yakin banget,"
"berapa kali bos ketemu tamu perempuan? lu kan sekretaris nya pasti hapal,"
Otak Ovi berpetualang merekap tamu-tamu perempuan yang pernah masuk ke kantor Bos. Ada memang bebrapa saja, tapi kesemuanya adalah rekan bisnis dari kantornya. Tak ada yang rutin sekedar bertamu saja.
Ovi menggelengkan kepala menyerah..
"nah kalau tamu laki-laki??" tanya Puji lagi.
Otak Ovi kembali menerawang.. dan langsung saja terpikir satu orang yang rasanya rutin menyambangi kantor Bos.
"kayaknya ada satu yang sering mampir......"
Puji menjentikkan jarinya seolah-olah sudah mendapatkan kesimpulan dari teorinya.
"eh kemana??" kata Puji melihat Ovi yang mendadak berlari kecil keluar kantor.
Sepuluh menit kemudian Ovi sudah berada tepat di depan pintu ruangan Bosnya. Tetesan peluh keringat masi terlihat di dahinya. Segera ia merapikan bajunya dahulu dan menyeka bulir keringat yang masih terjun. Tangan kanannya memeluk erat sebuah botol air mineral yang baru ia dapatkan dari mbak warung depan seberang kantor.
Ovi menghirup nafas dalam-dalam dan kemudian mengetuk pintu kayu berwarna hitam itu dengan pelan. Tidak ada jawaban....
Ovi kembali mengetuk sedikit lebih kencang... ada sedikit rasa supaya lebih baik tidak dijawab saja karena ia merasa grogi.. tetap tidak ada jawaban..
Ia memikirkan kembali tindakannya.. ia ingin sedikit menggali jawabannya sendiri dari orangnya langsung.. apakah masih ada harapan untuknya?
Jemarinya menari diatas plastik botol air mineral di tangannya. Setiap ketukan ia memikirkan kembali lagi dan lagi.
Ovi baru saja melangkah menjauh menyerah sebelum sebuah suara berat yang familiar bergema dibalik pintu.
"Masuk..." ucap suara itu dengan tenang dari balik pintu.
Tanpa ragu Ovi kembali kedepan pintu dan membuka daun pintu perlahan-lahan.
Bosnya terlihat sedang asyik di mejanya memerhatikan lembaran-lembaran laporan yang menumpuk di meja. Ovi melangkah pelan-pelan seperti sedang melangkah di lantai yang licin.
__ADS_1
Ruangan Bosnya lebih dingin daripada diluar, membuat rasa panas dan capek Ovi sedikit menghilang.
Ruang manajer ini bernuansa warna kayu berbeda dengan sisa ruangan lain di kantornya yang berwarna putih abu dengan nuansa modern. Di rak dinding dekat jendela berjejer berbagai piala dan piagam pencapaian sang Bos. Ovi selalu terkagum melihat jejeran penghargaan itu, baginya itu adalah salah satu ciri dari betapa berkualitas seorang bosnya.
Disamping rak yang penuh berkilauan sebuah rak kecil berdiri dengan tegak. Isinya dipenuhi berbagai foto sang Bos. Sembari berjalan Ovi memerhatikan setiap lembar foto yang dipajang di rak itu. Kebanyakan foto yang terpampang adalah foto Bosnya ketika ada acara-acara kantor, ada juga foto-foto ketika ia menerima penghargaan. Tapi tidak ada satupun fotonya bersama seorang perempuan kecuali dalam foto yang paling besar yang berisi foto sang bos memeluk erat bahu seorang wanita cukup berumur yang Ovi tebak adalah Ibunda dari sang Bos.
Absennya foto perempuan bersama Bosnya membuat pikirannya mulai kembali pada kesimpulan Puji. Ditambah lagi ia menyadari ada tiga foto yang justru memperlihatkan Bosnya dengan seorang laki-laki dengan akrab. Ovi menyadari bahwa laki-laki dalam foto itu adalah orang yang sama yang cukup rutin mampir ke kantor ini.
"ada apa Vi?" Rizky memecah suasana hening melihat tindak-tanduk sekretarisnya yang kelihatannya sedang bingung sambil memandangi rak foto.
Seketika Ovi mendekat meja Rizky dan langsung meletakkan sebotol air mineral ukuran dua 1,5 liter di mejanya.
"hmm??" Rizky bergumam bingung mengangkat botol air mineral itu.
"anu.. itu di pantry air mineral habis.. jadi saya beli buat bapak satu barangkali bapak perlu," kata Ovi lancar meski rasa grogi sebetulnya masih menggerogoti hatinya. Sejak dulu ia memang pintar menyembunyikan perasaan hati dari air mukanya.
"oh ia makasi ya.." ujar Rizky sembari menaruh kembali botol itu di meja dan mulai kembali memerhatikan lembaran-lembaran kertas di hadapannya.
Ovi masi berdiri mematung beberapa saat..
Rizky yang menyadari sekretarisnya masih berada disitu kembali bertanya. "Ada lagi Vi?"
Ovi sejenak ragu tapi ia sudah memutuskan untuk langsung bertanya.
"Foto itu, itu foto bapak sama siapa ya?" tanyanya sambil menunjuk ke arah rak bagian tengah.
Rizky langsung menyadari foto yang dimaksud sekretarisnya itu.
"itu foto saya sama Romi, sahabat saya sejak kuliah.." jawabnya lugas.
Seorang lagi nambah kepincut Romi.. Beruntung banget dia... gumam Rizky dalam hati diiringi sedikit rasa iri.
Di sisi lain Ovi merasa senang dengan jawaban sang Bos, ia percaya dengan ucapannya dan berarti ia masih memiliki celah untuk bisa bersanding dengan Bosnya suatu hari.
"sering nongkrong bareng pak sama pak Romi?" lanjut Ovi lagi untuk lebih meyakinkan.
"ia, kita selalu sama-sama sejak kuliah, tapi ya itu kalau dia lagi tidak ada jadwal dengan cewek-ceweknya.." jawab Rizky yang dalam pikirannya ia sedang berusaha menjauhkan Ovi dari jangkauan Romi. Menurutnya sayang sekali kalau gadis sebaik Ovi berakhir di pelukan Romi.
"oh.." sambut Ovi dengan suara pelan, dalam hati ia semakin sumringah memastikan bahwa tidak ada yang 'spesial' diantara Bosnya dan sahabatnya itu.
"ia dia kan playboy," tambah Rizky lagi menegaskan kembali.
Tanpa membuang waktu lebih banyak dan rasa penasarannya terpuaskan, Ovi segera undur diri.
Rizky kembali memeriksa laporan di depannya ketika mendadak handphone miliknya berdering kencang.
Satu nama yang belakangan ini kerap menghubungi dirinya muncul di layar.
__ADS_1
- SOFIA -
ini lagi... keluh Rizky dalam hati. ...