Cinta CEO Amnesia

Cinta CEO Amnesia
Dara Kemana?


__ADS_3

Dengan emosi yang menggebu gebu, Naren mendekati Albert.


" Beraninya kau melakukan semua ini kepadaku." Bentak Naren menarik kerah Albert, lalu...


Bugh.... Bugh.. Bugh....


Naren memukul Albert membabi buta. Albert tidak kuasa melawannya, darah mengalir di sudut bibirnya.


Brak....


Naren mendorong tubuh Albert hingga tersungkur di lantai.


" Uhuk... Uhuk..." Albert memuntahkan darah dari dalam mulutnya.


" Aku sudah berbaik hati menampungmu di sini, lalu kenapa kau melakukan semua ini kepadaku hah? Apa tujuanmu yang sebenarnya Alberto." Bentak Naren menekan dada Albert menggunakan kakinya.


" Aku hanya ingin mendapatkan Dara, aku mencintainya, aku tidak rela dia hidup bahagia bersamamu Kak, aku ingin Dara menjadi milikku, Dara harus menjadi milikku bukan milikmu." Teriak Albert.


" Kurang ajar kau." Teriak Naren.


Bugh....


Naren kembali memukul Albert hingga tubuh Albert tak berdaya.


" Mau kau memukul ku sampai mati pun, tidak akan mengembalikan keadaan Kak, kau sudah kehilangan Dara dan anak kalian, aku yakin Dara pasti akan membencimu setelah ini, kau akan kehilangan Dara untuk selamanya." Ucap Albert menyeka darah di sudut bibirnya.


Naren menatap Albert dengan penuh kebencian.


" Kau terlalu mudah di percaya Kak, aku sudah berusaha memisahkan kalian dengan berkali kali menjebakmu, tapi aku selalu gagal karena Dara selalu mempercayaimu, dia selalu bisa melindungimu, itu sebabnya aku membalikkan permainan, aku menjebak Dara supaya kau salah paham kepadanya, aku terus menghasutmu supaya kau tidak mempercayainya lagi, aku berhasil Kak... Kau sangat mudah terpengaruh oleh hasutan ku, kau mang bodoh! Bagaimana bisa kau tidak mempercayai Dara setelah apa yang Dara lakukan padamu? Dara tidak pantas hidup bersama pria sepertimu, dia lebih pantas hidup bersamaku, aku akan membuat dia bahagia, aku akan menaruh kepercayaan penuh kepadanya, lepaskan dia! Dan biarkan dia kembali padaku dan hidup bahagia bersamaku." Ucap Albert menohok hati Naren.


Ya.. Naren memang bodoh, ia tidak percaya dengan penjelasan Dara. Ia lebih percaya dengan Albert yang ternyata sengaja menghasut dirinya. Naren merutuki kebodohannya.


" Aku tidak akan pernah melepaskan Dara, dia milikku dan selamanya dia akan menjadi milikku, kau akan menanggung akibat dari perbuatanmu ini Albert, aku akan membuatmu menyesali semua perbuatanmu ini." Bentak Naren kesal.


Naren segera menelepon polisi dan melaporkan atas tindakan kejahatan yang di lakukan oleh Albert dan seseorang yang membantunya. Dengan bukti percakapan pada ponsel Albert, akhirnya Albert di bawa ke kantor polisi untuk penyelidikan lebih lanjut.


Naren kembali ke rumah sakit, ia membuka pintu ruangan rawat Dara.


Ceklek.....


Naren masuk ke dalam. Nyonya Arkana menoleh ke arahnya.

__ADS_1


" Sayang kamu sudah sadar?" Ucap Naren senang. Ia langsung menghampiri Dara yang masih terbaring lemah di atas ranjang.


Tanpa membalas ucapan Naren, Dara memalingkan wajahnya. Hal itu membuat Naren merasa sakit hati.


" Mama keluar dulu!" Ucap Nyonya Arkana. Ia sadar kalau Naren dan Dara membutuhkan waktu berdua.


Naren menggenggam tangan Dara, namun Dara segera menariknya. Dara berbaring miring memunggungi Naren. Naren menghela nafasnya.


" Aku minta maaf! Tidak seharusnya aku meragukan kesetiaanmu, aku termakan oleh hasutan yang Albert ucapkan kepadaku, aku marah.... Aku marah karena aku cemburu kepadamu, aku takut kehilanganmu sayang... Maafkan aku! Karena kecerobohanku aku dan kamu kehilangan calon anak kita, aku menyesal sayang... Aku sangat menyesali semua kebodohanku, maafkan aku yang tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu hiks... Aku minta maaf sayang, seandainya aku lebih percaya padamu daripada Albert, pasti kejadiannya tidak akan seperti ini, aku bodoh hiks... Maafkan aku!" Isak Naren mengusap air matanya.


