
Pagi hari Zelin mengerjapkan matanya. Ia menatap Albert yang saat ini tidur memeluknya. Ia menyunggingkan senyum bahagianya.
" Aku sangat bahagia Mas, akhirnya kita bisa bersama dalam ikatan pernikahan." Gumam Zelin.
Zelin memajukan wajahnya lalu...
Cup...
Zelin mengecup pipi kiri Albert.
" Aku mencintaimu." Ucap Zelin.
Albert mengucek matanya, ia menatap Zelin yang saat ini sedang menatapnya.
" Pagi Mas Al." Sapa Zelin.
" Pagi sayang." Sahut Albert.
Albert menarik Zelin ke atas tubuhnya. Ia mengunci pinggang Zelin.
" Mas.... " Ucap Zelin.
" Apa sayang?" Albert merapikan rambut Zelin.
" Aku mau mandi, lepaskan aku!" Ucap Zelin.
" Tidak akan aku lepaskan! Kecuali kalau kamu mau memberikan ciuman selamat pagi untukku." Sahut Albert.
" Lha tadi sudah." Ujar Zelin.
" Apa itu? Itu mah cuma kecupan doank, bibir baru nempel udah di angkat." Sahut Albert.
" Kamu ini ada ada aja Mas." Kekeh Zelin.
Albert membalikkan posisi mengukung tubuh Zelin.
" Mas mau ngapain? Jangan seperti ini! Nanti itu kamu menegang gimana? Kan aku belum bisa menerimanya, pintuku masih aku kunci rapat rapat." Ujar Zelin.
" Hah iya... Aku harus menunggu seminggu lagi." Albert menghela nafasnya pelan.
" Tapi nggak pa pa.. Kalau nggak itu ya ciuman aja nggak apa, hitung hitung buat semangat menyambut pagi hari." Sahut Albert.
Albert mencium bibir Zelin dengan lembut. Zelin mengalungkan tangannya ke leher Albert. Mereka saling merasakan sensasi panas dingin di pagi hari.
Di rasa keduanya kehabisan nafas, Albert melepas pagutannya. Albert mengusap lembut bibir Zelin dengan jempolnya.
" Udah semangat kan?" Tanya Zelin.
" Belum... Kalau belum itu belum semangat, masih lemas sayang." Sahut Albert.
" Iya sabar! Nunggu satu minggu lagi." Sahut Zelin.
" Acara bulan madu yang sudah aku rancang harus gagal gara gara tamu tak di undangan itu." Albert menatap Zelin.
" Ya mau gimana lagi? Lagian aku juga kalau lagi gini malas kemana mana, bawaannya pengin rebahan terus di atas kasur." Ujar Zelin.
" Apa kamu tidak merasakan sakit saat sedang datang bulan?" Tanya Albert memastikan.
" Ya sebenarnya sakit Mas, kepala pusing, badan pegal semua sama perut terasa nyeri, tapi mau bagaimana lagi? Itu sudah menjadi qodrat seorang wanita, jalani saja dengan nyaman agar tidak merasa terbebani." Ucap Zelin.
" Iya kau benar, aku semakin mengagumimu." Sahut Albert.
" Aku mandi dulu Mas, risih kalau lagi kaya' gini." Zelin turun dari ranjang menuju kamar mandi.
Albert duduk bersandar pada headboard.
__ADS_1
Ting..
Sebuh notif pesan masuk di ponselnya. Ia segera membukanya.
" Kak Jack." Gumam Albert.
Gimana malam pertamanya? Pasti asyik kan? Tentulah sampai jam segini saja belum bangun pasti lembur ya sampai pagi_ Jack
*Gagal Kak, ada tamu yang tak di undang mengganggu kami
Lhah kok bisa? Siapa tamu itu? Aku akan memberikan pelajaran kepadanya karena berani mengganggu adik tersayangku _ Jack
Dia palang merah Kak
Palang merah? Oh ya ampunnnn 😱 Kasihan sekali adikku yang malang di malam pertama, itu lo sungguh tidak beruntung Al... Kasihan kasihan kasihan wkwkwkw_ Jack
Nggak apa kak🤠besok kalau udah pergi akan aku doble setiap harinya 😂 Kalau perlu sehari sampai tiga kali
Kaya'minum obat aja! Yang sabar ya! Ya udah kakak mau berangkat kantor dulu! Selamat bersedih sedih ria adikku _ Jack*
Albert tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
" Kenapa Mas? Kok senyum senyum sendiri?" Tanya Zelin yang baru saja keluar kamar mandi menghampiri Albert.
" Tidak pa pa sayang, ini tadi kak Jack kirim pesan." Sahut Albert.
" Oh." Gumam Zelin.
Zelin menuju meja rias, ternyata Albert menyiapkan make up nya juga.
" Kamu nggak usah dandan aja udah cantik sayang." Ucap Albert.
" Aku hanya pakai cream aja Mas." Sahut Zelin.
Albert mendekati Zelin, ia mengalungkan tangannya ke leher Zelin dari belakang.
" Iya Mas." Sahut Zelin
Albert mengecup pipi Zelin, lalu ia masuk ke dalam lama rmandi.
