
"Pacar???" kata sang Ibu menatap tak percaya..
Sofia mengangguk dengan penuh semangat...
Sementara itu di samping Sofia sebuah petir yang tak terlihat menyambar jantung Romi saat Sofia mendeklarasikan dirinya sebagai pacar Sofia. Dan untuk beberapa detik Romi lupa bagaimana caranya untuk bernapas.
Romi tak kuasa mengelak diklaim sepihak seperti itu di depan kedua orang tua Sofia. Jikalau mereka hanya berdua saja dan berhadapan dengan orang lain tentu Romi berani menolak mentah-mentah. Jika kasusnya seperti ini Romi merasa lebih baik menelannya dahulu baru protes kemudian. Itupun jika bisa........
Romi tersenyum...... berusaha terlihat ramah... perutnya kini mendadak terasa sakit. Sekian lama ia tidak pernah pacaran secara resmi, tiba-tiba saja seseorang langsung mengklaim pacarnya dan langsung bertemu orang tuanya. Seperti mimpi indah yang terasa buruk....
Lalu dari belakang Ibunya Sofia muncul satu lagi.. Ayahnya....
Romi mulai memproduksi keringat dingin..
"Eh.. Siapa ini Bu?" Tanyanya pada si Ibu.
"Pacar Sofia," jawabnya singkat sembari mengurut dahi sakit kepala.
"Oya?? ayo masuk sini," ajak sang Ayah ceria.
Sementara mereka masuk kedalam rumah, sang Ibu berjalan paling belakang sambil masih mengurut dahinya. Rencana makan malam ini akan jadi ruwet gara-gara tingkah anaknya...
Satu jam kemudian Romi sedang melahap potongan beef Wellington di piringnya dengan setengah hati. Ia melihat ke sekeliling meja makan dengan perasaan was-was. Ayahnya Sofia yang tampak ramah sepanjang waktu sedang makan dengan ceria. Beberapa kali ia memuji masakan malam ini dan sempat memanggil juru masak pribadi mereka dan berpesan supaya sering-sering masak seperti ini.
Ibunya Sofia yang berwajah lembut namun tegas sedang berbisik sesuatu pada Sofia.. Tampaknya sesuatu yang serius.. Romi mencoba menguping pembicaraan mereka tapi tak terdengar sama sekali.
Romi memandang ke seberang meja dan beradu tatap dengan pria paling kelimis yang pernah ia lihat. Bono dari seberangnya memandang Romi dengan tatapan jengkel.
__ADS_1
Andai Romi bisa bicara keras-keras ia akan segera menyampaikan kalau ini cuma salah paham. Tapi sementara ini Bono memandang dirinya bak seorang pencuri yang sudah mengambil harta terindah yang ia miliki.
Bono yang datang setengah jam setelah pasangan dadakan itu kaget setengah mati melihat Sofia menggandeng seseorang dengan begitu erat ketika ia tiba. Di tangannya ia sudah membawakan satu buket bunga mawar yang begitu indah ("saya susun sendiri" begitu klaimnya). Jika tidak ingat ia sedang berada di rumah Pak Wiro maka pastinya ia sudah melemparkan bunga yang ia bawa ke muka pria yang kelihatan pemalas itu.
Apalagi ketika Pak Wiro sendiri yang mengatakan bahwa itu adalah kekasih Sofia, jantung Bono serasa akan meledak. Ingin sekali ia berteriak seperti Tarzan di tengah hutan. Tapi demi menghormati atasan yang sudah berjasa banyak untuknya ia rela menahan diri.
Sofia adalah wanita idamannya.. tapi baginya bertindak bodoh dan mengorbankan perjuangan karirnya demi meluapkan rasa kesalnya adalah tindakan sia-sia.
Romi menundukkan matanya kembali ke atas piring... berharap semua cepat berakhir..
Di samping Romi, Sofia sedang sibuk menjelaskan pada Ibunya bahwa ini bukan sebuah candaan atau keisengan untuk menghindari rencana Ibunya.
"Dia pacarku beneran..." bisik Sofia mungkin untuk ke sepuluh kalinya.
"Jadi kamu gak anggap Mama sebagai Mama kamu lagi? sampai-sampai kamu gak cerita?" bisik Ibunya sembari mencubit paha Sofia.
