
Sore hari seperti biasa Romi pulang kerja dan hendak langsung pulang saja untuk istirahat di kosan. Tapi sebelum ia menyalakan mesin motornya mendadak Asteria menghubunginya dan memintanya segera bertemu. Romi yang tak memiliki kegiatan penting setelah ini menyetujuinyan dan segera berangkat, lagipula Romi merasa sedikit penasaran dengan Asteria kali ini. Aneh sekali Asteria mendadak mengajak bertemu. Dan lebih aneh lagi ia tidak memintanya bertemu di apartemen. Ini jarang sekali terjadi..
"Hai.." sapa Romi ketika tiba di kafe BUPI.
"Hey, ayo duduk, udah aku pesenin cappucino dingin," kata Asteria menepuk kursi sofa di sebelahnya.
"Makasih.." ucap Romi kemudian meminum cappucinonya. Seketika otaknya merasa fresh setelah seharian dipakai bekerja. "Jadi.. kok disini?"
"Bukannya kamu pernah cerita kalau kamu suka tempat ini ya?"
"Iya.. banyak buku.. kopi.. teh.. tapi maksudku kok tumben ketemuan di luar?"
"Gak apa-apa.. aku kangen aja jalan keluar sering-sering.."
"Oh.. jadi ada apa?"
Asteria melirik ke kiri dan ke kanan, ia lalu mengintip ke parkiran depan lewat jendela kafe. Tak lupa ia juga melihat ke sekeliling isi kafe.
"Apa sih?" Romi bertanya-tanya.
Asteria sedikit mencondongkan tubuhnya ke sofa Romi dengan misterius.
"Kamu pernah ngehamilin perempuan??" tanya Asteria setengah berbisik.
"HAAH?!!!?!!"
Semua orang di dalam kafe seketika melihat Romi.
"Eh maaf-maaf..." Romi meminta maaf ke semua orang sambil tersenyum kaku. "Apa maksudnya?? kamu hamil??"
Asteria menggelengkan kepalanya.. Romi bernapas lega..
"Tapi kalau aku hamil anakmu juga gak apa-apa sih.."
"Eh?? jangan sembarangan aah becandanya.."
Romi kembali meminun cappucinonya untuk menenangkan diri.
__ADS_1
"Tapi ada yang ngaku hamil anak kamu."
Seketika cappucinonya tersembur keluar dari mulut Romi mengotori kemeja putihnya.
"Haaah???" Romi berusaha tidak meninggikan suara meski jantungnya terasa copot jatuh ke lantai.
Asteria memandang Romi sembari tersenyum seakan sudah menebak reaksi lelaki yang ia cintai itu.
Yang selanjutnya di dengar Romi adalah cerita yang tak bisa ia percayai. Tentang Asteria didatangi tiga perempuan memintanya untuk menjauhi Romi karena satu dari mereka mengaku mengandung anak Romi.
"Mereka itu siapa sih.."
"Entahlah, aku gak tanya nama mereka semua karena udah kesal duluan sama kebohongan mereka.. tapi yang hamil mengaku bernama Sarah.."
"Sarah?"
Asteria mengangguk, ia ingat jelas berkata namanya Sarah.. meski ia tak tahu nama panjangnya.
"Sarah terakhir yang pernah aku kenal itu teman kala SMP.. dan gak pernah ketemu lagi setelah itu sampai sekarang.." Romi mengurut dahinya sembari bersandar di sofa.
"Usil sekali orang-orang itu.." kata Asteria sambil melipat tangan dan merengut.
"Jangan-jangan selama ini kerjaan mereka bertiga juga??"
"Apanya?"
"Aku belum memberitahukanmu tapi belakangan ini teman-teman kencanku satu persatu menghilang tanpa bekas.. bisa aja itu kerjaan mereka yang ancam supaya jauhin aku kan??"
Kalimat 'teman-teman kencan' tetap terasa menusuk hati meski ia tahu ia tak semestinya begitu. "Ya bisa jadi seperti itu.. bisa jadi selama ini mereka bertiga membuntuti kamu, makanya mereka bertiga sampai tau dimana apartemenku.."
Sekarang semuanya jadi masuk akal.. itulah kenapa gadis-gadis itu tiba-tiba menghilang setelah Romi mengunjungi mereka atau setelah pergi kencan dengan mereka.
