Cinta (Tak)Butuh Kepastian

Cinta (Tak)Butuh Kepastian
Satu Porsi


__ADS_3

Sofia memainkan jemarinya di kemudi mobilnya dengan tidak sabar. Kakinya mengetuk-ngetuk pedal gas seperti pemain drum mengiringi musik. Untung saja mobilnya sedang parkir di sisi jalan.


"Jadi kita masuk?" ujar Tias dari sampingnya.


"Sebentar.."


Sofia memiringkan kaca spion tengahnya dan bercermin dengan gelisah.


Kenapa jadi gue yang gak tenang?


Rasa percaya diri Sofia yang kokoh seperti batu karang terasa goyah. Saat mengetahui Romi menyukai Karina ada perasaan tak nyaman merayap perlahan. Sedikit demi sedikit menggerogoti rasa percaya dirinya. Apalagi jika sampai Rizky khawatir, maka Romi mungkin serius menyukai gadis ini. Sofia iri sekali gadis ini mendapatkan sesuatu yang begitu ia inginkan tanpa harus banyak berusaha.


Mendadak Sofia menarik napas dan dengan mantap melangkah keluar mobilnya. Ia harus tahu dan harus melihat langsung gadis yang sepertinya istimewa ini.


"Eh tunggu,"


Tias buru-buru mengambil tasnya dari jok belakang dan pergi menyusul sahabatnya itu.


Sofia masuk kedalam warung yang sedang riuh oleh orang yang sedang makan lotek itu. Setelah melihat-lihat, kedua sahabat itu duduk di meja kecil dekat pojok, satu-satunya tempat yang masih kosong.


"Rame ya," Tias melihat ke sekeliling.


"Rame.. untung kita dapat tempat duduk," ujar Sofia sambil melihat selembar menu kecil sederhana berukuran A5 yang sudah di laminating.


Sofia mengangkat tangannya untuk memesan makanan. Dan seorang pria yang cukup berumur dengan senyum yang ramah menghampiri mereka berdua.


"Mau pesan mbak?" katanya sembari sedikit membungkuk sopan.


"Lotek aja ya mas, dua.."


"Minumnya?"


"Air mineral aja mas, dua..".


Sementara pria itu pergi untuk membuat pesanan Sofis, suara sendok dan garpu beradu mengisi keriuhan lalu lalang kendaraan di jalan. Beberapa orang sibuk makan tapi tak lupa diselingi membicarakan gosip-gosip terkini dari lingkaran temannya. Sesekali terdengar suara ulekan yang sedang menghancurkan kacang diatas cobek menembus keramaian.


Dan orang yang sedang mengulek bumbu kacang di atas meja itu tak lain adalah Karina. Dari sisi jauh Sofia bisa melihat dengan jelas penampakan Karina yang sedang sibuk bekerja.


Sofia memperhatikan dengan seksama sosok gadis yang giat bekerja itu. Rambutnya yang panjang diikat kebelakang menghindari helai rambut jatuh ke makanan. Ia mengenakan T-shirt berwarna cokelat yang ditutupi oleh celemek lusuh bermotif garis-garis berwarna biru. Beberapa noda bumbu yang menempel di pakaiannya menjadi tanda betapa sibuknya ia siang itu. Yang menarik bagi Sofia adalah gadis ini tidak mengenakan make up, tentu saja pekerjaan seperti ini memakai make up tidak begitu cocok. Tapi meski demikian wajah cantiknya tampak selalu ceria dan tersenyum. Bahkan ketika ada konsumen yang mengomel karena uang kertas kembaliannya ada yang sedikit sobek, ia menukarnya dengan yang bagus masih dengan senyuman yang khas.


"Cantik lho," Tias nyeletuk.

__ADS_1


"Iya.."


"Lho malah iya!"


"Fakta kan itu, gue gak mau munafik gak ngaku dia cantik.. tapi bukan berarti dia lebih superior daripada gue.."


"Mestinya kita bawa Sarah.."


"Enggak.. belum.."


"Kan bisa pakai rencana biasa.. jadi ni cewek gak akan mau lagi sama Romi."


"Belum waktunya.."


"Nanti malah Romi nembak dia lho.."


"Kalau memang gitu ya udah, tapi gue ada rencana lain.."


"Tetep pakai Sarah?"


Sofia mengangguk..


"Jadi kapan?"


