Cinta CEO Amnesia

Cinta CEO Amnesia
Gadis Ceria


__ADS_3

Albert melajukan mobilnya tanpa arah. Ia tidak tahu mau kemana, mau pulang rasanya lelah untuk menyetir sampai rumah. Saat ia melewati sebuah danau, ia menghentikan mobilnya di sana. Ia turun dari mobil lalu menuju salah satu bangku yang ada di sana.


Albert mengambil kerikil lalu melemparnya ke dalam danau.


" Aku tidak yakin kalau aku bisa melupakanmu Dara, aku mencintaimu saat pertama kali kita bertemu, selama ini aku tidak pernah tertarik pada gadis manapun, tapi melihatmu hatiku merasa tenang dan damai." Gumam Albert menatap kosong ke depan.


" Ya Tuhan.... Tolong berikan aku kekuatan agar aku bisa melupakan Dara untuk selamanya, bantu aku Tuhan... Argh...." Teriak Albert menarik kasar rambutnya.


" Sttt Berisik! Ganggu orang tahu nggak lo! Kalau mau teriak, sana di hutan biar nggak ada yang denger."


Albert menoleh ke bangku yang ada di belakangnya. Ternyata ada seorang gadis yang sedang tiduran di sana. Gadis itu bangun lalu menghampiri Albert. Tanpa ragu ia duduk di samping Albert.


" Nggak usah meratapi nasib kalau lagi patah hati! Tinggal lupakan dia dan cari yang lainnya, maka semuanya akan beres." Ucap gadis itu.


" Sok tahu lo, siapa yang sedang patah hati." Kilah Albert.


Gadis itu menatap Albert dengan intens. Tiba tiba dia tertawa lepas...


" Ha ha ha ha."


Albert mengerutkan keningnya menatap gadis itu.


" Wajah lo bonyok bonyok gitu, pasti lo habis bawa kabur istri orang ya, terus lo di pukuli sama suaminya ha ha ha, ngenes banget nasib lo Bro." Ujarnya.


" Sebenarnya lo itu siapa sih? Sok tahu banget jadi orang." Ketus Albert.


" Kenalin, gue Zelina Anastasya." Gadis itu mengulurkan tangannya namun Albert hanya menatapnya saja.


Ia menarik tangan Albert untuk membalas uluran tangannya membuat Albert berdecak kesal. Albert segera menarik tangannya.


" Panggil gue Zelin." Ucapnya.


" Geer banget! Siapa juga yang mau manggil lo." Ujar Albert.


" Mamas guanteng yang sayangnya gantengnya udah di gantiin sama memar memar di wajah lo itu, jadi orang jangan dingin kenapa? Kita itu harus hidup dengan penuh kehangatan, kalau lo hidup dalam kedinginan, lo tidak akan pernah bahagia, yang ada bakal linu linu semua badan lo nanti." Celoteh Zelin sambil terkekeh.


" Sok bijak lo." Sahut Albert.


" Sepertinya lo suka sekali membuat panggilan sayang pada seseorang ya, tadi sok tahu, sekarang sok bijak, nanti sok apalagi?" Zelin menatap Albert.


" Sok kenal!" Sahut Albert.


" Bukannya aku sok kenal Mamas.... Gue itu memang ramah pada semua orang, makanya hidup gue selalu bahagia, penuh dengan keceriaan dan canda tawa, banyak teman, di sayang sama keluarga." Ujar Zelin.


" Sebentar! tapi kalau gue lihat lihat, hidup lo kebalikan dari hidup gue deh." Ujar Zelin.


Albert menatap Zelin begitupun sebaliknya.


Deg.... deg... deg...


Jantung Zelin berdetak dengan sangat kencang.


" Ada apa dengan jantungku? Kenapa berdebar debar gini ya? Apa mungkin aku jatuh cinta dengannya pada pandangan pertama? Tapi aku kan masih kecil, usiaku saja masih tujuh belas tahun masa' udah merasakan jatuh cinta, ah Zelin... Apa yang kamu pikirkan, fokus sekolah dulu! Bentar lagi tamat." Batin Zelin.


" Lo kenapa diam aja? Kesambet ya? " Albert menggerakkan tangannya di depan Zelin.


" Apa sih!" Ucap Zelin menepis tangan Albert.


" Gue itu sedang berpikir." Sambung Zelin.


" Berpikir apa?" Tanya Albert.

__ADS_1


" Gimana caranya setelah lulus nanti, gue nggak ngelanjutin ke perguruan tinggi." Sahut Zelin.


" Memangnya sekarang lo kelas berapa?" Albert bertanya lagi.


" Dua belas." Sahut Zelin.


" Kenapa lo nggak mau ngelanjutin ke perguruan tinggi? Apa lo nggak pengin masa depan lo cerah gitu." Ujar Albert.


" Gue males mikir, lagian bagi gue cerahnya masa depan tidak bergantung pada tingkat pendidikan." Sahut Zelin.


" Sekarang gue tanya, lo lulusan apa?" Tanya Zelin menatap Albert.


" Gue lulus S2 memangnya kenapa?" Albert balik bertanya.


" Apa masa depan lo cerah? Secerah yang lo harapkan?" Selidik Zelin.


Pertanyaan Zelin menohok hati Albert. Albert menggelengkan kepalanya.


