
Albert menghentikan mobilnya di sebuah villa baru yang berada di dekat pantai di kawasan A. Ia menggenggam tangan Dara masuk ke dalamnya.
" Lihatlah tatanan ruangan ini! Menurutmu bagus tidak? Kalau kamu mau mengubah tatananannya juga boleh." Ujar Albert.
Dara mengedarkan pandangan memperhatikan setiap sudut ruangan. Ruangan luas di hiasi guci guci besar, sofa hitam dan lantai berwarna putih.
" Bagus kok Kak." Sahut Dara.
" Mau ke pantai atau istirahat dulu?" Albert menatap Dara.
" Aku mau istirahat aja Kak, capek juga duduk lama di dalam mobil." Sahut Dara.
" Baiklah, aku akan menunjukkan kamar utama yang kelak akan kita huni setelah kita menikah." Albert menggandeng tangan Dara menaiki anak tangga menuju kamar utama.
" Jangan mimpi kau bisa menikahiku Albert, aku tidak menyukai pria jahat sepertimu." Batin Dara.
Ceklek....
Albert membuka pintunya, Ia masuk ke dalam di ikuti Dara dari belakang.
" Dari sini kamu bisa langsung melihat pantai." Albert membuka tirai kamarnya.
Dan benar saja, hamparan pasir putih dan ombak berwarna biru keputihan tampak jelas dari sana.
" Wah indah sekali Kak." Dara mendekat ke arah jendela, menatap takjub ke luar sana.
Grep...
Tubuh Dara mematung saat tiba tiba Albert memeluknya dari belakang. Ia mengepalkan erat tangannya.
" Kamu suka?" Tanya Albert.
" I.. Iya." Gugup Dara.
" Aku merasa susana kita saat ini seperti sedang bulan madu sayang, kau membuatku ingin melakukan segalanya." Ujar Albert mencium tengkuk Dara.
" Lepas Kak! Aku tidak suka kamu yang seperti ini, aku bukan wanita murahan yang bisa sesukanya kau sentuh begitu saja." Ucap Dara menekan setiap ucapannya.
" Kau memang beda dari yang lain, wanita lain jika aku rayu sedikit saja mereka akan langsung datang ke ranjang ku, tapi kau malah menolakku, aku suka itu, kau begitu menjaga kehormatanmu." Ujar Albert tanpa melepas pelukannya.
" Sial.... Aku harus secepatnya mendapatkan info dimana dia menyekap mamanya Mas Naren, kalau kelamaan yang ada dia akan semakin berani menyentuhku." Ujar Dara dalam hatinya.
" Kak aku ke sini mau istirahat, bisakah kau melepaskan aku?" Ujar Dara.
" Baiklah, maafkan aku! Sekarang istirahatlah! Aku akan membuatkan makanan untukmu." Ucap Albert meninggalkan kamarnya.
Dara merebahkan tubuhnya, ia menatap langit langit kamar.
" Aku merasa kasihan sama Albert, aku seperti orang jahat yang memanfaatkannya, gimana kalau dia menyadarinya? Lalu dia benar benar memaksaku menikah dengannya? Apa yang akan aku lakukan jika semua itu terjadi?" Monolog Dara.
Dara menghela nafasnya pelan.
" Jika memang itu konsekuensi yang harus aku tanggung, tidak masalah! Aku akan menerimanya yang penting Mas Naren sama Mamanya hidup bahagia, aku harus buat rencana setelah ini." Gumam Dara.
Dara akan berusaha, masalah hasil ia pasrahkan kepada Tuhan saja, ia tidak mau ambil pusing, toh Albert juga begitu menyayanginya. Yang jelas prioritasnya saat ini yaitu menyelamatkan ibunya Naren.
...----------------...
" Dara sayang, bangun!" Albert mengguncang pelan bahu Dara.
__ADS_1
Dara mengerjapkan matanya, ia menatap Albert yang saat ini sedang tersenyum padanya.
" Aku ketiduran ya." Dara menyandarkan punggungnya pada headboard.
" Nggak apa, karena ini sudah malam kita menginap di sini saja ya." Ujar Albert.
" Tapi Mas Naren pasti menungguku Kak." Ujar Dara.
Albert berdecak kesal mendengar Dara mengkhawatirkan Naren.
" Aku tidak mau kamu memikirkan Kak Naren di saat kita sedang berdua, kau paham." Tekan Albert.
" Maaf." Sahut Dara tidak mau membuat Naren marah. Ia takut Alber akan meminta ibunya berbuat macam macam kepada Naren.
" Ayo kita makan malam dulu, aku sudah siapkan semuanya di bawah." Ucap Albert.
" Aku cuci muka dulu." Dara masuk ke dalam kamar mandi.
" Aku akan menjadikanmu milikku selamanya, aku akan membuat Kak Naren sadar akan posisinya." Ujar Albert tersenyum licik.
Setelah mencuci wajahnya Dara turun menghampiri Albert di meja makan.
" Ini semua kamu yang masak, atau kamu beli Kak?" Dara menatap beberapa hidangan di atas meja.
