
Rizky menyetir mobilnya dengan perasaan sumringah meski di sebelahnya Karina hanya diam memandangi garis pantai di sisi kirinya tanpa berbicara satu kata pun. Rizky paham perasaan Karina, melihat Romi berciuman secara langsung pasti sedikit banyak membuat Karina kecewa atau kesal. Yang manapun dari keduanya tentu saja tetap menguntungkan bagi dirinya.
Rencana Sofia benar-benar telah sangat menolong Rizky hari ini, jika ia bisa bertemu Sofia sekarang mungkin saja ia akan memeluknya erat.
Ketika Sofia mengirimkan pesan supaya ia membawa Karina keluar di pagi hari awalnya Rizky tak paham. Sofia hanya menjelaskan ia harus membawanya keluar tepat ketika Tias menelepon Rizky dan memastikan mereka harus melewati lorong kamar Romi. Rizky mematuhi petunjuk Sofia dan tak lupa dengan rencananya sendiri, dan sekarang ia tak menyesal telah melakukannya.
Sekarang tugasnya hanyalah satu, merubah kesialan Romi menjadi keberuntungan bagi dirinya.
Rizky melirik Sofia yang masih memandang dengan tatapan kosong keluar jendela mobil.
ini akan sedikit sulit...
Tak sampai sepuluh menit mereka berdua sudah tiba di sebuah cagar alam yang terletak di sisi jauh pantai. Hari masih cukup pagi untuk mereka hingga bisa mendapati cagar alam yang masih sepi, ini lebih baik daripada ketika ramai dan terganggu wisatawan yang lainnya. Suasana alamnya lebih terasa ketika sedikit pengunjung, lebih banyak hewan liar menampakkan diri, dan suara gemerisik dedaunan terdengar lebih syahdu.
Setelah membeli dua lembar tiket, mereka berdua berjalan memasuki gerbang yang sudah karatan itu dan masuk ke area taman utama sebelum menembus ke area hutan kecil di depannya. Rerumputan hijau yang sudah dipotong rapi hingga mirip lapangan sepak bola menyambut mereka.
"Udah pernah kesini?" Rizky membuka pembicaraan.
Karina menggeleng, pandangannya tertuju pada beberapa ekor kancil yang sedang makan rumput di kejauhan.
"Em... kamu sakit hati ngeliat Romi kayak gitu?"
"Enggak..." jawab Karina singkat, namun jelas ia terdengar tak jujur sepenuhnya.
"Terus kok ngelamun.."
"Kecewa aja.."
"Kecewa?"
Karina mengangguk, mereka berdua kini sudah memasuki jalan setapak yang dialasi batu-batuan yang arahnya masuk menembus hutan.
"Mmmm.. kecewa karena?"
"Karena mas Romi seharusnya udah berubah kan.. dia sendiri yang bilang.."
"Oya?"
__ADS_1
"Iya..."
"Tapi.. rasanya susah orang kayak dia berubah.." Rizky menyimpulkan sendiri, seulas senyum muncul di sudut bibirnya namun untungnya Karina tak melihatnya.
"Mungkin..." kata Karina pendek.
"Dia cocoknya ya sama cewek-cewek yang setipe sama dia... kalau dia dapet cewek yang jujur dan setia.. gak ada jaminan dia bakal setia sama pasangannya.. kamu juga pasti tahu itu kan.."
Karina terdiam tak menjawab, langkahnya lemas seperti langkah kungkang menyusuri dahan pepohonan.
Rizky merogoh ke dalam sakunya, memeriksa benda yang ia bawa sejak dari hotel. Kalau sampai hilang maka tamatlah semua rencananya. Meski dari nada bicara Rizky saat ini ia terdengar seperti orang yang percaya diri, namun hatinya sedang ciut seperti balon yang kehilangan anginnya. Beberapa kali Rizky melihat ke sekitarnya tanpa memerhatikan apapun. Ia hanya berharap mungkin saja bisa menemukan keberanian diantara rapatnya pepohonan.
