
" Albert.... Albert." Teriak Naren saat ponselnya mati.
Tanpa Dara ketahui jika Albert memanggil Naren dengan panggilan video.
" Kenapa Den?" Tanya bi Minah.
" Aku harus menyusul Dara Bi, Dara dalam bahaya, Albert hendak melecehkannya." Sahut Naren menarik kasar rambutnya.
" Astaga... Gimana ini Den? Saya tidak mau Non Dara kenapa napa, tapi kalau mau menyusul mereka, kita kan tidak tahu dimana mereka sekarang Den?" Ujar bi Minah cemas.
Naren mencoba mengotak atik ponselnya mencari tahu lokasi mereka namun sayang, Albert menonaktifkan gpsnya.
" Ah sial! Dara... Kenapa kau membahayakan dirimu sendiri demi aku, bagaimana jika Albert berhasil memaksakan kehendaknya Bi? Apakah aku akan kehilangan Dara? Hiks.." Naren mengusap air matanya.
" Kita berdoa saja Den, semoga Non Dara baik baik saja." Ucap bi Minah.
" Aku akan memberikan Albert pelajaran jika dia berani menyentuh Dara, akan aku bunuh dia." Geram Naren mengepalkan erat tangannya.
Di tempat lain, tepatnya di dalam kamar Albert. Dara bernafas lega saat tiba tiba Albert tidak sadarkan diri di atas tubuhnya. Ia mendorong tubuh Albert ke samping lalu menyelimuti nya.
" Hah kau membuat jantungku hampir copot, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika kau masih sadar Albert, Ya Tuhan... Terima kasih telah menyelamatkan aku dari pria jahat seperti Albert." Monolog Dara.
Drt.. Drt...
Ponsel Dara bergetar, ia segera menerima panggilan dari Naren.
" Halo Mas." Sapa Dara.
" Dara, hiks.... Apa kamu baik baik saja? Apa Albert berhasil memaksakan kehendaknya kepadamu? Apa dia menyakitimu? Hiks... Katakan Dara, apa dia berhasil menyakitimu?" Pertanyaan Naren membuat Dara mengerutkan keningnya.
" Darimana kau tahu jika Albert hendak menyentuhku Mas?" Bukannya menjawab, Dara malah balik bertanya.
" Albert video call tadi, dan aku melihat semua yang ia lakukan kepadamu Dara, hiks... Aku melihat dia menciummu dengan paksa, tapi sebelum aku melihat kelanjutannya tiba tiba ponselnya mati, kamu baik baik saja kan?" Tanya Naren memastikan sambil terisak.
" Ternyata dia ingin menjebak ku, tidak semudah itu Albert." Batin Dara.
" Dara, katakan apa kau baik baik saja? Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri kalau sampai kau di sakiti oleh Albert, Dara." Ujar Naren.
" Tenanglah Mas! Aku baik baik saja, Albert tidak sadarkan diri setelah menciumku, saat ini dia sedang terbaring di atas kasur." Sahut Dara.
" Syukurlah!" Ucap Naren bernafas lega.
" Dara, aku mohon hentikan misi konyol mu ini! Kau membahayakan dirimu sendiri, lebih baik kita cari Mama sama sama, aku tidak mau kejadian seperti ini terulang lagi Dara, aku mohon berhentilah! Kita sudahi semuanya sampai di sini, jauhi Albertn Kita akan melawannya bersama, jangan mempertaruhkan dirimu lagin Aku tidak mau kehilanganmu Dara." Ujar Naren.
" Mas tenanglah dulu! Kamu tidak perlu secemas itu, aku bisa menjaga diriku dengan baik, aku tidak pa pa Mas." Ujar Dara.
" Lagian kalau kamu mau mencari Mamamu, memangnya kamu mau cari kemana? Apa kamu tahu dimana mereka menyekap Mamamu?" Tanya Dara.
Naren berpikir sejenak, ada benarnya juga ucapan Dara.
" Tidak Dara, aku tidak tahu dimana Mama berada saat ini." Sahut Naren sedih.
__ADS_1
" Itulah sebabnya aku harus terus maju Mas, aku sudah dapat info dari Albert dimana mereka menyekap Mama kamu Mas...
" Dimana mereka menyekap Mamaku Dara?" Tanya Naren memotong ucapan Dara.
" Ada di ruang bawah tanah Mas, apa kamu tahu dimana ruangan itu? Kalau kamu tidak tahu, kamu tanyakan saja kepada bi Minah, kau bisa membebaskan Mama kamu saat ini juga, aku akan mengurus Albert di sini, kau bekerja samalah dengan bi Minah dengan baik, ok?" Ujar Dara.
" Baiklah." Sahut Naren.
" Ingat satu hal Mas, lakukan dengan rapi! Jangan sampai nyonya Melinda mengetahuinya." Ucap Dara.
" Aku akan hati hati." Sahut Naren.
" Ya sudah aku matikan teleponnya Mas, aku mau istirahat, ngantuk." Ucap Dara.
" Baiklah, hati hati! Aku akan melakukan sesuai perintahmu, selamat malam, semoga mimpi indah." Ujar Naren.
Setelah mematikan teleponnya, Dara membaringkan badannya di sofa.
" Semoga kau berhasil Mas." Batin Dara memejamkan matanya.
