Cinta CEO Amnesia

Cinta CEO Amnesia
Edisi Albert #Jadian


__ADS_3

Malam ini Albert nampak gelisah karena Zelin tidak kunjung menjawab teleponnya.


" Nih anak kemana sih? Padahal baru saja on tapi di telepon berkali kali nggak di angkat, kalau tahu rumahnya udah pasti aku samperin sekarang juga." Gerutu Albert.


" Aku coba telepon lagi aja." Ujar Albert.


Albert kembali menelepon nomer 'cintaku', telepon tersambung tinggal menunggu Zelin mengangkatnya.


Tak lama kemudian...


" Halo."


Ucapan halo dari Zelin membuat hati Albert seperti di siram air es.


" Halo, kalau telepon cuma mau diam aja mending nggak usah telepon, aku matikan nih!" Ucap Zelin kesal.


Albert tersenyum mendengar Zelin mengubah panggilan gue menjadi aku.


" Halo... Ih ngeselin!" Kesal Zelin.


" Aku matikan....


" E jangan jangan!" Ucap Albert.


" Ngapain telepon aku terus? Kangen?" Goda Zelin.


" Iya." Sahut Albert tanpa sadar.


Zelin tersenyum mendengarnya.


" Eh maksudku kangen sama celotehanmu." Sambung Albert.


" Makanya nikahin aku biar setiap hari kamu mendengar celotehanku." Ujar Zelin.


" Aku terima." Sahut Albert cepat.


" Apa? Kamu menerimanya? Beneran?" Tanya Zelin senang.


" Iya aku menerimanya, aku akan menikahimu setelah kamu lulus nanti." Sahut Albert.


" A... Aku senang sekali mendengarnya." Ucap Zelin.


" Berarti sekarang kau menjadi kekasihku." Ujar Albert.


" Ok... Aku kekasihmu dan kamu kekasihku." Sahut Zelin.


" Oh ya karena sekarang kamu pacar aku, aku harus memanggilmu apa?" Tanya Zelin.


" Aku lebih suka di panggil Mas." Ucap Albert.


" Baiklah Mas Al." Lagi lagi ucapan Zelin menyejukkan hati Albert.


" Mas... " Ucap Zelin.


" Iya sayang." Sahut Albert tanpa sadar.


" Ah.... So sweet banget." Pekik Zelin.


" Kenapa so sweet?" Tanya Albert.


" Kamu barusan memanggilku sayang, Mas." Ucap Zelin.


" Benarkah?" Tanya Albert.


" Kamu tidak sadar? Apa jangan jangan kamu sedang memanggil gadis lainnya." Tebak Zelin.


" Eh enggak enggak! Nggak ada siapa siapa kok di sini." Sahut Albert.

__ADS_1


" Hmm." Gumam Zelin.


" Kamu lagi apa?" Tanya Albert.


" Aku lagi telepon sama kamu sambil tiduran di ranjang." Sahut Zelin membuat Albert terkekeh.


" Kalau kamu lagi ngapain Mas?" Tanya Zelin.


" Sama, aku juga lagi telepon sama kamu sambil tiduran di ranjang." Sahut Albert menirukan ucapan Zelin.


" Itu mah kata kataku, kamu nggak inisiatif banget jadi orang." Ucap Zelin.


" Ya memang itu faktanya, mau gimana lagi?" Ujar Albert.


" Tau ah." Sahut Zelin.


" Jangan marah donk! Entar cantiknya hilang." Ucap Albert.


" Tidak apa udah punya pacar ini." Sahut Zelin.


" Biasanya cewek paling takut kalau kehilangan cantiknya." Ujar Albert.


" Itu kan cewek biasa, kalau aku kan luar biasa." Sahut Zelin narsis.


" Narsis banget!" Ucap Albert.


" Ya emang benar kan? Biasanya cowok yang melamar cewek, tapi ini... Aku yang melamar kamu, berarti luar biasa kan?" Ujar Zelin.


" Iya iya dah aku akui, kamu memang cewek yang luar biasa." Ucap Albert.


" Terima kasih." Ucap Zelin.


" Luar biasa cerewetnya." Sahut Albert.


" Ah rese' kamu Mas, kamu udah buat aku melambung tinggi, lalu tiba tiba kau hempaskan begitu saja, pacar macam apa itu." Cebik Zelin.


" Emang kamu tahu rumahku?" Tanya Zelin memastikan.


" Share lock lah sayang." Sahut Albert.


" Sebentar! Dari tadi kamu bilang sayang sayang, sayang beneran apa bohongan nih?" Tanya Zelin.


Albert tersenyum mendengar pertanyaan Zelin.


" Ya beneran lah, jujur... Saat kamu mengabaikanku, itu membuat aku menyadari perasaanku padamu." Terang Albert.


" Gimana bisa? Kita baru bertemu satu kali masa' kamu udah sayang sama aku." Ujar Zelin.


