Cinta (Tak)Butuh Kepastian

Cinta (Tak)Butuh Kepastian
Api Cemburu


__ADS_3

“Pak Rizky tadi ada Bu Saudah nyariin Baaaaa...”


Sebelum Ovi sempat menyelesaikan kalimatnya Rizky sudah menghilang ke balik pintu ruangannya.


"Aneh banget Pak Rizky hari ini..."


Rizky melemparkan dirinya sendiri ke kursi kerjanya yang mahal. Tak peduli bila ia akan merusak kursi berlapis kulit warna cokelat itu.


Beberapa kali ia menggerakkan bahu dan pinggangnya mencari posisi yang nyaman. Kepalanya berusaha disandarkan maksimal pada penyangga leher kursinya. Kakinya diluruskan selurus yang ia bisa. Tetapi semua masih terasa salah di tubuhnya. Seolah tubuhnya berontak ingin berlari dan menghantam semua yang menghalanginya.


Ia kemudian memejamkan kedua matanya, mengusir segala pikiran, suara, imajinasi, dan jikalau bisa kesadarannya juga ikut terusir. Rizky menginginkan ketenangan paripurna untuk meredakan ombak di dadanya.


Dan sejenak wajah Romi muncul di otaknya.. Tangan Rizky mengepal keras begitu wajah congkak Romi terlihat di mata otaknya.


Romi.... Romi.. Romi... Romi.... apa lu gak puas dengan pengalaman menjelajahi ratusan perempuan selama ini?? apa lu gak puas dengan segala perhatian yang lu dapet dari perempuan-perempuan itu?? dan apa lu gak paham Karina itu miliki gue!


Andai Rizky bisa memuntahkan isi hatinya pada Romi secara langsung, maka itulah yang akan ia semburkan dari mulutnya. Tapi tidak semudah itu, memiliki sahabat dekat secara tidak langsung sekaligus membuat tembok tebal yang mencegah lidahnya melompat dan berkata sesuka hati.


Rizky mendorong-dorong sandaran kursinya dengan punggung keras-keras seperti bocah yang sedang merajuk. Kursi yang tak pernah dikasari ini berderit keras saat bagian rangkanya berusaha menahan amarah Rizky. Bahkan kursi mahal ini tidak terasa nyaman ketika hatinya gundah dan kesal.


Mata Rizky menerawang ke arah dinding di sebelah kanannya. Berjejer plakat yang tertempel, sertifikat yang sudah dilaminating rapi dan diberi figura, piala-piala yang mengilat indah. Semestinya Karina bisa melihat ini semua dan bisa memutuskan semudah menjentikkan jari soal siapa yang terbaik secara kualitas, antara ia atau Romi. Rizky yakin Romi bahkan tidak memiliki satu piala pun yang bisa ia pajang di meja kosannya yang bobrok.


Gue emang yang terbaik bukan?


Romi cuma manusia standar medioker yang kebetulan tampan dan pintar berkomunikasi dengan perempuan... apa hebatnya..? Kelebihan secara fisik tak akan berjaya di kehidupan nyata dibandingkan kehebatan kerja keras.


Rizky mengambil handphone dari sakunya dan mencari kontak Romi. Ia mengusap-ngusap layar handphonenya seperti aladin mengusap lampu ajaib. Mendadak kepercayaan diri yang baru saja menggelora di dadanya menguap lima puluh persen.


Harus diomongin.. Rizky menguatkan hatinya


Dan nada sambung ke handhone Romi pun berbunyi renyah di telinga Rizky. Satu sisi hatinya berharap Romi tidak mengangkat dan ia tak usah berdebat. Tapi di sisi lain jiwa petarungnya menyala dengan hebat siap membakar apapun di depannya.


[Halo bro!] Romi menyapa dengan ceria dari seberang.


Rizky sedikit merasa gentar mendengar suara Romi yang terdengar seperti tidak ada apa-apa yang telah terjadi. Padahal ia telah dengan lancang menyerobot Karina.


“Oy.. eeemmm.... sibuk lu?”


[Enggak.. lagi makan.. apaan sih?]


Rizky melirik ke jam berwarna emas di dindingnya, ia bahkan tak sadar saat ini sudah masuk jam istirahat.

__ADS_1


“Elu mah enak ya bisa santai-santai gak sibuk..” Rizky mendengus.


[Lho kan jam istirahat]


“Di jam kerja juga kan banyak santainya.”


[Iya sih haha, iri yak!!??]


