Cinta (Tak)Butuh Kepastian

Cinta (Tak)Butuh Kepastian
Jadwal yang (tidak) Padat


__ADS_3

Mata Romi tajam menatap layar LED di depannya. Dengan peka jemarinya menari bereaksi pada gambar-gambar yang sedang ditangkap matanya. Tangan kanannya dengan lincah kesana-kemari berdansa dengan otaknya.


"Yaaaah!!!" Keluh Romi seketika saat karakternya dalam game Fallout 4 yang sedang ia mainkan di komputernya mati dibantai seekor Deatchclaw.


Romi menghela napas dan membaringkan tubuh nya ke lantai di belakangnya. Sedikit mengistirahatkan matanya yang terlalu fokus beberapa saat yang lalu. Kepalanya juga jadi terasa sedikit pening karena kesal karakternya mati begitu saja dengan mudah.


Begitu memang kegiatan Romi jikalau tak ada 'jadwal' yang mesti ia tepati. Ia memilih diam saja bermain game di kamar kosnya yang lembab dan nyaman (menurutnya).


Sejatinya Romi memang bukan orang yang menyukai keramaian. Andai saja ia bisa, ia lebih memilih berkencan di kamar kosnya saja tanpa mesti keluar ke tempat keramaian. Romi membayangkan akan sangat menyenangkan menghabiskan waktu dengan tenang tanpa keributan dan kerepotan sosial. Tentu saja itu tak mungkin dilakukan. Selain itu pilihan antara bermalas-malasan dengan nyaman di kosan atau bermesraan dengan gadis-gadis bukan keputusan yang susah dibuat. Pilihan yang kedua adalah jelas pilihan yang 'bijak'.


Selain Rizky tak banyak teman Romi yang bisa akrab dengannya. Terutama karena Romi memang pemilih soal teman, selain karena sejak kecil Romi termasuk susah bergaul. Baginya sulit sekali menemukan teman yang bisa 'nyambung' dengannya. Ia baru saja mengenal perempuan ketika masa kuliah. Sebelum itu ia hanya kutu buku gendut yang tak menarik.


Romi baru saja memutuskan untuk tidur sebentar ketika pintu kamar kosnya diketuk pelan.


"hmm?? siapa? buka aja," kata Romi sambil masih berbaring.


Sesosok pria berkumis lebat masuk membuka pintu bobrok kamar kosnya.


"Eh kang Pepeng," Romi segera duduk menyambut tamu yang tak lain tetangga kosnya sendiri.


"ada apa kang?" lanjut Romi bertanya.


"anu.. tolong balesin ini hehehe," Kang Pepeng tersenyum malu-malu sambil menyerahkan ponselnya.


Romi memungutnya dan memerhatikan yang terpampang di layarnya. Hanya percakapan sederhana antara Kang Pepeng dan seseorang bernama Sita pada aplikasi whatsapp.


"kenapa gak dibalas sendiri aja kang??" tanya Romi.


"malu hehehe.. bingung harus ngomong apa.." jawab Kang Pepeng sambil menggaruk kepala.


"ya ngobrol biasa aja kayak kita-kita," saran Romi.

__ADS_1


"ah nanti salah ngomong.." kata Kang Pepeng lagi sambil menyodorkan lagi ponselnya.


"ya kalau salah minta maaf hehe."


"eh gagal atuh kalau gitu, ntar malah dijauhin, jadi sedih nanti saya."


"ya cari lagi kang kalau gagal haha."


"yee gak bisa lah.."


"ya udaah," Romi menyerah dan mengambil ponsel Kang Pepeng kembali.


"ditinggal ya hehe.. nanti balikin aja kalau udah selesai," kata Kang Pepeng ceria sambil pergi meninggalkan Romi.


"lhaaaa..."


Kang Pepeng berusia 34 tahun.. tapi seperti nasib-nasib para manusia yang fokus pada karir, belum dapat jodoh. Kalaupun dapat kenalan biasanya mereka jadi canggung. Dan ini bukan kali pertama Romi menolongnya untuk membalas percakapan yang ia tak bisa membalas karena buntu.