" Nah itu yang gue maksud, pendidikan tinggi nggak menjamin kebahagiaan, tinggal gimana kita yang menjalaninya, gue punya teman cuma lulusan SMP, tapi hidupnya bahagia, dia punya suami yang mencintainya, punya anak anak yang lucu, hidupnya juga berkecukupan." Ujar Zelin.


" Kalau gitu lo nikah aja! Siapa tahu lo bisa hidup bahagia seperti teman lo itu." Sahut Albert.


" Iya... Lo bener juga." Ucap Zelin dengan mata yang berbinar.


" Tapi sayangnya siapa yang mau menikah sama gue? Sampai sekarang aja gue nggak punya pacar." Zelin menatap tajam ke arah Albert.


Albert mengerutkan keningnya was was dengan tatapan Zelin.


" Gimana kalau gue nikah sama lo."


" Apa?" Pekik Albert.


" Lo gila ya, kenapa harus gue? Lo cari aja yang lainnya! Gue nggak tertarik sama pernikahan." Sambung Albert.


" Kenapa harus gue?" Albert menatap Zelin.


" Lo harus bertanggung jawab karena lo telah membuat jantung gue berdebar." Sahut Zelin.


Ucapan Zelin membuat Albert melongo membulatkan matanya. Hal itu membuat Zelin nampak terpesona.


" Lo tambah ganteng dengan ekspresi lo yang seperti itu." Ucap Zelin.


" Astaga nih cewek sebenarnya waras nggak sih." Gumam Albert yang masih terdengar oleh Zelin.


" Apa lo bilang?" Zelin menatap tajam ke arah Albert.


" Apa? Gue nggak bilang apa apa kok." Kilah Albert mengedarkan pandangannya ke sembarang arah.


" Nggak usah ngeles! Gue dengar lo bilang apa kok." Sahut Zelin.


" Emangnya bilang apa?" Tanya Albert.


" Gue nggak waras." Sahut Zelin.


Albert menahan tawanya, menyadari ucapannya Zelin menatap Albert sambil melongo.


" Maksud gue, lo yang bilang gitu." Ujar Zelin.


" Mana ada, lo sendiri yang bilang gitu kok." Sahut Albert.


" Gue menirukan omongan lo ogeb! Gimana sih." Gerutu Zelin.

__ADS_1


" Ya nggak bisa, lo yang bilang sendiri, berarti lo ngaku kalau lo memang nggak waras." Sahut Albert.


" Ih ngeselin juga jadi orang." Geram Zelin.


Zelin hendak menarik rambut Albert, namun Albert menahan tangannya membuat Zelin hilang keseimbangan, lalu....


Brugh....


Tubuh Zelin menindih Albert, bibirnya dan bibir Albert menempel begitu saja membuat keduanya membulatkan mata tak percaya. Albert memeluk pinggang Zelin agar tidak jatuh.


Deg.... Deg... Deg....


Jantung keduanya berdetak kencang. Bahkan mungkin mereka bisa mendengar detakan jantung satu sama lain.


" Ya Tuhan... Sungguh indah ciptaanmu ya Rob, hidung mancung, pipi glowing, bibir se**, ah rasanya lembut banget." Batin Zelin.


" Kenapa rasanya nyaman berdekatan dengannya? Ada apa dengan hatiku? Apa aku menyukainya? Ah sepertinya tidak mungkin, ini pasti hanya kebetulan saja." Batin Albert.


Sadar akan posisi mereka yang terlihat intim, Zelin segera menjauh dari tubuh Albert. Keduanya menjadi canggung dan salah tingkah.


" Maaf."


" Maaf." Ucap keduanya bersamaan.


" Tidak pa pa." Sahut keduanya bersamaan.


" Oh ya aku harus pulang, tapi sebelum itu beritahu aku siapa namamu!" Titah Zelin.


" Albert." Sahut Albert.


Entah mengapa Albert juga ingin mengenal Zelin lebih jauh.


" Mana ponselmu." Zelin menyadongkan tangannya.


" Buat apa?" Tanya Albert.


" Gue jual." Sahut Zelin asal.


Albert diam tidak bergeming.


" Buruan mana! Gue bakalan kasih lo nomer ponsel gue, jadi kalau lo berubah pikiran, lo bisa telepon gue." Ujar Zelin.


" Berubah pikiran gimana?" Albert mengerutkan keningnya.


" Lo tadi menolak menikah sama gue, siapa tahu besok besok lo mau menerima lamaran gue, udah siniin ponselnya." Ucap Zelin memaksa.


Albert memberikan ponselnya, Zelin segera melakukan panggilan ke nomernya, lalu ia menyimpan nomernya sendiri di ponsel Albert. Zelin memberikan ponsel Albert kembali.


" Calling gue kalau lo berubah pikiran, gue pulang, lo jaga diri baik baik ya, jangan sampai setelah gue pergi lo bunuh diri lompat ke danau itu, gue nggak mau belum nikah udah jadi jadi janda." Ucap Zelin mengerlingkan matanya.


Zelin berjalan meninggalkan Albert.


Albert menatap kepergian Zelin sambil terkekeh. Ia melihat kontak Zelin di ponselnya.


' My Love '


Albert tersenyum membacanya. Entah mengapa ia merasa hatinya tenang berada di dekat Zelin. Gadis periang, cerewet dan baik hati.


Jangan lupa tekan like koment vote dan hadiahnya biar author semangat ngetiknya...


Terima kasih untuk readers yang telah mensuport author, semoga sehat selalu...

__ADS_1


Miss U All...


TBC....


__ADS_2