Naren menatap bi Minah begitupun sebaliknya.
" Kenapa Den? Apa Non Dara baik baik saja?" Tanya bi Minah.
" Dara baik baik saja Bi, Albert tidak sadarkan diri setelah itu." Bi Minah bernafas lega.
" Bi, apa Bibi tahu dimana ruangan bawah tanah?" Tanya Naren.
" Lalu yang dimaksud Albert, ruangan bawah tanah mana ya Bi?" Ujar Naren.
" Saya tidak tahu Den." Sahut bi Minah.
" Kalian sedang apa di sini? Kenapa Naren belum tidur? Apa kau belum memberikan obatnya?" Tanya nyonya Melinda yang tiba tiba masuk ke kamar Naren.
" Ini saya baru membujuk Den Naren untuk minum obat Nya, dia mau minum kalau Non Dara yang menyuruhnya, dan saya baru saja menelepon Non Dara." Sahut bi Minah.
" Ya sudah, berikan saja obatnya, Bibi kembali ke kamar saja, kalau nanti dia menangis lagi, aku akan menambahkan dosisnya." Ucap nyonya Melinda.
" Iya Nya." Bi Minah keluar dari kamar Naren.
" Ingin sekali aku memaksanya untuk mengatakan dimana ruangan bawah tanah itu." Monolog Naren.
Naren merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia mencoba mengingat ingat barang kali di sekitar rumahnya ada ruangan bawah tanah.
Sekilas bayangan Ia dan Albert kecil terjebak di ruangan gelap melintas di kepalanya. Ia mencoba mengingat dimana letak ruangan itu namun nihil, ia sama sekali tidak mengingatnya. Kepalanya justru terasa sangat sakit.
" Ruangan bawah tanah itu ada, tapi aku belum bisa mengingatnya dimana, pelan pelan saja aku pasti bisa mengingatnya, Mama bersabarlah sebentar lagi, aku akan membantu Dara mengungkap misteri ini." Monolog Naren.
...****************...
Albert mengerjapkan matanya, ternyata hari sudah pagi. Ia memperhatikan sekeliling dimana Dara sudah tidak ada di kamarnya.
__ADS_1
" Dara.... Kemana Dara?" Albert langsung turun dari ranjangnya.
Ia berlari menuruni anak tangga mencari Dara di dapur. Dan benar saja, Dara sedang membuat nasi goreng.
Grep...
Albert memeluk Dara dari belakang, Dara memutar bola matanya malas.
" Kau mencoba membuat hubunganku dengan Mas Naren renggang dengan menjebak ku, sekarang kau akan lihat bagaimana aku menjebakmu ke dalam permainanku." Ujar Dara dalam hati.
" Lepas!" Bentak Dara mendorong Albert.
" Sayang... Kamu... " Albert menjeda ucapannya melihat kilatan amarah di mata Dara.
" Jangan pernah berani menyentuhku lagi! Aku tidak sudi di sentuh olehmu, mulai detik ini kita putus...
Jeduarrrrr
" Kita tidak ada hubungan apa apa lagi." Sambung Dara.
Tubuh Albert menegang. Ia tidak mau putus dengan Dara. Ia sangat mencintai Dara dan tidak mau kehilangannya.
" Tidak! Aku tidak mau putus denganmu sayang, aku sudah memimpikan indahnya pernikahan kita, aku tidak mau kehilanganmu begitu saja." Ucap Albert.
" Aku tidak suka dengan pria yang tidak menghormati wanita, semalam kau berusaha melecehkan ku Albert, aku tidak nyaman berada di sekitar orang orang sepertimu." Ucap Dara menatap Albert.
" Tidak sayang... Aku tidak berniat melecehkanmu, aku hanya ingin membuat Kak Naren menjauhimu karena berpikir kau sudah ternoda olehku, tapi malah aku tidak sadarkan diri dan tidak ingat apa apa." Terang Albert.
" Apa benar pria polos seperti ini bisa berbuat jahat dengan Mas Naren dan ibunya? Aku rasa nyonya Melinda telah mempengaruhinya." Batin Dara.
" Sayang maafkan aku! Aku berjanji tidak akan menyentuhmu tanpa seizinmu, tapi aku mohon maafkan aku, aku minta maaf sayang, aku tidak mau putus denganmu, maafkan aku." Albert menggenggam tangan Dara.
" Dasar bucin." Umpat Dara dalam hati.
" Aku akan memaafkanmu asalkan kamu mau membawaku berkeliling ke rumahmu, aku ingin tahu ada ruangan ruangan apa saja di sana! Jadi setelah kita menikah nanti, aku sudah hafal setiap sudutnya." Ucap Dara tersenyum smirk.
" Baiklah, sepulang dari sini aku akan mengajakmu, kita baikan?" Albert mengulurkan tangannya.
" Baiklah, baikan." Sahut Dara.
" Sebentar lagi aku akan menemukan dimana ruang bawah tanah itu, semoga aku bisa segera menemukanmu nyonya Arkana." Ujar Dara dalam hatinya.
Yang udah ngira Dara kenapa napa kecewa nggak nih?
Jangan lupa tekan like koment vote dan kasih 🌹nya buat author biar author tetap semangat...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...
Miss U All....
TBC....
__ADS_1