Tias kebingungan melihat sikap sahabatnya itu kali ini. Biasanya Sofia selalu aktif menggunakan cara agresif untuk menghilangkan orang-orang yang 'tidak layak' bagi Romi. Tapi pasti ada logika dan alasan yang tepat dipikirkan Sofia. Setidaknya itu yang Tias pikirkan.


Sejurus kemudian makanan mereka sudah tiba di atas meja. Sofia mencicipi lotek yang terlihat segar dan enak.


Enak.. apa ini juga yang bikin Romi suka sama dia.. tapi gue juga jago masak kok..


"Gimana kemaren mbak, seru gak filmnya??" tanya mbak Yuli sambil memotong sayuran.


"Seru, aku gak suka film kayak gitu sih, tapi ya seru.. karena baru peluncuran pertama jadi banyak acara, seru deh."


"Yang bikin seru acaranya atau mas Romi hahaha," mas Parjo menggoda Karina sembari membawa nampan dengan dua es teh di atasnya.


"Idih, ya gak gitu! haha."


Percakapan seru itu terdengar oleh Sofia yang masih memakan loteknya. Sebagian besar pengunjung lain sudah pulang jadi percakapan mereka terdengar jelas.


Sofia berkonsentrasi lebih banyak untuk mendengar, ia berhenti makan dan hanya minum saja.

__ADS_1


"Nanti mas Rizky ngambek lho," mbak Yuli mengingatkan.


"Lho apa urusan dia.."


"Bukannya mas Rizky pacaran sama mbak?" mas Parjo menyahut.


"Enggak.. cuma ngajak makan aja kok.. sama nganter pulang beberapa kali.."


"Itu tandanya dia suka lho mbak.." kata mbak Yuli yang kini duduk santai karena konsumen sudah mulai sepi. Sementara itu mas Parjo menghilang ke belakang untuk mencuci piring.


"Ya kalau suka mestinya dia bilang toh."


"Bener sih mbak.."


"Iya dong.. kita kan butuh kepastian.. kan nanti jangan-jangan kita sudah berharap karena percaya kalau dia suka sama kita.. eh ternyata gak jadi.."


"Jadi gantung ya mbak.."


"Iya.. kalau kepastian aja enggak ada, gimana mau memperjuangkan hubungan."


Mbak Yuli mengangguk-ngangguk seperti sedang berpikir..


Dua orang konsumen terakhir berdiri menghampiri Karina untuk membayar. Setelah itu mereka berdua berjalan kembali ke mobilnya.


"Cantik-cantik ya," Karina memuji kedua orang barusan.


"Ah cantikan mbak," kata mbak Yuli sambil mengacungkan jempol.


"Ini muji pengen dikasih bonus ya haha!"


"Ya ndak mbak, betul lho tapi, mbak Karina gak kalah cantik sama mereka."


"Tapi kalah duitnya," sahut Karina sambil menunjuk ke arah mobil yang ditumpangi mereka berdua. "Mestinya orang kayak mereka yang cocok sama mas Rizky.."


"Mbak juga cocok, tapi kebanyakan merendah mbak ini."


Karina tertawa kecil mendengar mbak Yuli membela dirinya.


Sofia dan Tias pergi menjauhi tempat gorengan dan lotek Karina. Dalam hati Sofia senang bisa mampir di tempat itu. Untung saja tempo hari Rizky dengan gembira memberikan alamat tempat itu. Karena selama ia mengikuti Romi, tempat ini belum pernah ia sambangi. Dan ia jadi tahu Karina itu seperti apa.


Bukan karena ia peduli, ia hanya sekedar ingin tahu saja. Sekedar memuaskan rasa penasaran ingin melihat gadis yang Romi sukai. Sofia mengakui Karina memiliki beberapa kualitas yang cocok diperjuangkan seorang lelaki. Itu sedikit banyak membuatnya semakin menyukai Romi. Atau lebih tepatnya semakin berhasrat untuk mengambil Romi untuk dirinya seorang.

__ADS_1


Sudah dua orang yang membuat Sofia merasa tak nyaman dan semakin menggebu mendapatkan Romi. Asteria yang tampak teguh mempertahankan Romi meski sudah memakai trik Sarah. Dan Karina yang Romi sukai hingga bersaing dengan sahabatnya sendiri.


Namun kembali lagi semua tak begitu penting. Karena yang paling penting bagi Sofia tentu saja adalah rencana akhirnya..


__ADS_2