" Semoga kita selalu bahagia Mas." Gumam Zelin.
...****************...
Di dalam rumah Naren, Dara dan Naren sedang sarapan bersama nyonya Arkana.
" Sayang nanti Mas pulangnya terlambat, ada pekerjaan yang harus Mas selesaikan hari ini juga, kamu nggak pa pa kan Mas tinggal lembur?" Naren menatap Dara.
" Enggak pa pa Mas, semangat ya!" Sahut Dara.
" Tentu sayang." Sahut Naren.
" Mas tapi nanti aku mau ke kedai eskrim di jalan xx, aku pengin makan eskrim di sana Mas." Ucap Dara.
" Silahkan! Tapi kamu tetap harus hati hati! Apalagi bawa mobil sendiri. Oke?"
" Siap Mas." Sahut Dara.
Selesai sarapan Naren berangkat ke kantor sedangkan Dara kembali ke kamarnya. Ia memainkan ponselnya sambil menunggu hari agak siangan sedikit.
Jam sepuluh pagi Dara bergegas menuju kedai es krim. Sesampainya di sana ia pesan eskrim mix dengan ukuran jumbo.
Saat ia sedang makan, tiba tiba Ilham duduk di depannya membuat Dara terkejut.
" Mas Ilham." Ucap Dara menatap Ilham.
__ADS_1
" Ya, apa kabar Dara ku sayang?" Tanya Ilham menatap Dara.
" Aku baik, ngapain Mas Ilham di sini?" Tanya Dara.
" Aku ke sini memang sengaja untuk menemuimu, ada sesuatu yang harus aku beritahukan padamu." Ujar Ilham.
" Sesuatu?" Dara mengerutkan keningnya.
" Ya.. Ayahmu sakit keras."
" Apa?" Pekik Dara terkejut.
" Ayahmu menderita kanker paru paru Dara, aku sudah membujuknya untuk ke rumah sakit tapi ayahmu bersikeras ingin di rumah saja, sebenarnya ayahmu melarang ku untuk memberitahumu tapi aku tidak tega melihatnya, itu sebabnya aku mengikutimu ke sini karena aku tidak mau membuat masalah dengan menemuimu di rumah." Sahut Ilham.
" Tapi kemarin saat aku telepon ayah baik baik saja, apa kau mencoba membohongiku Mas?" Selidik Dara.
" Aku tidak akan berbohong dengan nyawa orang lain Dara, aku hanya kasihan melihat ayahmu yang seperti itu, dia sakit tapi tidak ada yang merawatnya, kalau bisa kau pulanglah! Rawat ayahmu di sisa umurnya sebelum terlambat." Ujar Ilham.
" Baiklah, aku akan pulang bersama Mas Naren nanti, terima kasih kau sudah repot repot ke sini memberitahuku." Ucap Dara.
" Sama sama." Sahut Ilham meninggalkan Dara.
" Ya Tuhan ayah..... Aku harus menelepon Mas Naren." Ujar Dara.
Dara mengeluarkan ponselnya lalu ia segera menelepon Naren.
" Halo sayang, ada apa?" Tanya Naren di sebrang sana.
" Mas aku baru saja mendapat kabar kalau ayah sakit keras, ayah terkena kanker paru paru Mas, bisakah kita ke sana sekarang?" Ujar Dara.
" Aduh sayang Mas hari ini sibuk banget, Mas tidak bisa meninggalkan pekerjaan, kita ke sananya besok aja ya? Lagian kemarin waktu telepon ayah baik baik saja kan? Lalu darimana kamu mendapat kabar itu?" Tanya Naren memastikan.
" Mas Ilham barusan ke sini Mas." Sahut Dara.
" Mungkin Ilham mencoba membodohi kita lagi sayang, tenangkan pikiranmu ya jangan sampai kamu stress dengan kabar ini! Kita akan ke sana besok pagi karena hari ini Mas tidak bisa meninggalkan pekerjaan." Ujar Naren.
" Kalau aku ke sana sendiri gimana Mas?" Tanya Dara.
" Tidak boleh! Mas akan menemuimu tapi besok, ya sudah Mas lanjut kerja dulu, bye." Naren mematikan sambungan ponselnya.
Dara menghela nafasnya pelan. Ia keluar dari kedai pulang ke rumahnya.
Tengah malam Dara tidak bisa tidur dengan nyenyak, ia terus kepikiran dengan ayahnya. Ia menatap Naren yang terlelap dengan nyenyak. Mungkin efek kecapekan.
" Ya Tuhan... Lindungilah ayahku, selamatkan ayahku, angkatkah penyakitnya ya Rob." Gunam Dara memejamkan matanya.
Drt... Drt.... Drt...
Ponsel Dara berdering membuatnya membuka mata. Ia melihat jam dinding yang menunjukkan jam lima pagi. Dara mengambil ponselnya, lalu mengangkat panggilannya.
" Halo."
...........
Jeduarrr..........
Apaan tuh yang meletus?
Penasaran?
Jangan lupa like koment vote dan 🌹nya terlebih dulu biar author semangat...
Author ucapkan banyak terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...
Miss U All....
__ADS_1
TBC....