Cinta CEO Amnesia

Cinta CEO Amnesia
Pertunangan


__ADS_3

Dara menatap semua orang secara bergantian. Ia masih tidak percaya jika ternyata dialah gadis yang di jodohkan oleh nyonya Arkana.


" Ini bukan mimpi kan?" Tanya Dara memastikan.


" Bukan." Sahut Naren.


Tiba tiba Dara beranjak mendekati Naren, lalu ia langsung memeluk Naren.


" Aaa aku sangat bahagia akhirnya aku tidak akan melihatmu menikah dengan wanita lain." Pekik Dara.


Naren membalas pelukan Dara. Untuk sesaat keduanya saling berpelukan sampai Naren sadar jika ada orang lain di sana.


" Kamu tidak malu memelukku di depan ayahmu?" Bisik Naren.


Dara melepas pelukannya menatap Naren.


" Kenapa harus malu? Orang aku cuma meluk kamu doank! Kamu bahkan sering mencuri ciuman di pipiku." Sahut Dara.


Naren menggaruk kepalanya yang tidak gatal melirik ke arah pak Rohman dan mamanya. Sedangkan pak Rohman dan nyonya Arkana saling melempar senyuman.


" Dara, duduk sini Nak!" Ucap nyonya Arkana.


" Iya, bu." Sahut Dara.


" Mulai sekarang jangan panggil ibu, tapi Mama sama seperti Naren memanggiku." Ujar nyonya Arkana.


" Baik Ma." Sahut Dara.


" Mama masih tidak menyangka jika gadis yang akan menjadi menantu Mama itu adalah kamu, Nama yakin kebaikanku ini pasti menuruni ibumu." Ucap nyonya Arkana.


" Kata Ayah si begitu." Sahut Dara.


" Pertunangan kalian akan berlangsung besok di rumah kami, kami akan menyewa WO ternama untuk mempersiapkannya dalam waktu singkat ini." Ucap nyonya Arkana.


" Sebentar Ma! Saya belum tahu perasaan Mas Naren kepadaku gimana, dia menikahi ku karena perjodohan ini atau karena dia merasa berhutang budi padaku? Aku ingin memastikan perasaanya dulu Ma." Ucap Dara.


" Naren, katakan bagaimana perasaanmu kepada Dara! Supaya Dara tidak ragu untuk menerima lamaranmu ini." Ucap nyonya Arkana menatap Naren.


Naren menghela nafasnya pelan. Ia duduk di samping Dara lalu menggenggam tangannya.


" Dara, sejak pertama kita bertemu aku merasa kagum kepadamu, kau mau berteman dengan pria tidak waras sepertiku, kau merawatku dengan baik, kau memberiku makan, mengajakku jalan jalan dan itu semua membuat aku semakin kagum kepadamu, seiring berjalannya waktu, bukankah aku mengatakan padamu kalau aku menyukaimu? Aku sering bilang padamu kalau aku sudah sembuh nanti aku akan menikahimu, aku tidak sedang bercanda saat itu, itu karena perasaan cinta yang ada dalam hatiku, aku ingin menikah denganmu bukan karena rasa ingin membalas budi baikmu, tapi karena aku ingin kau menjadi milikku, aku ingin kau selalu ada untuk mendukungku seperti selama ini, aku mencintaimu tulus dari dalam hatiku, maukah kau menikah denganku dan menghabiskan sisa umurmu bersamaku?" Naren menatap Dara yang saat ini tersenyum manis ke arahnya.


" Jika memang cinta alasan kita menikah, aku menerimanya, aku mau menghabiskan sisa hidupku bersamamu, aku akan merawatmu dengan penuh kasih dan cinta, dan semoga cinta akan abadi selamanya, lelaki tuaku." Sahut Dara membuat Naren cemberut.

__ADS_1


" Ih kok cemberut gitu sih." Ujar Dara.


" Nggak perlu ada kata kata lelaki tua Dara, aku masih muda kok, umumnya memang lelaki menikah di usia ke tiga puluh kan? Kamunya aja yang masih bocil." Ucap Naren.


" Udah tahu bocil masih mau di nikahi." Cebik Dara.


" Tapi cinta." Sahut Naren.


" Kamu ini Mas." Dara mencubit perut Naren.


" Awh sakit Dara." Pekik Naren.


" Biarin!" Sahut Dara.


" Awas ya! Aku balas kamu." Ucap Naren hendak menggelitik Dara.


" Eh jangan! Jangan! Peace!" Dara menunjukkan dua jarinya.


" Sudah sudah... Bocil sama lelaki tua jangan bertengkar lagi, sekarang mendingan kamu bersiap Dara, sekalian kamu ikut kami untuk mempersiapkan acara pertunangan kalian." Ucap nyonya Arkana.


" Ayah juga ikut?" Tanya Dara.


