Cinta (Tak)Butuh Kepastian

Cinta (Tak)Butuh Kepastian
Tersalip


__ADS_3

"Karinaaaaa."


Karina yang sedang asik tidur-tiduran sembari menonton video kucing lucu di youtube seketika bangun dan duduk di ranjangnya. Penasaran, ia lalu membuka sedikit earphone yang terpasang di kedua telinganya, mencoba mencari suara yang rasanya ia dengar dua detik yang lalu.


"KAAAARRIIINNAAAAA" suara Emak menggelegar menembus gendang telinga Karina.


Seketika Karina langsung melompat turun dari ranjangnya dan berjalan cepat menghampiri Emak yang memanggil di dapur.


"Ada apa Mak," tanya Karina lembut meski jantungnya sedang berderap kencang karena khawatir ada hal buruk terjadi pada Emak. Maklum Emak sudah tua jadi seringkali bertindak ceroboh..


"Ini lho.. gasnya sudah habis.. padahal Emak baru mau masak buat makan malam kita..."


Karina berpikir sejenak, ia enggan pergi keluar karena hari sudah gelap, sekarang sudah hampir jam sembilan malam. Belum lagi rasanya tubuh Karina masih pegal dan lelah setelah seharian tangannya mengulek bumbu kacang.


Karina teringat dengan handphone yang masih memutar video di tangannya.


"Makan malamnya kita beli aja ya Mak, pakai jasa ojek online aja supaya gak repot."


"Aduh jangan.. mahal nanti bayarnya.."


"Ah engga juga, lagipula kan supaya Emak gak usah capek-capek masak.. tenang aja mak, lagi banyak promosi kok.. ada diskon jadi lumayan hemat.."


Sejenak Emak memandang potongan wortel yang sudah dipotong-potong dadu untuk dimasak. Sayang sekali jika wortel itu tidak diapa-apakan lagi. Tapi setelah ditimbang-timbang.. Emak juga merasa lelah karena seharian tadi Emak banyak beres-beres rumah dan menyiram tanaman. Dulu hal remeh seperti itu tak akan berpengaruh pada tubuhnya yang rajin bekerja. Tapi sekarang karena faktor usia yang semakin senja, Emak jadi mudah lelah.


Rasanya tidak ada salahnya jika sesekali membeli makanan diluar. Apalagi kalau ternyata memang tidak memboroskan uang.


"Ya udah.. Emak tunggu di kamar ya.. mau tiduran dulu.." kata Emak berjalan pelan ke kamarnya sambil mengurut punggungnya.


Sementara itu Karina kemudian duduk di kursi kayu di ruang tamu. Ia membuka handphone dan memilih-milih restoran dan makanan yang tersedia di aplikasi ojek online.


Nasi goreng jawa... hmm.... enggak ah... ayam geprek.... duh bisa-bisa nanti malam malah jadi sakit perut kalau makan yang pedas-pedas... sate kambing... ini enak nih.. eh..tapi Emak gak suka makan daging kambing.. bau katanya... lotek.. lha masa beli makanan dagangan sendiri hehe..


"Maaak.. aku beli soto yaa?"


"Boleh," sahut Emak dari kamar, suaranya melempem terhalang gorden yang menutup kusen pintu kamar Emak.


Karina akhirnya memesan soto sapi satu porsi dan soto ayam satu porsi...


TOK!!TOK!!


Karina memelototi pintu ruang tamu yang berusaja berbunyi. Ia tak langsung membukanya untuk memastikan ia tidak salah mendengar.


"Siapa ya??"


Tidak ada yang menjawab..

__ADS_1


"Aneh.." mungkin itu hanya Karina yang salah mendengar.


Tok!...Tok!


Kali ini ketukannya lebih pelan.


Malas untuk menebak-nebak siapa gerangan yang iseng mengetuk pintu tanpa menjawab Karina langsung bangkit dari tempat duduk dan membuka pintu.


"Ya aaampuuuuun... bikin kaget aja Mas ini!!"


"Hehehehe halooo..." Rizky menyapa sambil tersenyum lebar. Rizky menyerahkan sebuah kresek hitam yang ia bawa. "Ini buah mangga buat Emak sama kamu.."


"Eh masuk-masuk.. silahkan duduk Mas.. ini jadi ngerepotin ceritanya.. EMAAK! ini ada mangga dari Mas Rizky.."


Karina memberikan mangga itu pada Emak di kamar dan kembali lagi.


"Kata Emak makasi banyak..padahal gak usah bawa Mas.. kan jadi malu banyak ngerepotin,"


"Mumpung lewat aja tadi pas waktu di jalan mau kemari. Terus keingetan kamu sama Emak kan suka mangga jadi ya beli aja, gak repot kok," kata Rizky sambil tersenyum.


Padahal kalau Karina bertanya lebih jauh tentang dimana ia membelinya maka Rizky akan kebingungan menjawab. Karena yang sejujurnya adalah Rizky memang sengaja niat membeli sampai rela berkendara berputar-putar sekitar kota untuk mencari penjual buah mangga. Karena musim buah mangga sudah hampir berakhir jadi agak sulit menemukan pedagang yang menjualnya. Tapi demi mengambil hari Emak dan Karina tentu saja Rizky tidak keberatan. Apalagi Karina terlihat senang menerimanya. Jadi lelah berputarnya sudah terbayar lunas!