Dahi Rizky mengernyit sembari tersenyum sinis. Kalau gue iri sama lu gue gak akan sukses...


“Ya enggak lah.. berkat kesibukan gue masa depan gue terjamin kan.. kalau kawin istri gue bisa full di rumah gak usah kerja.”


[Ya udah cepetan kawin sana, lama amat nunggu] kata Romi ketus.


“Nunggu momen dong..” kini senyum Rizky berubah jadi senyum licik, ia sadar Romi tidak menyukai dirinya yang meninggikan diri.


[Momen apaan?]


“Momen yang pas lah.. masa sembarang tembak.”


[Hati-hati kesalip]


“Enggak akan lah.. lagian pasti pilihan yang terbaik yang bakal menang..”


Gak mungkin gue kalah dan gak mungkin Karina mau sama lu..


[Oh...]


Rizky menunggu kelanjutan kalimat Romi tapi tidak ada lagi. Rizky merasa menang untuk kali ini.


“Jangan lupa ulang tahun ya, kali ini di pantai.. gue ngadain acara dua hari, tanggal 21 sama pas ulang tahunnya tanggal 22.. biar santai, bisa main dulu di pantai.”


[Oke]


“Sip, gue ada meeting nanti disambung lagi..” Rizky menutup sambungan telepon, ia mengacungkan kedua tangannya tinggi-tinggi ke atas. Dadanya terasa lega meski tidak sampai seratus persen.. tinggal menyempurnakan sisa rencananya maka Karina akan menjadi miliknya. Dan tentu saja Karina tidak akan memilih Romi daripada dirinya. Karina terlalu polos.. terlalu konservatif.. terlalu murni..


Kini tinggal satu lagi yang mesti ia pastikan kembali,atau setidaknya ia perlu semacam kejelasan tentang sesuatu.


Dengan lincah jemarinya melompat-lompat di layar handphone dan kemudian menunggu selagi nada sambung berdering di telinganya.


[Halo] suara yang sangat lembut terdengar di seberang.

__ADS_1


“Sofia, gimana rencana kamu soal Romi? Jadi bisa bantu aku nanti kan??” tanya Rizky tak sabar.


[Bisa..]


“Caranya?”


[Itu urusanku...]


Rizky mendesis, jawaban itu terlalu absurd.


“Tapi ini pasti bisa berhasil kan.. Romi baru aja berhasil ngajak Karina nonton.. dia berhasil nyalip aku.. jadi aku butuh sedikit jaminan..”


Jemari Rizky mengetuk-ngetuk meja menunggu jawaban.


[Itu urusanku pokoknya.. pasti berhasil... udah pernah berhasil sebelumnya]


“Sebelumnya?”


Apa maksudnya sebelumnya?


[Iya, gak usah khawatir, tanggal 21 dan 22 kan?]


“Iya..”


[Sampai ketemu nanti]


Dan sambungan telepon pun terputus tanpa Rizky sempat berterima kasih atau basa-basi lainnya.


Rizky sebetulnya ingin mengetahui detailnya soal apa yang akan perempuan itu lakukan. Tetapi sepertinya Sofia merencanakan sesuatu yang hebat. Ia terdengar yakin dan tegas kepadanya, keinginan perempuan itu untuk mendapatkan Romi pastilah sangat kuat. Tapi Rizky percaya cinta dan niatnya lah yang terkuat untuk menjadi masa depan Karina.


Oke... katanya pada diri sendiri.


Rizky membuka laci meja kerjanya yang terkunci rapat. Biasanya di dalam situ ia menyimpan uang dan dokumen-dokumen penting yang tak boleh hilang. Tapi kali ini ia mengambil sebuah kotak beludru kecil berwarna hitam dengan garis benang berwarna emas di atasnya.


Ia lalu membukanya pelan-pelan seakan kotak itu rapuh seperti kertas. Setelah terbuka lebar ia menatap sebuah cincin emas yang duduk dengan anggun didalamnya seperti ratu di kursi singgasana.


Ini gak murah... tapi layak untuk diberikan pada Karina.. Dan hasilnya pasti akan hebat!! cuma nonton ke bioskop doang sih anak sekolahan juga bisa..


Rizky mengagumi keteguhan hatinya sendiri yang ia anggap luar biasa. Tidak sembarang manusia bisa melakukan hal semacam ini.


Dunia tak akan mampu menahanku.. apalagi cuma seorang Romi..

__ADS_1


__ADS_2