" Iya lah, siapa yang mau menikahkan kita nanti kalau ayah tidak ikut." Ucap Naren.


Setelah Dara dan ayahnya bersiap, Naren melajukan mobilnya menuju kota kembali.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam ini adalah hari pertunangan Dara dan Naren. Mereka menggelar acara ini di rumah Naren yang sudah di sulap bak istana megah. Para tamu undangan kebanyakan dari para kolega bisnis NK Group.


" Selamat tuan Naren, semoga lancar hingga ke pelaminan." Ucap tuan Romeo.


" Terima kasih Tuan." Sahut Naren.


" Saya tidak menyangka ternyata anda suka daun muda." Canda tuan Romeo.


" Anda bisa saja Tuan, aku bukan suka usianya tapi aku suka sifatnya yang begitu dewasa." Sahut Naren.


" Kau benar tuan Naren, buat apa usia tua kalau sikap masih kekanak kanakan, yang ada makan hati setiap hari." Ucap tuan Romeo.


" Iya Tuan, itu sebabnya saya memilih Dara." Ujar Naren.


" Baiklah saya ke sana dulu tuan Naren." Ucap tuan Romeo.

__ADS_1


" Silahkan." Sahut Naren.


Naren dan Dara kembali duduk di kursinya. Albert datang menghampiri mereka. Keduanya kembali berdiri.


" Selamat Kak, semoga kalian bahagia." Albert memeluk Naren.


" Terima kasih, maafkan aku! Bukannya aku merebut Dara darimu tapi memang Dara milikku." Ucap Naren.


" Tidak apa Kak." Sahut Albert.


Albert berpindah memeluk Dara. Tak terasa air matanya tumpah begitu saja.


" Hiks... Kau membuat aku benar benar merasa sendiri Dara, kau membuatku tidak punya tujuan hidup lagi, aku harus kemana Dara? Apa yang harus aku lakukan tanpa dirimu? Besar harapanku untuk bisa bersamamu, namun kau sudah menghancurkannya hiks.... Aku harus apa Dara? Rasanya sangat berat mengikhlaskanmu dengan kakakku sendiri, hatiku sakit Dara... Padahal aku sudah tahu jika akhirnya akan seperti ini, tapi tetap saja rasanya sangat sakit." Ucap Albert.


Tak kuasa menahan kesedihannya, Dara juga ikut menangis. Keduanya saling menangis meluapkan perasaan mereka masing masing.


Naren membiarkan keduanya meluapkan isi hati mereka, toh Dara belum resmi menjadi istrinya, ia tidak mau Dara berpikiran jika dia mengekang Dara ataupun bersikap posesif padanya.


" Maafkan aku Kak! Aku tidak bermaksud menyakitimu Kak, bukankah dari awal aku tidak pernah membalas ungkapan cintamu? Kau sendiri yang memaksaku menerimamu, aku sudah mencoba untuk membalas perasaanmu tapi apalah dayaku jika rasa cintaku sudah aku berikan kepada Mas Naren Kak, maafkan aku, aku tidak bisa membalas perasaanmu." Ucap Dara mengusap air matanya.


Albert melepas pelukannya, ia mengusap air mata Dara.


" Maafkan aku telah membuatmu menangis, sekarang tersenyumlah! Aku akan berusaha untuk ikhlas menerima takdirku seperti kamu yang selalu berusaha ikhlas menerima takdirmu, terima kasih telah hadir dalam hidupku, terima kasih atas pelajaran hidup yang kau ajarkan kepadaku Dara, aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu, semoga kau bahagia." Ucap Albert mengelus kepala Dara.


" Terima kasih Kak." Ucap Dara.


Albert meninggalkan Naren dan Dara. Naren menatap Dara dengan tatapan yang sulit di artikan.


" Jangan salah paham Mas! Aku hanya terbawa emosi saja, aku merasa bersalah karena telah memanfaatkan orang sebaik Kak Albert, aku tidak menyangka jika dia begitu menyayangiku, aku tidak tahu bagaimana caranya aku bisa menebus rasa bersalah ku kepadanya." Ucap Dara.


" Hiduplah bahagia denganku, pastikan Albert tidak pernah menyesal karena telah melepaskanmu untukku, jangan berikan dia peluang untuk mengeluh kepadaku, kalau kamu tidak bahagia hidup bersamaku." Ucap Naren.


" InsyaAllah Mas, semoga apa yang kita harapkan akan menjadi kenyataan." Ucap Dara.


" Tentu sayang." Naren menyandarkan kepala Dara ke pundaknya.


Keduanya akan saling mengerti perasaan masing masing. Naren yakin dia akan hidup bahagia bersama dengan wanita sebaik Dara.


Jangan lupa like koment vote dan 🌹nya buat author...


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...


Miss U All..

__ADS_1


TBC......


__ADS_2