Cinta (Tak)Butuh Kepastian

Cinta (Tak)Butuh Kepastian
Pantai III


__ADS_3

07.00...


Biasanya jika di hari normal, pada waktu ini Romi belum lagi bangkit dari dunia mimpinya. Jam tujuh! itu terlalu pagi baginya untuk memulai aktifitas, terlalu pagi untuk mengangkat punggungnya dari kasur yang empuk, matanya terlalu berat untuk terbuka.


Tapi hari ini adalah hari yang spesial! 22 Desember.. ini hari ulang tahun Karina! (ulang tahun Rizky sahabatnya juga tapi ia tak peduli). Dan pagi jam tujuh ini ia bahkan sudah mandi pagi dan segar~~~~. Andai ibunya tahu, beliau akan terharu Romi bisa bangun sepagi ini dan sudah siap untuk menjalani hari.


Ia mestinya segera berganti pakaian dan bersiap untuk sarapan di restoran hotel. Namun yang Romi lakukan meskipun ia sudah mandi hanyalah berdiri memandangi buket bunga indah yang ia letakkan di atas meja.


Sesekali ia mengusap dagu mulusnya yang telah bercukur bersih dari jenggot tipisnya, pandangannya menyapu setiap milimiter buket bunga itu seperti seorang ibu yang sedang memeriksa anaknya berangkat sekolah.


Apa ini cukup bagus? Apakah warnanya udah cocok? Apa bunga mawar cukup bagus? Apakah mawar merahnya terlalu banyak? Atau lebih baik kemarin gue pilih bunga tulip aja? Karina bakalan suka gak ya? Apa dia malah bakal bilang gue itu lebay bawa-bawa bunga~~~~!?


Buket bunga itu tiba di hotel tepat jam sebelas malam semalam sesuai dengan pesanan. Romi memberikan tips ekstra untuk usaha mereka mengirimkan bunga itu malam-malam.~~~~


Romi berjalan berpindah ke sisi kiri buket bunga itu, lalu ia melihat bagian sisi kanannya, tak cukup itu saja ia memutar buket bunga itu hingga dua kali. Mencari kesalahan yang sebetulnya hanya bersumber dari rasa tidak percaya dirinya. Ini adalah kali pertama setelah sekian lama ia tak pernah memberikan bunga pada perempuan. Dan ini terasa begitu canggung! Romi merasa seperti anak sekolah culun~~~~ yang hendak menembak gadis pujaannya.


Ia kemudian berjalan berkeliling ruangan.. sesekali ia memeriksa waktu di handphone nya..


Acara dimulai jam 11.. entah bagaimana gue harus udah nembak Karina sebelum jam segitu..


Romi lalu mengintip keluar jendela kamarnya. Suasana diluar masih lengang karena ini masih terlalu pagi.


Melakukan rencananya di tempat terbuka hanya akan menarik perhatian yang tidak diperlukan. Terutama ia menghindari perhatian dari Rizky.. bisa-bisa orang itu menggagalkan rencananya seperti semalam. Ia ingin menembak Karina dalam suasana yang lebih personal. Lagipula jika melakukannya di depan umum mungkin saja keberaniannya akan rontok! Romi mungkin berpengalaman dengan perempuan, tapi ini adalah saat yang spesial. Ia amat sangat menganggap ini adalah untuk satu-satunya dan mungkin bila berjodoh.. selamanya.~~~~


Cih!.. Romi masih kesal dengan Rizky yang mengacaukan pernyataan cintanya semalam. Ia lalu mengambil handphonenya.


Lebih baik aku ke kamarnya langsung.. lebih privat.. dan bakal jadi kejutan buat si Rizky..


Romi ingin Rizky terkejut nanti karena Karina tiba-tiba saja sudah menjadi miliknya dan menolak pernyataan cinta Rizky. Membayangkannya saja sudah membuat dirinya tertawa-tawa sendiri. Ia jadi merasa sedikit jahat... tapi jika ia tak melakukannya mungkin saja ia akan kehilangan Karina selamanya.. ~~~~


Sebelum Romi sempat mengirimkan pesan pada Karina pintu kamar hotelnya diketuk.


Dengan imajinasi wajah Rizky yang terkejut Romi berjalan menuju pintu, wajahnya masih berseri-seri membayangkannya.


Ini bakalan sempurna.. harus sempurna!



Romi membuka pintu.



"Sofia..!??!!?"