Romi menutup wajah dengan kedua tangannya. Ini benar-benar diluar dugaan. Ia jadi berpikir apakah ada seseorang yang menaruh dendam padanya? jika melihat tingkahnya selalu berganti wanita tak heran jika memang ada yang dendam padanya.
Lagipula hamil?? Romi tak ingat ada salah satu diantara mereka yang hamil. Ia tak menyangkal jika ia banyak meniduri gadis-gadis tapi ia selalu berjaga-jaga supaya tidak sampai hamil. Dan lagi jika ada yang betulan hamil kenapa tidak mendatangi dirinya saja secara langsung?
Jelas tujuan utama mereka bukan soal meminta tanggung jawab melainkan merusak saja.
__ADS_1
"Kenapa di saat aku mau serius malah banyak hal kayak gini.. aduuh.." Romi menundukkan kepala dengan lemas.
"Kamu mau serius?"
Romi melirik Asteria yang terlihat sedikit melamun sekarang. Ia sudah lelah memikirkan tiga orang yang mencoba mensabotase hidupnya. Ia lelah memikirkan mereka mungkin saja nanti akan menghadangnya dan menghampiri Karina. Ia khawatir semua usahanya mungkin tak akan berbuah manis. Dan cepat atau lambat ia juga mesti melepas wanita cantik di sebelahnya ini. Jadi Romi memutuskan untuk membuka rencananya..
"Iya aku mau serius.."
"Oh.. baguslah.. siapa gadis yang beruntung itu?"
Dalam hati Asteria meneriakkan namanya sendiri keras-keras supaya hati Romi bisa mendengarnya..
"Karina.. yang kemarin-kemarin ketemu di mall.."
Sejenak Asteria lupa bernapas, otot kepalanya terasa menegang sementara tangan kanannya menarik keras-keras roknya.
Romi menatap lekat-lekat mata Asteria.. mereka beradu pandang untuk beberapa detik namun begitu lama terasa oleh Romi. Ia paham pasti berapa sakitnya perasaan Asteria saat ini. Tapi jika ia tidak mengatakan rencananya dengan Karina maka ia tak akan bisa meninggalkan masa lalunya.
"Apa rencanamu nanti..?" Asteria berusaha terdengar tenang.
"Tanggal 22 di hari ulang tahunnya di Hotel Indra.. aku berencana untuk menyatakan cintaku padanya saat itu..."
Asteria memalingkan wajahnya ke arah jendela kafe saat Romi membicarakan rencananya. Ia tak rela laki-laki yang ia sayang membicarakan cita-cita cintanya dengan wanita lain.
"Karena itu..." Romi melanjutkan. "Setelah itu aku tak tahu apakah aku bisa kembali padamu..."
Kalimat terakhir itu seperti kapak eksekusi yang jatuh ke leher terdakwa hukuman mati. Bulir air mata mulai berjatuhan di pipi Asteria.
"Maaf.."
"Enggak, gak apa-apa.. aku senang kalau kamu senang.. aku senang jika kamu bisa menjadi yang terbaik.." kata Asteria sembari menyeka air matanya dengan sapu tangan. "Ah! aku lupa ada meeting online sebentar lagi, aku tinggal dulu ya.. hubungi aku lain kali.."
Asteria bergegas pergi menghilang melewati pintu dan menjauh seiring deru mesin mobilnya yang semakin samar.
Romi duduk mematung seperti arca di candi yang tak bergerak ratusan tahun. Baru kali ini deretan buku di rak kafe ini tampak tidak menarik. Bahkan cappucinonya terasa pahit dan membuatnya mual. Lampu di kafe terasa lebih temaram daripada biasanya.
Semua ada harganya.. cinta.. harapan.. tujuan.. kesetiaan.. keseriusan..
__ADS_1
Romi memahami soal harga yang mesti ia bayar. Ia tahu persis tak akan bisa menghindari hal ini untuk selamanya. Tapi hatinya kini terasa begitu sakit, tak pernah ia merasa seperti ini sejak ia putus cinta dari pacar pertamanya dulu semasa SMA.
Ia merasa begitu rapuh namun kaku tak berasa di saat yang sama.. kini tinggal mengungkap rahasia masa depan yang menanti Romi..