Sofia dan Ibunya tidak benar-benar dekat, jadi Ibunya tak bisa menebak apakah Sofia betulan punya pacar atau hanya iseng.
"Gimana makanannya? dari tadi diam saja," tanya sang Ibu pada Romi setelah makanannya dihabiskan.
"Oh ia tante, enak banget.." jawab Romi singkat tak lupa dengan senyum lebarnya.
"Syukurlah, sering-sering main kesini, nanti dibuatkan lagi yang seperti ini," kata Ibunya ramah namun dengan nada tajam.
Sofia menyikut pelan Ibunya.
"Ia tante," jawab Romi mengangguk sopan.
__ADS_1
Dari seberang ia bisa merasakan aura mistis terpancar menghujaninya dengan rasa iri dengki.
Setelah itu Bono membicarakan soal pembangunan gedung baru atau apalah itu Romi tidak paham. Tapi Romi bisa menebak bahwa orang bernama Bono ini adalah bawahan yang punya jabatan cukup tinggi di perusahaan Ayahnya Sofia. Romi sedikit senang karena setidaknya perhatian Ayahnya teralihkan oleh pembicaraan bisnis daripada Romi jadi korban interogasi orang tua.
Setelah itu Bono dan Ayahnya Sofia pergi ke ruangan lain sambil masih membicarakan ini-itu soal bisnis. Ibunya Sofia beranjak sambil ikut membawa beberapa piring kotor bersama beberapa pembantunya ke area dapur.
Sofia menarik tangan Romi dan membawanya keluar ke bagian belakang rumahnya yang ternyata adalah kolam renang yang cukup luas.
"Makasih.." katanya singkat sembari tertunduk.
"Gak apa-apa.. kamu beneran bikin aku jantungan.. pacar?? aduh..." Romi menutup mukanya dengan kedua tangannya tak percaya.
"Daripada sama karyawan teladan itu kan..." sahut Sofia.. ia hendak menambahkan 'mending aku jadi pacarmu betulan' tapi kalimat itu macet di tenggorokan.
Sofia puas dengan hasil malam ini, Ia senang ketika Bono terlihat panik melihatnya menggandeng orang lain. Ia senang tak perlu dipaksa ramah tamah dengan orang yang tidak ia inginkan. Tapi yang paling membuatnya senang adalah Romi yang tidak menolak mentah-mentah saat ia klaim sebagai kekasihnya.
Tentu saja Sofia sadar itu pasti membuatnya tak enak dan sekaligus takut itu akan membuatnya malah menjauhi Sofia di kemudian hari. Karena itu ia merasa sedikit canggung saat ini.. tak pernah ia merasakan takut dan senang di saat yang sekaligus semacam ini..
"Lain kali kasih tahu dulu kalau mau kayak gini, supaya aku bisa akting yang bagus kan..." kata Romi mengalihkan perhatian dari lamunan Sofia.
"iya..." jawab Sofia singkat.. 'akting'.. kata sederhana itu terasa menyengat hatinya.
Sisa malam itu dihabiskan lebih banyak duduk dan diam disamping kolam renang. Angin dan gemerisik daun tanaman di pinggir kolam jadi satu-satunya suara yang menghiasi heningnya malam. Romi tak mengerti mesti berkata apa, ia tidak marah.. tak juga menyangka harinya akan berakhir seperti ini..
Otak Sofia masih sulit berpikir jernih karena perasannya. Ia bahagia.. takut.. penuh harap.. tapi tak bisa mengungkapkannya dengan baik..
Namun Sofia dengan jelas bisa merasakan cintanya pada pria di sampingnya ini. Sikap Romi yang mampu menahan diri untuk memberontak karena diklaim sepihak sebagai kekasih menunjukkan bahwa ia mampu menjadi dewasa. Ia menyukai sisi itu dari seorang Romi yang sekilas seperti lelaki kekanak-kanakan lainnya yang hobi perempuan. Ia tidak salah pilih... ia tidak ragu..
__ADS_1
Jika malam ini Romi menganggap ini semua adalah 'akting'.. maka yang berikutnya Sofia akan memastikan ini tidak akan menjadi sekedar 'akting'..