Tapi jangan salah mengira, sepintar apapun Romi berbicara jika lawan bicaranya memang tidak tertarik sama sekali maka Romi pun tak bisa berbuat lebih. Baginya semua diawali dari niat, jika niatnya diterima dengan baik akan mudah untuk menjalin komunikasi. Jika sejak awal sudah negatif responnya, maka lebih baik dilewatkan. Ia tak suka memaksa perempuan. Berbicara dengan orang yang tidak tertarik pada kita sama bagusnya dengan berbicara dengan sebongkah batu. Untungnya Sita tampak memang sudah tertarik pada Kang Pepeng sejak awal. Jadi Romi hanya memuluskan saja komunikasi mereka.


Selagi jempolnya dengan lincah memencet layar sentuh ponsel, beberapa kali ponsel Romi sendiri bergetar tanda ada pesan masuk. Romi yang tak menyadarinya terus saja mengobrol dengan Sita.


Romi merasa gadis bernama Sita ini cukup menjanjikan untuk Kang Pepeng, jadi langsung saja Romi meminta waktu untuk bertemu (sebagai kang Pepeng tentunya). Dan tepat seperti dugaan Romi, Sita langsung menyetujui usulan itu. Maka dengan itu Romi menganggap 'misi' telah selesai.


Romi berjalan cepat menyusuri tangga ke lantai dasar hingga tiba di depan pintu kamar Kang Pepeng. Ia mengetuk dan tak lama kemudian wajah berkumis khas Kang Pepeng muncul dari balik pintu.


"udah??" tanyanya dengan logat Sunda yang kental.


"aman," ucap Romi sambil mengacungkan jempol.


Dengan senyum malu-malu Kang Pepeng menerima kembali handphone dari Romi.

__ADS_1


"Makasi, bakso ya hehe," katanya lagi menjanjikan 'hadiah'.


"hahaha santai aja kang," kata Romi sambil pergi meninggalkan Kang Pepeng dengan jadwal kencan barunya.


Selagi meniti tangga terdengar teriak kegirangan Kang Pepeng. Tampaknya semua akan berjalan mulus nanti, Romi merasa senang telah membantu. Tampaknya keahlian Romi bisa dimanfaatkan dengan baik. Sekilas ia jadi memikirkan apa lebih baik ia mendirikan biro jodoh saja sekalian. Kan lumayan bisa jadi ladang rejeki.


Setibanya kembali di kamar kosnya, Romi rebahan di atas kasur busanya. Baru saja ia hendak tidur tapi seketika ia meraih handphonenya. Niatnya sih ingin bermain game barang sebentar saja. Tapi notifikasi pesan whatsapp yang menumpuk.


"hmm?"


Romi membuka pesan yang belum ia baca, ada dari Rizky, ada dari anak buahnya di kantor, tapi yang terbanyak hanya dari satu nama.. Sofia..


[cek.. ]


[cek.. ]


[cek.. ]


[Romi.. ]


[besok ketemu yuk.. Kafe Bupi.. jam 8]


Romi sampai harus mengedipkan matanya beberapa kali ketika membaca pesan itu. Tidak seperti biasanya dan tiba-tiba saja Sofia mengajaknya bertemu. Sekilas langsung terpikir apakah ini jebakan?? rasa khawatir terbit di pojok hatinya.


Tetapi setelah ia berpikir ulang ia menyimpulkan tidak mungkin jika Sofia berniat buruk. Ia tak pernah berkencan dengan Sofia sebelumya.. ia juga tak pernah mengatakan 'suka' pada Sofia.. ia bahkan tak pernah dengan agresif berkomunikasi dan pendekatan intens dengannya. Jadi tak mungkin ia menjebak Romi bukan?


Dengan cepat Romi membalas.


[ok]


Selain itu pula di benaknya ia sudah terpikir cara lain untuk tidak terlalu lebih jauh dengan Sofia ini. Romi mengirimkan pesan whatsapp pada Rizky, mengajaknya untuk turut bertemu Sofia. Lagipula rencana awalnya kan untuk membuat mereka berkencan, jadi ini akan menjadi rencana yang bagus untuk mereka berdua supaya kenal lebih jauh. Di tengah pertemuan Romi bisa meminta pamit untuk pergi meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


sempurna... kata Romi dalam hati memuji rencananya sendiri.


__ADS_2