Cinta CEO Amnesia

Cinta CEO Amnesia
Masa Ngidam


__ADS_3

Pagi ini Dara muntah muntah di dalam kamar mandi. Naren yang masih tertidur segera bangun dan menghampiri Dara. Ia memijat tengkuk Dara dengan telaten, sesekali ia mengusap keringat yang mengucur di dahi Dara.


Huek....


Dara memuntahkan isi perutnya yang hanya berupa cairan kuning saja.


Dara membasuh mulutnya dengan air bersih.


" Sudah mendingan?" Tanya Naren.


" Sudah Mas." Lirih Dara.


Naren menggendong Dara ala bridal style, ia membaringkan Dara di atas ranjang.


" Mau makan atau mau tidur lagi?" Tanya Naren menatap Dara.


" Aku ingin makan strawberry tapi yang muda Mas, tolong belikan ya." Ucap Dara.


" Strawberry muda? Dimana Mas bisa mendapatkannya?" Tanya Naren.


" Di super market mungkin ada Mas." Ujar Dara.


" Tapi itu udah matang sayang, kalau yang muda mana ada yang jual." Ujar Naren.


" Pokoknya aku mau yang masih muda titik!" Tegas Dara.


" Baiklah nanti Mas belikan." Naren menghela nafasnya pelan.


Semenjak hamil Dara menjadi pribadi yang mudah marah, ia juga menjadi pemalas. Malas makan, malas masak, malas mandi, bawaannya pengin tidur terus.


Makan sama mandi saja harus di paksa Maren terlebih dulu. Tapi Naren memaklumi perubahan sikap Dara. Ia yakin kalau semua ini di sebabkan karena Dara hamil.


" Sekarang!" Titah Dara.


" Bagaimana kalau kita ke taman strawberry aja, di sana kamu bisa memetik sendiri buahnya, dan langsung memakan dari pohonnya, kan pasti lebih enak sayang." Usul Naren.


Dara membayangkan berada di hamparan luas perkebunan strawberry, lalu ia memetik buahnya yang masih muda dan memakannya langsung.


" Ayo Mas!" Dara turun ranjang lalu mengganti pakaiannya.


Naren menggelengkan kepalanya melihat antusiasme Dara.


Mereka berjalan menuju mobilnya. Naren melajukan mobilnya menuju perkebunan strawberry yang menjadi taman wisata di kota itu.


Perjalanan hampir satu jam, Naren memarkirkan mobilnya. Keduanya turun lalu masuk ke dalam setelah membeli tiket tentunya.


" Wah..... Pas banget strawberrynya sedang berbuah, aku bisa dengan kenyang makan di sini." Ucap Dara dengan mata berbinar.


" Ayo!" Naren menggandeng tangan Dara menuju deretan pohon strawberry.


" Aku mau milih yang besar Mas." Ujar Dara memetik buah strawberry yang berwarna putih.


" Eits jangan di makan dulu!" Ucap Naren saat Dara hendak menggigit strawberry itu.


" Katanya suruh makan langsung." Ucap Dara cemberut.


" Tetap harus di cuci dulu sayang." Sahut Naren membuka botol air mineral yang tadi sempat di belinya.


Dara menyengir kuda menatap Naren. Setelah buah itu di cuci, Dara segera memakannya.

__ADS_1


Naren yang melihatnya malah memejamkan matanya, ia tidak kebayang bagaimana masamnya buah itu.


" Aku yang makan, kenapa kamu yang merem merem gitu Mas?" Ujar Dara.


" Nggak terbayang masamnya sayang." Sahut Naren.


" Ini tidak masam Mas, malah enak lhoh! Mau coba?" Dara menyodorkan strawberry itu ke mulut Naren.


" Enggak ah." Sahut Naren.


Dara kembali memakannya.


" Mas aku menginginkan perkebunan ini!" Ucap Dara.


" Perkebunan ini tidak bisa di beli sayang, ini milik pemerintah yang di kelola oleh desa setempat." Sahut Naren.


" Yah padahal aku sudah membayangkan, alangkah senangnya kalau semua pohon strawberry ini milikku." Ucap Dara.


" Tapi kau bisa memetik buahnya sesuka hatimu, ambil keranjang itu! Lalu petik lah sebanyak yang kau mau." Ucap Naren.


" Ah iya kau benar." Sahut Dara antusias.


Dengan senang hati Dara membawa keranjang berukuran sedang lalu mulai memetik strawberry.


Hanya butuh sepuluh menit, keranjang itu sudah penuh. Naren dan Dara menimbang hasil panennya.


Sang kasir menatap heran pada strawberry yang di petik oleh Dara, pasalnya warnanya putih semua.