"Capek kerjaan hari ini?" tanya Rizky sambil bersandar di kursi.


"Enggak juga sih.. hari ini warung enggak terlalu ramai kok.."


"Namanya juga bertahan hidup hehe.."


"Tapi ngomong-ngomong memangnya kamu mau sampai kapan berjualan disitu?"


"Ya sampai nanti-nanti Mas, selama butuh makan pasti tetap jualan Mas."


"Kalau misalnya kamu nikah terus ada yang nafkahin kamu dan mencukupi.. gimana?"


"Ya enggak tahu juga, dagang disitu buat kita udah kayak rutinitas setiap hari sih.. jadi gak kebayang aja kalau aku gak jualan sama sekali dan jadi diam di rumah aja gitu.."


"Iya tapi kan kalau enak banget kamu bisa istirahat nanti setelah capek berjualan bertahun-tahun.."


Tentu saja Rizky sedang membayangkan dirinya sendiri yang menghidupi Karina dalam mahligai rumah tangga. Dengan karirnya yang moncer ia cukup yakin penghasilannya bisa menghidupi Karina dan Emak.


"Gak kebayang juga Mas hehehe.. belum lagi nanti kasian Mas Parjo sama Mbak Yuli jadi kehilangan pekerjaan kalau aku berhenti.."


Rizky mengagumi rasa tanggung jawab Karina. Padahal ia hanya sekedar berdagang bukan pemimpin atau manajer perusahaan yang profesional.


"Eh kamu tau gak, di bioskop ada film Star Wars yang baru lho," kata Romi mulai membuka tujuan aslinya mampir ke rumah Karina.

__ADS_1


"Tau dong hehe,"


Rizky sedikit terkejut Karina tahu soal film itu. Karina itu orangnya setahu Rizky tidak terlalu hobi menonton film (boros dia bilang), apalagi sampai update film terbaru yang sedang tayang.


"Nah kalau gitu kita nonton yuk.. mumpung masih fresh tayangnya.. kamu juga udah lama gak ke bioskop kan??"


"Oh aku udah nonton film itu lho Mas hehe."


"Oya?? di bioskop??"


Karina mengangguk sembari tersenyum misterius yang membuat Rizky merasa ada api kecil cemburu mulai tersulut di lembaran hatinya. Siapa yang berani menyerobot kesempatannya untuk menonton berdua dengan Karina. Tapi Rizky juga berbaik sangka, mungkin saja teman-temannya yang mengajak. Karina masih memiliki teman-teman SMA yang berada di kota ini.


"Wah.. sama siapa?" Rizky ingin memastikan.


"Mas Romi."


Rizky mendadak merasa jantungnya hilang ditelan bumi untuk beberapa detik. Kepalanya sedikit terasa pusing dan melayang bak seseorang menimpuknya dengan batu. Ia berusaha mencari kalimat-kalimat positif supaya tidak terlihat cemburu atau semacamnya. Tapi percuma, rasa sesak di dadanya mencegah otak Rizky untuk berfungsi.


"Kenapa Mas??"


"Eh enggak apa-apa.. ini keingetan si Bapak nitip beli lampu neon!" Rizky tersadar dari lubang hitam yang menyedot jiwanya.


Rizky tiba-tiba memasukkan handphone ke saku celananya bersiap pergi dan berdiri. “Wah udah jam setengah sepuluh, nanti keburu tutup toko alat listriknya, aku permisi dulu ya, salam buat Emak!”


Rizky begitu terburu-buru pergi hingga Karina yang mengantarnya hingga pintu tidak sempat berkata, bertanya, atau lainnya.


Karina sedikit keheranan dengan tingkah Rizky yang mendadak pulang. Sejujurnya bukannya ia keheranan, ia hanya tidak menyangka akan sehebat itu reaksinya ketika tahu ia dan Romi sempat menonton film bersama. Padahal tidak ada yang serius ketika ia menonton berdua dengan Romi. Dan begitu pula ia belum menganggap ada yang serius antara dirinya dan Rizky.


Rizky tentu saja berperasaan sebaliknya...


Rizky memacu mobilnya dengan ngebut sementara jantungnya kini berdegup lebih kencang daripada ketika ia gugup membuat presentasi tentang tidak tercapainya target penjualann pada direktur perusahaan.


Otaknya mengajak hatinya melangkah kembali ke waktu dimana ia berani mengajak Karina makan malam. Memorinya menyusuri berkali-kali kenangan ketika ia mampir ke tempat Karina jauh lebih sering daripada biasanya hanya untuk bertemu dan berbicara pada Karina. Ia bahkan sengaja mengantar Karina pulang.


Untuk menenangkan hatinya ia berusaha menggapai kembali rasa bangga karena ia telah berhasil melewati tembok rasa canggung demi mendapatkan Karina.


Ia tidak bisa menerima sahabatnya sendiri tidak menghargai berbagai perjuangan dan hasil keberanian yang sudah ia dapatkan setengah mati.


Ini tidak bisa dibiarkan....


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2