Matanya melotot melihat Sofia berdiri di depan pintunya. Jantungnya kini berdegup kencang, bukan karena cinta tapi karena amarah.



"Mau ngapain kesini??" kata Romi ketus. Masih untung Sofia tidak mendapati pintu yang dibanting karena Romi masih bisa menahan diri.~~~~



"Aku mau minta maaf..." ujar Sofia sambil menunduk.

__ADS_1



Romi berjalan bolak-balik berusaha meredam sisi dirinya yang ingin melompat pergi menjauhi sosok yang mengesalkan ini.



"Ya udah aku maafin.. oke? *finnish*!? gak usah deket-deket lagi.."



Romi hendak menutup pintunya  ketika a~~~~ir mata Sofia menetes deras seketika saat mendengar ucapan Romi.



Romi menundukkan kepalanya, jemarinya masih menggenggam pintu namun tak jadi ia tutup. Romi mengalihkan matanya pada karpet di lorong hotel itu, ia enggan melihat Sofia menangis tersedu-sedu.



Perlahan amarahnya mereda karena tangisan Sofia yang terdengar begitu menyedihkan..



"Aduuuh..." Romi mengusap wajahnya tak percaya.



Apa yang harus ia lakukan? ini diluar dugaannya.




Amarah Romi masih ada, meski tidak semembara tadi pertama kali meliat Sofia. Ia merasa kasihan sekarang.. Merasa kasihkan karena Romi merasa Sofia tidak berbeda dengan dirinya yang sedang mencintai Karina.



Romi pun bahkan rela menyalip sahabatnya untuk mendapatkan Karina.



Hatinya ciut memikirkan kesamaannya dengan Sofia...



*Aku tidak lebih baik dari perempuan ini.. mungkin lebih buruk*.. ketetapan hatinya untuk menyatakan cinta pada Karina sedikit goyah.



"Maaf..."



"Udah gak usah minta maaf lagi.." kata Romi sedikit melembut.


__ADS_1


Seketika Sofia memeluk Romi erat-erat.. Romi membiarkannya.. Mengusirnya dengan lebih kasar tidak akan membuat perasaannya lebih baik.



Sementara dada mereka bersentuhan, Romi bisa merasakan degup jantung Sofia. Setiap tarikan napas Sofia ketika menangis terasa di pelukannya. Bahkan jemari Sofia yang mengenggam kaus Romi dengan erat terasa menyedihkan.



"Maaf...." kata Sofia lemah sekali lagi. Ia menengadah melihat wajah Romi..



Romi memandang mata Sofia.. Hati Romi kini tak keras lagi.. Ia tak tahan melihat matanya yang berlinang air mata.. Romi tak pernah menghadapi wanita yang menangis begitu hebat di hadapannya seumur hidup.. Kini justru perasaannya yang ikut meleleh bersama air mata Sofia.. Sejak dulu Romi memang lemah terhadap perempuan.. dan ini belum berubah...



Wajah Sofia mendekat.. Romi sempat mundur untuk menghindar tapi Sofia lebih cepat..



Bibir mereka bersentuhan.. Romi tak membalas mencium hanya membiarkan bibir lembut Sofia menempel..



"Terima kasih..." gumam Sofia..



Dan secepat ia datang secara tiba-tiba, Sofia pergi menjauh dari pintu kamar Romi.



Romi menghela napas panjang... Ia bersyukur Sofia telah pergi menjauh.. Sungguh Romi tak menyangka wanita itu akan nekat mendatanginya.. mungkin untuk terakhir kali... semoga!



Romi pun masuk kembali ke dalam kamar dan menutup pintunya dengan lemas.



Di pojok lorong kamar Romi berada, mengintip dari balik tembok, seseorang menyaksikan kejadian di depan pintu itu dengan tatapan tak percaya. Sebelumnya ia telah percaya Romi telah berubah menjadi orang yang lebih baik. Menjadi seseorang yang mungkin saja telah lama ia idamkan diam-diam. Tapi ciuman itu merubah semuanya.. kini Romi masuk dalam jurang daftar jenis lelaki terburuk di hatinya..



Karina melengos pergi dengan perasaan kecewa... setitik air mata menetes tanpa terasa di pojok matanya..



"Lho Karina!!" Rizky pura-pura berusaha memanggil selagi Karina berjalan cepat menjauh.



"Ayo mas kita berangkat sekarang," kata Karina ketus sambil terus berjalan.


__ADS_1


Rizky tersenyum puas.. Ternyata rencana Sofia memang sangat luar biasa...


__ADS_2