Harus sabar.. gumamnya dalam hati sambil mengumpulkan keberanian dan menunggu momen yang tepat.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di sebuah tempat terbuka, pantai berpasir putih. Karena pantai ini lebih jarang dikunjungi maka disini lebih bersih dibanding pantai di depan hotel. Ukuran pantai itu mungkin hanya sebesar satu lapangan basket yang dilindungi bukit batu karang di kedua sisinya membentuk sebuah teluk kecil.
Rizky dan Karina duduk di sebatang kayu besar yang roboh karena usia.
Ombak disini tidak terlalu besar, hanya ombak-ombak kecil yang saling berlomba-lombah memecah diri di tepian pantai. Mereka berdua hanya duduk terdiam untuk beberapa lama, membiarkan suara alam mengisi kesunyian diantara mereka.
“Ayo sini!”
“Mereka bakalan sampai nikah gak?” mendadak Karina bertanya.
“Eh? Ya entahlah..” jawab Rizky ragu-ragu.
“Menurut kamu?” tanya Karina lagi sambil melirik Rizky di sebelahnya.
Jantung Rizky mogok bekerja untuk sedetik..
“Hm.. menurut aku mungkin aja.. mereka tampak senang dan bahagia berdua.. pasti mereka akan mengusahakan sekuat tenaga untuk sampai menikah..”
“Masuk akal...” kata Karina pelan kini mengalihkan perhatiannya kembali ke pasangan bahagia itu.
Sekarang waktunya Rizky!!!!
“Aku juga mau mengusahakan..” kata Rizky membulatkan tekadnya.
__ADS_1
Karina melirik lagi lelaki di sebelahnya itu, sekilas Karina bisa melihat kegugupan Rizky. “Mengusahakan apa?”
“Em..m...mmm... mengusahakan untuk menikah!”
Karina tertawa kecil melihat kegugupan Rizky, sembari menopang dagu di lutu Karina bertanya lagi “Menikah dengan siapa? Mas sudah punya pasangan?”
“K..k..kk karena itu.....”
Mendadak Rizky berlutut di hadapan Karina, di atas pasir putih di pagi hari yang cerah dan indah. Karina terkejut tapi ia tak lantas berdiri menghindar.
Rizky mengeluarkan sebuah kotak beludru dari sakunya..
“Karena itu.. mm..mmmm..m.m.m.mm..maukah kamu menikah denganku??”
Dari belakang mereka berdua, pasangan yang sedang bermain di pantai tadi tampaknya menyadari adegan yang sedang terjadi diantara Karina dan Rizky. ‘Ayoo kaaak teriiiimaa!!’ kata mereka bersahutan menyemangati Rizky.
Karina menatap cincin indah yang dipersembahkan Rizky padanya, ia lalu menatap jauh ke dalam mata Rizky yang terlihat sayu dan gugup.
Rizky bisa merasakan perutnya mulas dan kakinya gemetar seperti sedang dijemur di lapangan sekolah. Panas matahari kini terasa begitu menyengat punggungnya seperti ia tak mengenakan pakaian. Angin pantai yang tadi terasa menyenangkan kini terasa mengganggu telinga yang sedang menantikan jawaban Karina.
“Ini terlalu cepat....” kata Karina tersenyum manis pada Rizky.
Jantung Rizky kini terasa hilang ditelan lubang hitam. Napasnya mulai tidak beraturan.. Ditolak!!!
“Tapi kalau kita mau mengusahakan untuk bersama-sama menuju kesana aku bersedia mas..” lanjut Karina menutup kotak cincin di tangan Rizky dan menggenggam tangannya.
Kini seolah cahaya terang menerobos pikirannya yang sudah keruh. Napasnya perlahan kembali normal dan terasa nyaman. Gemetar di kakinya kini perlahan menghilang..
“Artinya... kamu.. mau... jadi.. pacarku?” Rizky memastikan.
Karina mengangguk sambil tersenyum.
“YESSS!!!”
Rizky melompat kegirangan berkali-kali. Belum pernah ia merasa langkahnya begitu ringan terasa. Kini panas matahari tak memengaruhinya lagi. Ia bersyukur angin berhembus kencang karena ia bisa menghirupnya banyak-banyak dan berteriak senang lebih keras lagi.
Pagi yang buruk untuk satu orang.. adalah pagi yang sempurna bagi orang lain..
__ADS_1
Rizky mendapatkan sisi yang sempurna...