Dara tidak bergeming. Terlalu sakit untuk menanggapi ocehan Naren yang tidak berguna menurutnya. Ia sudah kehilangan anaknya, mau Naren bersujud mohon pengampunan nya pun tidak akan bisa mengembalikan anak mereka bukan?


" Sayang, jangan diam saja seperti ini! Marahlah! Tampar aku! Pukul aku! Atau kalau kau perlu bunuh aku sayang! Tapi jangan diam seperti ini! Aku tahu kau sangat sedih kehilangan calon anak kita, menangislah di dalam pelukanku sayang! Keluarkan kesedihanmu! Tapi jangan diam saja seperti ini, aku tidak sanggup menerima kemarahanmu yang seperti ini sayang." Ujar Naren.


Dara memilih memejamkan mata, kepalanya terasa sakit, apalagi bagian perut bawahnya. Ia tidak mau membuang buang tenaganya hanya untuk meladeni Naren. Pria tua yang tidak bisa berpikir dewasa.


Melihat Dara yang hanya diam saja, Naren menghela nafasnya pelan. Rasanya sangat sesak menusuk dadanya saat ia di abaikan oleh wanita yang sangat ia cintai.


" Baiklah kalau kamu tidak mau ngomong apapun, sekarang istirahatlah! Aku akan menemanimu di sini." Ucap Naren mengelus kepala Dara.


Siang hari nyonya Arkana kembali ke ruangan Dara. Ia menghampiri Dara dan Naren yang berdiam diaman saja.


" Kamu harus makan Dara! Kalau kamu tidak makan, bagaimana kamu akan pulih? Mau Mama suapin atau mau di suapin sama Naren?" Tanya nyonya Arkana.


Dara kembali menggelengkan kepalanya membuat nyonya Arkana menghembuskan nafasnya dengan kasar.


" Baiklah kalau kamu belum mau makan, nanti kalau lapar bilang sama Naren atau Mama." Ujar nyonya Arkana.


Dara kembali memejamkan matanya. Ia terlalu malas untuk melihat suaminya.


Seorang suster datang untuk memeriksanya.


" Gimana rasanya bu? Apa masih pusing?" Tanya suster menatap Dara.


Dara hanya menganggukkan kepala.


" Minum obat yang teratur membantu Anda dalam masa pemulihan." Ucap suster.


" Istri saya tidak mau makan Sus." Ucap Naren.


" Kalau nggak mau makan gimana mau cepat sembuh bu, kalau tidak suka makanan rumah sakit, anda bisa membawanya dari rumah ataupun membelinya di luar, yang penting anda harus tetap makan untuk menjaga kondisi anda." Ujar suster.

__ADS_1


" Kalau di suapin suami kan akan terasa lebih lezat bu, makan ya! Setelah itu minum obat biar cepat sembuh dan bisa cepat pulang ke rumah, kalau begitu saya permisi dulu." Ucap suster meninggalkan ruangan Dara.


" Tuh sayang, dengarkan apa kata suster! Kamu harus makan! Mama suapin ya." Ujar nyonya Arkana.


Dara kembali menggelengkan kepalanya.


" Sayang jangan keras kepala! Sekarang makan dan minum obatmu! Aku tidak mau kamu berlama lama berada di sini, aku maunya kamu sehat kembali seperti dulu lagi, kamu boleh marah sama aku tapi ku mohon jangan siksa dirimu sendiri seperti ini." Ucap Naren.


Dara tidak menggubris nya membuat Naren merasa kesal. Akhirnya ia pergi keluar meninggalkan Dara dan Mamanya di dalam.


" Dara.... Maafkan Naren ya, kamu boleh marah kepadanya tapi jangan menyiksa dirimu sendiri, sekarang kamu harus makan demi kesehatanmu, kalau kamu tidak mau Mama ada di sini, Mama akan keluar! Mama menunggumu di depan bersama Naren." Ucap nyonya Arkana keluar ruangan Dara.


Sampai di luar, nyonya Arkana tidak menemukan Naren. Ia mencoba mencari Naren karena takut Naren berbuat hal di luar kendalinya. Mengingat Naren pernah mengalami gangguan pada mentalnya.


Sore hari Naren kembali ke ruangan Dara.


Ceklek....


Naren membuka pintunya,


Deg...


Jantung Naren terasa berhenti berdetak saat melihat ranjang Dara kosong.


" Sayang." Panggil Naren berlari menuju kamar mandi.


Kosong...


" Dara, kau kemana sayang?" Tanya Naren dengan nada tinggi.


" Astaga Dara kemana?"


Kemana hayooooo


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya biar Naren semangat menemukan Dara...


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...


Miss U All...


TBC....

__ADS_1


__ADS_2