" Aku yang masak, khusus buat kamu." Sahut Albert.
" Terima kasih." Ucap Dara.
Keduanya makan malam bersama. Selesai makan malam Albert mengajak Dara berjalan jalan ke pinggiran pantai.
Suasana pantai terasa dingin menusuk tulang Dara. Ia melipat kedua tangannya lalu mengusap usap lengannya.
" Sedikit." Sahut Dara.
Albert membuka jaketnya lalu memakaikannya kepada Dara.
" Aku tidak mau kamu kedinginan, karena aku tidak mau kamu sakit." Ujar Albert.
" Sayang.... Apapun yang kau lakukan tidak membuat hatiku tersentuh Al, maafkan aku." Batin Dara.
Setelah lelah berjalan, akhirnya Albert dan Dara kembali ke villa.
Dara mengerutkan keningnya saat Albert mengeluarkan sebotol minuman beralkohol, entah apa jenis dan merknya Dara tidak tahu.
" Kau mengkonsumsi alkohol?" Dara menatap Albert.
" Ya, kalau sedang ingin saja." Sahut Albert.
" Yang jago minum alkohol itu Kak Naren, dua botol pun dia tidak akan mabuk." Sambung Albert.
Dara melongo mendengarnya.
" Benarkah?" Tanya Albert.
" Ya, kau tidak tahu saja siapa sebenarnya Kak Naren, kalau kau tahu pasti kau akan takut mendekatinya." Ujar Albert
" Bagiku dia hanya pria tampan yang lucu." Gumam Dara.
Dara menatap Albert yang sedang meminum minumannya. Ia tersenyum smirk saat mendapat ide di otaknya.
__ADS_1
" Sepertinya dewi fortuna sedang berpihak kepadaku, Tuhan memudahkan jalanku." Gumam Dara dalam hatinya.
" Apa kau tidak mabuk jika menghabiskan satu botol minuman itu?" Tanya Dara.
" Sedikit." Sahut Albert.
" Aku melakukan ini karena aku ingin membuatmu menjadi milikku selamanya Sayang, aku akan membuat Kak Naren menjauhimu, aku mencintaimu... Sangat mencintaimu, apapun akan aku lakukan untuk mendapatkanmu." Batin Albert tersenyum smirk.
Albert mulai merasakan pusing di kepalanya, ia meminta Dara mengantarnya ke kamarnya.
Dara merebahkan tubuh Albert di atas ranjang, ia duduk di tepi ranjang sambil terus menatap Albert.
" Kak Albert, apa kau tidak punya saudara sampai rumah sebesar itu hanya kau dan ibumu yang menempatinya?" Tanya Dara.
" Aku anak tunggal Dara, tapi aku punya Naren dan ibunya." Sahut Albert di tengah tengah kesadarannya.
" Ibunya Mas Naren? Memangnya Mas Naren masih punya ibu? Dimana dia? Kenapa aku tidak pernah melihatnya?" Pancing Dara.
" Dia ada di ruang bawah tanah, Mama menyekapnya di sana karena Mama menginginkan hartanya." Albert mulai meracau.
" Apa ruangan itu ada di sekitar rumah?" Tanya Dara mengorek informasi.
" Kenapa kau bertanya seolah sedang mengintrogasiku sayang?" Albert menarik tubuh Dara hingga jatuh ke atasnya.
Albert mengunci tubuh Dara dengan memeluk pinggangnya.
" Ah tidak... Aku hanya penasaran saja." Sahut Dara.
Jantung Dara berdetak sangat kencang, ia takut Albert akan melakukan hal di luar batas.
" Sepertinya aku masuk ke kandang singa." Batin Dara berusaha tenang.
Brugh...
Albert membalikkan posisi, saat ini ia yang menindih tubuh Dara.
" Apa yang kau lakukan Kak? Lepaskan aku!" Ucap Dara.
" Kau sangat manis sayang, aku sangat mencintaimu, aku akan menjadikanmu milikku selamanya." Albert mengelus pipi Dara.
" Tidak... Jangan lakukan itu Kak! Aku mohon! Aku akan membencimu kalau sampai kau berani melakukannya." Ucap Dara gemetar.
" Aku tahu kau sengaja memanfaatkan keadaanku saat ini untuk mengorek informasi dariku kan? Aku tahu semuanya Dara, malam ini kau akan menjadi milikku sepenuhnya." Ucap Albert.
Tiba tiba Albert mencium Dara dengan paksa. Dara memberontak namun tenaganya kalah dengan tenaga Albert.
Albert terus mencium bibir Dara membuat Dara meneteskan air mata.
" Ya Tuhan tolong aku! Jangan sampai hal yang tidak aku inginkan terjadi sekarang." Batin Dara terus menangis.
Albert berhasil menguasai tubuh Dara,... Lalu apa yang terjadi selanjutnya?
Penasaran? Tekan like koment vote 🌹dulu buat author...
Terima kasih untuk readers yang sudah mensuport author, semoga sehat selalu...
Miss U All...
TBC....
__ADS_1