" Istri saya sedang ngidam, makanya dia petik yang masih muda." Ucap Naren tahu apa yang di pikirkan oleh kasir di depannya.


" Oh maaf Tuan." Sahutnya.


" Makannya nanti lagi sayang! Kamu belum makan apapun dari tadi." Ujar Naren.


" Iya Mas." Sahut Dara menurut.


Naren kembali melajukan mobilnya menuju rumahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Zelin melemparkan ponselnya di atas ranjang. Ia sangat kesal karena Albert di telepon tidak di angkat angkat.


" Kemana sih perginya tuh orang, sejak kemarin malam di telepon nggak di angkat, di chat nggak di balas, seperti orang di telan bumi aja nggak ada kabar." Gerutu Zelin.


" Maunya apa sih? Atau dia sengaja menjauhiku karena kakaknya ya? Atau mungkin Kak Jack memarahinya sampai rumah? Sepertinya tidak mungkin deh! Kak Jack kan terlihat sangat menyayangi Mas Al." Zelin menggaruk kepalanya menebak nebak apa yang terjadi pada Albert.


" Aku tahu apa yang harus aku lakukan sekarang, aku akan menelepon Kak Jack dan menanyakannya padanya." Ujar Zelin.


Zelin keluar kamarnya menuju kamar papanya.


Tok tok


" Pa." Panggil Zelin.


Ceklek..


Pak Krisna membuka pintu.


" Ada apa sayang?" Tanya pak Krisna.

__ADS_1


" Aku mau minta nomer Kak Jack, kirim donk Pa!" Ujar Zelin.


" Baiklah akan Papa kirimkan lewat WA." Sahut pak Krisna.


" Thank you Pa." Ucap Zelin meninggalkan kamar papanya.


Ting...


Pak Krisna mengirim nomer Jack ke ponsel Zelin. Zelin segera menelepon Jack setelah itu.


Tut.... Tut....


Telepon tersambung tinggal menunggu Jack mengangkatnya.


" Halo." Sapa Jack.


" Halo Kak, apa Mas Al baik baik saja?" Tanya Zelin.


" Al? Dia baik baik saja, memangnya kenapa?" Jack balik bertanya.


" Dia tidak mengangkat panggilan telepon ku Kak dari semalam, tolong tanyakan padanya, apakah aku melakukan kesalahan padanya? Atau aku membuat keputusan yang salah yang menyakiti hatinya? Kalau Kak Jack sudah mendapat jawabannya tolong segera telepon aku kembali." Ujar Zelin.


" Baiklah akan aku tanyakan kepada Al, kalau begitu aku tutup teleponnya." Ucap Jack.


" Iya Kak, Terima kasih." Sahut Zelin mematikan sambungan ponselnya.


Jack menuju kamar Albert. Ia masuk ke dalam menghampiri Albert yang sedang berdiri di balkon kamarnya.


" Al, Zelin meneleponku." Ucap Jack.


Albert membalikkan badannya menatap Jack.


" Lalu?" Albert balik bertanya.


" Dia memintaku untuk menanyakan satu hal padamu." Ucap Jack.


" Apakah dia melakukan kesalahan atau mengambil keputusan yang salah? Kenapa kau mencoba menghindarinya?" Sambung Jack.


Albert menghela nafasnya pelan.


" Untuk saat ini aku ingin menjauh dulu dari Zelin Kak, aku merasa mengkhianatimu kalau aku terus berhubungan dengannya." Sahut Albert.


" Pemikiran macam apa itu Al? Apa kau tahu jika perbuatanmu ini membuat Zelin terluka? Kau mencintainya tapi kenapa kau melukainya Al? Telepon dia dan bersikaplah biasa saja! Aku tidak pa pa, memang seharusnya aku tidak berada di antara kalian, jangan pikirkan aku! Aku masih bisa mencari wanita yang jauh lebih baik dari Zelin, mungkin yang seumuran denganku." Ujar Jack menepuk pundak Albert.


" Tapi Kak aku...


" Jangan sampai kau menyesali perbuatanmu sendiri Al, segera telepon Zelin dan katakan jika kau baik baik saja." Sahut Jack memotong ucapan Albert.


Jack keluar dari kamar Albert.


" Aku tidak tahu harus bagaimana? Aku tidak mau kehilangan Zelin tapi aku juga tidak mau membuat Kak Jack terluka, ya Tuhan.... Apa yang harus aku lakukan?" Monolog Albert menarik kasar rambutnya.


Yuk budayakan tekan like, koment vote dan hadiah buat author...


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author, semoga sehat selalu...


Miss U All....


Mohon doa nya, novel ini sedang mengikuti lomba, semoga hasilnya sesuai apa yang author harapkan 🙏🙏🙏 Amin....

__ADS_1


TBC....


__ADS_2