" Cinta ataupun sayang tidak membutuhkan alasan Zelin, a....


" Tapi butuh pembuktian Mas Al." Sahut Zelin memotong ucapan Albert.


" Baiklah akan aku buktikan kalau aku benar benar sayang padamu, aku akan menjemputmu jam enam pagi." Ujar Albert.


" Apa? Jam enam pagi?" Pekik Zelin membuat Albert menjauhkan ponselnya dari telinganya.


" Jam enam pagi aku masih bobok cuantik Mamas ganteng, jam tujuh kurang lima belas menit, aku sudah siap di jemput." Sambung Zelin.


" Setengah tujuh pas, tidak ada penawaran lagi." Ucap Albert.


" Hah baiklah." Zelin menghela nafasnya.


" Kalau begitu sekarang aku mau bobok dulu, sampai ketemu besok pagi Mas Al." Ucap Zelin.


" Yah padahal aku masih pengin ngobrol sama kamu." Ujar Albert.


" Besok aku akan kesiangan kalau telat tidur, udah ya bye." Ucap Zelin.

__ADS_1


" Bye." Sahut Albert.


" Night... Jangan lupa mimpiin aku!" Ucap Zelin.


" Siap sayangku, night too... Semoga mimpi indah." Sahut Albert.


Zelin mematikan ponselnya. Albert menatap layar ponselnya dengan perasaan bahagianya.


" Aku tidak menyangka bisa secepat ini move on dari Dara, gadis periang dan cerewet itu benar benar membuatku gila." Monolog Albert sambil tersenyum bahagia.


Pagi hari Albert sudah berdandan rapi. Ia turun ke bawah untuk sarapan.


" Pagi Kak." Sapa Albert.


" Pagi." Sahut Jack.


" Apa yang terjadi? Kenapa sepertinya kau bahagia sekali pagi ini?" Tanya Jack menatap Albert.


" Aku di terima Kak." Ucap Albert.


" Kamu di terima? Kerja dimana?" Jack kembali bertanya.


" Bukan bekerja Kak, tapi lamaranku di terima sama gadis yang menjadi incaranku." Sahut Albert tersenyum lebar.


" Wah selamat ya Al, semoga langgeng sampai ke pelaminan nanti, dan semoga kalian berdua bahagia selamanya, tanpa ada rintangan yang merintang dalam hubungan kalian." Ucap Jack mendoakan adiknya.


" Amin... Terima kasih Kak, semoga Tuhan mengabulkan semua doamu." Sahut Albert.


" Sekarang makanlah yang banyak! Supaya badanmu terlihat lebih berisi, biar kekasihmu itu makin cinta dengan pria berbadan sispack bukan badan kerempeng sepertimu itu." Ucap Jack.


" Siap Kak! Aku akan makan yang banyak dan olahraga yang teratur, selama ini makanku tidak terurus makanya badanku kerempeng." Sahut Albert.


Albert mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Keduanya makan dengan khidmat. Selesai makan, Albert segera pergi untuk menjemput Zelin.


Bermodal GPS dari ponselnya, Albert berhasil menemukan rumah Zelin. Rumah megah seperti rumah rumah pengusaha pada umumnya. Nampak Zelin keluar dari rumahnya lalu berjalan menuju jalan raya yang ada di depan.


Albert memajukan mobilnya, lalu turun dari mobil.


" Pagi." Sapa Albert mendekati Zelin.


" Pagi Mamasku, sepertinya kamu tambah ganteng aja, apa aku yang tidak memperhatikanmu waktu itu ya?" Ujar Zelin.


" Aku ganteng dari dulu sayang, mungkin kamu aja yang tidak terlalu memperhatikan aku." Sahut Albert.


" Kamu akan semakin ganteng dan keren setelah menjadi pacar aku Mas." Ucap Zelin mengerlingkan mata.


" Aku percaya itu, mau berangkat atau aku harus menemui calon mertuaku dulu?" Tanya Albert.


" Jangan berani berani menemui Papaku! Aku akan kena marah kalau Papa sampai tahu kita pacaran, bisa bisa di gorok nanti leherku." Ucap Zelin.


" Memangnya kenapa kamu tidak boleh pacaran?" Tanya Albert.


" Papa inginnya aku melanjutkan kuliah biar bisa punya masa depan gemilang, begitu katanya." Sahut Zelin.


" Ya sudah kita berangkat aja! Aku akan menemui Papamu lain kali saja untuk melamarmu." Ujar Albert.


" Ok." Sahut Zelin.


Albert membukakan pintu mobil untuk Zelin, setelah itu ia melajukan mobilnya menuju sekolah Zelin.


Penasaran kelanjutannya?


Tekan like koment vote dan 🌹nya dulu buat author.


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author, semoga sehat selalu...


Miss U All...

__ADS_1


TBC....


__ADS_2